
Di kediaman Alexander dimana Tommy sedang merencanakan rencana terakhir. Tommy tidak sendirian, melainkan bersama sepupunya Andhika dan para sahabatnya di ruang tengah minus Satya.
"Jadi aksi ini siapa yang akan melakukannya?" tanya Tommy.
"Biar kita-kita aja!" Mirza, Nathan, Ivan dan Andry bersamaan.
Mendengar seruan dari Mirza, Nathan, Ivan dan Andry. Mereka melihat kearah keempatnya.
"Baiklah. Tugas ini kami serahkan kepada kalian berempat," sahut Andhika.
"Lakukan dengan baik dan jangan sampai ketahuan. Sebelum melakukannya, kalian konfirmasi dulu kepada para penjaga yang berjaga di rumah Sinthia. Ajak juga mereka kerja sama tersebut." Billy berucap sembari memberikan usul kepada keempat sahabatnya itu.
"Baiklah. Kami mengerti!" Mirza, Nathan, Ivan dan Andry bersamaan.
"Nanti jika rencana pertama berhasil. Kalian langsung bawa ke tempat yang sudah kita sediakan," ucap Henry.
"Tapi jika gagal, maka kita akan menggunakan rencana kedua yaitu meminta tante Calia," tutur Lionel.
"Hm." semuanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari Lionel.
***
Di kediaman Fathir Aldama terlihat seorang gadis cantik tengah duduk di ruang tengah sembari tersenyum menatap layar ponselnya.
Gadis cantik itu adalah Kimberly Aldama Princess kesayangan Daddy Fathir dan Mommy Nashita. Dan adik perempuan kesayangannya empat kakak laki-lakinya.
Kimberly saat ini tengah tersenyum bahagia melihat layar ponselnya yang menampilkan sesuatu yang begitu indah. Si layar ponselnya itu menampilkan dekorasi dan hiasan yang menghiasi dalam gedung tersebut. Bahkan sudah tersedia beberapa jenis makanan dan minuman di atas meja.
"Sebentar lagi. Tinggal beberapa jam lagi kamu akan melihat ini semua, Sinthia! Sabar ya sayangku," batin Kimberly.
Ketika Kimberly tengah asyik dengan ponselnya. Tanpa Kimberly sadari bahwa sejak tadi kedua orang tuanya dan keempat kakak laki-lakinya tengah memperhatikan dirinya. Mereka semua tersenyum ketika memperhatikan Kimberly yang asyik dengan dunianya.
Setelah puas memperhatikan kesayangannya. Fathir, Nashita dan keempat putranya memutuskan untuk menghampiri kesayangannya itu.
Kini Fathir, Nashita dan keempat putranya sudah duduk di sofa dengan tatapan matanya tak lepas dari Kimberly.
"Lagi asyik nih!" seru Enda dan Riyan bersamaan.
Mendengar seruan dari kakak ketiga dan kakak keempatnya membuat Kimberly terkejut. Setelah itu, Kimberly langsung mengalihkan perhatian matanya dari layar ponselnya lalu melihat keasal suara.
Kimberly dapat melihat bahwa kedua orang tuanya dan keempat kakak laki-lakinya telah duduk di sofa dan tengah tersenyum menatap dirinya.
"Dad, Mom, kak Jason, kak Uggy, kak Enda, kak Iyan!"
Mereka kembali tersenyum ketika mendengar sapaan dari kesayangannya itu.
"Sedang apa sih? Dari tadi asyik sendirian," ucap dan tanya Enda.
Kimberly tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari kakak ketiganya itu lalu tatapan matanya kembali menatap layar ponselnya.
"Ini aku lagi pantengin persiapan untuk nanti malam," jawab Kimberly.
"Apa udah kelar?" tanya Riyan.
"Sudah semuanya. Tinggal yang terakhir yaitu aksi penculikan," jawab Kimberly.
"Apa harus?" tanya Fathir.
"Ya haruslah Daddy. Kalau nggak ada adegan ini. Kejutannya nanti jadi nggak seru," jawab Kimberly dengan tersenyum manis.
"Kalau gagal bagaimana? Kamu tahu sendiri kan kalau Sinthia itu juga sama seperti kamu. Dia nggak akan takut hal-hal begituan," ucap dan tanya Uggy.
"Gagal rencana pertama ada rencana yang kedua. Kakak Uggy tenang aja."
Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Uggy menatap cengo adik perempuannya. Begitu juga dengan Nashita, Fathir, Jason, Enda dan Riyan.
"Jadi kamu dan yang lainnya sudah merencanakan semua ini, sayang?" tanya Nashita.
"Iya. Aku, Rere, Santy dan Catherine begitu bersemangat melakukan semua ini."
"Jangan bilang jika awal ide gila itu muncul ke permukaan itu kamu yang menjadi pencetusnya?" tanya Jason dengan tatapan matanya menatap wajah cantik adik perempuannya itu.
Mendengar pertanyaan dari kakak tertuanya seketika Kimberly tersenyum manis menatap wajah tampan kakaknya itu.
"Emang iya."
Mendengar jawaban dari kesayangannya membuat Jason geleng-geleng kepala. Begitu juga dengan Nashita, Fathir, Uggy Enda dan Riyan.
***
Yah! Gadis itu adalah Sinthia Agatha. Putri bungsu dari Arvon Agatha dan Calia Allen.
Sinthia saat ini merasa sangat kesepian. Dirinya mencoba menghubungi kedua orang tuanya, tapi tidak pernah diangkat. Bahkan Sinthia juga menghubungi kedua kakak laki-lakinya, namun juga sama. Kedua kakak laki-lakinya itu juga tidak menjawab panggilan darinya.
Komplit sudah penderitaan Sinthia malam ini. Semua orang yang disayanginya sudah tidak mempedulikannya lagi. Beberapa jam yang lalu Sinthia juga menghubungi keempat sahabatnya dan meminta keempat sahabatnya itu untuk datang ke rumahnya. Bahkan Sinthia meminta keempat sahabatnya itu untuk menginap di rumahnya.
Namun siapa disangka, keempat sahabatnya itu langsung menolak dengan berbagai macam alasan. Bagi Sinthia, ini adalah untuk pertama kalinya keempat sahabatnya itu menolak untuk menemaninya. Bahkan menginap sekali pun. Sinthia menagis sejadi-jadinya di kamarnya.
Ting! Tong!
Ting! Tong!
Tiba-tiba bel rumah Sinthia berbunyi dengan tidak sopannya. Mendengar itu, Sinthia sengaja membiarkannya karena malam ini dirinya tidak ingin diganggu. Tapi setelah beberapa lama, bel rumahnya masih terus berbunyi. Bahkan disertai dengan pukulan-pukulan di pintu rumahnya.
Karena kesal, akhirnya Sinthia segera keluar kamar dan menuju pintu rumahnya. Saat diri sudah membuka pintu rumahnya, Sinthia langsung terkejut.
"Siapa kalian?!" teriak Sinthia dan langsung menutup pintu rumahnya.
Namun sayangnya, Sinthia kalah cepat karena salah satu laki-laki berpakaian hitam dan penutup wajah segera menahan pintu itu.
Setelah itu, keempat laki-laki berpakaian hitam itu langsung masuk ke dalam rumah. Dan menggeledah barang-barang berharga yang ada di dalam rumah tersebut.
Melihat apa yang terjadi di hadapannya membuat Sinthia benar-benar ketakutan saat ini.
"Mami, Papi, kakak Azzo, kakak Izak. Tolongin aku," batin Sinthia.
Dikarenakan tidak menemukan apa yang dicari. Keempat laki-laki berpakaian hitam itu langsung mendekati Sinthia yang saat ini tengah ketakutan.
"Ikut kami," ucap laki-laki itu dengan suara samaran. Dan tangannya sudah menarik tangan Sinthia.
"Tidak! Lepaskan aku!" teriak Sinthia dengan berusaha untuk memberontak.
Namun usahanya sia-sia karena keempat laki-laki itu langsung membekap mulutnya. Setelah itu, keempat laki-laki itu membawa paksa Sinthia pergi meninggalkan kediaman Agatha.
***
"Masuk!"
Salah satu laki-laki berpakaian hitam itu mendorong tubuh Sinthia ke sebuah ruangan yang remang-remang.
Bruk!
Tubuh Sinthia terjatuh di lantai yang dingin.
"Hiks... Mami, Papi, kakak Azzo, kakak Izak... Hiks." Sinthia berucap terisak sembari menyebut satu persatu nama kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya.
Puk!
Seseorang menepuk bahunya sehingga membuat Sinthia berteriak. Dirinya saat ini benar-benar takut.
"Tidak! Jangan sakiti saya. Tolong lepaskan saya."
"Hei, sayang ini kakak Azzo!"
"Tidak... Tidak! Lepaskan saya. Jangan sakiti saya," ucap Sinthia dengan suara bergetarnya.
"Sinthia Agatha," ucap orang itu lembut.
Mendengar namanya dipanggil lengkap dengan marganya membuat Sinthia langsung melihat kearah orang yang ada di hadapannya.
Seketika air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya ketika melihat salah satu kakak laki-lakinya.
"Ka-kakak Azzo," lirih Sinthia.
Azzo tersenyum ketika mendengar ucapan dari adik perempuannya. Lalu tangannya mengusap lembut air mata adiknya itu.
Grep!
Sinthia langsung memeluk tubuh kakak laki-lakinya begitu erat seakan-akan tidak ingin ditinggal sendirian.
"Kakak, aku takut. Bawa aku pergi dari sini."
Beberapa detik kemudian...
"SURPRISE!!!" teriak Kimberly, Rere, Santy dan Catherine bersamaan.