
Keesokkan paginya di sekolah Kimberly dan keempat sahabatnya berada di lapangan. Sesuai yang Kimberly bicarakan kemarin bahwa Kimberly akan mengadakan kuis untuk teman-teman sekolahnya. Tidak termasuk para musuhnya.
Sesuai permintaan Kimberly kepada kakak tertuanya bahwa dirinya meminta kakaknya itu membelikan pesanannya yaitu jam tangan Rolex dan ponsel Oppo. Kakaknya itu pun membelikan sesuai pesanannya tanpa kurang satu pun.
Dan sesuai ucapannya juga, Kimberly membayar semua pesanannya itu kepada kakaknya.
Awalnya Jason tidak ingin menerima uang dari adiknya itu. Jason ikhlas membelikan semua barang-barang itu untuk adiknya.
Dikarenakan adiknya sudah mau menunjukkan tanda-tanda ingin menangis, ingin merajuk dan juga tanda-tanda akan mengeluarkan ancaman. Terpaksa Jason menerima pembayaran untuk semua barang-barang yang dibelinya itu.
Semua teman-teman sekolahnya ikut mendaftar kuis yang dibuat oleh Kimberly, kecuali para musuh-musuh Kimberly dan murid-murid yang tidak menyukai Kimberly. Mulai dari kelas 10 sampai kelas 12.
Ada sekitar 375 teman-teman sekolahnya Kimberly yang ikut mendaftar. Baik murid laki-laki maupun murid perempuan.
Saat ini lapangan sekolah dipenuhi oleh para murid yang mengikuti kuis. Pihak sekolah juga sudah memberikan izin kepada Kimberly dan keempat sahabatnya untuk mengadakan kuis dilapangan setelah selesai mengikuti pelajaran kedua.
Billy, Aryan, Triny dan para sahabatnya ikut membantu Kimberly dan keempat sahabatnya dalam melaksanakan kuis itu. Bahkan mereka juga ikut menyumbang. Mereka sudah menyiapkan hadiah berupa Voucher jalan-jalan dan makan gratis selama satu minggu jika nantinya ada murid-murid yang tidak kebagian hadiah.
Semua hadiah telah tersusun rapi di atas meja dan terpampang di hadapan teman-teman sekolahnya Kimberly. Mereka yang melihatnya menjadi tidak sabaran.
Bagi mereka semua. Apapun nanti hasilnya. Apapun yang nanti mereka dapatkan. Mereka akan tetap bersyukur dan akan berterima kasih kepada Kimberly. Mereka semua tidak akan mengeluh karena menurut mereka Kimberly sudah bersikap adil kepada mereka semua.
"Kamu jangan lelah ya." Tommy berbicara sambil mengusap lembut pipi putih Kimberly.
Mendengar ucapan lembut dari Tommy dan usapan di pipinya seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly.
"Kalau aku lelahkan ada kamu," jawab Kimberly.
Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Tommy tersenyum bahagia. Dan tanpa rasa malu, Tommy memberikan ciuman lembut di bibir Kimberly.
Melihat tindakan Tommy yang mencium bibir Kimberly membuat murid-murid perempuan berteriak histeris.
"Woi, sadar! Ini di sekolah!" teriak Lionel.
"Kalau mau ciuman pesan kamar hotel sana!" Andry juga ikut berteriak.
Mendengar teriak dari Andry membuat mereka semua menatap kearah Andry. Begitu juga Kimberly dan Tommy.
TAK!
Billy langsung menghadiahkan jitakkan ke kening Andry. Dan jangan lupa tatapan mautnya.
"Yak, Billy! Kenapa lo menjitak kepala gue?" tanya Andry.
"Dan lo ngapain nyaranin buat mesan kamar hotel ketika lihat Tommy yang sedang mencium Kimberly?"
"Lo mau adek gue kenapa-kenapa!" Triny juga ikut nyerang Andry.
"Yah! Billy, Triny. Kalian kenapa nyerang bebeb gue? Kasihan tahu," ucap Danela.
Danela langsung menggandeng tangan Andry dan membawanya menjauh dari kakak adik sepupu itu.
Melihat tingkah Danela membuat Triny dan Billy melongo. Billy dan Triny saling melempar pandangan.
"Sahabat lo tu," sahut Billy.
"Bukan sahabat gue," jawab Triny.
"Mati saja kau Triny!" teriak Danela yang mendengar jawaban dari Triny.
"Hahahahaha."
Mereka semua tertawa, termasuk semua murid-murid kelas 10, kelas 11 dan kelas 12.
Ketika semuanya sedang sibuk dalam urusan mereka masing-masing, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang pria berpakaian hitam dan seorang perempuan paru baya dengan memakai kaca mata hitam.
Baik Kimberly, keempat sahabatnya, Billy, Aryan, Triny, Tommy, Andhika dan para sahabatnya serta semua murid-murid melihat kedatangan beberapa pria berpakaian hitam dan perempuan berkaca mata hitam.
Andhika melangkahkan kakinya mendekati Tommy, lalu menariknya agar menjauh dari Kimberly.
"Tommy. Aku takut jika perempuan tua itu mencari masalah dengan Kimberly." Andhika berbicara berbisik.
"Aku juga Andhika. Aku kenal banget watak perempuan sialan itu. Perempuan tua itu tidak akan segan-segan berbuat kasar dan berkata pedas kepada orang yang tidak disukainya. Tapi kau tidak perlu khawatir. Perempuan tua itu tidak tahu siapa Kimberly. Kita lihat saja apa yang akan dilakukan perempuan tua itu disini." Tommy berusaha untuk tetap tenang.
"Kau harus melakukan sesuatu Tommy jika perempuan gila itu nekat nyakitin Kimberly," ucap Andhika.
"Itu sudah pasti. Tanpa kau mengatakannya padaku. Aku akan balas perempuan tua itu jika dia berani menyentuh gadisku," jawab Tommy dengan menatap kearah perempuan tersebut.
"Kau belum tahu siapa aku yang sebenarnya tante Agatha. Jika kau berani menyentuh gadisku dan bersikap kasar padanya. Aku tidak akan segan-segan membalasmu di hadapan semua orang. Aku tidak peduli sekali pun kau itu perempuan dan berstatus orang tua," batin Tommy.
Tommy kembali menghampiri Kimberly. Sementara Andhika kembali menghampiri Triny yang saat ini bersama dengan sahabatnya dan juga sahabatnya.
"Siapa yang beraninya mengadakan acara di sekolah ini?!" tanya perempuan itu dengan suara sedikit keras.
Dikarenakan tidak mendapatkan jawaban dari semua orang yang ada di hadapannya membuat perempuan itu marah.
"Apa kalian semuanya tuli, hah?! Saya bertanya kepada kalian. Siapa yang berani membuat acara di sekolah ini?!" teriak perempuan itu.
"Saya," jawab Kimberly dengan menatap tak suka Kimberly.
Mendengar jawaban dari Kimberly. Perempuan itu menatap kearah Kimberly. Perempuan itu menatap marah kepada Kimberly.
"Kau...," perempuan itu menunjuk kearah wajah Kimberly. "Berani sekali kau membuat acara di sekolah ini. Kau pikir kau itu siapa, hah! Apa kau tidak berpikir kerugian yang diterima oleh murid-murid yang lainnya?!" bentak perempuan itu.
"Lalu apa urusannya dengan anda. Memangnya anda siapa? Pemilik sekolah ini? Donatur?" Kimberly menjawab pertanyaan dari perempuan tersebut dengan santainya. Tidak ada rasa takut sama sekali.
"Lagian aku membuat acara ini juga sudah meminta izin dengan kepala sekolah. Dan kepala sekolah saja tidak mempermasalahkan acara yang saya buat ini. Kenapa situ yang marah-marah?"
Mendengar ucapan dan perkataan dari Kimberly membuat perempuan itu menggeram marah. Baru kali ini ada orang yang berani melawannya. Selama ini tidak ada yang berani melawannya.
"Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku, hah!" bentak perempuan itu.
"Kenapa aku harus takut sama perempuan gila seperti anda," jawab Kimberly.
Mendengar jawaban dari Kimberly membuat semuanya tertawa, termasuk keempat sahabatnya, ketiga sepupunya, kekasihnya dan para sahabat dari ketiga sepupunya.
"Apa kau bilang? Kau berani mengatakan aku perempuan gila!" teriak perempuan itu.
"Lalu aku harus bilang apa disaat melihat ada seseorang yang datang dan langsung marah-marah tak jelas di depanku. Biasanya kan orang yang marah-marah tak jelas dan juga berteriak di depan orang lain itu orang gila." Kimberly berbicara sambil tersenyum mengejek.
Mendengar perkataan Kimberly membuat perempuan itu marah, lalu tangannya terangkat hendak menampar Kimberly. Namun sebelum Kimberly hendak menahan tangan perempuan itu, Tommy sudah terlebih dahulu menahannya. Tommy meremat kuat tangan perempuan itu sehingga membuat perempuan itu kesakitan.
"Aakkhhh!" teriak perempuan itu sambil tatapan matanya menatap wajah Tommy.
"N-nak Tommy," ucap perempuan itu.
"Iya, ini aku! Kenapa?" Tommy menatap tajam perempuan itu, lalu menghempaskan kuat tangan perempuan itu.
Perempuan itu adalah ibu kandung dari Talitha Robert yaitu Agatha Robert.
Agatha datang ke sekolah putrinya karena mendapatkan laporan dari salah satu orang yang dibayarnya untuk memata-matai kehidupan Tommy dengan putrinya.
Agatha mendapatkan kabar mengenai hubungan putrinya dengan Tommy yang sudah hancur. Bahkan orang bayarannya itu mengatakan bahwa ada pihak ketiga yang sudah merebut calon menantunya itu.
"Lebih baik kamu menyingkirkan Tommy. Biarkan tante memberikan hukuman kepada wanita penggoda ini," sahut Agatha dengan menunjuk kearah Kimberly.
Mendengar ucapan dari Agatha membuat Tommy, Billy, Aryan dan Triny marah. Mereka tidak terima jika Kimberly dikatakan wanita penggoda.
"Siapa yang tante maksud wanita penggoda?" tanya Tommy.
"Siapa lagi kalau bukan dia," jawab Agatha dengan kembali menunjuk kearah Kimberly dan matanya yang menatap tajam.
Tommy melihat kearah Kimberly. Dan dapat dilihat olehnya Kimberly yang berusaha menahan amarahnya. Setelah itu, Tommy kembali menatap marah Agatha.
"Dia kekasihku sekaligus calon istriku. Dia bukan wanita penggoda," sahut Tommy dengan menatap marah Slavina.
Mendengar ucapan dari Tommy membuat Agatha terkejut. Bukan Agatha saja, melainkan satu sekolah terkejut ketika mendengar ucapan dari Tommy yang mengatakan bahwa Kimberly adalah calon istrinya.
"Jangan bercanda Tommy. Bagaimana mungkin wanita penggoda ini kekasih kamu sekaligus calon istri kamu. Kamu itu calon suaminya Talitha. Kalian sudah lama berpacaran." Agatha berbicara sembari menatap wajah Tommy. Dirinya berharap jika apa yang didengarnya barusan adalah salah.
Agatha menatap kearah Kimberly. Agatha hendak memukul Kimberly, namun dengan gesitnya Tommy langsung mendorong keras tubuh Agatha hingga tersungkur di tanah.
BRUUKK!
"Mami!" teriak Talitha dan langsung berlari menghampiri ibunya.
"Sudah aku katakan padamu. Jangan sebut kekasihku dengan sebutan wanita penggoda. Dia gadis baik-baik dan berasal dari keluarga baik-baik. Jika saja kau sebagai ibu bisa mendidik putrimu dengan baik maka aku masih bersama dengan putrimu saat ini. Jika kau dan keluargamu tidak memandang statusku dulu, maka aku masih bersama putrimu. Jika kau dan keluargamu tidak mempermalukanku di depan semua orang ketika di pesta itu, maka aku masih bersama putrimu. Jika saja kau dan keluargamu menerimaku apa adanya dan tak memandang status dan kekayaan, maka saat ini aku masih bersama putrimu. Jika putrimu itu tidak selingkuh dariku, jika putrimu mempertahankanku, jika putrimu tidak memilih laki-laki lain. Maka sudah aku pastikan hidup putrimu akan bahagia dan terjamin bersamaku. Tapi kau, keluargamu dan putrimu menolakku, merendahkanku, memakiku dan juga mempermalukanku. Bahkan putrimu pergi meninggalkanku demi laki-laki yang lebih kaya dari pada aku kekasihnya."
Tommy menatap marah kearah Agatha, ibunya Talitha. Tommy benar-benar marah saat ini jika ada orang yang merusak kebahagiaannya.
"Setelah kau dan putrimu mengetahui identitas asliku. Setelah kau dan putrimu mengetahui bahwa aku adalah salah satu putra dari orang kaya dan juga terhormat di kota Jerman. Kau dan putrimu bahkan keluargamu berusaha untuk mendekatiku dan mengambil hatimu kembali. Kau, putrimu dan seluruh anggota keluargamu semuanya penjilat. Kalian semua benar-benar menjijikkan. Sekarang dengarkan aku baik-baik. Menjauhlah dari kehidupanku. Dan jangan coba-coba untuk mengusikku lagi. Jika kalian masih sayang dengan nyawa kalian. Maka aku sarankan. Menjauhlah!"
Melihat kemarahan Tommy, Kimberly berusaha memberikan ketenangan kepada Tommy dengan cara mengusap-usap lembut punggung Tommy.
Tommy yang merasakan usapan lembut di punggungnya merasakan kehangatan di hatinya. Tommy melihat sekilas Kimberly begitu juga Kimberly. Keduanya tersenyum.
Setelah itu, Tommy kembali melihat kearah Agatha dan Talitha. "Menjauhlah dariku. Itulah satu-satunya cara agar nyawa kalian selamat," sahut Tommy.
Tommy menarik tangan Kimberly dan membawanya duduk di kursi dengan hadiah yang telah disusun di atas meja.
"Talitha. Lebih baik kau suruh ibumu dan para sampah itu pergi dari sekolah ini," ucap Andhika sambil menunjuk beberapa laki-laki berpakaian hitam.
"Jangan buat acara ini sampai gagal. Jika acara ini sampai gagal atas ulah ibumu. Kau akan tahu akibatnya," ucap Billy.
Setelah itu, suasana kembali seperti sedia kala, walau ibunya Talitha dan Talitha masih ada diantara mereka semua. Selang beberapa menit, ibunya Talitha pun akhirnya pergi meninggalkan sekolah. Dan diikuti oleh orang-orang yang dibawanya. Begitu juga dengan Talitha. Talitha memilih untuk pulang ke rumah. Dirinya benar-benar sudah malu akan kejadian tersebut.