
"Bukan itu saja sayang. Saat aku dan Vina menghubungi kalian. Mereka mengatakan bahwa aku dan Vina tengah menghubungi pria simpanan. Jadi dengan kata lain mereka semua menyebut kalian pria simpanan kami," adu Kiara dengan tangannya menunjuk kearah orang-orang yang ada di hadapannya itu.
Enda dan Riyan benar-benar marah ketika mendengar aduan dari kekasih mereka masing-masing. Bagi mereka berdua tidak ada yang boleh menghina kekasihnya. Begitu juga dengan keluarganya.
"Ya, sudah! Kalian kembalilah ke mobil. Tunggu kami disana," ucap Riyan.
"Aku dan Riyan akan tetap disini dan memberikan hukuman untuk mereka semua," sela Damian.
"Baiklah," jawab Kiara dan Vina bersamaan.
Sebelum Kiara dan Vina pergi. Keduanya menatap dengan tatapan mengejeknya kearah para sampah di hadapannya itu.
"Selamat menemui kemiskinan kalian," ucap Kiara dan Vina dengan suara keras.
Setelah itu, Kiara dan Vina pun pergi dengan wajah bahagianya.
Enda dan Riyan menatap penuh amarah orang-orang yang ada di hadapannya.
"Siapa kalian?! Dan kenapa kalian membantu dua wanita sialan itu, salah satunya adalah Vina!" bentak gadis sombong itu.
Mendengar bentakkan dan pertanyaan dari gadis yang ada di hadapannya membuat Riyan dan Enda menatap tajam kearah gadis itu. Terutama Riyan.
"Apa kau yakin ingin tahu siapa kami berdua?" tanya Enda.
"Dan apa kau yakin ingin tahu apa hubungan kami dengan kedua gadis itu?" tanya Riyan.
"Tidak usah berbelit-belit. Langsung saja jawab pertanyaan dari gadis itu!" bentak seorang pengunjung laki-laki.
Mendengar pertanyaan dari salah satu pengunjung tersebut membuat Enda dan Riyan tersenyum.
"Baiklah. Tapi aku minta kepada kalian semua untuk tidak menyesal setelah mengetahui siapa kami berdua dan apa hubungan kami dengan kedua gadis yang sudah kalian hina itu," sahut Enda.
"Dan tidak ada yang namanya kata perdamaian ketika kalian semua mengetahui kebenarannya," sela Riyan.
"Kalian semua akan hancur dalam hitungan jam!" Enda dan Riyan berucap bersamaan dengan menatap tajam orang-orang yang sudah menghina kekasihnya.
Mendengar perkataan dari Enda dan Riyan membuat para pengunjung sedikit ketakutan. Begitu juga dengan gadis sombong itu dan keempat teman-temannya.
"Baiklah. Perkenalkan namaku adalah... Adalah... Adalah Enda Aldama. Dan ini adalah adik laki-lakiku Riyan Aldama. Kami berdua adalah putra kedua dan ketiga dari Fathir Aldama dan Nashita Fidelyo."
Deg!
Mendengar perkataan dari Enda membuat para pengunjung, gadis sombong itu dan keempat teman-temannya terkejut.
Mereka semua tahu siapa itu keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo. Keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo adalah keluarga yang dikenal kejam dan tanpa ampun terhadap musuh-musuhnya dan terhadap orang-orang yang mengusik anggota keluarganya. Dua keluarga itu akan dua kali lipat membalas orang-orang yang sudah berani mengusik anggota keluarganya.
"Dua gadis yang barusan kalian hina itu adalah kekasih kami sekaligus calon istri kami. Mereka adalah Kiara Zaskiya Madhavi dan Vina Adelia Gustavo," ucap Riyan dengan menekan nama marga dari istri dan kakak iparnya.
Mendengar perkataan dari Riyan dengan menyebut nama lengkap dari kedua gadis yang telah mereka hina membuat mereka semua kembali terkejut. Mereka saat ini benar-benar ketakutan. Begitu juga dengan gadis sombong itu dan keempat teman-temannya.
"Kalian juga tahukan bagaimana hubungan dua keluarga itu dengan keluarga Ernest dan keluarga Fidelyo dan keluarga Aldama?" tanya Riyan dengan menatap marah semua orang yang ada di hadapannya.
"Dan kalian juga pasti tahukan sepak terjang dari keluarga Gustavo dan keluarga Madhavi diluar sana?" tanya Enda.
"Baiklah. Untuk mempersingkat waktu. Kita langsung saja ya. Wajah-wajah kalian semua sudah aku rekam dan sudah aku kirim ke anak buahku. Aku meminta anak buahku untuk menyelidiki latar belakang kalian semua. Setelah mendapatkan semua itu, aku memerintahkan mereka untuk menghancurkan kalian sehingga kalian semua kehilangan harta benda kalian."
Mendengar perkataan dari Enda membuat mereka semua terkejut dan juga ketakutan. Mereka tidak ingin kehilangan harta mereka.
Ketika salah satu pengunjung ingin membuka mulutnya bermaksud ingin meminta maaf. Riyan langsung menghentikannya.
"Seperti yang sudah kami katakan dari awal. Tidak ada yang namanya kata perdamaian," ucap Riyan dengan penuh penekanan.
"Kalian semua akan mendapatkan kabar tentang kehancuran kalian paling lambat besok sekitar pukul 10 pagi di internet. Persiapkan mental kalian," ucap Enda.
Riyan menatap wajah gadis sombong itu, lalu melangkah mendekati gadis tersebut.
"Dan kau," ucap Riyan. "Aku bertanya padamu. Siapa nama ayahmu?"
Tidak mendapatkan jawaban. Justru Riyan mendapatkan tantangan dari gadis itu membuat Riyan seketika marah.
Srek!
"Aakkhh!" gadis itu berteriak kesakitan ketika pemuda di hadapannya tiba-tiba mencekik lehernya.
Semua orang yang ada di sekitarnya seketika menjerit ketakutan ketika melihat Riyan yang tiba-tiba mencekik leher gadis itu.
"Aku tanya sekali lagi. Siapa nama ayahmu!" bentak Riyan dengan menguatkan cekikannya.
"Fa-fazio Bernard," jawab gadis itu terbata.
"Eemm! Dari keluarga Bernard ternyata. Apa nama perusahaan ayahmu BR'Nard?" tanya Riyan menebak.
"I-iya," jawab gadis itu.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan olehnya. Riyan langsung melepaskan cekikannya dengan cara mendorong kuat tubuh gadis itu sehingga tersungkur di lantai.
Riyan menghubungi calon ayah mertuanya. Dirinya berniat untuk membuat perusahaan ayah dari gadis itu bangkrut. Dan Riyan tak lupa meloadspeaker panggilannya itu agar semuanya bisa mendengar termasuk si gadis sombong itu.
"Hallo, Riyan. Ada apa, Nak?"
"Hallo, Paman. Apa Paman sibuk?"
"Tidak. Kenapa?"
"Aku ada kabar buruk untuk Paman. Dan setengah dari kabar buruk itu sudah aku atasi bersama dengan kakak Enda. Sisanya aku ingin Paman menyelesaikannya."
"Kabar buruk tentang apa?"
"Tentang Vina."
"Vina? Kenapa dengan Vina?"
Sang gadis sombong bersama teman-temannya serta para pengunjung mendengar dengan jelas suara seorang pria di seberang telepon. Mereka mendengar dengan jelas pria itu berbicara.
"Putri dari keluarga Bernard telah menghina dan mempermalukan putri dari keluarga Gustavo di depan semua orang. Apakah Paman tidak berniat untuk menghukum orang yang sudah menghina putri Paman?"
"Tentu. Paman tidak akan membiarkan siapa pun menghina putri dari keluarga Gustavo."
"Kalau begitu lakukan sekarang juga. Nama perusahaan dari keluarga Bernard adalah BR'Nard. Bukankah perusahaan Paman bekerja sama dengan perusahaan itu?"
"Iya. Perusahaan Paman memang bekerja sama dengan perusahaan itu. Baiklah, Paman akan membereskan masalah ini. Dan kau akan melihat berita kehancuran keluarga Bernard di internet."
"Baik, Paman."
Setelah mengatakan itu, Riyan langsung mematikan panggilannya.
Riyan menatap kearah gadis itu dengan tatapan nyalangnya.
"Itu adalah hadiah dariku karena kau telah menghina calon istriku, Vina Adelia Gustavo."
Setelah mengatakan itu, Riyan pergi meninggalkan para sampah yang saat ini berdiri dengan tubuh bergetar mereka masing-masing. Dan disusul oleh Enda di belakang.
Sebelum Enda pergi. Enda mengatakan hal yang membuat mereka semua jatuh dan tak berani menatapnya.
"Jangan pernah menilai orang dari luarnya saja. Belum tentu orang yang kalian hina itu jauh dibawah kalian. Sekarang kalian lihatkan? Orang yang kalian hina kedudukan dan statusnya jauh diatas kalian semua."
"Selamat menjemput penderitaan kalian. Dan ucapkan selamat tinggal dengan kekayaan kalian."
Setelah mengatakan itu, Enda benar-benar pergi meninggalkan mereka semua.
Sementara mereka semua merutuki kebodohannya karena telah menghina dua orang yang berasal dari keluarga kaya, terpandang dan keluarga terkejam di negara Jerman.