
Seorang murid perempuan berjalan menyusuri luasnya sekolah. Kakinya melangkah menuju ruang kepala sekolah. Murid perempuan itu tidak peduli dengan tatapan para penghuni sekolah yang sejak tadi terus memperhatikan dirinya.
"Siapa dia?"
"Apa dia murid baru?"
"Murid itu cantik sekali."
Itulah ucapan-ucapan yang diucapkan oleh beberapa penghuni sekolah ketika melihat murid perempuan yang baru pertama kali dilihat.
Disisi lain dimana Billy, Triny, Aryan dan para sahabatnya tengah melangkahkan kakinya untuk menuju kantin. Termasuk Catherine dan Santy.
Sementara Rere, Sinthia dan Kimberly masih di kelas. Mereka akan menyusul setelah menyelesaikan soal matematika yang belum sempat mereka kerjakan di rumah.
Murid perempuan tersebut terus melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan ruang kepala sekolah.
Dan ketika murid perempuan itu terus melangkahkan kakinya, seketika tatapan matanya melihat beberapa murid yang dikenal. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya.
Murid perempuan itu langsung berlari menghampiri murid-murid yang dia kenal itu.
Grep..
"Bersyukur gue ketemu sama kamu Billy!"
Billy yang tiba-tiba mendapatkan pelukan seketika tubuhnya terhuyung ke belakang. Dan untungnya Billy bisa menahannya.
Sementara yang lainnya menatap aneh dan tak suka kearah murid perempuan itu, terutama Catherine.
Setelah puas memeluk tubuh Billy. Murid perempuan itu langsung melepaskan pelukannya.
Kemudian murid perempuan itu melihat kearah Aryan dan Triny. Dan detik kemudian, murid perempuan itu langsung memeluk Triny dan Aryan secara bersamaan.
"Aryan, Triny. Aku kangen kalian!"
"Risma!" Aryan dan Triny berucap bersamaan.
Setelah puas memeluk keduanya, murid perempuan yang bernama Risma tersebut langsung melepaskan pelukannya.
Risma menatap wajah Billy, Triny dan Aryan sembari tersenyum. Begitu juga dengan ketiganya.
"Sejak kapan kamu jadi murid disini?" tanya Billy.
"Sejak hari ini," jawab Risma.
"Kenapa kita nggak ada yang tahu?" tanya Aryan.
"Kalian nggak ada yang nanya," jawab Risma asal.
Tak..
"Aakkhh!"
Triny langsung memberikan satu jitakan gratis di kening Risma karena kesal akan jawaban dari Risma.
"Yak, Triny! Kamu kenapa mukul kepalaku?"
"Mau lagi?" tanya Triny dengan tangannya yang sudah bersiap-siap ingin memberikan jitakan kembali.
Mendengar pertanyaan serta melihat tangan Triny yang hendak memberikan jitakan kedua membuat Risma langsung menjauh dari Triny.
Catherine mendekatkan wajahnya ke telinga Billy bermaksud ingin bertanya tentang Risma.
"Bil, dia siapa?"
Billy seketika melihat kearah Catherine. "Dia Risma, sepupu aku juga."
"Sepupu yang dari mana?"
"Mommy Nashita, Bunda, Papa Rafassya dan Papa Nirvan memiliki satu sepupu perempuan yang bernama Indira. Nah! Indira itu Mamanya Risma."
"Oh gitu?"
"Hm!"
"Apa tante Indira nggak punya kakak atau adik, gitu?" tanya Catherine.
"Tidak. Mama Indira anak tunggal di keluarga. Hanya nenek Huliya yang memiliki 4 orang anak. Sementara dua adik perempuannya hanya memiliki satu anak."
"Jadi kamu, kak Triny, Aryan dan Kimberly memiliki 3 orang nenek?"
"Iya. Dan hanya satu yang tersisa. Nenek yang paling kecil. Sekarang dia tinggal di kota Berlin."
"Apa nenek kamu itu tinggal sendirian disana?"
"Ya, nggaklah! Ada anak, menantu dan cucu-cucunya yang menjaganya. Mereka tinggal satu rumah. Rumah yang mereka tempati itu berdekatan dengan rumah kedua kakak perempuannya yaitu rumah nenek kita dan rumah neneknya Risma."
"Oke, aku mengerti!"
Billy tersenyum lalu tangannya mengusap lembut kepala Catherine.
"Apa kamu sudah menemui kepala sekolah?" tanya Triny.
"Aku sejak tadi mencari keberadaan ruang kepala sekolah. Tapi nggak berhasil. Nanya sama para penghuni disini. Nggak ada satu yang mau ngasih tahu. Semuanya pada ketus ketika aku nanya. Padahal aku nanyanya baik-baik," jawab Risma.
"Apa benar yang kamu katakan itu Risma?" tanya Billy.
"Jadi kamu nggak percaya sama aku?" Risma balik memberikan pertanyaan kepada Billy.
Risma melihat kearah lain, lalu tatapan matanya tak sengaja melihat beberapa murid perempuan yang mana kepada mereka lah Risma bertanya.
"Nah, tuh mereka!" seru Risma menunjuk kearah sekitar 5 murid perempuan yang berjalan menuju kelas.
Baik Billy, Aryan, Triny maupun yang lainnya langsung melihat kearah tunjuk Risma.
"Aku bertanya sama mereka. Jika ingin bukti. Coba panggil mereka kesini. Dan tanyakan kepada mereka," sahut Risma.
Billy kembali menatap kearah Risma. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Ya, sudah. Biarkan saja. Lebih baik kamu ikut kita ke kantin. Setelah itu, aku yang akan antar kamu menemui kepala sekolah," ucap Billy.
"Baiklah kalau begitu. Oh iya! Kimberly mana? Kenapa aku nggak lihat dia sejak tadi?" tanya Risma yang seketika menyadari bahwa tidak melihat keberadaan Kimberly.
"Kimberly masih di kelasnya bersama Rere dan Sinthia," jawab Santy.
"Mereka nanti nyusul," sela Catherine.
Setelah itu, Billy dan yang lainnya melangkahkan kakinya menuju kantin.
^^^
Di kelas Kimberly, Rere dan Sinthia masih mengerjakan soal matematika. Baik Kimberly maupun Rere dan Sinthia sama-sama fokus dengan soal-soal matematika tersebut.
"Kim, lo tinggal berapa soal lagi?" tanya Rere.
"Lima. Kenapa?" jawab Kimberly.
"Gue lapar nih! Ke kantin yuk," ajak Rere.
Mendengar perkataan dan juga keluhan dari Rere. Kimberly langsung melihat kearah Rere. Begitu juga dengan Sinthia.
"Lapar," ucap Rere lagi dengan memperlihatkan wajah memelasnya.
Kimberly melihat kearah Sinthia. Lalu dibalas dengan Sinthia yang mengangkat kedua bahunya ke atas.
"Lanjut oke. Ke kantin juga oke! Terserah lo Kim," sahut Sinthia.
"Ya, udah! Kita ke kantin sekarang!"
Seketika terukir senyuman manis di bibir Rere. Begitu juga dengan Sinthia. Dengan gerakan cepat, Rere dan Sinthia langsung menutup buku tulis dan buku paketnya. Setelah itu, keduanya memasukkan buku-buku itu ke dalam tas sekolahnya.
Setelah selesai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas sekolahnya. Kimberly, Rere dan Sinthia langsung beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan kelas untuk menuju kantin.
^^^
Ketika Kimberly, Rere dan Sinthia melangkahkan kakinya menyusuri setiap koridor sekolah. Kimberly mendengar ucapan demi ucapan dari beberapa murid perempuan.
[Aku dengar ada siswi baru di sekolah ini]
[Iya. Aku juga dengar hal itu. Siswi itu kelas berapa dan bakal masuk ke kelas apa ya?]
[Oh iy! Tadi kita berdua ngeliat tuh siswi baru udah berani meluk Billy loh]
[Bahkan siswi baru itu meluk Billy di depan Catherine]
[Benarkah?]
[Iya, benar! Bukan hanya Billy doang yang dipeluk. Aryan juga]
[Wah! Parah tuh cewek. Apa dia masuk ke sekolah ini untuk tebar pesona doang!]
"Cih!" Kimberly berdecak ketika mendengar ucapan demi ucapan dari teman-teman sekolahnya.
Kimberly melanjutkan perjalanan menuju ke kantin. Begitu juga dengan Rere dan Sinthia.
"Kim," panggil Rere.
"Hm." Kimberly berdehem sebagai jawabannya.
"Kira-kira siapa ya siswi baru itu?"
"Nggak tahu," jawab Kimberly.
"Apa lo percaya ya mereka katakan bahwa siswi baru itu memeluk Billy dan Aryan?"
"Nggak tahu," jawab Kimberly lagi.
"Yak, Kim! Kenapa jawaban lo itu mulu sih? Nggak ada yang lain ya?" kesal Rere.
"Nah, lo sendiri ngapain nanya hal itu sama gue? Apa nggak ada pertanyaan yang lain yang lebih bermanfaat?" jawab Kimberly yang tak kalah kesal.
"Hahahaha!"
Seketika tawa Sinthia pecah ketika mendengar perdebatan Kimberly Rere yang menurut dirinya benar-benar lucu.