
Jason dan Riyan sudah berada di luar rumah dan hendak menuju ke mobil. Ketika mereka ingin membuka pintu mobil. Mereka dikejutkan dengan suara orang yang sedang bersin bersin.
"HACCIIIMM! HAACCIIIMM!"
Jason dan Riyan langsung melihat kearah orang yang bersin-bersin tersebut. Ketika keduanya melihat orang yang bersin-bersin tersebut, keduanya terkejut. Ternyata orang yang bersin-bersin itu adalah adik perempuannya. Ditambah lagi adik perempuannya dalam keadaan basah kuyub.
Jason menghampiri adiknya, sementara Riyan sudah berlari masuk ke dalam rumah.
"Kemana saja main sepedanya sampai kehujanan gini?"
"Haacciiim! Kakak... nanti saja nanyanya. Dingin nih," jawab Kimberly.
Lalu Riyan datang membawa handuk dan langsung diletakkan di atas kepala adiknya. Detik kemudian, Riyan membantu mengeringkan rambut adiknya sembari menjahilinya.
"Yak! Kak Iyan. Kakak niat bantuin aku apa justru membuat rambutku berantakan sih?"
"Dua-duanya," jawab Riyan.
"Kakak."
Kimberly langsung pergi begitu saja meninggalkan kedua kakaknya yang masih berada di luar yang sedang tersenyum menatapnya. Kimberly masuk dalam keadaan kacau terutama rambutnya.
Setibanya Kimberly di dalam dirinya di sambut dan juga diserang berbagai macam pertanyaan dari ibunya dan kedua kakaknya yang lain.
"Astaga, sayang! Kenapa kamu sampai hujan-hujanan begini sih? Nanti kalau demam, bagaimana?" tanya Nashita yang melihat putri bungsunya yang basah kuyub.
"Dan tuh rambut kenapa udah kayak kemoceng aja," ucap Uggy.
"Kenapa?" tanya Kimberly ketus.
"Yeeeyy! Santai dong. Jangan ngegas gitu. Ntar cantiknya hilang." Uggy berbicara sembari menggoda adiknya.
"Kan adik perempuan kita memang sudah jelek dari sananya, Kak! Kakak baru tahu ya?" Enda masih terus menjahili adiknya.
"Yak! Kak Enda benar-benar ya. Adek sendiri dibilang jelek. Awas saja. Nanti pulang Daddy aku bakal aduin Kakak."
Baik Nashita, Uggy, Enda maupun Jason dan Riyan yang kini sedang melangkahkan kakinya menuju ruang tengah tersenyum ketika mendengar ucapan adiknya.
"Aduin aja. Kakak gak takut. Palingan nanti Daddy juga bakalan kayak Kakak," ucap Enda.
"Au ach. Bodoh!"
Kimberly langsung pergi begitu saja meninggalkan ibu dan keempat kakaknya menuju kamarnya di lantai dua.
Mereka yang melihat wajah kesal Kimberly tersenyum bahagia. Sementara Nashita hanya geleng-geleng kepala melihat keempat putranya yang selalu menjahili putri bungsunya.
"Mom. Sepertinya Kimberly bakal demam nanti. Tadi diluar Kimberly berulang kali bersin-bersin," ucap Jason.
"Nanti Mommy buatkan adikmu itu jahe hangat," jawab Nashita.
^^^
Ke esokkan harinya semuanya sudah berada di meja makan untuk sarapan pagi bersama. Dan semuanya pun sudah dalam keadaan rapi.
"Bagaimana tidurnya putri Daddy yang cantik ini, hum?" tanya Fathir.
"Nyenyak Dad," jawab Kimberly sembari mengunyah makanannya.
"Pagi ini mau diantar atau pergi sendiri?" tanya Uggy.
"Eemm... diantar lagi, boleh?" tanya Kimberly.
"Boleh," jawab Jason, Uggy, Enda dan Riyan bersamaan.
"Mau diantar sama siapa?" tanya Riyan.
"Sama Kak Riyan aja. Tapi sebelum ke sekolah kita mampir ke supermarket dulu ya, Kak!"
"Ngapain?" tanya Riyan.
"Mau beli sesuatu," jawab Kimberly.
"Oke," jawab Riyan.
"Kak Jason," panggil Kimberly.
"Ada apa, hum?"
"Pinjem kartunya buat belanja." Kimberly berbicara sambil mengadahkan tangannya kearah Jason.
Jason langsung mengambil dompet yang ada di saku celananya, lalu mengeluarkan Black Card platinum.
"Ini." Jason memberikan Black Card miliknya kepada adik perempuannya.
"Punya kamu kan ada sayang. sepuluh malahan," ucap Nashita.
"Mommy kayak gak tahu aja bagaimana sifat dan kelakuan putri Mommy ini. Putri Mommy ini kan sukanya malakin kakak-kakaknya," ejek Uggy.
Mendengar ejekan dari Kakak keduanya, Kimberly manggut-manggut sambil fokus dengan sarapan pagi. Yang jelas saat ini dirinya bahagia bisa belanja sepuasnya menggunakan kartu milik kakak tertuanya.
"Hari ini Kak Jason yang jadi korbannya. Besok mungkin aku," sahut Uggy.
"Pake ngelak lagi "ucap Uggy.
"Memang benar. Besok dan besoknya lagi aku gak malak siapa-siapa karena hari ini aku sudah dapat dua korban," jawab Kimberly.
Mendengar ucapan adik perempuannya, Baik Jason, Uggy maupun Enda dan Ryan saling lirik dan kemudian menatap Kimberly.
"Siapa?" tanya Jason, Uggy, Enda dan Riyan.
"Pertama Kak Jason. Aku sudah dapat kartunya. Dan yang kedua Kak Iyan. Nanti saat di supermarket. Kak Iyan yang bayarin belanjaan aku." Kimberly menjawab dengan wajah tak bersalahnya.
"Dasar adik laknat," ucap Riyan.
"Terima kasih Kakakku sayang." Kimberly tersenyum kemenangan.
Nashita dan Fathir tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat anak-anaknya yang selalu kompak dan akur.
***
Sesuai apa yang dibicarakan sebelum berangkat ke sekolah. Jika Riyan yang akan mengantar Kimberly ke sekolah. Dan Riyan juga mengantar Kimberly ke supermarket dan membayar semua belanjaan adiknya itu. Sementara kartu milik Jason akan digunakan oleh Kimberly ketika pulang sekolah nanti.
Kini Kimberly sudah berada di sekolahnya. Ketika tiba di kelasnya. Baik Kimberly, keempat sahabatnya maupun teman-teman sekelasnya mendapatkan pembagian kelompok untuk pelajaran matematika. Jumlah murid di kelas Kimberly 34 murid. Dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok berjumlah 17 murid.
Kimberly satu kelompok dengan Talitha dan Syafina. Kelompok Kimberly akan mengikuti pelajaran matematika bergabung dengan anak kelas XI.
Dan kini kelompok Kimberly sudah berada di kelas XI. Kimberly duduk barisan bangku nomor tiga. Setelah semua murid berada di dalam kelas. Guru matematika itu pun segera memulai pelajaran.
Ketika guru matematika itu sedang menjelaskan material pembelajarannya kepada murid-muridnya, tiba-tiba mereka semua mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Mereka yang mendengar suara ketukan pintu dari luar langsung mengalihkan perhatiannya melihat kearah pintu. Dan dapat mereka lihat Antoni sianak baru yang datang terlambat. Kimberly yang melihat kedatangan Antoni seketika wajahnya berubah menjadi kusut dan tak nyaman.
"Masuk," ucap guru matematika itu.
Setelah mendapatkan izin, Antoni pun langsung melangkahkan kakinya memasuki kelas. Antoni melangkahkan kakinya ke belakang dan langsung duduk di sebelah Kimberly.
"Sial. Kenapa dia harus duduk di sebelahku sih? Kan masih ada empat bangku kosong disana," batin Kimberly.
"Kita lanjutkan pelajarannya. Sekarang kalian buka halaman 120!" seru guru matematika itu.
"Kenapa kau nekat hujan-hujanan kemarin Kimberly? Jika kau menerima ajakanku kemarin. Mungkin kau tidak akan kehujanan." Antoni berbicara berbisik di telinga Kimberly.
"Itu urusanku. Bukan urusanmu," jawab Kimberly.
"Kau masih saja ketus padaku Kimberly. Sudahlah. Jangan sok jual mahal. Aku tahu kau kalau kau itu masih mencintaiku. Jika tidak kau pasti sudah memiliki kekasih. Tapi buktinya kau belum memiliki kekasih." Antoni berbisik di telinga Kimberly.
"Aku bilang itu bukan urusanmu. Dan masalah aku masih mencintaimu atau tidak. Itu hanya aku yang tahu. Bukan laki-laki brengsek sepertimu. Kau tidak tahu apa-apa mengenaiku," jawab Kimberly.
Antoni hanya tersenyum mendengar jawaban dari Kimberly. Dirinya makin bertekad untuk mendapatkan Kimberly dan menjadi Kimberly miliknya seutuhnya. Sekali pun Kimberly sudah memiliki kekasih, Antoni tidak peduli.
Antoni tiba-tiba dengan beraninya menyentuh tangan Kimberly dan kemudian menggenggamnya. Kimberly yang merasakan tangannya yang digenggam oleh Antoni menjadi marah.
Kimberly ingin menarik tangannya, namun Kimberly tidak berhasil. Antoni menggenggamnya terlalu kencang. Talitha dan Syafina yang melihat itu tersenyum menyeringai. Keduanya saling lirik dan seketika terlintas ide untuk membalas Kimberly.
"Lepaskan tanganku, Antoni." Kimberly berbicara pelan agar guru matematika tersebut tidak mendengar.
"Kalau aku tidak mau. Kau mau apa?" Antoni menatap wajah cantik Kimberly.
"Kau jangan gila Antoni. Ini di kelas. Dan aku sedang mengikuti pelajaran matematika. Jadi jangan menggangguku," ucap Kimberly.
"Aku tidak mengganggumu. Kau masih bisa mengikuti pelajaran matematika tanpa aku melepaskan tanganmu," jawab Antoni.
"Sekali lagi aku katakan padamu Antoni. Lepaskan tanganku." Kimberly menatap tajam Antoni.
"Aku akan melepaskan tanganmu, tapi dengan satu syarat. Kau harus mengecupku disini." Antoni berbicara sambil menunjuk kearah bibirnya.
Mendengar perkataan dari Antoni membuat Kimberly tidak bisa menahan amarahnya lagi. Kimberly benar-benar marah saat ini.
PLAAKK!
Kimberly memberikan tamparan keras di wajah Antoni. Dan hal itu sukses membuat seisi kelas begitu juga guru matematika itu melihat kearah Kimberly dan Antoni. Mereka semua terkejut ketika melihat tatapan marah Kimberly terhadap Antoni. Dengan sekuat tenaganya, Kimberly menarik tangannya dari pegangan tangan Antoni.
"Kau benar-benar laki-laki brengsek Antoni. Apa belum puas kau menyakitiku dulu? Apa belum puas kau memakiku, menghinaku dan menyebutku sebagai wanita murah*n? Dan sekarang kau dengan sengajanya keluar dari sekolah lamamu dan pindah ke sekolahku hanya untuk kembali menyakitiku. Kau pikir aku wanita yang gampang ditindas dan disakiti. Aku bisa berubah menjadi monster yang kejam untuk orang-orang yang mencari masalah denganku!" bentak Kimberly dan jangan lupa air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya.
Melihat Kimberly yang sudah menangis membuat seisi kelas menatap tak suka Antoni, kecuali Talitha dan Syafina.
"Kau yang sudah mencampakkanku dan lebih memilih perempuan lain yang tak lain adalah mantan sahabatku sejak kecil. Kau lebih percaya video itu dari pada mempercayaiku. Dan sekarang kau mengejar-ngejarku kembali setelah kau mengetahui yang sebenarnya. Dan dengan beraninya kau memintaku untuk melakukan hal menjijikkan itu padamu. Dasar manusia rendahan!" bentak Kimberly.
Setelah itu, Kimberly pergi meninggalkan kelas XI dengan keadaan menangis.
"Huuuuuu!" teriak teman-teman sekelasnya. Mereka semua mengejek Antoni.
^^^
Kimberly melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah sambil terus menangis. Dirinya benar-benar tidak ada harga diri sama sekali ketika berhadapan dengan Antoni.
"Hiks... Brengsek! Kau benar-benar laki-laki brengsek Antoni!"
Kimberly terus melangkah tanpa menyadari ada sepasang mata yang menatap dirinya. Ketika orang itu mendengar ucapan dari Kimberly. Orang itu benar-benar marah.
"Awas kau Antoni. Kau sudah berani membuat perempuan yang sangat aku cintai menangis," batin orang itu.