THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Gadis Pengganggu



Saat ini Kimberly dalam perjalanan menuju perusahaan ayahnya. Dirinya kini tengah sibuk berkutat dengan ponselnya.


"Paman."


"Iya, nona!"


"Apa Daddy sibuk di kantor?"


"Ketika saya pergi menjemput nona. Seperti tuan tengah sibuk. Dan kemungkinan saat ini tuan sudah selesai."


"Ach, baiklah."


"Oh iya! Apa Paman sudah sarapan? Ini sudah pukul 8."


"Saya hanya minum teh tadi sebelum pergi menjemput nona."


Mendengar jawaban dari kepercayaan ayahnya membuat Kimberly kasihan. Kimberly berpikir bahwa kepercayaan ayahnya ini belum sempat sarapan karena terlalu banyak pekerjaan yang diberikan oleh ayahnya.


"Paman, boleh aku minta tolong?"


"Tentu boleh nona. Nona minta tolong apa?"


"Nanti di depan kan ada supermarket. Kita berhenti sebentar ya."


"Baik, nona!"


Setelah itu, tidak ada yang bersuara. Keduanya sama-sama hening. Kimberly kembali fokus menatap layar ponselnya. Sementara kepercayaan ayahnya fokus menyetir.


Beberapa menit kemudian...


"Nona, kita sudah sampai di depan supermarket!"


Mendengar perkataan dari kepercayaan ayahnya. Kimberly langsung melihat ke samping. Dan benar bahwa mobilnya berhenti di depan supermarket.


"Baik, Paman."


Setelah itu, Kimberly pun keluar dari dalam mobilnya dan tak lupa kepercayaan ayahnya itu sudah terlebih dulu membukakan pintu untuknya.


Kimberly melangkahkan kakinya memasuki supermarket dengan diikuti oleh sang kepercayaan dari ayahnya.


Laki-laki itu hanya memperhatikan dari jauh, walau laki-laki itu juga ikut masuk ke dalam supermarket tersebut.


Kimberly melangkah menyusuri bagian makanan. Setelah berada disana, tangannya mengambil beberapa cemilan dan roti.


Setelah mendapatkan sekitar 10 ciki dan 10 roti. Kimberly melangkah menuju deretan minuman.


Setiba disana, Kimberly mengambil masing-masing 5 botol minuman dengan tiga rasa.


Puas mendapatkan apa yang diinginkannya, Kimberly pun pergi menuju kasir.


"Kak, ini hitung punyaku!"


"Baik, kak!" Kasir itu menjawab dengan lembut.


Namun ketika sang kasir hendak menghitung belanjaan Kimberly, tiba-tiba datang seorang gadis yang seumuran dengan Kimberly. Gadis itu tiba-tiba membuang semua belanjaan Kimberly ke lantai dan meletakkan barang belanjaannya.


Melihat apa yang dilakukan oleh gadis itu membuat Kimberly membelalakkan matanya tak percaya. Bahkan semua belanjaan berserakan di lantai.


"Hei! Apa yang kau lakukan, hah!" teriak Kimberly.


Gadis itu menatap tak suka kearah Kimberly. "Apa?!"


"Kamu sudah membuang semua belanjaanku. Ambil sekarang."


"Memang kau siapa?! Enak saja memberikan perintah padaku!" bentak gadis itu.


"Aku bukan memberikan perintah padamu. Tapi aku memintamu untuk memungut semua barang belanjaanku yang kau buang ke lantai." Kimberly berucap dengan menatap tajam gadis itu.


"Kau punya tangan kan? Ambil saja sendiri," jawab gadis itu.


Setelah itu, gadis itu menatap kearah kasir dengan tersenyum di sudut bibirnya.


"Kak, hitung semua punyaku."


Melihat apa yang dilakukan oleh gadis itu membuat Kimberly tersenyum di sudut bibirnya.


Ketika kasir itu hendak memulai menghitung belanjaan gadis itu, Kimberly dengan kejamnya mengambil semua belanjaan gadis itu lalu membuangnya ke lantai dengan cara melemparnya dengan keras sehingga semua belanjaan gadis itu berserakan dimana-mana.


Melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly membuat gadis tersebut menggeram marah.


Gadis itu menatap tajam kearah Kimberly. Begitu juga dengan Kimberly. Bahkan Kimberly memberikan sedikit senyumannya. Ach! Lebih tepatnya senyuman mengejek.


"Kenapa? Mau marah? Bukankah impas, hum! Kau membuang semua belanjaanku. Aku balas dengan membuang semua belanjaanmu!"


Kimberly menatap remeh gadis di depannya. Sementara gadis itu menatap penuh amarah Kimberly dengan kedua tangannya mengepal kuat.


"Kau berani denganku?!" bentak gadis itu.


"Tentu aku berani. Buktinya barusan aku membalas apa yang kamu lakukan kepadaku," jawab Kimberly.


Beberapa pengunjung supermarket itu tersenyum ketika mendengar jawaban dari Kimberly dan menatap jijik kearah gadis di depannya.


Gadis itu makin menatap tajam kearah Kimberly. Dirinya tidak terima ada yang berani padanya. Yang diinginkan olehnya adalah semua orang harus takut dan tunduk padanya.


Tak butuh lama, datang seorang laki-laki berpakaian hitam menghampiri gadis itu.


Melihat seorang laki-laki menghampiri gadis itu dan sudah berdiri di samping gadis itu membuat para pengunjung supermarket menatap kasih Kimberly. Mereka takut jika laki-laki itu akan menyakiti Kimberly.


"Kau, beri pelajaran pada perempuan itu. Dia sudah berani melawan padaku. Bukan itu saja. Coba lihat, semua belanjaanku dibuang oleh dia."


Gadis itu berbicara sambil menatap laki-laki yang berdiri di sampingnya dan juga menunjuk kearah Kimberly.


"Baik, nona!"


Setelah mengatakan itu, laki-laki itu langsung berjalan menghampiri Kimberly bertujuan untuk menjalankan perintah dari majikannya.


Namun seketika langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan seseorang disertai bunyi suatu benda.


"Berhenti disitu atau peluru ini menembus kepalamu!"


Semua yang ada di dalam supermarket itu langsung melihat kearah laki-laki berpakaian setelan jas hitam dengan pistol di tangannya berjalan menghampiri Kimberly.


Laki-laki yang berstatus sebagai bodyguard gadis itu seketika berubah ketakutan. Begitu juga dengan gadis itu.


Kini sang kepercayaan Fathir sudah berdiri di samping Kimberly dengan tatapan matanya menatap kearah laki-laki yang hendak menyakiti majikannya dengan pistol yang masih mengarah kearah laki-laki itu.


"Paman, turunkan senjatanya!"


"Baik, nona!"


Laki-laki itu langsung menuruti perintah dari Kimberly dengan menuruni senjatanya.


Kimberly menatap remeh kearah gadis yang sudah mencari masalah dengannya.


"Di atas langit masih ada langit, nona! Anda bersikap seolah-olah anda adalah seorang penguasa. Dan harus ditakuti. Tapi dibalik itu, masih ada di atas anda yang lebih berkuasa dan lebih menakutkan."


"Semoga ini adalah pertemuan pertama dan terakhir ya nona. Aku harap kita tidak bertemu lagi. Jika kita sampai bertemu lagi dan nona masih mencari masalah denganku. Aku tidak menjamin keselamatan nona dan seluruh anggota keluarga nona."


Setelah mengatakan itu, Kimberly berjongkok untuk memungut semua belanjaannya.


Melihat apa yang dilakukan oleh majikannya. Laki-laki itu langsung menahan tangan Kimberly.


"Nona, biarkan saya saja."


"Tidak apa-apa, Paman! Paman cukup awasi mereka saja. Takutnya mereka main curang."


Mendengar perkataan dari majikannya membuat laki-laki itu langsung melihat kearah dua orang yang masih berdiri di hadapannya itu.


Melihat interaksi antara Kimberly dan laki-laki berpakaian hitam itu membuat para pengunjung dan kasir supermarket itu menatap kagum dan bangga terhadap Kimberly. Mereka semua begitu menyukai sifat lemah lembut dan sopan santun Kimberly terhadap bawahannya. Apalagi mereka sempat mendengar kalau Kimberly memanggil Paman kepada bawahannya itu.


Berbeda jauh dengan gadis yang menjadi lawannya. Gadis itu tidak menunjukkan sifat ramah dan sopan ketika berbicara dengan bawahannya. Bahkan cara berbicara sangat kasar.


***


Di perusahaan FTR'Corp terlihat seorang pria paruh baya yang sejak tadi mondar-mandir di ruang kerjanya memikirkan putrinya yang tidak kunjung datang. Bahkan Fathir sudah berulang kali menghubungi putrinya, namun putrinya itu tidak menjawab panggilan darinya.


"Lebih baik aku menghubungi Ishan," gumam Fathir.


Fathir kemudian mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Lalu mencari nama kontak 'Ishan' di menu kontaknya.


Setelah mendapatkan nama tangan kanannya itu, Fathir pun langsung meredialnya.


Beberapa detik kemudian...


"Hallo, tuan!"


"Kau dimana sekarang? Apa kau sudah menjemput putriku?"


"Saya sekarang ada di supermarket bersama nona, tuan! Tadi ketika di perjalanan menuju perusahaan. Nona meminta saya untuk singgah ke supermarket dulu. Katanya ada sesuatu yang ingin dibeli."


"Apa putriku sudah selesai belanjanya?"


"Sudah, tuan! Tapi ada gangguan ketika nona hendak membayar belanjaannya."


"Apa yang terjadi?"


"Ada seorang gadis yang seumuran dengan nona datang dan langsung membuang semua belanjaan nona ke lantai. Setelah itu, gadis itu meletakkan semua belanjaannya di meja kasir."


Mendengar penuturan dari Ishan membuat Fathir marah. Dalam hatinya, kenapa ada saja orang yang suka mengusik putrinya. Padahal putrinya tidak pernah mengusik orang lain.


"Lalu apa yang terjadi setelah itu?"


"Nona membalas apa yang dilakukan oleh gadis itu sehingga membuat gadis itu tidak terima. Gadis itu kemudian memanggil bodyguardnya. Gadis itu meminta bodyguardnya untuk menyakiti nona. Namun ketika bodyguardnya itu hendak menghampiri nona, saya langsung menghampiri nona dengan menodongkan senjata kearah bodyguardnya."


Fathir tersenyum puas ketika mendengar jawaban dari Ishan. Dirinya akan melakukan hal yang sama seperti Ishan jika melihat anggota keluarganya akan disakiti.


"Apa putriku sudah selesai dengan urusannya?"


"Sudah, tuan! Sekarang ini nona tengah berjalan menuju pintu keluar supermarket. Sementara saya sudah menunggu di depan mobil."


"Baiklah. Langsung ke perusahaan. Jangan singgah kemana-mana lagi."


"Baik, tuan!"


Setelah selesai berbicara dengan Ishan. Fathir langsung mematikan panggilannya.