
Plak...
"Aakkhhh!"
Terdengar suara tamparan yang begitu keras yang dilakukan oleh seorang pria paruh baya kepada seorang gadis berusia 18 tahun sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan di pipinya.
"Papa memberikan kepercayaan perusahaan MN'Da Corp kepada kamu untuk kamu kembangkan bukan untuk kamu hancurkan, Lala!" bentak Ilman kepada putri bungsunya.
"Apa yang ada di pikiran kamu saat itu, Nak? Kenapa kamu menghina tamu kamu yang datang ke perusahaan kita? Seharusnya kamu menyambutnya dan bersikap ramah," ucap Rury sang ibu.
"Lihatlah! Akibat perbuatan kamu. Kita semua kena imbasnya!" sela Andy kakak tertuanya Lala.
"Kamu sejak dulu tidak pernah berubah Lala. Paman pikir dengan ayah kamu memberikan kepercayaan untuk pengurus perusahaan MN'Da Corp kamu akan berubah menjadi dewasa lagi. Dan kamu tidak akan suka merendahkan orang lain lagi. Tapi Paman salah. Justru sifat kamu makin parah."
"Dan parahnya adalah kamu menghina teman satu sekolah SMP kamu dulu yaitu Kimberly. Bibi tahu bagaimana kamu yang menghina dia dan merendahkan dia. Bahkan kamu selalu menatap jijik dia. Dan kamu lihat sekarang! Orang yang selama ini kamu pandang rendah ternyata jauh di atas kamu. Bahkan keluarganya melebihi dari keluarga kita, tapi dia tidak seperti kamu yang suka merendahkan orang lain. Justru dia berpenampilan biasa dan tidak sombong seperti kamu."
Mendengar ucapan demi ucapan amarah dari kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya, kakak-kakaknya serta anggota keluarga lainnya membuat Lala hanya bisa menunduk takut. Dia tidak berani menatap semua anggota keluarganya.
Anggota besar Lala, baik dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya sudah mengetahui siapa Kimberly sebenarnya. Ketika mereka mengetahui identitas asli Kimberly membuat mereka semua terkejut dan syok, terutama Lala. Dia yang paling terkejut ketika mengetahui identitas asli Kimberly mantan teman SMP nya dulu.
"Papa tidak tahu lagi bagaimana cara mendidik kamu Lala! Papa selama ini sudah tahu kelakuan kamu ketika berada diluar rumah terutama ketika di sekolah. Tidak ada sedikit perlakuan baik yang kamu berikan kepada orang-orang di sekitar kamu. Sebaliknya perlakuan buruk yang selalu kamu perlihatkan. Papa malu, Lala! Papa malu!"
Seketika Ilman menangis ketika mengatakan hal itu kepada putri bungsunya. Hatinya benar-benar kecewa akan sikap putri satu-satunya.
"Kamu tahu tidak alasan Papa meminta kamu memimpin perusahaan sehingga kamu harus berhenti sekolah. Itu karena Papa ingin kamu berhenti menyakiti teman-teman kamu yang menurut kamu tidak selevel dengan kamu. Papa pikir dengan kamu memimpin perusahaan kamu bisa belajar lebih dewasa lagi karena memimpin perusahaan itu sama dengan kita mendidik anak-anak. Namun usaha Papa gagal. Kelakuan kamu makin menjadi-jadi."
"Papa berikan kesempatan selama 1 minggu kepada kamu untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Kembalikan semua yang sudah dihancurkan oleh Kimberly atas ulah kamu. Jika selama 1 minggu kamu tidak berhasil mengembalikan semuanya itu, kamu pergi sejauh mungkin. Dan jangan pernah lagi menampakkan wajah kamu di hadapan Papa mau kita semu."
Deg..
Seketika Lala menatap wajah ayahnya. Dirinya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air matanya mengalir membasahi wajahnya.
"Papa... Hiks..."
"Kali ini Papa tidak main-main sama kamu Lala. Dan Papa akan benar-benar membuktikannya. Papa sudah berulang kali memberikan kesempatan. Bahkan Papa sudah berusaha sabar selama ini. Tapi semuanya sia-sia. Kamu tidak pernah berubah, justru makin bertambah parah."
Lala melihat kearah ibunya dengan harapan ibunya itu tidak setuju akan perkataan dari ayahnya itu.
"Jika kamu beranggapan bahwa Mama marah akan keputusan Papa kamu. Kamu salah besar Lala. Justru Mama setuju atas apa yang barusan Papa kamu katakan."
Setelah mengatakan itu, Ilman pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua dan diikuti oleh istrinya. Serta satu persatu anggota keluarganya. Kini tinggal Lala sendirian di ruang tengah.
***
Di sebuah ruangan pribadi yang ada di cafe terkenal di kota Hamburg terlihat beberapa orang sedang saling menatap tajam. Lebih tepatnya hanya sekitar 4 orang menatap penuh amarah kearah dua pasang suami istri.
"Apa tujuan kalian mengajak kami kesini, hah?!" tanya Radit ayahnya Molly.
"Jika tidak ada yang ingin kalian sampaikan. Biarkan kami pergi!" bentak Farid ayahnya Sheela.
Mendengar bentakan dari ayahnya Molly dan Sheela membuat Tommy, Andhika, Aryan dan Billy tersenyum. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya.
"Apa begini cara kalian membalas kebaikan seseorang yang telah menyelamatkan putri kalian waktu itu, hum?" tanya Tommy dengan tatapan matanya menajam.
"Jika aku dan saudara sepupuku tidak datang tepat waktu. Mungkin putri kalian tidak akan ada lagi di dunia ini. Atau bisa juga tubuh putri kalian itu digilir oleh para preman-preman itu," ucap Andhika.
Mendengar perkataan dari Tommy dan Andhika membuat kedua pria itu menatap istrinya masing-masing.
"Delina! Shireen!" Radit dan Farid memanggil istrinya secara bersamaan.
Delina dan Shireen langsung melihat kearah suaminya.
"Apa benar dia yang sudah menolong Molly waktu itu?" tanya Radit.
"Benar. Pemuda itu yang telah menolong Molly."
"Bagaimana dengan kamu, Shireen?" tanya Farid.
"Memang pemuda itu yang telah menolong Sheela," jawab Shireen.
Mendengar jawaban dari para istrinya membuat Radit dan Farid terkejut. Mereka tidak menyangka jika istri-istrinya merahasiakan tentang orang yang sudah menyelamatkan putrinya.
Brak..
Radit seketika menggebrak meja dengan sangat keras sehingga membuat semuanya terkejut berakhir para sahabat dari Billy, Tommy dan Andhika mengumpat.
"Bandot sialan, kampret, monyet, bodoh, gila."
Mendengar umpatan-umpatan dari orang-orang yang ada di hadapannya membuat Radit, Farid dan istrinya langsung melihat ke depan.
"Kenapa kalian mengumpati kamu?!" tanya Radit dan Farid ketus.
"Siapa suruh anda menggebrak meja dengan sangat keras," jawab Andry.
"Marah boleh marah. Tapi pikirkan kita juga dong. Jangan asal main gebrak aja tuh meja," sela Mirza.
Radit dan Farid memang tidak mengetahui jika yang telah menolong Molly dan Sheela adalah Tommy dan Andhika. Hanya istri-istrinya saja yang tahu. Dan sementara istri-istrinya tidak memberitahukan sama sekali.
"Jika kalian tidak bisa diajak kerja sama atau dengan kata lain tidak ingin diajak bicara baik-baik. Maka cara inilah yang menurut sangat benar," sahut Andhika.
"Apa mau kalian? Kalian butuh uang. Katakan saja. Berapa pun kalian minta, kami akan memberikannya." Radit berbicara begitu sombongnya.
Billy, Tommy, Andhika dan lainnya tersenyum mengejek ketika mendengar ucapan dari Radit ayahnya Molly.
"Apa anda pikir kedua orang tua saya sudah tidak mampu lagi memberikan saya uang, hum? Anda salah besar. Berapa pun saya inginkan, kedua orang tua saya masih mampu untuk memberikannya. Jadi aku dan sepupuku Tommy tidak butuh uang dari anda berdua." Andhika berbicara dengan tatapan matanya menatap nyalang Radit dan Farid bergantian.
"Jadi apa mau kalian?" tanya Farid.
"Nyawa kedua putri kalian," jawab Tommy dan Billy secara bersamaan.
Mendengar jawaban kompak dari Tommy dan Billy membuat Radit dan Farid terkejut. Begitu juga dengan Delina dan Shireen.
"Paman dan Bibi saya sudah berbicara baik-baik dengan kalian ketika kalian datang menemui mereka. Tapi kalian sama sekali tidak mengindahkan perkataan dari Paman dan Bibiku." Billy berucap sambil tatapan matanya menatap ibu dari Molly dan Sheela.
"Dan untuk kalian berdua, nyonya! Kalian tahu kesalahan apa yang sudah kalian lakukan? Tolong sebutkan! Siapa tahu kami bisa memaafkannya." ucap Aryan.
"Bagaimana kami bisa menyebut apa kesalahan kami. Sementara kami tidak memiliki kesalahan apapun," ucap Delina.
"Bahkan kami tidak pernah melakukan kesalahan," sahut Shireen.
Mendengar perkataan dari ibunya Molly dan ibunya Sheela membuat Aryan, Billy, Tommy, Andhika dan yang lainnya tersenyum di sudut bibirnya.
"Benarkah nyonya?" tanya Aryan.
"Iya, benar!" Delina dan Shireen menjawab bersamaan.
"Baiklah kalau begitu!"
Billy seketika menghubungi tangan kanannya dan memintanya untuk masuk.
"Hallo, Farden! Bawa kedua laki-laki itu masuk."
"Baik, Bos!"
Setelah itu, Billy langsung mematikan panggilannya dengan tatapan matanya menatap dua pasang suami istri di hadapannya. Begitu juga dengan Aryan, Tommy, Andhika dan yang lainnya.
Cklek..
Terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang. Dan setelah itu, masuklah beberapa orang ke dalam ruangan tersebut.
Bruk..
Dua anggota Farden langsung mendorong kasar tubuh ketiga laki-laki itu tepat di hadapan Delina dan Shireen.
"Maafkan saya nyonya. Tugas yang nyonya Delina dan nyonya Shireen gagal saya dan anggota lainnya lakukan."
Mendengar perkataan dari salah satu laki-laki yang jatuh terduduk bersimpuh di hadapannya membuat Delina dan Shireen terkejut. Begitu juga dengan Radit dan Farid terkejut.
"Bagaimana nyonya? Apa ada alasan lain untuk menyangkalnya?" tanya Tommy.
"Ini sudah satu bukti yang kuat. Mereka tidak akan berani berbohong karena keluarga mereka ada pada kami," sahut Andhika.
"Bahkan mereka sudah melihat dengan mata kepala mereka sendiri salah satu anggota keluarganya terluka gara-gara kami. Dan dari situlah mereka akhirnya mengaku bahwa mereka adalah suruhan kalian berdua," sahut Tommy.
Delina dan Shireen seketika ketakutan. Mereka tidak tahu harus mengatakan apa untuk bela diri.
"Hanya ada dua kesempatan untuk kalian!" seru Billy. "Pertama, menjauhlah dari kami terutama dari Kimberly. Jangan coba-coba untuk menyakitinya atau menculiknya. Atau yang kedua, kami akan bawa masalah ini ke jalur hukum. Dan kalian akan kami tuntut penjara 10 tahun dengan tuduhan ingin menculik lalu menyakitinya."
"Bukan hanya hukuman penjara. Kami juga akan menyakiti putri kalian," sahut Aryan.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Billy, Aryan, Tommy dan Andhika membuka Radit, Farid, Delina dan Shireen terkejut dan juga ketakutan.
"Nyonya, saya sarankan. Lebih baik berhentilah. Jangan usik nona itu. Mereka benar-benar berbahaya."
"Sudah terbukti Nyonya."
"Adik perempuan saya mengalami kecelakaan dan kecelakaan itu dilakukan oleh suruhan mereka."
Mendengar perkataan dari tiga laki-laki yang berlutut di hadapannya membuat Radit, Farid, Delina dan Shireen terkejut dan tak percaya.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bahas," sahut Billy.
"Kalau begitu kami pergi," sahut Aryan.
"Ingat perkataan kami barusan. Jika tidak ingin terjadi sesuatu terhadap kalian dan keluarga kalian," sahut Tommy.
"Ingat! Apapun yang kalian lakukan. Hal itu juga yang akan kami lakukan terhadap kalian," sahut Andhika.
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan dua pasangan suami istri itu bersama tiga laki-laki itu.