
Rica saat ini berada di pusat perbelanjaan. Dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan untuk menghabiskan hari-harinya diluar rumah. Beberapa hari ini, Rica sibuk mengurus perusahaan tanpa ada waktu untuk memanjakan dirinya. Dan hal itu membuat lelah dan ingin merilekskan pikirannya sejenak.
Jika dulu sebelum Rica memimpin perusahaan. Rica sering menghabiskan waktu bersenang-senang. Alasannya adalah bersenang-senang terlebih dahulu. Nanti jika sudah memiliki perusahaan, maka dirinya akan fokus pada perusahaannya itu.
Baik Rica, ayahnya, ibunya dan adik perempuannya sama-sama sibuk dengan urusan dan pekerjaannya masing-masing. Walau begitu, mereka masih menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama.
Rica saat ini tengah memilih beberapa pakaian untuk ayahnya, ibunya, adik perempuannya dan untuk kekasih sekaligus tunangannya.
Rica juga memilih beberapa pakaian untuk diberikan kepada kedua calon mertua dan calon adik iparnya.
Setelah beberapa jam memilih-milih pakaian, Rica pun membawa semua pakaian-pakaian itu ke kasir untuk dibayar.
Selesai dengan pembayaran, Rica pun pergi meninggalkan toko pakaian itu.
Ketika Rica tengah berjalan dengan beberapa paper bag di tangan kiri dan kanannya, tiba-tiba Rica melihat seorang wanita paruh baya yang dihina oleh tiga wanita paruh baya lainnya. Rica menatap seksama wanita itu.
Dan beberapa detik kemudian...
Rica membelalakkan matanya ketika menyadari akan wanita paruh baya itu.
"Tante Nashita!"
Rica langsung berlari menghampiri Nashita yang saat ini tengah berperang mulut dengan tiga wanita lainnya.
Wanita paruh baya yang dikeroyok dan dihina di tempat umum oleh tiga wanita paruh baya lainnya adalah calon ibu mertuanya, Nashita Fidelyo.
"Anda perempuan tidak tahu diri dan tidak beretika!"
"Hei, jaga omongan anda. Saya bisa mengkasuskan anda. Apa anda tidak takut jika saya melaporkan anda kepolisi," ucap Nashita menantang.
"Alah! Lagaknya mau melaporkan saya dan teman-teman saya. Memangnya kau punya uang, hah?!" bentak wanita itu menatap tajam kearah Nashita.
Sementara Nashita hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan dari wanita sombong yang ada di hadapannya itu.
"Kalau aku mampu bagaimana? Kalau aku hubungi polisi sekarang juga dan aku menyuruhnya datang. Kalian berani tidak?" tanya Nashita dengan tersenyum di sudut bibirnya.
Seketika ketiga wanita paruh baya itu terdiam ketika mendengar ucapan dan gertakan dari Nashita.
"Sudahlah. Saya mau pergi. Saya tidak ingin berlama-lama memiliki urusan dengan kalian. Bisa-bisa saya gila."
"Oh iya! Untuk tas saya beserta isinya yang kalian ambil itu. Ambil saja. Saya ikhlaskan. Anggap saja saya sedang bersedekah dengan kalian bertiga. Mungkin saat ini kalian lagi membutuhkan uang untuk makan." Nashita berucap dengan kata yang menyindir dan juga mengejek.
Setelah mengatakan itu, Nashita pun pergi meninggalkan ketiga wanita paruh baya itu.
Sementara ketiga wanita paruh baya itu terkejut dan juga tak terima akan perkataan Nashita.
Tanpa Nashita sadari, ketiga wanita itu hendak memukul Nashita dari belakang, namun usaha digagalkan oleh seseorang.
Brukk..
Rica tiba-tiba datang dan langsung mendorong kuat ketiga wanita paruh baya itu hingga ketiganya tersungkur di lantai.
Melihat kejadian itu membuat semua orang terkejut. Bahkan mereka melihat kearah Rica.
"Tante."
Nashita melihat ke belakang dan dapat Nashita lihat bahwa Rica sudah berada di hadapannya. Begitu juga dengan tiga wanita yang mencari masalah dengannya yang saat tersungkur di lantai."
"Tante tidak apa-apa? Apa mereka menyakiti Ibu? Apa yang terjadi?"
"Tante tidak apa-apa, sayang! Tante baik-baik saja. Mereka mengambil tas Tante. Di dalam tas Tante itu ada banyak uang. Uang yang akan Tante gunakan untuk membeli perlengkapan acara di hotel besok."
"Tapi mereka tidak mau memberikannya. Ya, sudah! Tante biarkan saja."
Mendengar perkataan serta jawaban dari Nashita membuat Rica terkejut.
"Tapi itu tas dan uang Tante. Tante harus rebut lagi. Tante jangan ngalah begini," ucap Rica.
"Tante sudah minta dengan ngomong baik-baik. Tapi merekanya tidak mau dengar. Terus Tante bisa apa?"
"Ya, tapi Tante.......!"
Perkataan Rica terhenti karena mendengar salah satu dari ketiga wanita paruh baya itu berteriak.
"Siapa kau? Kenapa kau datang-datang langsung mendorong kami, hah?!"
Semuanya pengunjung mall menatap kearah tiga wanita paruh baya itu. Begitu juga Rica dan Nashita.
"Aku Rica Adisti Odelia. Dan aku adalah calon menantu dari perempuan yang tasnya sudah kalian curi!" Rica berbicara dengan suara keras agar semua pengunjung mendengarnya.
"Dan kalian mau tahu siapa wanita yang tasnya kalian curi, hah?! Dia adalah Nashita Fidelyo istri dari Fathir Aldama!" teriak Rica dengan menatap tajam kearah tiga wanita paruh baya itu.
Mendengar ucapan dan teriakan dari wanita muda yang berdiri tak jauh dari wanita paruh baya yang dihina oleh tiga wanita paruh baya lainnya seketika terkejut.
Mereka tahu siapa itu keluarga Fidelyo dan keluarga Aldama. Dan mereka juga tahu siapa suami dari Nashita Fidelyo itu.
"Kalian sudah berani menghina calon ibu mertuaku. Bahkan kalian mempermalukan Ibu mertuaku didepan banyak orang!" teriak Rica.
"Itu salah dia sendiri. Dia yang mencari masalah terlebih dahulu. Kami bertiga lagi enak-enakkan jalan-jalan. Eh, dia datang menghadang jalan kami!" teriak wanita paruh baya yang kedua.
Mendengar perkataan dari wanita itu. Rica seketika menatap marah kearah wanita itu.
"Hahahahaha." Seketika Rica tertawa keras. "Sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya. Wajarlah jika calon ibu mertuaku menghalangi jalan kalian bertiga. Secara kalian bertiga itu sudah mencuri tas milik calon ibu mertuaku!" teriak Rica.
"Apa kalian tidak diberikan uang oleh suami kalian, hah?! Apa jangan-jangan uang yang diberikan oleh suami kalian itu kurang sehingga kalian mencuri uang orang lain," ucap Rica sembari mengejek.
Ketiga wanita itu terkejut ketika mendengar ucapan dari Rica. Kemudian mereka menatap tajam kearah Rica.
"Sekarang kembalikan tas milik calon ibu mertuaku!" teriak Rica.
Rica menatap tepat kearah tas yang dipegang oleh ketiga wanita paruh baya itu. Dan salah satunya adalah tas milik calon ibu mertuanya itu.
Mereka yang melihat itu seketika ketakutan.
"Berikan tas itu padaku," ucap Rica.
Sementara ketiga wanita paruh baya itu tetap pada pendiriannya dengan mempertahankan tas masing-masing.
"Berikan tas itu padaku!" bentak Rica.
"Tidak akan. Memangnya kau siapa? Berani sekali kau memerintahku!" bentak wanita paruh baya yang sejak tadi diam.
"Sekali lagi aku katakan. Berikan tas itu padaku!" bentak Rica.
Dikarenakan ketiga wanita paruh baya itu tidak mengiyakan keinginannya sehingga membuat Rica melakukan hal ini.
Srek..
Rica menarik paksa tas milik calon ibu mertuanya tersebut. Dan dengan sekali tarikan, tas milik calon ibu mertuanya tersebut sudah berpindah ke tangannya.
"Kembalikan tas kami!" bentak wanita yang sejak tadi memegang tas milik Nashita.
"Diam!" bentak Rica.
Rica memberikan tas itu kepada calon ibu mertuanya lalu meminta calon ibu mertuanya itu untuk memeriksa isi dari tas tersebut.
"Ini Tante. Silahkan Tante periksa."
"Baik, sayang!"
Nashita pun langsung memeriksa tas miliknya itu secara seksama dan teliti.
"Sayang."
Rica melihat kearah calon ibu mertuanya itu. Dapat dilihat oleh Rica tersirat kesedihan ditatapan mata calon ibu mertuanya tersebut.
"Kenapa Tante?"
"U-uangnya sudah berkurang, nak!"
"Memangnya tadi uangnya ada berapa?"
"Tadi berjumlah $USD15.000, sayang! Dan sekarang tinggal $USD5000," ucap Nashita.
"Berarti uangnya tante hilang sebesar $USD10.000."
Rica kembali menatap waja ketiga wanita paruh baya itu dengan tatapan membunuh.
"Tadi anda yang memegang tas dari calon ibu mertua saya?" Rica berucap sembari menatap tajam wanita yang ada di hadapannya.
"Kembalikan uang yang telah anda ambil dari dalam tas calon ibu mertua saya," ucap Rica sembari mengarahkan tangannya ke hadapan wanita itu.
"Enak saja minta uang kepadaku. Kau pikir aku mesin pencetak uang, hah?!" bentak wanita itu.
"Aku bukan meminta uangmu, sialan! Aku meminta uang yang telah kau ambil dari dalam tas calon ibu mertua saya!" bentak Alana dengan suara keras.
"Sudah habis. Jika wanita itu ingin uangnya kembali, kenapa tidak mengemis saja," jawab wanita itu.
Rica menggeram marah akan jawaban yang diberikan oleh wanita itu.
Dan detik kemudian, Rica menarik kuat rambut wanita itu dengan sangat kuat sehingga membuat wanita itu berteriak kesakitan.
"Kau sudah bosan hidup, hah!" teriak Rica.
Semua pengunjung terkejut ketika melihat Rica yang tiba-tiba menarik rambut wanita itu. Begitu juga dengan Nashita dan rekan wanita itu.
"Rica, sayang!"
Slavin menghampiri calon menantu perempuannya dan berusaha menenangkan amarah calon menantu perempuannya itu.
"Sayang, tante mohon. Lepaskan wanita itu ya? Jangan sakiti dia."
Mendengar ucapan dan permohonan dari calon ibu mertuanya. Rica seketika melepaskannya cekikikannya. Dan mendorong kuat tubuh wanita itu hingga jatuh tersungkur di lantai.
Semua orang menghela nafas lega karena Rica mau melepaskan cekikikannya itu.
Rica mengambil ponselnya, lalu menghubungi Jason.
"Hallo, sayang." Jason menyapa Rica dengan lembut di seberang telepon.
"Hallo, sayang. Maaf kalau aku ganggu."
"Tidak apa-apa, sayang! Kenapa?"
"Aku dan Tante ada di mall. Lebih tepatnya aku nggak sengaja bertemu dengan Tante di mall. Ada kejadian di mall, sayang!"
"Kejadian apa? Katakan!"
"Ada mencuri uang Tante. Dan orang itu sudah menghabiskan sebanyak $USD10.000 uang Tante. Ketika aku memintanya, justru wanita itu menyuruh Tante untuk mengemis."
"Brengsek! Siapa mereka?"
"Aku akan kirimkan foto wajah ketiga wanita itu padamu sayang!"
"Baiklah. Kamu kirim sekarang."
Setelah mengatakan itu, baik Rica maupun Jason sama-sama mematikan panggilannya.
Dan setelah itu juga Rica mengambil foto ketiga wanita itu lalu mengirimkannya kepada Jason, calon suaminya.