
"Aarrgghh!" Kimberly seketika berteriak kencang ketika mengingat kejadian di kantin beberapa menit yang lalu.
"Sabar," ucap Catherine sembari mengelus lembut punggung Kimberly.
Saat ini Kimberly bersama keempat sahabatnya berada di rooftop.
"Gimana gue bisa sabar Catherine?! Gue pikir dengan kalahnya Molly, Sheela, Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna hingga mereka semua masuk rumah sakit. Gue bisa tenang untuk beberapa hari ke depan. Tapi kenyataannya tidak seperti yang gue harapkan. Masalah kembali datang. Gue kembali diusik!" Kimberly berucap dengan nada yang begitu kesal.
Mendengar ucapan kekesalan dari Kimberly membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine terdiam. Di dalam hatinya mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Kimberly barusan.
"Lo benar juga Kim! Coba bayangkan. Cewek yang dekatin kak Tommy banyak. Mulai dari Talitha sang mantan, Gracia yang ngakunya calon istri kak Tommy dan sekarang si Mol Mol dan si Sheela," ucap Rere.
"Istilah mengatakan mati satu tumbuh seribu. Itulah yang dirasakan oleh Kimberly saat ini," sahut Santy.
"Gue pikir dengan k.o nya Molly, Sheela, Syafina dan keempat teman-temannya. Kita bisa sedikit bernafas lega. Eh, tahunya! Muncul spesies baru yaitu kelompok Arsenal," celetuk asal Sinthia.
Mendengar perkataan dari Sinthia membuat Kimberly, Rere, Santy dan Catherine mengerenyitkan keningnya bingung. Kemudian mereka secara bersamaan menatap kearah Sinthia.
"Kelompok Arsenal?!" seru Kimberly, Rere, Santy dan Catherine bersamaan.
"Iya," jawab Sinthia.
"Asena kali. Bukan Arsenal," sahut Catherine.
"Yeey! Suka-suka gue dong. Kenapa situ yang sewot," balas Sinthia.
"Terserah lo dah," jawab Catherine pasrah.
Kimberly, Rere dan Santy tersenyum ketika mendengar ucapan dari Sinthia dan wajah pasrah Catherine.
"Pusing gue," ucap Kimberly.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat mereka semua tersenyum gemas menatap wajah kusut Kimberly.
"Nggak usah pusing. Dijadikan batu loncatan aja. Anggap aja ini ujian dalam hubungan asmara lo sama Tommy. Selama di hati dan pikiran Tommy hanya ada nama lo. Selama Tommy tulus cinta sama lo. Selama Tommy tidak memiliki niat untuk mendua. Seribu wanita cantik dengan pakaian seksi diluar sana nggak akan membuat Tommy tergoda." Catherine berucap sembari memberikan semangat kepada Kimberly.
"Apakah lo akan membiarkan rintangan dan gangguan dari para hama busuk itu menjadi batu sandungan? Positif thinking aja. Lo adalah pengusaha sikap lo," ucap Santy.
"Para pengganggu dalam hubungan asmara lo dengan Tommy. Begitu juga dengan hubungan asmara kita-kita dengan para cowok kita adalah batu loncatan menuju kebahagiaan," sahut Rere.
"Jangan biarkan hal-hal negatif atau orang-orang yang tidak menyukai kita membuat hidup kita susah. Gunakan mereka sebagai batu loncatan untuk terus maju dan melawan semua orang-orang yang mengusik kita," ucap Sinthia.
Mendengar ucapan demi ucapan bijak dari sahabat-sahabatnya membuat Kimberly seketika tersenyum. Dirinya saat ini benar-benar bahagia dan bersyukur sahabat-sahabatnya selalu bisa membuat hatinya yang awal buruk seketika berubah menjadi lebih baik.
"Thanks ya!"
"Your welcome!"
^^^
Billy, Tommy, Andhika dan para sahabatnya saat ini sudah berada di ruang latihan taekwondo. Mereka disana sembari mengasah ilmu bela diri mereka masing-masing, walau pada kenyataannya ilmu bela diri mereka sudah diatas rata-rata.
"Apa yang akan lo lakuin untuk perempuan seperti Asena, Tommy?" tanya Billy sembari fokus memukul Punch Mitt yang ada di hadapannya.
Tommy yang juga melakukan hal yang sama seperti Billy langsung menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Yang jelas aku tidak akan membiarkan perempuan ular itu menyakiti Kimberly. Selama dia tidak bermain fisik. Dan selama Kimberly masih berusaha untuk memberikan perlawanan. Aku hanya mengawasinya saja sembari memikirkan ide buat menghancurkan perempuan itu."
Mendengar jawaban serta penjelasan dari Tommy membuat Billy menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Dan kemungkinan besar sahabat-sahabatnya Asena juga ngincar Andhika, Aryan, sahabatnya Aryan dan lo Billy!" seru Mirza yang saat ini sedang melakukan push up.
"Sama seperti ide Tommy barusan. Kita hanya mengawasi saja apa yang dilakukan oleh para hama pengganggu itu. Setelah puas, barulah kita perlihatkan siapa kita sebenarnya," sahut Andhika yang kini sedang bertarung melawan Andry di atas ring.
"Ya. Andhika benar!" seru Billy.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Di kediaman Fathir Aldama terlihat ramai dimana Fathir, Nashita, keempat putranya sudah berada di rumah.
Masalah yang menimpa Nashita ketika di mall itu sudah diketahui oleh Fathir sang suami dan juga ketiga anaknya yaitu Uggy, Enda dan Riyan. Mereka mengetahui hal itu dari Jason.
Setelah Jason menerima panggilan dari Rica yang mengatakan bahwa ibunya dihina dan dipermalukan di depan umum membuat Jason langsung memberitahu ayahnya dan ketiga adik laki-lakinya.
Mendapatkan laporan dari putra sulungnya mengenai masalah istrinya membuat Fathir marah sehingga membuat Fathir dan Jason mencari tahu latar belakang dari ketiga wanita yang telah mengusik istrinya/ibunya.
Tak butuh waktu lama, Fathir dan Jason berhasil mendapatkan latar belakang keluarga dari tiga wanita yang telah mencari masalah dengan istrinya/ibunya.
"Ka-kami ingin meminta maaf atas kejadian di mall kemarin," jawab wanita pertama.
"Kami mengaku salah karena telah mengusik Nyonya Nashita," wanita kedua.
"Tolong maafkan kami, nyonya Nashita!" mohon wanita ketiga.
Mendengar ucapan maaf dari ketiga wanita paruh baya yang ada di hadapan mereka membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika ketiga wanita paruh baya itu datang kesini hanya untuk meminta maaf.
"Lebih baik kalian pergi dari sini. Permintaan maaf kalian ditolak," sahut Jason seketika.
Seketika ketiga wanita paruh baya itu terkejut ketika mendengar penolakan dari Jason yang notabene merupakan putra sulung dari wanita yang mereka hina. Mereka tidak menyangka jika permintaan maafnya langsung ditolak oleh putra sulung keluarga Fathir Aldama.
"Kami mohon, tuan Jason! Maafkan kesalahan kami yang telah mengusik Nyonya Nashita, ibu anda!"
"Iya, tuan. Kami benar-benar menyesal. Tolong maafkan kami."
"Jika kalian memberikan maaf kepada kami. Maka suami-suami kami juga akan memaafkan kami."
"Kami tidak ingin diceraikan."
"Kami tidak ingin hidup di jalanan. Kami tetap ingin tinggal bersama suami kami."
Mendengar ucapan demi ucapan dari ketiga wanita paruh baya yang ada di hadapannya itu membuat Nashita menjadi tidak tega. Dia benar-benar kasihan akan nasib ketiga wanita paruh baya itu.
Sementara Jason dan yang lainnya menatap dengan tatapan tak peduli akan nasib ketiga wanita paruh baya itu. Bagi mereka itu adalah hukuman yang pantas untuk ketiganya.
Jason ingin mengatakan sesuatu untuk ketiga wanita paruh baya itu. Namun dicegah dengan Nashita, ibunya.
"Saya akan memaafkan kesalahan kalian. Asal kalian tidak mengulangi kesalahan kalian lagi. Baik kepada saya maunya kepada wanita lain," ucap Nashita.
Mendengar ucapan dari Nashita membuat Jason dan lainnya menatap kearah Nashita.
"Mom," ucap Jason.
"Tidak ada salahnya jika kita memberikan kesempatan kedua untuk mereka, sayang!"
"Tapi kalau mereka melakukan hal itu lagi kepada Ibu, bagaimana?" tanya Uggy.
"Berarti mereka harus menerima resikonya yaitu menjadi gembel di jalanan." Nashita langsung menjawab pertanyaan dari putra keduanya itu.
"Bukankah setiap orang memiliki satu kali kesempatan? Jika orang itu tidak bisa mempergunakan kesempatan yang diberikan. Berarti orang itu yang tidak ingin berubah. Sementara kita, cukup satu kali memberikan kesempatan itu."
Mendengar ucapan dari Nashita membuat Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan setuju. Setiap orang memiliki satu kali kesempatan. Jika orang itu benar-benar menyesal, maka orang itu akan mempergunakan kesempatan itu dengan baik. Tidak ada namanya kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya.
"Baiklah. Saya sebagai suami dari wanita yang sudah kalian usik dengan ini memberikan maaf untuk kalian," ucap Fathir.
"Walau pun kami memaafkan kesalahan kalian. Bukan berarti kami melupakan tentang uang ibu kami yang sudah kalian ambil. Kalian tetap harus mengembalikan uang itu," ucap Riyan.
"Uang yang kalian ambil itu adalah uang para gaji karyawan ibuku dan uang untuk keperluan acara ibuku di hotel," ucap Enda.
"Waktu kalian hanya satu bulan untuk mengembalikan uang itu. Lewat dari satu bulan, maka aku akan menemui para suami kalian!" Jason berucap dengan dingin dan datar.
Mendengar ucapan dari Fathir. Ketiga wanita itu tersenyum bahagia. Mereka tidak menyangka jika anggota keluarga Aldama mau memberikan kata maaf untuk orang yang sudah mengusik keluarganya.
"Terima kasih, tuan!" ketiga wanita paruh baya itu menjawab bersamaan.
"Kami sebagai putranya juga memberikan maaf kepada kalian!" seru Uggy, Enda dan Riyan bersamaan.
"Bagaimana dengan tuan Jason?" tanya salah satu dari wanita itu.
"Ya, bagaimana lagi. Jika Ibu, ayah dan ketiga adik saya mau memberikan maaf kepada kalian. Mau tidak mau saya juga harus memberikan maaf untuk kalian," jawab Jason.
"Terima kasih, tuan!"
"Tapi maaf. Untuk perusahaan suami kalian. Aku tidak akan membuatnya kembali normal. Anggap saja itu hukuman untuk kalian atas kelakuan kalian kemarin" ucap Jason.
"Kamu mengerti, tuan!"
"Jangan lupakan tentang uang itu!" ucap Jason mengingatkan.
"Baik, tuan!"
Setelah itu, ketiganya izin untuk pulang ke rumah dan menceritakan kepada suami mereka masing-masing.