THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kekesalan Kimberly Dan Risma



"Ada apa? Kenapa Risma nangis? Terus, cowok itu siapa?" tanya Kimberly sembari menatap kearah Risma dan Jacob.


Mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari Kimberly membuat Fathir, Nashita, Clarita, Ammar, Rafassya, Helena, Nirvan, Liana, keempat kakaknya dan para sepupu-sepupunya tersenyum gemas.


Melihat reaksi dari semua anggota keluarganya membuat Kimberly mempoutkan bibirnya kesal.


"Aku butuh jawaban bukan senyuman jelek kalian itu," sahut Kimberly dengan kesal.


Jason langsung mengacak-acak rambut adik perempuannya gemas, lalu menariknya ke dalam pelukannya.


"Ngambek nih ceritanya, hum!"


"Ih, apaan sih kak!" Kimberly langsung melepaskan pelukan kakaknya.


"Kim," panggil Risma.


Kimberly langsung melihat kearah Risma. Dapat Kimberly lihat bahwa kakak sepupunya itu ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Apa?"


Risma tersenyum. "Sebelumnya aku mau nanya sama kamu, boleh?"


"Iya, boleh! Kamu mau nanya apa?"


"Mungkin Mommy sudah cerita sesuatu sama kamu tentang adik sepupunya yang bernama Indira yang tak lain adalah Mami aku."


"Iya, kenapa?"


"Kalau aku boleh tahu. Mommy cerita apa saja sama kamu?"


Kimberly berpikir sejenak tentang ibunya yang menceritakan kisah dari Bibinya yang bernama Indira.


Detik kemudian...


"Mommy pernah cerita bahwa Mami Indira punya dua orang anak. Yang pertama laki-laki. Dan yang kedua nggak jelas jenis kelaminnya apa," jawab Kimberly asal.


"Hahahahaha."


Seketika Aryan, Billy, Triny dan sepupu-sepupunya yang lain tertawa keras ketika mendengar ucapan terakhir Kimberly yang mengatakan bahwa anak kedua tidak jelas jenis kelaminnya.


Sementara Risma seketika memberikan tatapan mautnya kepada Kimberly. Dan detik kemudian, Risma melempari wajah Kimberly dengan bantal sofa.


"Gue serius manusia jadi-jadian," ucap Risma sarkas.


"Hahahaha!"


Triny, Aryan dan para sepupu-sepupunya kembali tertawa. Kini mereka menertawai Kimberly.


"Gue manusia tulen bukan manusia jadi-jadian! Lo yang manusia jadi-jadian. Nggak ada angin dan nggak ada hujan, malah mewek. Terus tuh tangan ngapain pegang-pegangan gitu? Erat lagi pegangannya! Lo selingkuh ya? Gue aduin lo sama calon suami lo yang aki-aki yang ada di Berlin. Lalu gue suruh tuh aki-aki kesini buat paksa lo pulang ke kandang lo."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly yang ditujukan untuk Risma membuat Nashita, Fathir dan semua anggota keluarganya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Begitu juga dengan Jacob.


"Jacob, harap maklumi adik sepupu kamu yang satu itu ya! Dia seperti itu karena obatnya sudah habis," ledek Fathan.


Jacob hanya tersenyum mendengar perkataan dari Fathan kakak sepupunya. Sementara Kimberly seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan pedas dari kakak sepupunya itu.


"Kakak Fathan!" teriak Kimberly.


Mendengar teriakkan melengking dari Kimberly membuat mereka semua langsung menutup telinganya masing-masing.


Kimberly menatap tajam kearah Fathan. Setelah itu, Kimberly menatap kearah Aryan.


"Aryan, lo harus tanggung jawab!"


"Lah kok gue dibawa-bawa?"


"Karena lo adik dari seorang Fathan Fidelyo."


"Apa hubungannya?"


"Ada. Setiap kakak lo buat gue kesal, maka lo yang harus bertanggung jawab."


"Mana bisa begitu?"


"Bisa! Karena kalau gue ribut sama kakak-kakak lo. Yang ada nantinya gue bakal berdosa. Secara mereka lebih tua dari gue. Dikarenakan kita seumuran, maka lo yang gue korbanin."


"Itu bisa-bisa lo nya aja. Bilang aja lo ingin ngajak ribut gue dan ujung-ujungnya lo minta gue nurutin semua kemauan lo. Benarkan?"


Mendengar perkataan dari Aryan membuat Kimberly langsung menganggukkan kepalanya secara brutal.


Fathir, Nashita serta yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya/adiknya/keponakannya.


"Kimberly Aldama. Gue serius kali ini. Dan dengarkan gue!"


Seketika Kimberly menatap kearah Risma yang menatapnya dengan tatapan termautnya.


"Iya, iya! Mami Indira punya dua orang anak. Yang pertama laki-laki dan yang kedua lo," sahut Kimberly dengan mode serius.


"Terus Mila nya lo buang kemana?" tanya Aryan ngegas.


"Cari ribut lo sama gue. Kan ini ceritanya gue lagi jawab pertanyaan dari Risma mengenai anaknya Mami Indira. Mommy cerita sama gue dulu kalau Mami Indira punya anak dua. Jadi, Mila belum ada!" Kimberly menatap tajam kearah Aryan.


Mendengar jawaban serta penjelasan dari Kimberly membuat Aryan manggut-manggutkan kepalanya.


"Sorry, gue lupa!"


"Jelaslah lo lupa. Lo kan nggak punya otak," jawab Kimberly.


Bugh..


Aryan melempari Kimberly dengan bantal sofa. Dan lemparannya tersebut mengenai wajah cantiknya.


"Hahahaha. Makan tuh!"


"Kimberly! Ini kakak gue, kakak Jacob!" seru Risma.


Kimberly seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Risma yang mengatakan bahwa laki-laki yang duduk di sebelahnya sambil menggenggam tangannya adalah kakak laki-lakinya.


Kimberly menatap Risma tepat di manik hitam Risma. Terlihat disana sebuah kejujuran.


Kimberly melihat kearah ibunya. Dirinya ingin lebih yakin atas apa yang dikatakan oleh Risma.


"Mom."


Nashita tersenyum lalu kemudian menganggukkan kepalanya bertanda bahwa apa yang dikatakan oleh Risma tersebut benar.


"Laki-laki yang duduk di samping Risma memang benar kakak laki-lakinya Risma. Dia adalah Jacob Liam Rowan, putra sulung Mami Indira."


Mendengar perkataan dari ibunya, Kimberly menatap kearah laki-laki yang duduk di samping Risma.


"Dia kakak sepupu kamu, sayang!"


"Selamat datang di keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo, kakak Jacob!"


"Terima kasih atas sambutannya," jawab Jacob tersenyum tulus menatap wajah adik sepupunya itu.


"Apa Mami kamu udah dikasih tahu bahwa putranya yang dia rindukan ada disini?" tanya Kimberly.


"Memang kita sengaja tidak kasih tahu Mami kamu itu sayang," jawab Nashita.


"Lo kenapa?" tanya Kimberly langsung menatap wajah ibunya.


"Kakak yang akan menemui Mami ke Berlin." Jacob langsung menjawab pertanyaan dari Kimberly.


"Eemmm.. ide bagus. Aku setuju. Aku membayangkan bagaimana reaksi Mami ketika melihat putranya untuk pertama kalinya berdiri di hadapannya. Pasti Mami bakal bahagia."


"Mami begitu merindukan kakak Jacob. Bahkan Mami selalu menatap foto masa kecil kakak Jacob. Mami selalu menyempatkan diri buat nyapa kakak Jacob, walau hanya lewat foto."


Kimberly menatap kearah Risma yang sudah menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly.


"Mami sengaja tidak memperlihatkan rasa rindunya di depan Risma karena Risma saat itu tidak mengetahui tentang kakak Jacob. Risma melupakan masa kecilnya. Yang Risma ingat bahwa dia hanya punya Mami, Mila dan keluarga Fidelyo."


"Alasan utama Mami merahasiakan tentang keluarga Rowan dari Risma agar Risma kembali teringat kejadian itu."


Risma mengepal kuat tangannya. Semua tentang masa kecilnya ketika tinggal di kediaman Rowan sudah kembali. Risma sudah ingat semuanya.


"Aku sudah ingat semuanya, Kim! Aku benci sama keluarga Rowan, terutama pria itu. Aku bersumpah! Selama aku hidup, selama itu pula aku nggak akan pernah sudi memaafkan ketiga manusia busuk itu. Ketiga manusia busuk itu sudah menghancurkan kebahagiaan masa kecilku." Risma berucap dengan tatapan penuh amarah disertai dengan air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.


Grep..


Jacob menarik tubuh adik perempuannya. Hatinya sakit ketika melihat adiknya menangis karena teringat akan kejadian tersebut.


"Hiks... Hiks... Aku nggak akan maafin mereka, kak! Hiks... Aku nggak akan maafin mereka."


"Itu hak kamu. Kakak janji kakak tidak akan memaksa kamu untuk memberikan maaf kepada orang-orang yang sudah nyakitin kamu, Mami dan Mila. Dan kakak juga janji sama kamu, kakak akan gantikan semua kesedihan kamu, kesedihan Mami dan juga kesedihan Mila, walau Mila tidak tahu apa-apa dengan kebahagiaan dan kasih sayang kakak.


"Terima kasih kak."


Drrtt.. Drrtt..


Mereka semua dikejutkan dengan suara ponsel yang berdering. Ponsel itu adalah milik Kimberly.


Kimberly mengambil ponselnya yang ada di atas meja, lalu tatapan matanya menatap ke layar ponselnya.


Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika melihat nama tersebut.


"Pasti Tommy! Baru aja pulang beberapa menit yang lalu. Udah kangen aja tuh orang. Dasar bucin akut," sahut Aryan.


Mendengar perkataan dari Aryan membuat Kimberly melirik sekilas menatap sepupunya itu.


Setelah itu, Kimberly pun menjawab panggilan tersebut.


"Hallo kakak Deryl."


"Hahahahaha."


Triny, Billy, Valen, Athaya seketika tertawa keras ketika ucapan dari Aryan yang salah menebak.


"Aish!" Aryan berucap kesal.


"Hallo, nona!"


"Bagaimana?"


"Sesuai keinginan nona."


"Jadi orang-orang itu benar-benar ketakutan sekarang?"


"Benar, nona! Bahkan mereka ingin bertemu dengan nona!"


"Bertemu denganku?"


"Iya, nona!"


"Untuk apa? Ih, males banget bertemu dengan mereka. Yang ada nanti aku bisa darah tinggi."


"Lalu rencana nona, apa?"


"Buat mereka mengemis maaf. Jangan biarkan mereka untuk bisa bertemu denganku."


"Baiklah, nona!"


Setelah mengatakan itu, Kimberly pun langsung mematikan panggilannya. Begitu juga dengan Deryl.


"Enak aja mau minta maaf. Gampang banget ya. Udah nuduh sembarangan. Udah ngatain orang nggak mampu beli barang-barang mahal. Udah nuduh orang yang cuma gaya-gayaan. Setelah tahu statusnya. Nangis dan berujung minta maaf. Menjijikkan!"


Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly membuat Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda, dan Riyan serta anggota keluarga lainnya tersenyum gemas. Mereka semua sudah langsung paham permasalahan yang dihadapi oleh Kimberly.