
Kimberly dan Tommy dalam perjalanan pulang ke rumah dengan mengendarai motor sport miliknya. Sebelum pulang, Tommy mengajak Kimberly ke Cafe untuk makan siang karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang.
Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam, Kimberly dan Tommy tiba di sebuah cafe terkenal di kota Hamburg.
Kimberly dan Tommy kemudian memarkirkan motornya di tempat parkir yang kosong. Kebetulan ada dua tempat parkir yang kosong.
Setelah memarkirkan motornya, Tommy seketika langsung menggandeng tangan Kimberly dan membawanya masuk ke dalam Cafe.
Sesampainya di dalam Cafe, para pengunjung Cafe seketika memberikan tatapan memuji. Mereka menatap dengan tatapan iri, tatapan suka dan tatapan kagum.
Setelah memesan makanan dan minuman, Kimberly dan Tommy memilih duduk di urutan dua dari belakang di bagian dinding.
Beberapa menit kemudian, pesanan yang mereka pesan pun datang. Kimberly dan Tommy pun memulai menikmati hidangan tersebut.
"Kim," panggil Tommy sembari memasukkan potongan stik daging ke mulutnya.
"Hm!" Kimberly menjawab dengan deheman karena mulut terisi makanan.
"Apa keputusan kamu?"
"Keputusan apa?"
"Mau bantuin ibu kandungnya kak Rica atau tidak sama sekali."
Kimberly melihat kearah Tommy dengan mulutnya yang bergerak-gerak mengunyah makanan.
"Aku belum bisa mengambil keputusan. Ini bukan hanya menyangkut kak Rica, tapi juga menyangkut Tante Emma dan Luna. Aku tidak ingin mereka tersakiti akan kehadiran Tante Salima sekali pun Tante Salima ibu kandungnya kak Rica."
Mendengar ucapan jawaban sekaligus penjelasan alasan Kimberly yang belum bisa memberikan keputusan untuk membantu ibu kandungnya Rica membuat Tommy mengerti. Jika dia diposisi Kimberly, Dia pasti akan seperti Kimberly.
"Apapun keputusan kamu aku akan selalu memihak kamu."
Kimberly tersenyum. "Terima kasih calon masa depanku."
"Sama-sama calon istriku."
Mendengar pembicaraan kecil Kimberly dan Tommy membuat beberapa pengunjung Cafe tersenyum. Mereka menatap Kimberly dan Tommy dengan tatapan suka dan kagum.
Ketika Kimberly dan Tommy tengah menikmati makan siangnya sembari bercerita, tiba-tiba telinga Kimberly mendengar nama kakak keduanya disebut-sebut.
Kimberly kemudian menghentikan kegiatan makannya sehingga membuat Tommy menatapnya bingung.
"Kim," panggil Tommy.
Kimberly tidak menghiraukan panggilan dari Tommy. Justru Kimberly memutar kepalanya kearah dimana suara-suara beberapa laki-laki berbicara sembari menyebut nama kakaknya.
Kimberly melihat ada tiga laki-laki yang tengah membicarakan masalah pekerjaan. Ketiga laki-laki itu duduk beberapa meter dari tempat duduknya dan Tommy.
Melihat Kimberly yang melihat kearah lain, Tommy pun ikut melihat apa yang dilihat oleh Kimberly.
"Apa kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya laki-laki pertama kepada laki-laki kedua.
"Sudah. Semua berkas lengkap," jawab laki-laki kedua.
"Ada berapa berkas?" tanya laki-laki ketiga.
"Ada tiga. Berkas milikku dan berkas milik kalian. Biar tidak ketahuan hanya satu berkas yang menggunakan tinta yang bisa menghilang, sementara untuk berkas milik kalian ditulis dengan menggunakan tinta biasa." laki-laki kedua menjelaskan tentang tiga berkas-berkas tersebut.
"Kapan kita akan mendapatkan tangan Uggy Aldama, teman kamu itu?"
"Kapan kau akan menemuinya?" tanya laki-laki ketiga.
"Besok siang," jawab laki-laki kedua.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menipu kakakku. Aku akan menggagalkan niat busuk kalian itu," batin Kimberly.
Setelah itu, Kimberly kembali fokus pada makanan. Begitu juga dengan Tommy.
***
Billy, Triny dan Aryan saat ini berada di sebuah supermarket. Mereka bertiga berniat untuk menginap selama seminggu di kediaman Daddy dan Mommy nya. Jadi, sebelum pulang, mereka membeli beberapa macam makanan dan minuman terlebih dahulu.
Aryan, Triny dan Billy saat ini mendorong troli masing-masing dan menuju tempat makanan ringan yang ditata. Baik Triny maupun Aryan dan Billy mengambil begitu banyak cemilan dan minuman. Mulai dari roti, kacang-kacangan, keripik dan permen. Sedangkan untuk minuman mereka mengambil dua krat fanta, dua krat sprite, dua Coca-Cola, tiga dus kecil teh botol dan lima belas pak susu UHT coklat.
Setelah selesai mutar-mutar dan memilih-milih serta mengambil makanan dan minuman yang menjadi incaran sehingga membuat troli tersebut terisi penuh. Aryan, Triny dan Billy memutuskan untuk ke kasir.
Ketika ketiganya mendorong troli masing-masing menuju kasir, beberapa pengunjung supermarket melongo melihat kearah troli tersebut dimana toli-toli tersebut terisi penuh.
Yang membuat para pengunjung terkejut dan melongo adalah pemilik troli tersebut adalah anak SMA. Beberapa dari pengunjung tersebut berpikir bahwa Aryan, Triny dan Billy hanya sekedar gaya-gayaan dan ujung-ujungnya bermasalah.
"Alah. Palingan semuanya itu tidak jadi dibayar."
"Gaya-gayaan mereka saja tuh."
"Anak jaman sekarang kan memang seperti itu. Jika tidak bisa membayar, berujung dia mencuri."
Itulah ucapan demi ucapan dari beberapa pengunjung yang menatap mengejek kearah Billy, Triny dan Aryan.
Sementara Aryan, Triny dan Billy tidak mempedulikan ucapan-ucapan dan tatapan tak suka beberapa pengunjung. Ada waktunya mereka akan membuat beberapa pengunjung tersebut tak berani menatapnya karena sudah mengatakan hal buruk.
Dan tibalah giliran ketiganya. Dan kebetulan ada tiga kasir dan ketiga-tiganya sedang sepi. Aryan, Triny dan Billy langsung mendorong trolinya untuk menuju kasir masing-masing. Sedangkan para pengunjung dan beberapa pengunjung yang berpikir buruk saat ini masih menatap kearah Aryan, Triny dan Billy.
Beberapa detik kemudian...
"Semuanya USD$450! ketiga kasir secara bersamaan menyebutkan total belanjaan dari pelanggannya.
Billy, Aryan dan Triny langsung mengeluarkan kartu hitamnya dari dalam dompetnya yang mana ketiganya sudah sejak tadi mengeluarkan dompetnya.
Billy, Aryan dan Triny langsung memberikan kartu miliknya itu kepada kasir tersebut.
Setelah selesai, kasir itu mengembalikan kartu tersebut kepada pelanggannya dengan mengucapkan terima kasih bersamaan dengan barang-barang belanjaan tersusun rapi di dalam troli.
Aryan, Triny dan Billy mendorong troli tersebut keluar menuju mobil. Lebih tepatnya mobil milik Triny karena Aryan dan Billy menggunakan motor.
Billy, Aryan dan Triny berhenti sejenak dengan menatap kearah beberapa pengunjung yang tadi menghinanya.
"Lain kali jadi manusia itu harus berpikir positif," sahut Triny.
"Jangan punya otak kayak kotor dan busuk. Itu tidak baik," ucap Aryan.
"Kami memang anak SMA. Tapi bukan berarti kami tidak mampu untuk berbelanja disini. Jika kami mau, kami bisa memborong semua yang ada di supermarket ini. Tapi kami berpikir lagi. Untuk apa dan mau dikemanakan jika kami memborong semuanya. Intinya akan jadi mubazir." Billy berbicara dengan tatapan mata yang tajam menatap kearah beberapa pengunjung yang berkomentar pedas untuknya dan kedua sepupunya.
Sementara untuk beberapa pengunjung tersebut hanya diam. Bahkan mereka tidak ada yang berani menatap wajah Triny, Aryan dan Billy.
"Satu lagi. Jangan memandang seseorang karena tampilan luarnya dan juga jangan suka merendahkan orang lain karena belum tentu orang yang kalian rendahkan itu lebih rendah dari kalian. Justru orang yang kalian rendahkan itu levelnya diatas kalian." Triny berucap dengan tersenyum di sudut bibirnya.
Setelah mengatakan itu, ketiganya pun langsung pergi keluar untuk menuju parkiran.