THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Melakukan Pembalasan Terhadap Kimberly



"Bagaimana? Apa kalian siap untuk menemui orang yang sudah membunuh Syafina?" tanya ayahnya Syafina kepada kedua adik laki-lakinya dan kepada kedua adik laki-laki istrinya.


"Kami sudah siap sejak mendapatkan kabar kematian Syafina," jawab salah satu adik laki-laki dari ayahnya Syafina.


"Ya, benar!" jawab tiga laki-laki lainnya yang berstatus adik laki-laki kedua orang tuanya Syafina.


Ayahnya Syafina menatap kearah adik bungsu dari istrinya. Pria itu menatap lekat kearah adik iparnya itu yang sejak tadi hanya diam tanpa bersuara sama sekali.


"Bagaimana dengan kamu, Rangga?" tanya ayahnya Syafina.


Mendengar pertanyaan dari ayahnya Syafina semuanya melihat kearah Rangga. Dan dapat mereka lihat bahwa Rangga sejak tadi hanya diam tanpa suara sama sekali.


"Aku diam dan tidak bersuara sama sekali karena aku sudah mengetahui apa yang akan terjadi setelah kalian menuntut balas atas kematian Syafina kepada muridku sendiri yaitu Kimberly."


Mendengar jawaban dari Rangga membuat mereka semua diam dengan tatapan matanya fokus menatap kearah Rangga.


"Jika kalian masih tetap pada keputusan kalian. Silahkan lakukan. Tapi jangan sampai menyesal jika mereka akan membalas kalian dua kali lipat jika kalian menyentuh Kimberly," ucap Rangga.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya ibunya Syafina.


"Kak Syalina dan kak Rafka sudah melihat sendiri kan seperti apa Kimberly ketika mendatangi sekolah saat itu? Kalian melihat sendiri bagaimana kepala sekolah lebih mempercayai Kimberly dan orang-orang terdekatnya. Bahkan kalian juga melihat sendiri di rekaman flashdisk dimana kalau Syafina yang terlebih dahulu membuat ulah. Bukan itu saja, aku sebagai wakil kepala sekolah dulu juga sudah banyak melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang dilakukan oleh Syafina terhadap Kimberly dan keempat sahabatnya. Aku selama ini berusaha sabar dan diam setiap melihat kelakuan Syafina yang diluar batas. Namun kelakuannya makin menjadi-jadi. Kematian Syafina itu ulahnya sendiri karena dia sudah menghina ibunya."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Rangga membuat kedua orang tuanya Syafina dan adik-adiknya terdiam. Mereka tidak menyangka jika Rangga memihak orang yang sudah membunuh putrinya/keponakannya.


Rangga berdiri dari duduknya, kemudian tatapan matanya menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.


"Silahkan jika kalian ingin menuntut balas atas kematian Syafina. Aku tidak ikut-ikutan. Jika keluarga dari orang yang kalian sakiti membalas kalian, jangan bawa-bawa aku karena aku sudah memperingati kalian."


Setelah mengatakan hal itu, Rangga pergi meninggalkan anggota keluarganya. Dia memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya.


***


Di kediaman Fathir Aldama dimana semua anggota keluarga berkumpul kecuali Kimberly yang masih di sekolah. Begitu juga dengan Billy, Aryan dan Triny.


"Ada apa Jason? Kenapa kamu mengumpulkan kita semua disini?" tanya Fathir kepada putra sulungnya.


"Ini masalah Kimberly, Dad!" jawab Jason.


"Masalah apa?" kini Ardian yang bertanya kepada keponakannya.


"Ini." Jason memberikan ponselnya kepada ayahnya.


Fathir langsung mengambil ponsel milik putra sulungnya. Kemudian Fathir melihat isi ponsel putranya itu.


Detik kemudian Fathir terkejut ketika melihat di dalam video tersebut teman sekelas sekaligus musuh bebuyutan putri bungsunya meninggal akibat dicekik oleh putri bungsunya. Alasan putri bungsunya itu sampai melakukan hal itu adalah teman sekelasnya itu menghina putrinya dan istrinya. Di dalam video juga terlihat bahwa putri bungsunya itu sudah meminta kepada teman sekelasnya untuk meminta maaf dan menarik kata-kata itu. Namun teman sekelasnya itu tidak mengindahkan permintaan dari putrinya.


Di dalam video itu juga terlihat bahwa keluarga dari musuh bebuyutan putri bungsunya ingin merencanakan pembalasan atas kematian putrinya.


"Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti putriku," ucap Fathir.


"Kak, berikan padaku. Aku juga ingin melihatnya!" seru Ardian.


Mendengar seruan dari Ardian. Fathir langsung memberikan ponsel milik putra sulungnya kepada adik pertamanya.


Ardian langsung menerima ponsel tersebut lalu melihat kearah ponsel tersebut. Sama seperti Fathir. Ardian juga terkejut akan isi dari video tersebut. Dirinya benar-benar marah terhadap orang-orang yang selalu mengusik keponakannya.


"Kak kita harus balas mereka jika mereka benar-benar melakukan hal itu kepada Kimberly!" ucap Ardian.


"Tentu. Kakak tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Kimberly," jawab Fathir.


"Kalau perlu kita akan balas dua kali lipat orang-orang itu jika dia berani menyentuh Kimberly," sahut Adhitama putra sulungnya Ardian.


"Oh, iya! Untuk masalah ini Kimberly belum tahu!" seru Jason.


"Maksud kak Jason apa?" tanya Fathan.


"Kimberly belum tahu jika Syafina meninggal akibat cekikannya. Saat itu Kimberly berpikir bahwa Syafina hanya pingsan. Secara Syafina tidak apa-apa ketika Kimberly mencekik lehernya. Hanya saja Syafina meninggal ketika tubuhnya dilempar oleh Kimberly dan membentur dinding dengan kepala menghantam dinding terlebih dahulu."


"Apa itu sosok Kimmy yang melakukannya?" tanya Liana.


"Aku juga tidak tahu Bi. Saat kejadian itu tidak ada yang melihat mata Kimberly. Jadi tidak ada yang tahu apakah Kimberly atau sosok Kimmy yang melakukannya " jawab Jason.


"Aku akan meminta Deryl untuk lebih mengawasi Kimberly," sahut Uggy.


Setelah itu, mereka semua memikirkan balasan apa yang akan mereka berikan kepada keluarga Syafina jika keluarga Syafina benar-benar menuntut balas terhadap kesayangannya