THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Merekam



Riyan mengambil ponselnya lalu menghubungi tangan kanannya yang saya ini berada di luar rumahnya sedang berjaga-jaga.


"Hallo, Tuan!"


"Hallo, Farid. Masuklah dan bawa sekitar enam anggotamu."


"Baik, Tuan!"


Setelah mengatakan itu, Riyan langsung mematikan panggilannya dengan tatapan matanya menatap jijik kearah dua pasang suami istri tersebut.


Tak butuh waktu lama, Farid dan keenam anggotanya datang.


"Tuan!"


"Seret mereka keluar dari sini."


"Baik, Tuan!"


Farid melihat kearah enam anggotanya. "Kalian, lakukan!"


"Siap, Bos!"


Setelah itu, keenam anggota Farid langsung menarik paksa kedua pasangan suami istri itu keluar meninggalkan kediaman Aldama.


***


Di Alpin High School terlihat beberapa murid-murid tengah berhamburan untuk masuk ke dalam kantin.


Namun tidak dengan Valen Fidelyo dan ketiga sahabatnya. Mereka saat ini sudah duduk cantik di bangku panjang yang biasa di duduki oleh Valen, Lara, Nana dan Colin selama bersekolah di Alpin High School.


Valen, Lara, Nana, Colin dan Luna kini tengah menikmati makan siangnya. Mereka tidak mempedulikan keributan yang dibuat oleh para teman-teman sekolahnya.


Ketika Valen, Lara, Nana, Colin dan Luna tengah menikmati makan siangnya, tiba-tiba Sasya dan teman-temannya datang mengganggu.


"Wah! Makan enak nih!" seru Lidya.


Lidya kemudian dengan seenaknya mengambil minuman Luna lalu menumpahkan minuman itu tepat di atas kepalanya.


Melihat apa yang dilakukan oleh Lidya membuat Valen, Lara, Nana, Colin menatap tajam kearah Lidya.


Sedangkan Sasya, Farah, Kania dan Ria tertawa keras ketika melihat apa yang dilakukan oleh Lidya.


Brak..


Valen berdiri bersamaan dengan memukul keras meja. Tatapan matanya menatap nyalang kearah Lidya.


"Apa-apaan lo, hah?!" teriak Valen.


"Ops! Pawangnya marah tuh," ejek Karina.


"Hahahaha."


Lidya, Farah dan Ria tertawa. Sementara Sasya tersenyum menyeringai menatap wajah Valen, Lara, Nana dan Colin.


Farah melihat makanan yang diduga milik Luna langsung mengambilnya. Dan kemudian, Farah membuang makanan itu ke lantai.


Melihat apa yang dikatakan oleh Lidya dan Farah membuat Valen dan Lara tidak bisa menahan emosinya lagi.


Valen dan Lara menghampiri Sasya dan teman-temannya lalu langsung mendorong kuat tubuh Lidya dan Farah sehingga membuat tubuh keduanya terhuyung ke belakang dan tersungkur ke lantai.


Melihat apa yang dilakukan oleh Valen dan Lara membuat Sasya, Kania dan Ria menatap marah kearah Valen dan Lara.


"Apaan sih kalian dorong-dorong teman gue!" bentak Kania.


"Teman lo tuh nggak ada otak!" brentak Lara balik.


"Dua teman lo udah berlaku buruk terhadap Luna. Sementara kalian hanya diam saja. Bahkan kalian tertawa puas atas apa yang dilakukan oleh teman sampah lo itu!" bentak Lara.


Nana ikut berdiri. Begitu juga dengan Colin. Keduanya menghampiri Valen dan Lara.


Colin berucap dengan ketus sembari tatapan matanya menatap tajam kearah Sasya, Kania dan Ria.


"Ya, udah! Lebih baik kita pergi dari sini. Lagian gue udah nggak nafsu lagi buat makan," ucap Colin dengan menatap wajah Valen, Lara, Nana dan terakhir menatap kearah Luna.


"Ditambah lagi keadaan Luna tidak baik-baik saja. Dia harus segera bersih-bersih," ucap Colin lagi.


Setelah mengatakan itu Valen, Lara, Nana, Colin dan Luna memutuskan pergi meninggalkan kantin dan menemani Luna untuk membersihkan tubuhnya.


***


Kimberly berdua dengan Catherine saat ini tengah berjalan menyusuri koridor untuk menuju kelas. Keduanya baru saja dari toilet. Keduanya habis menuntaskan hajadnya disana.


Ketika Kimberly dan Catherine sedang fokus dengan tatapan menatap ke depan. Seketika tatapan mata mereka tak sengaja melihat dua orang yang sudah membuat Kimberly masuk rumah sakit akibat alerginya.


Yah! Orang yang dilihat oleh Kimberly dan Catherine adalah Asena, Cherry dan keenam sahabatnya. Mereka sedang membicarakan sesuatu disana.


Berlahan Kimberly dan Catherine mendekati kedua secara berlahan. Baik Kimberly maupun Catherine penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh Asena, Cherry dan keenam sahabatnya itu.


"Sial! Baru pertama pendekatan. Sudah ditolak," ucap Asena.


"Songong banget jadi orang. Kalau bukan karena permintaan maaf dan pendekatan gue sama Aryan. Ogah gue menemui mereka. Apalagi Kimberly. Jijik gue," ucap Cherry.


"Sama. Gue juga. Kalau bukan rasa suka gue sama Tommy. Gue juga ogah buat minta maaf dan mengaku salah di depan Tommy," ucap Asena.


Seketika terukir senyuman di sudut bibir Kimberly ketika mendengar ucapan dari Asena dan Cherry. Begitu juga dengan Catherine.


Kimberly melihat kearah Catherine. "Lebih baik lo rekan pembicaraan mereka, Catherine?"


"Ini gue lagi ngerekam," jawab Catherine tersenyum.


Kimberly memiringkan kepalanya ke samping. Dan benar, Catherine sedang merekam pembicaraan Asena, Cherry dan keenam sahabatnya.


"Gercep juga lo ternyata. Nggak nyangka gue," ucap Kimberly.


Kimberly dan Catherine masih terus memperhatikan dan mendengar pembicaraan Asena, Cherry dan keenam sahabatnya.


Setelah puas memperhatikan dan merekam pembicaraan Asena, Cherry dan keenam sahabatnya. Kimberly dan Catherine memutuskan pergi meninggalkan para musuh-musuhnya untuk kembali ke kelas sembari tersenyum bahagia.


^^^


Kimberly dan Catherine sudah berada di kelas. Lima menit kedatangan Kimberly dan Catherine, guru bidang studi matematika masuk.


"Pagi anak-anak!"


"Pagi Bu!"


"Sebelum ibu melanjutkan pembelajaran selanjutnya. Sekarang kerjaan dulu lima soal materi yang kemarin. Jika kalian mendapatkan nilai 10. Setengah dari nilai itu akan ibu masukan untuk nilai rapor kalian. Ditambah dengan nilai ulangan kalian."


"Benarkah Bu?" tanya seorang murid perempuan.


"Iya, benar!"


"Siap!"


"Sekarang buka halaman 109. Kerja lima soal saja seperti yang ibu katakan tadi."


"Baik Bu!"


Setelah itu, semua murid kelas X IPA 1 langsung mengerti soal-soal tersebut. Semua murid-murid termasuk Kimberly dan keempat sahabatnya fokus mengejar lima soal matematika tersebut. Tidak ada yang bersuara sama sekali.


Melihat para murid-murid yang mengerjakan soal-soal yang diberikan membuat guru matematika itu tersenyum. Guru matematika tersebut bersyukur dan bangga akan murid-muridnya. Setelah dirinya memberikan soal, semua murid-murid mengerjakan dengan tenang, walau ada sedikit keributan. Itu disebabkan karena mereka ada yang tengah meminjam sesuatu atau mereka sedang merilekskan sedikit kedua tangan mereka keatas. Bukan keributan dalam hal negatif.


Setelah lima belas menit mengerjakan lima soal matematika itu. Kimberly dan keempat sahabatnya seketika berdiri karena mereka orang pertama selesai.


Dan beberapa detik kemudian, disusul oleh teman-teman sekelasnya yang selesai mengerjakan lima soal matematika itu.


Melihat murid-murid telah selesai membuat guru tersebut tersenyum bahagia. Sejak awal guru tersebut yakin jika semua murid-muridnya bisa menyelesaikan lima soal matematika itu