
Triny dan keempat sahabatnya sedang berada di lapangan basket yang ada diluar. Kelas Triny sedang mengikuti pelajaran olahraga.
Baik Triny, keempat sahabatnya maupun teman-teman sekelasnya begitu bersemangat mengikuti pelajaran olahraga.
Saat ini Triny, keempat sahabatnya dan beberapa teman sekelasnya tengah bermain basket. Mereka bertanding dengan hadiah yang kalah mentraktir yang menang di kantin.
Danela saat ini sedang menggiring bola sambil memantul-memantulkan bola ke lantai. Danela melihat satu persatu keempat sahabatnya dan juga lawan-lawannya agar dia bisa mengoper bola tersebut dengan baik kepada keempat sahabatnya itu.
Detik kemudian, Danela mengoper bola basket itu tepat kearah Triny dan disambut sangat baik oleh Triny.
Triny menggiring bola basket sambil memantul-memantulkan bola tersebut menuju ring.
Setelah berada tak jauh dari ring, Triny pun melakukan Shooting. Berlahan tapi pasti, Triny pun melempar bola basket itu mengarah ke atas ring.
Dan lemparan dari Triny berhasil. Bola tersebut masuk dengan sangat sempurna ke dalam ring.
"Yeeeyyy!" teriak bahagia Danela, Dania, Lisa dan Alisha.
"Yes," ucap Triny bahagia.
^^^
Di sisi lain di lokasi yang sama dimana yang awalnya Andhika, Tommy, Billy dan para sahabatnya sedang melangkah menuju kantin, namun mereka berhenti ketika melihat kelasnya Triny sedang bermain basket.
Mereka semua tersenyum ketika melihat cara bermain basket Triny dan keempat sahabatnya.
"Itu cewek gue!" seru Andhika tersenyum melihat kearah Triny.
"Cewek lo itu adek gue," ledek Billy.
"Dan yang ngoper bola barusan adalah cewek gue." Andry juga ikut bersuara.
Mendengar ucapan dari dua sahabatnya membuat Andhika tak mempedulikan keduanya. Tatapan matanya masih terus menatap Triny.
Tiba-tiba tatapan mata Andhika, Billy, Tommy dan sahabat-sahabatnya melihat kedatangan Sheela bersama enam siswi. Mereka datang untuk menganggu Triny.
"Eh, siapa keenam siswi yang bersama Sheela?" tanya Mirza.
"Iya, iya! Siapa mereka? Kalau mereka siswi baru disini. Kenapa kita baru melihatnya sekarang?!" tanya Ivan.
"Dan sejak kapan mereka menjadi satu kelompok dengan Sheela?" tanya Nathan.
Billy, Tommy dan Andhika menatap tajam kearah Sheela dan keenam teman-teman barunya itu. Mereka ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh mereka terhadap Triny dan keempat sahabatnya.
"Apa Molly juga sama seperti Sheela dengan membawa teman baru?" tanya Tommy dengan tatapan matanya menatap kearah Sheela dan keenam teman-temannya itu.
"Semoga saja tidak. Tapi kit lihat saja nanti," jawab Billy dan diangguki oleh Andhika dan sahabat-sahabatnya.
^^^
Triny, keempat sahabatnya dan beberapa teman sekelasnya masih bermain basket. Tim Triny berhasil mencetak 4 angka. Sementara tim lawannya mencetak 2 angka. Unggul tim Triny.
Ketika Triny, keempat sahabatnya dan beberapa teman sekelasnya sedang bermain basket, tiba-tiba Sheela merebut bola basket itu ketika bola itu dilepar oleh salah satu teman sekelasnya kearah temannya yang lain. Setelah itu, Sheela mendorong kuat teman sekelasnya Triny itu hingga terjatuh.
Bruk..
"Yak! Apa-apaan lo, hah?!" bentak Triny.
Dua teman sekelasnya membantu temannya yang jatuh itu untuk berdiri. Sedangkan Triny dan keempat sahabatnya menatap tajam kearah Sheela dan keenam teman-temannya.
Triny tentu saja tidak tinggal diam. Justru Triny langsung bertindak dengan tangannya memegang tangan Sheela dengan kuat.
Triny kemudian memelintir tangan Sheela sehingga membuat Sheela meringis kesakitan. Setelah itu, Triny menghempas tangan Sheela dengan kasar.
"Lo pikir gue ini adalah cewek yang gampang lo tindas, hum? Jawabannya tentu tidak. Gue bukan tipe cewek yang takut sama model manusia kayak lo dan orang-orang lo," ucap Triny.
Triny dan keempat sahabatnya menatap tajam kearah Sheela dan keenam teman-temannya. Begitu juga dengan Sheela dan keenam teman-temannya.
"Berani juga lo ya sama gue," ucap Sheela.
"Terus lo mau gue takut dan tunduk sama lo gitu?" tanya Triny dengan tatapan remehnya.
"Kalau lo nggak takut sama gue. Bagaimana kalau kita tanding basket sekarang!" tantang Sheela.
"Gue main basket sama lo?"
"Iya, kenapa? Lo takut?"
"Hahahaha!"
Triny seketika tertawa seketika mendengar pertanyaan dari Sheela yang mengatakan bahwa dirinya takut bermain basket dengannya.
"Anda terlalu meremehkan saya, nona! Anda belum tahu bagaimana cara bermain basket saya. Sementara anda sudah terlebih dulu mengatakan bahwa saya takut kepada anda," ucap Triny dengan aksen mengejeknya.
Mendengar ucapan dari Triny membuat keempat sahabatnya dan teman sekelasnya tertawa. Begitu juga dengan Andhika, Billy, Tommy dan sahabat-sahabatnya yang saat ini masih melihat kearah lapangan.
"Tidak Kimberly. Tidak Triny. Keduanya sama saja. Jika sudah berurusan dengan musuh. Pasti omongannya meninggi alias membanggakan kehebatannya," sahut Henry.
"Itu dikarenakan dikeluarga kami memang banyak menguasai bidang olahraga, termasuk bela diri. Bukan itu saja, kami semua juga menguasai semua mata pelajaran. Maka dari itulah kenapa kami bangga, karena apa yang kami banggakan memang benar adanya." Billy berucap sembari tatapan matanya masih terus menatap Triny dan yang lainnya di lapangan.
"Lagian kami bangga dan menyombong diri di depan para musuh yang meremehkan kami dengan menyombongkan diri di hadapan kamu," sahut Billy.
Mendengar perkataan dari Billy membuat Tommy, Andhika serta sahabat-sahabatnya menganggukkan kepalanya membenarkan. Mereka juga sama seperti Billy.
Sementara Sheela seketika mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan dari Triny.
Ketika Sheela hendak mengatakan sesuatu kepada Kimberly, tiba-tiba terdengar bunyi bell yang menandakan bahwa jam pelajaran olahraga telah selesai.
Teeettt... Teeettt... Teeettt..
Seketika Triny dan keempat sahabatnya tersenyum. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
"Oh, kasihan sekali anda nona Sheela! Dewi Fortuna belum memihak sama anda. Sepertinya tantangan dari anda belum bisa saya terima karena waktu pelajaran olahraga saya sudah selesai. Eeemmm... Walaupun masih ada waktu. Anda juga tidak bisa memberikan tantangan anda itu kepada saya karena anda berada di kelas lain."
Setelah mengatakan itu, Triny pun pergi meninggalkan Sheela dan keenam teman-teman barunya. Dan disusul oleh keempat sahabatnya serta teman-teman sekelasnya untuk menuju ruang ganti.
Sheela menatap tajam kearah Triny dan keempat sahabatnya yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya dan keenam teman-temannya.
Sementara Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya tersenyum puas melihat kekesalan Sheela atas sikap Triny padanya.
"Lo nggak akan bisa menyentuh sepupu gue, Sheela! Jika lo berani nyentuh dia, lo bakal habis," batin Billy.
"Sheela, lo belum tahu siapa cewek gue. Apa yang lo terima dua minggu yang lalu dari Kimberly, itu juga yang akan lo terima dari Triny jika lo masih ganggu dia," batin Andhika.
Setelah puas melihat Triny, keempat sahabatnya dan teman-teman sekelasnya mengikuti pelajaran olahraga. Dan kini mereka sudah meninggalkan lapangan. Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya memutuskan untuk ke kantin.