THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Boneka Kelinci



Di kediaman Odelia terlihat seorang wanita cantik sedang duduk sendirian di sofa ruang tengah. Wanita itu adalah Rica Adisti Odelia.


Rica saat ini tengah mengerjakan satu profosal untuk persentase rapat besok pagi di perusahaannya.


Ketika Rica sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba kedua orang tuanya dan adik perempuannya datang.


"Sibuk nih!" seru Raditya sang ayah.


Mendengar seruan dari ayahnya. Rica langsung melihat kearah ayahnya. Dan dapat Rica lihat bahwa ayah, ibu dan adik perempuannya sudah duduk cantik di sofa sembari tersenyum menatap dirinya.


Rica tersenyum. "Tidak terlalu, Pa! Aku hanya mempersiapkan presentasi untuk rapat besok pagi."


"Oh iya, sayang! Bagaimana keadaan Kimberly sekarang?" tanya Emma.


Kedua orang tua Rica sudah tahu perihal Kimberly yang masuk rumah sakit ketika berada di mall. Mereka tahu karena Rica menceritakan awal kejadian tersebut kepada kedua orang tuanya.


Mendengar cerita dari Rica membuat Raditya dan Emma terkejut dan juga syok. Bahkan Emma selaku ibunya Rica menyumpahi orang yang sudah menyakiti Kimberly.


"Keadaan Kimberly sudah membaik. Dokter juga bilang tidak ada luka serius."


"Ach, syukurlah! Mama senang mendengarnya."


"Sekarang Kimberly dimana? Apa masih di rumah sakit atau sudah pulang?" tanya Raditya.


"Masih di rumah sakit, Pa! Kemungkinan besok Kimberly baru diizinkan pulang," jawab Rica.


"Baiklah. Nanti malam Papa dan Mama akan menjenguk Kimberly di rumah sakit," ucap Raditya.


"Aku ikut Pa!" seru Luna.


"Kalau begitu kita pergi bersama-sama!" seru Raditya.


***


Tommy saat ini berada di kamarnya. Sejam yang lalu dirinya baru pulang dari rumah sakit menjenguk Kimberly dan juga menemani Kimberly disana.


Kini Tommy tengah mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru matematika. Semua soal-soal itu akan dikumpulkan besok pagi.


Ketika Tommy sedang konsen mengerjakan semua soal-soal matematika tersebut. Detik kemudian, Tommy dikejutkan dengan suara ketukan pintu disertai suara seseorang dari luar.


Tok! Tok!


"Tommy, kakak masuk ya!"


"Masuk aja kak Sovia!" teriak Tommy sebagai balasannya.


Cklek!


Terdengar suara pintu dibuka. Dan setelah itu, Sovia sang kakak perempuannya pun melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Kini Sovia sudah duduk di sofa di samping Tommy. Tatapan matanya menatap kearah adik laki-lakinya itu.


Tommy menghentikan kegiatannya. Lalu tatapan matanya menatap kearah wajah cantik kakak perempuannya.


"Ada apa kak?"


Mendengar pertanyaan dari adiknya seketika Sovia tersenyum. Lalu tangannya mengusap lembut kepala adiknya.


"Kakak dengar Kimberly masuk rumah sakit?"


"Iya, kak. Maaf aku lupa beritahu kakak. Aku hanya beritahu Mami, Papi, kak Arka, kak Salsa dan Tama. Saat aku kasih tahu masalah Kimberly, kak Sovia belum pulang dari luar kota."


Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari Tommy membuat Sovia tersenyum sembari mengacak-ngacak rambut adiknya itu gemas.


"Terus bagaimana keadaan Kimberly sekarang?"


"Sudah membaik. Besok Kimberly sudah boleh pulang. Dan kondisi tidak terlalu parah hanya nyeri di bagian tengkuknya."


"Yakin Kimberly nggak kenapa-kenapa? Kakak dengar dari Mami ketika dengar cerita kamu kalau Kimberly kena pukul bagian kepalanya. Kamu tahu sendiri kan kalau fisik perempuan sama fisik laki-laki berbeda," ucap dan tanya Sovia.


Tommy tersenyum ketika mendengar ucapan dari kakak perempuannya. Dirinya begitu bahagia kakak perempuannya begitu peduli terhadap Kimberly. Begitu juga dengan keluarganya yang lain.


"Terima kasih kakak sudah peduli terhadap Kimberly. Tapi kakak tidak perlu khawatir. Kimberly benar-benar tidak apa-apa. Dokter yang menangani Kimberly mengatakan bahwa tidak ada luka serius. Baik luka luar maupun luka dalam."


Mendengar perkataan dari adik seketika Sovia menghela nafas leganya. Dirinya benar-benar bahagia sekaligus lega mendengar kondisi calon adik iparnya baik-baik saja.


"Kapan kamu mau ke rumah sakit lagi?"


"Nanti malam."


"Kalau begitu kakak ikut sama kamu. Kakak mau jenguk Kimberly. Disini hanya kakak yang belum jenguk Kimberly."


"Kalau kakak pergi bersamaku. Nanti kakak pulangnya sama siapa? Aku nggak akan izinkan kakak pulang naik taxi."


"Jadi maksud kamu. Kamu mau nginap di rumah sakit?" tanya Sovia.


"Iya, kak! Kakak perginya nanti sama sopir ya. Jangan naik taxi.


Sovia kembali mengusap-usap kepala adiknya disertai dengan senyuman manisnya.


"Baiklah. Sesuai keinginan kamu."


"Itu baru kakakku."


Setelah selesai berbicara dengan adiknya mengenai kondisi Kimberly. Sovia memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar adiknya. Dirinya tidak ingin terlalu lama mengobrol dengan adiknya karena saat ini adiknya itu tengah mengerjakan tugas sekolahnya.


***


"Mommy," panggil Kimberly.


"Ada apa, hum?" tanya Nashita sembari membelai lembut rambut putrinya.


"Mom, pulang sekarang aja ya! Kan Dokternya bilang aku nggak kenapa-kenapa."


Nashita tersenyum mendengar permintaan putrinya. Apalagi ketika melihat wajah manyun dan memohon putrinya itu.


"Besok saja ya. Kan sudah janji sama kak Jason, kak Uggy, kak Enda dan kak Iyan kalau pulangnya besok." Nashita berusaha membujuk putrinya.


"Tapi Mom....!"


"Sayang," ucap Nashita dengan memperlihatkan wajah sedihnya.


Mendengar suara lirih dan melihat wajah sedih ibunya membuat Kimberly merasa bersalah.


"Mommy jangan sedih."


"Mommy tidak akan sedih lagi jika kamu nurut sama Mommy."


"Baiklah. Aku akan nurut sama Mommy."


"Nggak minta pulang lagi kan?"


"Nggak. Aku pulangnya besok aja."


Seketika Nashita tersenyum mendengar jawaban dari putrinya.


Tanpa diketahui oleh Nashita dan Kimberly. Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan mendengar pembicaraan kedua perempuan kesayangannya di luar ruangan rawat Kimberly. Mereka tersenyum bahagia ketika melihat bagaimana cara istrinya/ibunya merayu dan bujuk putrinya/adik perempuannya. Serta melihat kepatuhan putrinya/adik perempuannya terhadap istrinya/ibunya, walau awalnya merengek-rengek minta pulang.


"Ini sekarang makan buahnya. Mommy sudah kupas dan sudah Mommy potong-potong juga." Nashita berbicara sambil memberikan potongan buah apel kepada putrinya.


Cklek!


Pintu ruang rawat Kimberly dibuka. Dan setelah itu, masuklah lima laki-laki tampan ke dalam ruangan rawat Kimberly.


Nashita dan Kimberly dengan kompak langsung melihat kedatangan lima laki-laki tampan.


"Dad, kak!"


"Hei, princessnya Daddy. Bagaimana? Apa ada yang sakit?" tanya Fathir sembari mengusap kepala putrinya lembut disertai dengan kecupan di keningnya.


"Tidak, Dad! Semuanya baik-baik saja. Aku nggak merasakan sakit apa-apa," jawab Kimberly.


Fathir tersenyum mendengar jawaban dari putrinya. Begitu juga dengan Jason, Uggy, Enda dan Riyan.


Kimberly menatap kearah kakak keempatnya itu. "Kak Iyan."


Riyan langsung mendekat kearah Kimberly. Tangannya kemudian terangkat untuk mengusap lembut kepala adiknya.


"Ada apa, hum?"


"Mana?"


"Apanya?"


"Kakak."


Seketika wajah Kimberly berubah sedih. Setelah itu, Kimberly membuang wajahnya melihat ke depan.


"Kak Iyan jahat. Kak Iyan udah janji mau belikan aku boneka kelinci terbaru. Tapi kak Iyan justru ingkar janji."


Mendengar perkataan dari adik perempuannya membuat Riyan langsung tersenyum. Sebenarnya Riyan tidak ingkar janji. Justru Riyan sudah membelikan boneka tersebut.


Riyan melakukan hal itu sengaja untuk menjahili adik perempuannya itu.


Riyan melihat kearah kakak ketiganya lalu mengulurkan tangannya bermaksud untuk meminta boneka kelinci yang saat ini dipegang oleh kakaknya itu.


Enda yang mengerti langsung memberikan boneka itu diam-diam tanpa diketahui oleh Kimberly kepada Riyan.


Setelah boneka itu berpindah tangan yaitu ke tangan Riyan. Riyan langsung menggoyang-goyangkan boneka itu ke udara di hadapan Kimberly.


Kimberly yang masih dalam suasana buruk dan juga sedih sekilas melihat boneka mirip kelinci menari-nari di hadapannya.


Kimberly menatap boneka kelinci ini kadang-kadang dengan mata menyipit, kadang-kadang dengan mata membulat.


Melihat raut berubah-rubah Kimberly membuat Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum gemas.


"Tadi katanya minta dibelikan boneka kelinci," ucap Jason.


"Setelah boneka kelincinya ada di hadapan. Hanya dilihatin doang," sela Uggy.


Mendengar perkataan dari kakak pertama dan kakak keduanya. Seketika Kimberly tersadar. Dirinya sadar bahwa boneka kelinci yang menari-nari di hadapannya adalah nyata.


Kimberly seketika menoleh ke samping dimana kakak keempatnya berdiri sambil tersenyum.


"Kakak."


Riyan langsung menganggukkan kepalanya. "Kakak nggak lupa sama janji kakak sama kamu."


Mendengar perkataan dari kakaknya itu. Kimberly kembali melihat boneka kelinci ini.


Dan detik kemudian, Kimberly langsung memeluk boneka kelinci ini dengan raut penuh kebahagiaan.


Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah kesayangannya membuat Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan ikut merasakan kebahagiaan.


"Terima kasih kakak Iyan."


"Sama-sama sayang."