
Sementara Gracia saat ini benar-benar marah akan setiap jawaban dari Kimberly. Dirinya tidak menyangka jika Kimberly sama sekali tidak takut padanya.
"Berani lo sama gue, hah?!" bentak Gracia.
"Yaelah! Memangnya lo siapa di sekolah ini sehingga membuat seorang Kimberly harus takut sama lo?" tantang Kimberly dengan menatap tajam Gracia.
"Hei, saudari Gracia Aditya! Sadarlah bahwa seorang Kimberly tidak pernah takut dengan lo maupun keenam teman-teman lo. Jangankan sama lo. Sama semua orang yang ada di dunia ini, gue tidak pernah takut.
"Intinya adalah selama gue tidak melakukan kesalahan, selama gue tidak menyakiti orang-orang, maka selama itu pula tidak ada rasa takut dalam diri seorang Kimberly. Apa lo mengerti sekarang, nona Gracia?!"
Kimberly memberikan tatapan tajamnya kearah Gracia. Begitu juga dengan Rere, Santy, Sinthia dan Catherine terhadap keenam teman-temannya Gracia.
"Besar juga nyali lo ya," ucap Gracia menatap nyalang Kimberly.
"Hahahaha. Baru sadar ya. Kemarin-kemarin kemana saja, hah?!" Kimberly menjawab perkataan dari Gracia dengan tatapan meremehkan.
"Rasakan ini."
Gracia melayangkan tangannya hendak menampar wajah Kimberly. Namun dengan gesitnya, Kimberly langsung menangkap tangan tersebut.
"Lo pikir tangan lo ini bisa menyentuh pipi mulus gue, hum?! Nggak akan gue biarkan tangan lo menyentuh pipi gue untuk yang kedua kalinya. Cukup waktu itu lo berhasil menyentuh pipi cantik dan mulus gue ini. Untuk kali ini, gue nggak akan membiarkan lo melakukannya lagi."
Kimberly dengan penuh amarah langsung memelintir kuat tangan Garcia sehingga terdengar retakan di pergelangan telapak tangan Gracia.
"Aakkhhh!"
Gracia berteriak kesakitan ketika merasakan ngilu di tulang tangannya.
"Gracia!" keenam teman-temannya.
Dan detik kemudian, keenam teman-temannya Gracia menyerang Kimberly. Namun langsung dibalas oleh Catherine, Rere, Santy dan Sinthia.
Duagh!
Santy, Sinthia, Rere dan Catherine memberikan tendangan tepat di perut Hilda, Farah, Leece dan Fenya. Sementara untuk Ellsaa dan Elma mendapatkan tendangan dari Kimberly walau Kimberly saat ini masih memelintir tangan Gracia.
Hilda, Farah, Leece, Fenya, Ellsaa dan Elma terhuyung ke belakang sembari tangannya memegang perut akibat tendangan tak main-main dari Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.
"Sial," umpat Hilda, Farah, Leece, Fenya, Ellsaa dan Elma mereka di dalam hatinya.
Sementara Billy, Triny, Aryan, Tommy dan yang lainnya tersenyum ketika melihat sepupu/kekasihnya memberikan pembalasan kepada Gracia dan keenam teman-temannya.
"Nggak akan semudah itu lo bisa menyentuh Kimberly, Gracia!" sahut Billy.
"Yang ada lo sendiri yang merasakan sakitnya," ucap Tommy.
"Dan sekarang, terima saja akibat dari perbuatan lo yang mencari masalah dengan Kimberly," ucap Triny.
"Dan bersiap-siaplah karena sebentar lagi lo dan keenam teman-teman lo bakal menjadi penghuni rumah sakit," ucap Aryan.
Setelah puas membuat tangan kanan Gracia patah, Kimberly pun melepaskan tangan Gracia lalu mendorong tubuh Gracia dengan kuat.
"Bagaimana? Apa yang lo rasain sekarang? Apa mau gue buat seperti itu juga tangan kiri lo, hum?!" Kimberly berucap sembari memperlihatkan senyuman manisnya.
"Jangan senang dulu lo sialan! Gue belum kalah!" teriak Gracia.
Gracia kemudian berlari untuk menghajar Kimberly dengan menggunakan tangan kirinya. Dan disertai dengan tendangan-tendangan yang ditujukan kepada Kimberly. Begitu juga dengan Hilda, Farah, Leece, Fenya, Ellsaa dan Elma. Mereka juga tak jauh beda dengan Gracia dengan kembali menyerang Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.
Disela-sela menyerang Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Leece dan Fenya mencuri kesempatan untuk menyerang Kimberly yang sedang fokus menyerang Gracia.
Ketika Leece dan Fenya hendak menyerang Kimberly. Kimberly yang memang dasarnya memiliki insting yang kuat dan juga perasaan peka akan sekitarnya seketika mengetahui jika dua temannya Gracia hendak menyerang dirinya.
Duagh!
Kimberly langsung memberikan tendangan kuat tepat di perut Leece dan Fenya secara bersamaan sehingga membuat keduanya tersungkur dan memuntahkan cairan segar berwarna merah dari mulut masing-masing.
Dan detik kemudian, Leece dan Fenya tak sadarkan diri di tempat. Melihat itu, Kimberly tersenyum penuh kebahagiaan.
Kimberly kembali fokus kepada Gracia. Sementara untuk Hilda, Farah, Ellsaa dan Elma sudah tak berdaya akibat pukulan dan tendangan dari Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Kondisi keempatnya sangat buruk dan tak baik-baik saja.
"Lo sudah salah mencari lawan, Gracia! Dan sekarang lo sudah tahukan siapa gue," ucap Kimberly.
Setelah itu, Kimberly memberikan tendangan tepat di tulang kering Gracia sehingga membuat Gracia menjerit kesakitan dan seketika tubuhnya terjatuh.
Bruk!
Kimberly melangkah mundur untuk sekedar menjauh dari Gracia. Setelah itu, tatapan matanya menatap satu persatu wajah murid-murid yang saat ini tengah menonton kejadian yang dirinya lakukan bersama keempat sahabatnya.
"Dan untuk kalian yang tidak menyukaiku. Berhentilah bergosip, berhentilah menghinaku, berhentilah mengatakan hal-hal buruk untukku. Jika kalian memiliki masalah denganku, mari kita selesaikan permasalahan tersebut. Mumpung aku masih disini. Mari maju dan hadapi aku sekarang. Keluarkan semua ketidaksukaan kalian padaku dan keempat sahabat-sahabatku. Jangan hanya beraninya menggunjing, bergosip dan berbicara di belakang. Kalau kalian punya nyali, mari kesini dan berdiri di hadapanku!"
Kimberly berbicara dengan suara yang sengaja dibesarkan agar semua murid-murid bisa mendengarnya.
Billy, Triny, Aryan, Tommy beserta sahabat-sahabatnya menatap satu persatu wajah murid-murid yang memang sejak tadi menjadi penonton. Mereka menatap jijik terhadap murid-murid yang tidak menyukai Kimberly.
"Kenapa kalian semuanya diam?!"
Billy berseru sembari melangkahkan kakinya menghampiri Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine dan diikuti oleh Triny, Aryan, Tommy beserta sahabat-sahabatnya.
"Ayo, kenapa diam? Tuh adik gue sudah sangat baik ingin menyelesaikan masalah kalian yang tidak menyukainya!" teriak Triny.
"Jangan jadi pecundang yang hanya berani berucap di belakang dan bergosip seenaknya. Ini mumpung ada adek gue. Mari selesaikan sekarang juga!" teriak Billy.
"Jangan jadi manusia-manusia seakan-akan punya nyali besar di sekolah ini. Giliran ditantang sama orangnya, nyali kalian langsung ciut. Banci lo pada!" teriak Aryan.
Baik Kimberly, Billy, Triny, Aryan, Tommy maupun para sahabatnya masih terus menatap para murid-murid, kecuali para murid-murid yang tidak menyukai Kimberly.
"Baiklah kalau kalian tidak mau menghampiriku hari ini dan di lapangan ini. Berarti dengan begitu kalian secara bersamaan sepakat dan juga kompak memutuskan untuk tidak lagi mencari masalah denganku dan kalian juga tidak akan mengeluarkan kata-kata indah kalian untukku ketika melihatku."
"Tapi jika kalian masih saja mengeluarkan kata-kata indah kalian untukku, maka dengan terpaksa aku akan membalas kalian secara kejam. Sudah cukup aku sabar selama ini mendengar ocehan-ocehan murahan kalian itu untukku. Aku akan benar-benar membalas kalian semua jika aku mendengar kata-kata itu lagi. Aku membalas kalian bukan melalui kalian langsung, melainkan aku akan membalas kalian melalui anggota keluarga kalian masing-masing. Aku akan menghancurkan keluarga kalian semua."
Deg!
Mendengar ucapan demi ucapan serta ancaman dari Kimberly membuat murid-murid yang tidak menyukai Kimberly terkejut dan juga ketakutan. Di dalam hati mereka masing-masing tidak ingin terjadi sesuatu terhadap keluarganya.
"Ingat! Ini bukan hanya sekedar ancaman. Aku akan benar-benar melakukannya. Kalian sudah melihat buktinya, bukan! Mulai dari keluarga dari Antony, Clara, Talitha dan keluarga-keluarga lainnya yang mana anak-anaknya mencari masalah denganku. Semua keputusan ada ditangan kalian dan nasib keluarga kalian juga ada ditangan kalian. Pikirkanlah baik-baik."
Setelah mengatakan itu, Kimberly pun pergi meninggalkan lapangan untuk menuju kelasnya dan diikuti oleh kekasihnya, keempat sahabatnya, para sepupunya dan para sahabat sepupu-sepupunya.