
"Zivan, tunggu!" teriak seorang wanita yang terus mengejar Zivan.
Zivan terus melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang ada di parkiran. Dirinya tidak mempedulikan panggilan serta teriakan dari perempuan yang sudah menjadi masa lalunya.
Wanita yang memanggil Zivan itu adalah mantan pacarnya yang bernama Karlina Martavia. Karlina masih terus berteriak memanggil nama Zivan sembari berlari mengejarnya sehingga orang-orang yang berlalu lalang bahkan orang-orang yang berada disana menatap kearah Karlina dan Zivan.
Srek!
Karlina berhasil mencekal pergelangan tangan Zivan ketika Zivan ingin membuka pintu mobilnya.
Zivan menggeram marah ketika tangannya disentuh. Dirinya ingin sekali mematahkan tangan Karlina, namun Zivan menahannya. Dirinya berusaha untuk tidak bersikap kasar terhadap Karlina.
Zivan menatap tajam kearah Karlin dengan tangan kanannya mengepal kuat.
"Lepaskan tanganku," ucap Zivan.
"Aku akan lepaskan tangan kamu dengan satu syarat. Kamu harus menerima aku lagi. Aku mau kita menjalin hubungan lagi, Van!"
Mendengar perkataan dari Karlina membuat Zivan tersenyum di sudut bibirnya.
"Aku katakan sekali lagi. Lepaskan tanganku." Zivan masih berusaha sabar menghadapi Karlina.
"Nggak. "Karlina menjawab dengan menatap wajah Zivan dengan menantang.
"Aku mengaku salah padamu, Zivan! Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi untuk bisa menjadi kekasih yang baik untukmu. Aku janji akan setia padamu. Apapun yang terjadi."
"Tidak akan. Sekali selingkuh tetap akan selingkuh. Sekali menjadi pengkhianat selamanya akan menjadi pengkhianat. Sekarang lepaskan tanganku sebelum aku merubah pikiranku. Jangan pancing aku untuk menyakitimu." Zivan berucap dengan wajah dingin dan tatapan tajamnya.
"Aku tahu siapa kamu, Zivan! Kamu nggak akan nyakiti aku."
"Tergantung sikap kamu. Jika kamu segera melepaskan tanganku. Dan membiarkan aku pergi. Kemungkinan besar aku tidak akan menyakiti kamu."
"Zivan, aku mohon jangan seperti ini. Aku.....!"
"Lepaskan tanganku, sialan!" bentak Zivan dengan suara kerasnya sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya mendengar ucapan dan teriakannya itu.
Mendapatkan bentakan dari Zivan membuat Karlina seketika syok dan terkejut. Tubuhnya juga tersentak. Bagi Karlina, ini adalah untuk pertama kalinya Zivan membentak dirinya.
"Van," lirih Karlina.
Zivan memegang tangan Karlina yang masih memegang tangan kirinya dengan kuat sehingga membuat Karlina meringis.
Dengan sekali tarik, pegangan tangan Karlina di tangannya terlepas. Setelah itu, Zivan mendorong dengan kasar tubuh Karlina sehingga membuat Karlina terjatuh di tanah.
"Menjauhlah dariku. Jangan pernah lagi muncul di hadapanku."
Setelah mengatakan itu, Zivan langsung membuka pintu mobilnya lalu kemudian masuk ke dalam mobil.
Zivan menghidupkan mesin mobilnya lalu pergi meninggalkan tempat tersebut dengan sedikit ngebut.
Sementara Karlina menangis melihat kepergian Zivan. Dirinya benar-benar hancur saat ini.
Namun beberapa detik kemudian, Karlina tersenyum. Lalu tangannya menghapus air matanya dan berdiri dari jatuhnya.
"Aku akan mendapatkanmu kembali, Zivan! Jika aku tidak bisa menjadikan kamu milikku lagi, maka perempuan mana pun yang akan menjadi kekasihmu juga tidak akan bisa memilikimu. Aku akan singkirkan setiap perempuan yang mendekatimu ," batin Karlina.
Setelah mengatakan itu, Karlina pun pergi meninggalkan tempat tersebut untuk segera pulang ke rumahnya.
***
Kimberly saat ini berada di kelas bersama keempat sahabatnya. Beberapa menit yang lalu kelas 1 IPA 1 baru selesai mengikuti tiga materi pelajaran. Tiga materi pelajaran itu adalah Matematika, Bahasa Inggris dan Fisika.
Kini Kimberly dan keempat sahabatnya tengah sibuk dengan ponsel masing-masing tanpa menghiraukan hiruk-pikuk teman-teman sekelasnya.
Ketika Kimberly dan keempat sahabatnya sibuk dengan ponsel masing-masing, tiba-tiba Syafina, keempat teman-temannya, Gracia dan teman-temannya datang Talitha mengganggu.
Alasan kedatangan mereka adalah untuk memberikan sebuah peringatan kepada Kimberly dan keempat sahabatnya.
Gracia saat ini sudah bergabung dengan keempat teman-temannya Talitha. Dengan kata lain, Gracia menggantikan Talitha sebagai ketua kelompok.
Sementara untuk keenam teman-temannya Gracia sudah tidak lagi berteman dengan Gracia. Alasannya adalah para orang tua dari keenam teman-temannya Gracia itu melarang anak-anaknya untuk berteman dengan Gracia. Bahkan para orang tua dari keenam teman-temannya Gracia mengancam anak-anaknya dengan ancaman akan diusir dari rumah jika masih berhubungan dengan Gracia.
Bukan hanya itu saja. Para orang tua dari keenam teman-temannya Gracia itu sudah mengetahui sifat dan kelakuan Gracia selama ini. Kelakuannya itu tak jauh beda dengan ibunya. Para orang tua dari keenam teman-temannya Gracia juga tahu akan kehidupan ibunya Gracia hingga berakhir bisa masuk ke dalam keluarga Aditya.
Alasan utama yang membuat para orang tua dari keenam teman-temannya Gracia melarang anak-anaknya bergaul dan berteman dengan Gracia adalah karena yang menjadi musuh anak-anak itu adalah putri dari keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo dimana kedua keluarga itu terkenal dengan kekejamannya jika ada yang mengusiknya.
Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine melirik sekilas menatap Syafina, keempat teman-temannya, Gracia dan keempat teman-temannya Talitha. Setelah itu, mereka kembali menatap ke layar ponselnya.
"Catherine, gue minta sama lo untuk jauhi Billy. Lo tuh nggak pantas untuk Billy. Yang pantas jadi pacarnya Billy hanya gue," ucap Syafina ketus.
Mendengar perkataan penuh percaya diri dari Syafina membuat Catherine melihat kearah Kimberly lalu menatap kearah Rere, Santy dan Sinthia. Begitu juga dengan keempat sahabatnya itu yang menatap dirinya.
Dan detik kemudian...
"Hahahahaha!"
Kimberly, Rere, Santy, Sinthia, dan Catherine seketika tertawa ketika mendengar ucapan terlalu percaya diri dari Syafina.
Setelah itu, mereka kembali fokus menatap layar ponselnya dan mengabaikan makhluk-makhluk yang tak jelas yang saat ini masih menatapnya.
Melihat kelakuan Kimberly dan keempat sahabatnya membuat Syafina, keempat teman-temannya, Gracia dan keempat teman-temannya Talitha menggeram marah.
"Kalian dengar tidak apa yang dikatakan oleh Syafina!" bentak Enzi.
"Dan lo Kimberly. Jauhi Tommy. Tommy milik gue. Gue yang pertama kali bertemu dengan Tommy. Jadi gue yang berhak memiliki Tommy!" bentak Gracia.
Kimberly seketika menatap wajah menjijikkan Gracia. Dan jangan lupa senyuman di sudut bibirnya.
"Kenapa nggak lo aja yang meminta Tommy buat ninggalin gue? Kenapa lo mintanya sama gue? Secara Tommy udah bucin banget sama gue. Begitu juga dengan sepupu gue Billy yang udah bucin sama Catherine. Jika pun kita-kita ninggalin mereka. Belum tentu juga mereka suka sama lo, lo, lo dan lo!"
Kimberly berbicara sembari menatap satu persatu wajah menjijikkan Syafina, keempat teman-temannya, Gracia dan keempat teman-temannya Talitha.
"Gue nggak peduli. Pokoknya gue minta sama lo dan sahabat-sahabat lo buat jauhi Tommy, Billy dan sahabat-sahabatnya. Kalau nggak....." Perkataan Gracia terpotong karena Kimberly sudah terlebih dulu memotongnya.
"Kalau nggak apa?"
Kimberly langsung berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Mereka menatap tajam kearah Gracia, Syafina dan semua teman-temannya.
"Coba aja kalau lo berani nyentuh gue dan sahabat-sahabat gue. Berani lo nekat. Gue bakal buat lo dan ibu lo terusir dari keluarga Aditya." Kimberly berucap dengan menatap penuh amarah kearah Gracia.
Seketika Gracia terkejut ketika mendengar ucapan dari Kimberly. Dirinya tidak menyangka jika Kimberly akan berkata seperti itu.
"Lo pikir gue takut sama ancaman lo itu, hah!" bentak Gracia.
"Itu urusan lo. Dan gue nggak main-main dengan semua perkataan gue barusan. Gue bakal buktiin sama lo. Satu lagi, gue tahu siapa ibu lo yang sebenarnya. Dan gue juga tahu awal mula ibu lo masuk ke keluarga Aditya sehingga menjadi nyonya Aditya."
Setelah mengatakan hal itu di hadapan Gracia. Kimberly menatap kearah Syafina, keempat teman-temannya dan keempat teman-temannya Talitha.
"Dan untuk lo, lo, lo dan lo. Gue akan buat lo semua sama seperti Clara dan Talitha yaitu mendekam dalam penjara. Sementara untuk keluarga kalian. Gue bakal buat mereka seperti keluarga Clara, keluarga Talitha dan keluarga Antoni."
Kimberly berucap dengan penuh penekanan dan ancaman. Dan jangan lupa tatapan matanya yang menatap tajam kearah Syafina, keempat teman-temannya dan keempat teman-temannya Talitha.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly membuat Syafina, keempat teman-temannya dan keempat teman-temannya Talitha seketika ketakutan. Di dalam hati mereka masing-masing mempercayai setiap perkataan yang keluar dari mulut Kimberly. Bahkan mereka sudah melihat sendiri bagaimana nasib Clara, Talitha, Antoni beserta keluarganya.
Mereka juga tahu bahwa salah satu sepupu Kimberly yaitu Billy hampir membuat keluarga dari Ishana dalam ambang kehancuran.
Namun hal itu tidak terjadi karena Kimberly memberikan maafkan kepada keluarga Ishana karena ibunya Ishana langsung bersujud di kaki Kimberly meminta maaf.
Setelah mengeluarkan semua amarah dan ancamannya, Kimberly kembali menduduki pantatnya dan kembali fokus menatap layar ponselnya.
"Jika sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan. Silahkan keluar. Jika kalian ingin tetap di kelas ini. Silahkan kembali ke meja kalian masing-masing, kecuali untuk saudari Gracia. Anda bukan penghuni kelas 1 IPA 1 ini!"
Mendengar perkataan serta sindiran dari Kimberly membuat Syafina, keempat teman-temannya dan keempat teman-temannya Talitha memutuskan kembali ke meja masing-masing. Sementara Gracia pergi meninggalkan kelas 1 IPA 1.