
Kimberly saat ini berada di kantin. Dirinya tidak sendirian, melainkan bersama dengan dua sepupu cantiknya yaitu Risma dan Triny, bersama dengan keempat sahabatnya dan juga keempat sahabatnya Triny.
Disaat semuanya tengah menikmati makan siangnya sembari ngobrol kecil. Beda dengan Kimberly. Kimberly sejak tadi tengah melamun.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa mereka? Dan kenapa mereka mengincar aku?" tanya Kimberly pada dirinya sendiri.
Flashback On
"Kim," panggil Fathir.
Kimberly langsung melihat kearah ayahnya sembari mengunyah makanannya yang ada di dalam mulutnya.
"Iya, Dad!"
"Eemm... Begini! Untuk sementara waktu ini Daddy melarang kamu untuk pergi sekolah sendiri. Kakak-kakak kamu secara bergantian akan antar jemput kamu. Termasuk jika kamu ingin pergi jalan-jalan keluar," ucap Fathir.
"Sampai kapan Dad?" tanya Kimberly.
"Daddy belum tahu sampai kapan. Tapi percayalah. Ini hanya sebentar saja," sahut Fathir.
Kimberly kembali fokus pada makanannya. Dirinya tidak memberikan reaksi apapun ketika mendengar jawaban dari ayahnya.
"Sayang," panggil Fathir lembut.
Fathir tahu bahwa putrinya saat ini sedikit tidak ikhlas mendengar keputusan darinya.
"Kim."
Kali ini Jason yang memanggil adik perempuannya sembari tangannya mengusap kepala belakangnya.
"Aku nurut apa kata Daddy," sahut Kimberly tanpa mengalihkan perhatiannya dari makanannya.
"Nanti akan beberapa anggota dari kakak dan Riyan untuk menjaga kamu selama berada di luar rumah," ucap Enda.
Seketika Kimberly langsung melihat kearah kakak ketiganya itu dengan tatapan matanya yang membulat.
"Nambah lagi yang jagain aku?" tanya Kimberly.
"Iya!" Enda dan Riyan menjawab bersamaan.
"Dad!" seru Kimberly dan langsung menatap kearah ayahnya.
"Iya, sayang! Itu benar," jawab Fathir.
"Terus kak Deryl dan anggotanya bagaimana?"
"Deryl tetap mengawasi kamu seperti biasa. Para anggota dari Enda dan Riyan hanya membantu Deryl dan para anggotanya," jawab Uggy.
Flashback Off
"Aku harus cari tahu apa yang terjadi sebenarnya?"
Risma yang menyadari bahwa Kimberly sejak tadi tengah melamun akhirnya bersuara. Dirinya tidak tahan Kimberly yang hanya melamun. Sedangkan dirinya, Triny dan yang lainnya mengobrol dan tertawa.
"Kim," panggil Risma.
Mendengar Risma yang memanggil Kimberly membuat Triny dan yang lainnya langsung melihat kearah Kimberly.
Sementara Kimberly sama sekali tidak mendengar panggilan dari Risma. Kimberly masih memikirkan kejadian hari ini.
Puk..
Triny yang duduk di sampingnya langsung menepuk pelan bahu Kimberly sehingga membuat Kimberly seketika sadar dari lamunannya.
Kimberly melihat kearah Triny yang duduk di samping kirinya yang kini tengah menatap dirinya.
"Ada apa, hum?" tanya Triny lembut.
Kimberly memalingkan wajahnya menatap ke depan lalu kemudian Kimberly menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada apa-apa," jawab Kimberly.
"Kalau tidak ada apa-apa. Kenapa melamun?" tanya Risma.
"Pengen aja. Lagian gue males lihat wajah lo. Sepet banget," jawab Kimberly seenaknya.
Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Kimberly membuat Risma mendengus.
"Dasar mulut cabe-cabean lu," balas Risma.
Kimberly seketika berdiri dari duduknya. Dirinya hendak pergi meninggalkan kantin.
Melihat Kimberly yang tiba-tiba berdiri membuat Triny, Risma serta yang lainnya menatap kearah Kimberly.
"Mau kemana?" tanya Triny.
"Kelas."
"Gue ikut ya," ucap Rere.
"Ngapain lo ikut gue. Gue bukan emak lo. Dan lo bukan anak gue. Jadi gue pengen bebas tanpa ada yang mengganggu," jawab Kimberly.
Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung pergi meninggalkan keempat sahabatnya, kedua sepupunya serta yang lainnya.
"Kim!"
Mereka semua berteriak memanggil Kimberly, namun Kimberly dengan sengaja menulikan pendengaranya.
Rere, Santy, Sinthia langsung berdiri dari duduknya. Setelah itu, mereka bertiga berniat menyusul Kimberly.
"Cat, lo disini saja!" seru Sinthia.
Setelah mengatakan itu kepada Catherine, Rere, Santy dan Sinthia langsung pergi meninggalkan kantin untuk menyusul Kimberly.
^^^
"Hallo, tuan!"
"Bagaimana? Apa aman kau berada disana?"
"Aman, tuan!"
"Baik, tuan!"
"Fokus saja kepada gadis yang bernama Kimberly. Untuk sahabatnya, tinggalkan saja."
"Baik, tuan!"
Setelah mengatakan itu, seseorang di seberang telepon langsung mematikan panggilannya. Sang penerima telepon tersebut langsung memasukkan ponselnya ke saku celananya.
Orang itu kemudian meninggalkan ruangan dimana ruangan itu adalah tempat para tukang-tukang bersih di sekolah.
***
Di kediaman Fathir Aldama terlihat beberapa anggota keluarga tengah berkumpul. Mereka adalah Rafassya, Helena dan anak-anaknya. Clarita, Ammar dan anak-anaknya. Sedangkan Nashita saat ini berada di dapur mengambil beberapa makanan yang dia beli ketika pulang dari
Mereka saat ini tengah membahas masalah yang menimpa Kimberly yang mana ada dua orang pria yang belum diketahui latar belakang keluarganya tengah mengincar Kimberly.
"Bagaimana Pasya? Apa kamu dan anggota kamu sudah mengetahui dari mana kedua pria brengsek itu berasal?" tanya Fathir.
"Belum Daddy. Aku juga tidak tahu kenapa begitu sulit mencari tahu latar belakang dari kedua pria itu," jawab Pasya.
"Begitu juga denganku dan para anggota-anggotaku, Dad! Aku, para tangan kananku dan para anggota-anggotaku begitu sulit mencari latar belakang dari kedua pria itu," sahut Barra
"Ini adalah untuk pertama kalinya kita kesulitan. Biasanya tidak pernah seperti ini," sela Alfan.
"Berarti musuh kita kali benar-benar pintar menyembunyikan identitas keluarganya," sahut Fathan.
"Kemungkinan besar mereka menyembunyikan wajah asli mereka sehingga kita tidak bisa mengenalinya," ucap Enda.
Mereka semua berpikir, bagaimana caranya agar segera menemukan titik terang tentang kedua pria itu dan anggota keluarganya sehingga mereka bisa segera menghancurkan kedua pria itu melalui anggota keluarganya. Jadi dengan begitu kedua pria itu dan para anak buahnya tidak lagi mengusik Kimberly.
"Oh iya! Aku baru ingat satu hal. Kenapa kita tidak menggunakan kedua gadis yang mencari masalah dengan Salsa dan Tommy. Bukankah mereka yang memulainya terlebih dahulu!" seru Ammar.
"Hasilnya tetap sama Ayah," jawab Jason.
"Maksudnya?" tanya Ammar menatap wajah Jason.
"Seperti yang dikatakan oleh Fathan bahwa mereka begitu pintar menyembunyikan identitas keluarganya. Kemungkinan besar kedua pria itu telah menghapus identitas asli anak-anak mereka. Aku dan para tangan kananku tidak menemukan petunjuk apapun tentang kedua gadis itu." Jason berucap.
"Dan kemungkinan juga kedua gadis itu juga sama seperti para ayah mereka dengan menutup wajah aslinya ketika berada diluar rumah," sela Uggy.
Mendengar perkataan dari Jason dan Uggy membuat mereka semua mengumpat kesal dan juga geram.
"Aku berharap Kimberly dan Catherine sempat melihat wajah kedua pria itu ketika mereka berada di cafe yang sama?" tanya Clarita tiba-tiba.
Mendengar perkataan dari Clarita membuat Fathir, Jason, Uggy, Enda, Riyan dan yang lainnya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Aku juga berharap begitu, kak Clarita! Semoga saja Kimberly atau Catherine sempat melihat wajah kedua pria itu pungkas Helena.
Prang..
Seketika mereka semua dikejutkan dengan suara benda jatuh dari arah dapur.
Mendengar suara tersebut membuat Fathir langsung berdiri lalu berlari menuju dapur dan diikuti oleh Jason, Uggy, Enda, Riyan dan yang lainnya.
^^^
Prang..
Tiba-tiba botol kue yang ada di tangan Nashita seketika jatuh di lantai bersamaan dengan mulutnya yang menyebut nama putrinya.
"Kimberly!"
Jantung Nashita berdegup kencang. Perasaannya tiba-tiba tak enak. Pikirannya langsung tertuju kepada putrinya.
Tes..
Seketika air matanya jatuh membasahi wajah cantiknya ketika wajah cantik putrinya melintas di pikirannya.
"Sayang!"
"Mommy!"
"Kak Nashita!"
Fathir, keempat putranya, adik dan adik iparnya dan para keponakannya datang sembari memanggil nama Nashita.
"Sayang, ada apa?"
Mereka semua menatap khawatir kearah Nashita yang saat ini tengah menangis dan juga ketakutan.
"Kimberly... Kimberly," ucap Nashita lirih.
"Kimberly masih di sekolah, Mom!" sahut Riyan.
"Perasaan Mommy tidak enak. Mommy benar-benar mengkhawatirkan Kimberly."
Grep..
Fathir menarik tubuh istrinya lalu membawanya ke dalam pelukannya.
"Kimberly sayang. Semoga kamu baik-baik saja, nak!" batin Fathir.
Uggy mengambil ponselnya. Dirinya ingin menghubungi Deryl dan menanyakan tentang adik perempuannya. Begitu juga dengan Enda dan Riyan.
Baik Enda maupun Riyan akan menghubungi para tangan kanan mereka masing-masing.
"Ach, sial! Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab panggilan dariku," ucap Uggy kesal dan juga marah.
Bukan hanya Uggy yang terlihat kesal dan marah. Enda dan Riyan juga terlihat kesal dan marah. Para tangan kanannya tidak ada yang menjawab panggilan darinya padahal ponsel mereka aktif.
Melihat kekesalan dan kemarahan serta mendengar ucapan dari ketiga adiknya membuat Jason mengepal kuat tangannya. Saat ini dirinya benar-benar khawatir akan adik perempuannya.
Namun detik kemudian, Jason pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk pergi menuju sekolah adik perempuannya. Dirinya tidak ingin kecolongan sehingga membuat dirinya menyesal.
Melihat kepergian kakaknya. Uggy, Enda dan Riyan langsung berlari menyusul kakaknya itu. Dan diikuti oleh Barra dan Fathan.
Pasya mengambil ponselnya lalu menghubungi Ricky yang berstatus sama seperti dirinya yaitu polisi. Pasya menceritakan apa yang terjadi hari ini di kediaman sang Daddy.
Pasya juga menghubungi saudara-saudara yang lainnya melalui pesan grup di Wathsaap. Pasya meminta kepada semua saudara-saudara untuk bekerja lebih keras lagi mencari tahu latar belakang keluarga dari kedua pria yang tengah mengincar Kimberly.