
Kini Kimberly, Tommy dan yang lainnya berada di sebuah arena bermain. Setelah selesai mengisi perut dan setelah selesai berbelanja beberapa barang incaran di Mall. Kimberly, Tommy, Billy dan para sahabatnya memutuskan untuk pergi ke arena bermain yang lokasinya hanya membutuhkan waktu setengah jam dari Mall.
Baik Kimberly dan keempat sahabatnya tengah melakukan permainan memanah. Jika tembakan panas mereka tepat sasaran, maka mereka akan mendapatkan dua hadiah sekaligus. Hadiah tersebut adalah boneka berukuran besar dan gelang couple. Untuk jenis bonekanya adalah boneka kelinci, boneka panda dan boneka bear.
Sementara Tommy, Billy, Henry, Lionel dan Satya hanya menonton sembari memberikan semangat untuk kekasih masing-masing.
Setelah bermain selama setengah jam. Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine berhasil memenangkan dua hadiah tersebut.
Kimberly memilih boneka Kelinci. Rere, Santy dan Sinthia memilih boneka Panda. Sedangkan Catherine memilih boneka Bear.
Selesai para kekasih memainkan permainan memanah. Tommy, Billy, Henry, Lionel dan Satya membawa kekasihnya untuk berkeliling.
Ketika Kimberly dan yang lainnya sedang berkeliling di arena bermain. Tatapan matanya Kimberly tak sengaja melihat Vanny, perempuan yang sudah mengkhianati sepupunya.
Kimberly kemudian memberikan boneka miliknya kepada Tommy bermaksud agar Tommy memegang bonekanya.
Tommy yang melihat Kimberly memberikan bonekanya kepada dirinya langsung memegang boneka itu.
Setelah itu, Kimberly berjalan pergi meninggalkan Tommy dan yang lainnya untuk menghampiri Vanny yang mana Vanny yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon sembari kakinya melangkah menuju toilet.
Melihat Kimberly yang pergi begitu saja membuat Tommy, Billy dan yang lainnya menatap bingung Kimberly.
Tommy pergi menyusul Kimberly. Begitu juga dengan Billy dan yang lainnya. Mereka semua penasaran Kimberly mau pergi kemana. Ditambah lagi mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Kimberly.
^^^
"Hallo, sayang!"
".…"
"Aku sekarang ini berada di cafe. Aku bersama dengan kedua kakak perempuanku. Mereka baru pulang dari luar kota. Dan mereka mengajakku keluar."
"...."
"Mana mungkin aku tega membohongimu. Apa perlu aku mengirimkan foto kedua kakakku. Kebetulan mereka disini?"
"...."
Mendengar jawaban dari seseorang di telepon. Wanita itu tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum menyeringai.
"Terima kasih sayang. Percayalah! Aku tidak akan mengkhianatimu. Kau segalanya bagiku."
"...."
"Ya, sudah kalau begitu! Aku tutup teleponnya. Aku dan kedua kakakku akan makan. Nanti setiba di rumah, aku akan menghubungimu."
"...."
Pip..
"Hah!"
Seketika wanita itu menghembuskan nafasnya secara kasar. Dirinya malam ini benar-benar lega karena laki-laki yang menghubunginya percaya akan perkataannya.
"Untung saja Rico percaya akan perkataanku. Kalau misalkan Rico tidak mempercayai perkataanku. Bisa gawat. Hancur semua rencanaku untuk merebut miliknya.
Tanpa diketahui oleh wanita itu. Ucapannya barusan didengar oleh seseorang. Bahkan sudah terekam dengan sangat apik di ponsel orang itu.
Setelah berbicara dengan orang itu di telepon. Wanita itu pun pergi untuk menemui laki-laki yang saat ini tengah menunggunya di depan rumah hantu.
Melihat Vanny yang akan keluar dan akan pergi. Kimberly segera bersembunyi agar dirinya tidak ketahuan.
"Cewek matre lo ya. Awalnya gue pikir lo cewek baik-baik. Lo pacaran dengan banyak laki-laki guna untuk meraup keuntungan dari laki-laki yang lo pacari. Aryan, sepupu gue korban ke berapa lo?"
"Vanny! Sudah 6 bukti yang gue dapatkan tentang lo! 4 bukti tentang kelakuan asli lo. Dan 2 bukti tentang kebusukan seluruh anggota keluarga lo yang mendapatkan kekayaan dengan cara menipu. Tunggu kehancuran lo dan seluruh anggota keluarga lo!"
Setelah kepergian Vanny. Kimberly pun keluar dari persembunyiannya. Dan detik kemudian, Kimberly tersenyum di sudut bibirnya.
Kimberly melangkahkan kakinya untuk keluar meninggalkan tempat yang didatangi oleh Vanny.
Dan tanpa Kimberly ketahui bahwa Tommy, Billy serta yang lainnya saat ini berjalan menuju toilet untuk menghampiri dirinya.
Ketika Tommy, Billy dan yang lainnya menyusul Kimberly. Santy sempat melihat Kimberly berjalan mengarah ke toilet.
Bruk..
"Aakkhhh!"
Kimberly seketika berteriak merasakan sakit di bagian pantatnya akibat bertabrakan dengan tubuh Tommy.
Bagaimana tidak bertabrakan. Kimberly yang hendak keluar dari toilet, tiba-tiba Tommy dan yang lainnya juga ikut masuk ke dalam toilet dengan posisi Tommy bagian depan sehingga membuat keduanya bertabrakan.
"Kim!"
Tommy, Billy, Henry, Lionel, Satya, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine berteriak bersamaan. Mereka menatap khawatir Kimberly.
"Sayang." Tommy langsung membantu Kimberly untuk berdiri.
"Kim, kamu nggak apa-apa?" tanya Billy.
"Dan kalian juga. Kenapa kesini? Bukan nunggu disana saja!" ucap dan tanya Kimberly dengan wajah kesalnya.
"Kita khawatir tahu," jawab Rere.
"Lo pergi gitu aja," ucap Santy.
"Nggak izin sama pawang lo," ujar Sinthia.
"Kebetulan Santy ngeliat lo. Makanya kita nyusul lo kesini," sahut Catherine.
Setelah itu, Tommy membantu Kimberly jalan untuk kembali ke tempat yang sudah mereka janjikan. Tommy bahkan memapah Kimberly karena dia tahu bahwa Kimberly saat ini kesakitan.
Namun ketika mereka melangkahkan kaki menuju tempat yang sudah mereka janjikan, tiba-tiba Kimberly minta pulang.
"Tommy, Billy! Kita pulang aja ya. Pantat aku masih sakit," ucap Kimberly dengan mempoutkan bibirnya.
Mendengar permintaan dan melihat wajah sedih Kimberly membuat mereka semua pun langsung mengabulkan permintaan Kimberly. Mereka juga tidak ingin membuat Kimberly tidak nyaman karena rasa sakitnya itu.
"Baiklah. Kita pulang ya," ucap Tommy lembut.
"Nggak apa-apa kita pulang? Kalian nggak marah?"
Mendengar pertanyaan dari Kimberly membuat mereka semua tersenyum gemas. Apalagi melihat wajah bersalah Kimberly yang menurut mereka benar-benar menggemaskan.
"Tidak!" mereka menjawab pertanyaan dari Kimberly secara bersamaan.
"Lain kali kita bisa pergi lagi," ucap Lionel.
"Ditambah lagi hari sudah malam juga. Sudah pukul 9 malam," sela Henry.
"Nggak baik anak perempuan keluyuran malam-malam terlalu lama. Ntar bisa-bisa dibawa lari oleh para laki-laki hidung belang," ucap Satya asal.
"Hahahaha."
Mereka semua tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Satya. Menurut mereka perkataan Satya itu lucu. Dan setidaknya perkataan dari Satya bisa membuat rasa bersalah Kimberly hilang.
***
Keesokan harinya di kediaman Fathir Aldama terlihat ramai dimana Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan sudah berada di meja makan. Hanya satu orang yang belum menampakkan batang hidungnya. Siapa lagi kalau bukan princess kesayangan Daddy Fathir dan Mommy Nashita. Serta tuan putri kesayangan ketiga kakak laki-lakinya.
"Princess kesayangannya Daddy belum bangun tuh!" seru Riyan.
Mendengar seruan dari putra keempatnya membuat Fathir tersenyum.
"Siapa diantara kalian yang akan membangunkan princess Daddy itu, hum?" tanya Fathir tersenyum sembari tangannya mengoles rotinya.
"Biarkan aku saja," sahut Enda.
Setelah mengatakan itu, Enda beranjak dari duduknya untuk menuju kamar adik perempuannya.
Namun ketika Enda hendak melangkah, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga dan disertai teriakannya.
"Selamat pagi semuanya!"
Mendengar teriakkan dari kesayangannya membuat Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan hanya bisa menutup telinganya disertai gelengan kepala.
"Pagi Mom! Pagi Dad!" Kimberly memberikan masing-masing satu ciuman di pipi kedua orang tuanya.
"Pagi princessnya Mommy/Daddy!" Fathir dan Nashita menjawab bersamaan sembari tersenyum bahagia karena mendapatkan ciuman selamat pagi dari kesayangannya.
"Pagi kakak Jason! Pagi kakak Uggy! Pagi kakak Enda! Pagi kakak Iyan!" sapa Kimberly dan disertai satu ciuman di pipi keempat kakaknya itu.
"Pagi juga sayang!" Jason, Uggy, Enda dan Riyan menjawab bersamaan.
Setelah melakukan tugasnya sebagai seorang anak perempuan dan adik perempuan yang baik. Kimberly langsung menduduki pantatnya di kursi dan memulai memakan sarapan paginya dengan penuh kebahagiaan.
"Apa pagi ini ada rencana dijemput sama pangeran tampannya?" tanya Enda sembari menggoda adik perempuannya.
"Tidak," jawab Kimberly.
"Rencana untuk minta diantar?" tanya Uggy.
"Tidak. Aku akan pergi sendirian untuk hari ini. Ntahlah kalau besok," jawab Kimberly.
Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum.
"Aku sudah selesai. Aku langsung berangkat ya!"
"Sayang, itu kamu sarapannya cuma sedikit." Nashita berucap sembari menatap piring putrinya yang masih tersisa banyak.
"Aku sengaja Mom! Nanti di kantin aku bakal sarapan lagi. Pagi ini aku rencananya mau nagih janji Rere, Santy, Sinthia dan Catherine yang mau belikan aku sarapan. Kemarin nggak jadi karena Daddy tiba-tiba nyuruh aku ke perusahaan!"
Mendengar jawaban dari putrinya membuat Nashita hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Begitu juga dengan Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan.
Setelah mengatakan itu, Kimberly pun langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk berangkat ke sekolah.