THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kemarahan Arnol Dan Ociel Kakak Laki-Laki Catherine



Di kediaman Carney terlihat dua pemuda tampan sedang duduk di sofa ruang tengah. Jika yang satunya sedang berkutat dengan laptopnya, sementara yang satunya sibuk berkutat dengan ponselnya. Mereka adalah Arnol Carney dan Ociel Carney. Keduanya memilih untuk bersantai sejenak setelah itu baru pergi ke kantor.


Ketika Arnol dan Ociel sedang sibuk dengan dunianya masing-masing, tiba-tiba ponsel milik Arnol berbunyi sehingga membuat konsentrasi Arnol terganggu, kemudian tatapan matanya menatap kearah dimana ponselnya berada.


Arnol melihat nama tangan kanannya tertera di layar ponselnya. Melihat itu, Arnol langsung mengambil ponselnya dan menjawabnya. Sedangkan Ociel melirik kearah kakaknya itu lalu kembali menatap layar ponselnya.


"Hallo, ada apa?"


"Saya ingin memberikan laporan mengenai anak perempuan dari mantan sekretaris tuan Savio, Bos!"


Mendengar tangan kanannya menyebut perempuan yang sudah merusak hubungan kedua orang tuanya membuat Arnol mengepal kuat tangannya.


Melihat gerak-gerik dari kakaknya membuat Ociel menghentikan kegiatannya. Tatapan matanya fokus menatap kearah kakaknya.


"Katakan."


"Gadis itu berulah lagi. Dia mengusik nona Catherine dan menuduh nona Catherine telah merebut pacarnya. Gadis itu berteriak sembari berkata kalau nyonya seorang pelakor yang sudah merebut tuan Savio dari ibunya. Perkataannya itu didengar banyak orang."


"Brengsek!" Arnol seketika marah ketika mendengar laporan dari tangan kanannya itu.


"Ada apa, kak?" tanya Ociel.


"Lalu apa lagi yang dilakukan anak sialan itu?"


"Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan laporan dari anggota saya, katanya gadis itu mengambil uang yang sudah dikumpulkan oleh para murid-murid untuk kegiatan sekolah satu minggu lagi, lalu uang itu dimasukkan ke dalam tas nona Catherine sehingga nona Catherine yang mendapatkan hukuman tersebut."


Arnol mengepal kuat tangannya. Dirinya benar-benar marah atas apa yang dilakukan oleh anak haram itu terhadap adik kesayangannya.


"Bukan itu saja Bos. Gadis itu berniat ingin menghancurkan hidup nona Catherine. Setelah nona Catherine benar-benar hancur, gadis itu akan hidup tenang dengan ibunya serta tuan Savio. Gadis itu bahkan akan merebut Bos dan tuan Ociel dari kehidupan nona Catherine dan menjadikan Bos dan tuan Ociel sebagai kakak laki-lakinya."


Mendengar ucapan demi ucapan dari tangan kanannya membuat Arnol benar-benar marah. Kali ini Arnol tidak akan tinggal diam atas apa yang dilakukan oleh anak haram ayahnya itu. Cukup ibunya sudah menghancurkan rumah tangga kedua orang tuanya, walau pada akhirnya kedua orang tuanya tetap bersama sampai sekarang karena ayahnya begitu mencintai ibunya. Saat ini kedua orang tuanya berada diluar negeri.


"Apa yang akan Bos lakukan untuk membalas gadis itu?"


"Biarkan saja dulu. Aku mau melihat rencana apa lagi yang akan dia lakukan kepada adik perempuanku. Dan aku juga ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh adik perempuanku terhadap gadis menjijikan itu. Kau cukup awasi saja gadis sialan itu."


"Baik, Bos. Saya mengerti."


Setelah berbicara dengan tangan kanannya, Arnol langsung mematikan panggilannya dengan raut wajahnya yang masih terlihat marah.


"Ada apa, kak?" tanya Ociel.


"Anak perempuan dari perempuan murahan itu berani mencari masalah dengan Catherine," jawab Arnol.


"Apa?!" Ociel seketika terkejut ketika mendengar jawaban dari kakaknya. "Apa yang dia lakukan kepada Catherine, kak?"


"Dia mengusik Catherine dan menyebut Catherine telah merebut pacarnya. Dia juga menghina Mami dan menyebut Mami sebagai pelakor. Dia juga mengambil uang sekolah lalu uang itu dimasukkan ke dalam tas Catherine sehingga Catherine yang mendapatkan hukuman itu."


"Brengsek! Dasar murahan. Ibu dan anak sama-sama menjijikan," ucap Ociel marah.


"Kau pasti akan lebih terkejut lagi jika kakak mengatakan ini?"


"Apa?"


"Dia ingin menghancurkan Catherine dengan merebut kita berdua dan menjadikan kita berdua kakak laki-lakinya."


"Cuih! Tidak sudi aku memiliki adik menjijikan seperti dia. Dia ada di dunia ini karena perbuatan bejat ibunya dengan cara menjebak Papi," ucap Ociel.


"Kita harus temui mereka kak. Kita harus tunjukkan ke mereka siapa kita. Sudah cukup kita sabar selama ini atas perbuatan ibunya sehingga buat Mami jatuh sakit dan harus dirawat diluar negeri untuk kesembuhannya. Dan sekarang giliran anak perempuannya. Kali ini kita tidak bisa sabar lagi kak. Kita harus berbuat sesuatu!" Ociel berbicara dengan penuh amarah.


"Baiklah kalau begitu. Aku setuju dengan rencana kakak itu," sahut Ociel.


***


Kimberly dan ketujuh sahabat-sahabatnya berada di lapangan. Mereka duduk disana sambi mengobrol dan bersenda gurau. Dan tak lupa beberapa cemilan dan minuman menemani mereka.


Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya bercerita tentang rencana mereka untuk pergi jalan-jalan ketika pulang sekolah nanti.


"Kita jalan-jalan yuk pulang sekolah nanti!" seru Sinthia.


"Ayo, kemana kita?!" seru Rere.


"Kita ke Mall aja, bagaimana?" tanya Sinthia.


"Lo bagaimana Kimberly?" tanya Catherine.


"Asal bukan Mall itu, aku mau!" Kimberly menjawab pertanyaan dari Catherine.


"Baiklah. Kita akan pergi ke Mall yang lain. Kan banyak Mall di kota Hamburg ini," sahut Santy.


"Hm."


Ketika Kimberly dan keempat sahabatnya tengah asyik mengobrol, bersenda gurau sembari membahas acara jalan-jalan mereka, tiba-tiba beberapa murid-murid perempuan datang mengganggu mereka.


Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya seketika langsung melihat kedatangan enam gadis di hadapannya.


"Cih! Ngapain lagi sih," batin Catherine.


keenam murid-murid perempuan itu menatap jijik kearah Catherine, sedangkan Catherine hanya fokus menatap layar ponselnya.


Kimberly hanya diam sembari tatapan matanya menatap kearah salah satu dari keenam murid perempuan itu.


"Mau apa lagi? Mau menghina gue lagi, hum? Silahkan! Asal lo nggak nyesal terjadi sesuatu terhadap diri lo dan ibu lo itu," ucap Catherine.


Mendengar ucapan serta sindiran dari Catherine membuat gadis itu marah dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Catherine.


"Lo perempuan menjijikan. Lo dan...."


"Apa?!"


Catherine seketika berdiri lalu menatap tajam kearah murid perempuan itu. Diikuti oleh Kimberly, Santy, Rere dan Sinthia.


"Lo mau bilang ibu gue pelakor, begitu?! Gue tekankan disini yang pelakor itu ibu lo! Ibu lo yang sudah merayu, menggoda dan bahkan menjebak ayah gue tidur dengan ibu lo!" teriak Catherine dengan tatapan matanya menajam.


Mendengar ucapan dan teriakan dari Catherine membuat semua murid-murid yang berada di sekitarnya terkejut dan merasa semua melihat kearah murid perempuan itu.


"Lebih baik lo pulang, lalu lo nanya langsung sama perempuan menjijikan itu. Tanya sama dia siapa yang pelakor sebenarnya. Jika perempuan menjijikan itu masih berbohong dan tidak berani mengatakan yang sebenarnya sama lo, biarkan gue yang beberkan kebenarannya. Gue bakal beberkan siapa yang istri sah dan siapa yang pelakor. Gue akan beberkan melalui media sosial dan internet biar semua orang tahu. Jika sampai gue ngelakuin hal itu, maka hancurlah hidup lo Soraya!" Catherine berbicara sembari tersenyum di sudut bibirnya.


Kimberly mendekati Soraya. Setelah itu, Kimberly mendekatkan wajahnya ke wajah Soraya. Seketika Kimberly membisikkan sesuatu di telinga Soraya sehingga membuat Soraya terkejut terlihat dari wajahnya yang tegang dan tatapan matanya yang melotot.


"Gue juga bakal beberkan ke media sosial dan internet kalau lo yang mencuri uang itu lalu lo memasukkan uang itu ke dalam tasnya Catherine."


Setelah mengatakan itu, Kimberly menjauhkan wajahnya dari wajah Soraya sembari tersenyum manis menatap wajah tegang Soraya.


"Ayo," ajak Kimberly.


Setelah itu, Kimberly dan keempat sahabatnya pun pergi meninggalkan Soraya dan teman-temannya.