
Ketika Kimberly dan keempat sahabatnya tiba di kantin, suasana kantin tampak begitu ramai sehingga semua tempat duduk sudah terisi penuh.
"Kim, bagaimana ini? Semuanya penuh. Kita duduk dimana dong?" tanya Santy.
Di sisi lain dan di lokasi yang sama dimana Risma, Triny, Billy, Tommy, Andhika dan para sahabatnya kini menatap kearah Kimberly Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.
"Kimberly! Santy! Rere! Sinthia! Catherine!" panggil Billy, Tommy, Lionel, Henry, Satya bersamaan.
Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine yang mendengar suara panggilan dari para kekasihnya/kakak sepupunya langsung melihat keasal suara.
Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya melihat empat sepupunya, kekasihnya beserta para sahabatnya sudah duduk tak jauh dari mereka berdiri.
"Kemarilah!" pinta Tommy.
Kimberly dan keempat sahabatnya langsung berjalan menghampiri Tommy, keempat sepupunya dan para sahabatnya.
Melihat Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine yang berjalan menghampiri meja Billy, Tommy dan yang lainnya membuat seisi kantin menatap kearah kelimanya.
Kini Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine sudah duduk di meja yang sama dengan Risma, Triny Billy, Tommy dan sahabat-sahabatnya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Tommy.
"Aku mau makan bakso, boleh?"
Tommy tersenyum mendengar jawaban dari kekasihnya itu. Begitu juga dengan Billy, Triny, Risma dan yang lainnya.
"Tentu boleh," jawab Tommy, Billy, Triny, Risma bersamaan.
"Kalau kamu mau pesan Catherine?" tanya Billy kepada kekasihnya itu.
"Samakan saja sama si kelinci ini," jawab Catherine sembari menjahili Kimberly.
Seketika Kimberly menggeram marah ketika mendengar ucapan dari Catherine.
"Cat, aku lagi nggak mood dijahili!"
"Hehehehe. Maafkan diriku," jawab Catherine sembari terkekeh.
"Kalau kalian apa?" tanya Henry, Lionel dan Satya bersamaan sembari menatap wajah kekasih masing-masing.
"Aku mie ayam," jawab Santy.
"Spaghetti," sahut Rere.
"Samain sama Rere," sahut Sinthia.
Setelah mendapatkan pesanan dari kekasihnya masing-masing. Billy, Tommy, Henry, Lionel dan Satya langsung pergi meninggalkan mejanya untuk memesan makanan dan minuman untuk dirinya, untuk kekasihnya dan juga untuk yang lainnya.
Beberapa menit kemudian, semua pesanan telah tersedia di atas meja. Dan mereka pun mulai untuk menyantapnya.
"Kim," panggil Tommy disela makannya.
"Iya." Kimberly menjawab panggilan dari Tommy sembari menikmati baksonya.
"Tadi aku dan yang lainnya lihat kamu, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine digangguin sama Asena dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Mau ngapain lagi mereka?" tanya Tommy.
Mereka semua melihat kearah Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine secara bergantian. Mereka semua terutama Risma, Triny, Billy dan Tommy berharap Kimberly mau cerita.
"Dia minta aku buat jauhin kamu dan Aryan," jawab Kimberly disela memakan baksonya.
"Apa haknya dia nyuruh lo jauhin Aryan dan Tommy. Secara Tommy itu kekasih lo dan Aryan adalah sepupu lo," sahut Nathan.
Tak..
Mirza langsung menjitak kepala Nathan. "Bisa dikecilin nggak suara lo? Kalau sampai kedengaran sama penghuni kantin yang belum tahu tentang hubungan Kimberly, Aryan, Billy dan Tommy. Terbongkar dong rahasia Kimberly, termasuk kelompok Asena."
"Asena dan kelompok busuknya itu belum tahu masalah ini!" sela Andry menambahkan.
"Ada beberapa murid-murid yang belum tahu masalah ini. Setidaknya sekitar dua puluh lima persen murid-murid yang belum tahu, termasuk Asena dan kelompoknya!" ucap Dania.
Seketika Nathan tersadar akan perbuatannya, lalu matanya menelisik sekitarnya untuk melihat keadaan.
Nathan menatap kearah Elzira dan Brian. "Hehehehe... Sorry!"
"Dimaafkan," jawab Billy dan Tommy bersamaan.
Setelah itu, mereka semua fokus dengan makanan dan minuman diatas meja.
^^^
Plak!
Asena dan ketujuh sahabat-sahabatnya datang ke lapangan dimana seorang murid perempuan tengah duduk disana.
Setelah tiba di lapangan itu dan berdiri di hadapan murid perempuan tersebut, Cherry langsung memberikan tamparan keras di pipi murid perempuan itu yang tengah asyik dengan ponselnya.
Suasana di lapangan yang tadinya adem ayem seketika berubah menjadi bising karena ulah Asena dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Beberapa murid-murid yang ada di lapangan itu langsung melihat kejadian dimana Cherry salah satu sahabatnya Asena memberikan tamparan keras di pipi putih Prisca.
Yah! Murid perempuan yang mendapatkan tamparan dari Cherry adalah Prisca Girado.
"Berani banget lo berbuat hal-hal yang tak senonoh dengan pacar gue!" bentak Cherry.
"Apa maksud lo?! Jangan nuduh gue sembarangan!" Prisca balik membentak-bentak Cherry.
"Berani lo sama gue, hah?!"
Cherry menarik kuat rambut Prisca sehingga membuat Prisca berteriak kesakitan.
Memang benar. Prisca sama sekali tidak takut dengan Asena dan ketujuh sahabat-sahabatnya, terutama terhadap Cherry. Dia berada di sekolah ini bertujuan untuk menimba ilmu. Bukan mencari musuh. Jika ada yang mengusiknya, maka dia tidak akan diam saja. Dia akan membalas orang yang mengusiknya.
Prisca memegang tangan Cherry dengan kuat lalu merematnya.
Setelah merasakan sedikit longgar. Prisca menarik tangan Cherry, kemudian menghempaskannya.
Melihat perlawanan dari Prisca membuat Cherry dan ketujuh temannya melongo tak percaya. Bertambah satu orang lagi yang berani melawannya. Itulah yang mereka pikirkan sekarang ini.
Prisca berdiri dari duduknya lalu menatap tajam kearah Cherry. Begitu juga dengan ketiga temannya. Mereka saling memberikan tatapan mematikan.
"Jangan pernah lo menganggap remeh orang yang selama ini diam. Diam orang itu bukan berarti dia lemah. Diam orang itu justru malapetaka buat lo dan ketujuh sahabat-sahabat lo. Lo pikir diamnya gue selama ini karena gue takut sama lo, lo dan lo?! Jawabannya nggak! Gue Prisca Girado tidak pernah takut dengan siapa pun di dunia ini termasuk sama lo dan ketujuh sahabat-sahabat busuk lo itu!" bentak Prisca.
Mendengar ucapan demi ucapan dan bentakkan dari Prisca membuat Cherry dan ketujuh sahabat-sahabatnya terkejut. Begitu juga dengan beberapa murid-murid yang ada di lapangan itu.
Melihat keberanian Prisca membuat beberapa murid-murid menatap tak percaya kearah Prisca. Bahkan di dalam hati mereka masing-masing ingin seperti Prisca, Kimberly dan keempat sahabatnya yang memiliki keberanian untuk melawan Asena, Syafina dan teman-temannya.
Namun semuanya itu hanya mimpi belaka. Sampai kapan pun mereka tidak akan berani melawan Asena, Syafina dan teman-temannya.
"Dan satu lagi. Lo barusan bilang ke gue kalau gue telah melakukan hal tak senonoh dengan pacar lo? Memangnya lo udah punya pacar? Kalau lo sudah punya pacar. Mana pacar lo? Kenapa nggak makan bersama di kantin? Oh, aku tahu. Pacar yang lo maksud itu adalah...."
Prisca sengaja menghentikan perkataannya hanya untuk membuat Cherry makin marah padanya. Dan sebenarnya Prisca sudah tahu maksud dari perkataan dan tuduhan Cherry terhadap dirinya. Ini ada hubungannya dengan foto dirinya saat bersama Aryan.
Prisca tersenyum. "Lupakan!"
Setelah mengatakan itu, Prisca kembali duduk di tempatnya. Dia kembali melanjutkan apa yang dia lakukan beberapa menit yang lalu bersama ponselnya yang tertunda beberapa menit akibat ulah Cherry dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Sementara Cherry dan ketujuh sahabat-sahabatnya yang melihat kelakuan Prisca menatap tajam kearah Prisca yang dengan santainya bermain-main dengan ponselnya, seolah-olah tidak tidak ada masalah sama sekali.
Seketika terukir senyuman di sudut bibirnya Cherry ketika melihat sebotol minuman di samping Prisca, lalu kemudian Cherry mengambil botol minuman itu secara berlahan.
Tiba-tiba Cherry mendapatkan ide licik untuk membalas perlakuan Prisca. Dia tidak terima Prisca mempermalukan dirinya dan ketujuh sahabat-sahabatnya di lapangan.
Kini botol minuman itu sudah di tangan Cherry dengan tatapan matanya menatap dengan seringai di bibirnya.
Disaat Cherry hendak menumpahkan isi minuman yang ada di dalam botol itu di atas kepala Prisca, tiba-tiba seseorang datang dan langsung menahan tangannya.
"Kalau sudah kalah. Mengaku kalah saja. Nggak baik menyerang seseorang dimana orang tersebut sedang asyik dengan dunianya."
Cherry dan ketujuh sahabat-sahabatnya langsung melihat kearah orang tersebut. Seketika mereka menatap tajam orang itu.
"Lo!" bentak Cherry dan Asena bersamaan.
"Iya. Ini gue, Kimberly! Gue calon pacarnya Aryan dan juga Tommy. Ditambah lagi mereka berdua juga suka sama gue," ucap Kimberly asal.
Prisca yang tadinya sedang fokus menatap layar ponselnya seketika terhenti dan langsung mendongakkan kepalanya keatas untuk melihat apa yang terjadi di hadapannya.
"Jangan ikut campur urusan gue!" bentak Cherry.
"Gue nggak bermaksud ikut campur. Gue ngelakuin ini karena gue nggak mau lo nyakitin teman lo. Apalagi orang tersebut sedang asyik dengan dunianya," jawab Kimberly.
"Dia bukan teman gue!" bentak Cherry dan Asena bersamaan.
"Dia juga bukan teman kita?" seru Caria, Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira.
"Semua orang juga tahu kalau Prisca ini bukan teman lo semua. Bahkan semua murid-murid di sekolah ini juga bukan teman lo. Kalian itu hanya sekumpulan parasit di sekolah ini. Tapi bagaimana pun dia tetap teman lo. Teman satu sekolah lo. Dan Lo nggak bisa melakukan sesuka hati lo di sekolah ini. Jika lo berpikir sekolah ini tidak punya aturan. Lo salah! Jika murid-murid disini tidak mendapatkan keadilan di sekolah ini. Mereka akan mencari keadilan diluar sekolah. Dengan kata lain, murid-murid disini akan membawa masalah yang ada di sekolah ini ke jalur hukum. Kalau sampai itu terjadi, apa yang akan lo dan ketujuh sahabat-sahabat lo lakuin, hum?"
Kimberly berbicara panjang lebar kepada Asena, Cherry dan sahabatnya. Dan jangan lupakan tatapan matanya yang menatap tajam Asena dan Cherry.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Asena dan ketujuh sahabat-sahabatnya terkejut. Bahkan mereka menatap Kimberly dengan tatapan matanya yang penuh amarah.
Kimberly melihat kearah dimana Prisca duduk. Begitu juga dengan Prisca. Dan kemudian, Prisca berdiri dari duduknya.
"Dan untuk lo. Jangan pernah lengah ketika musuh masih berada di hadapan lo. Selesaikan terlebih dahulu. Jika benar-benar sudah selesai. Jika musuh lo sudah benar-benar kalah dan tidak bisa melawan lagi. Barulah lo bisa nyantai. Nggak kayak tadi," ucap Kimberly kesal.
"Musuh lo masih dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan musuh lo menatap lo seolah-olah ingin memakan lo hidup-hidup. Sementara lo enak-enakan bermain ponsel lo itu."
"Lo tahu nggak apa yang dilakukan oleh nenek lampir ini terhadap lo ketika lo sedang berselancar dengan ponsel lo itu?" tanya Kimberly dengan menatap dengan wajah super kesalnya di hadapan Prisca.
"Nenek lampir ini tadinya ingin memandikan lo dengan minuman lo itu ke kepala lo. Apa lo tahu hal itu, bodoh?!"
Mendengar perkataan terakhir dari Kimberly, seketika membuat Prisca membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka jika Cherry akan melakukan hal itu kepadanya.
Prisca menatap tajam kearah Cherry. Dan ketika Prisca ingin mengeluarkan jurus-jurus umpatan dan makiannya, tiba-tiba Kimberly langsung memotongnya.
"Nggak usah protes. Dan nggak usah komentar dengan menyalahkan Nenek lampir ini. Disini lo yang salah. Kalau lo nggak mentingin ponsel lo itu. Nenek lampir ini tidak akan melakukan hal itu kepada lo."
Setelah makan siang bersama keempat sahabatnya, para sepupunya kecuali Aryan, serta yang lainnya. Kimberly dan keempat sahabatnya langsung pergi menuju kelas.
Namun ketika Kimberly melewati lapangan, matanya tak sengaja melihat kelompok Asena melangkahkan kakinya menghampiri seorang murid perempuan yang duduk sendirian di pinggir lapangan.
Dengan rasa penasaran, Kimberly meminta keempat sahabatnya untuk ke kelas terlebih dahulu. Sedangkan dirinya beralaskan ingin ke toilet. Padahal sebenarnya Kimberly ingin mengikuti kelompok Asena dan ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kelompok itu.
Kimberly berbicara sembari menatap wajah Prisca dan Cherry serta ketujuh sahabat-sahabatnya Cherry dengan wajah super duper tak mengenakkan.
Mendengar setiap perkataan dari Kimberly membuat Cherry dan Prisca membelalakkan matanya secara bersamaan. Begitu juga dengan murid-murid yang ada di lapangan itu. Bahkan ada yang tersenyum ketika mendengar setiap perkataan Kimberly yang lebih mengarah untuk Cherry dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Kejadian tersebut disaksikan juga oleh Aryan, Triny, Risma, Billy, Tommy serta yang lainnya.
Mereka kebetulan juga habis dari kantin, sedangkan Aryan dan kelima sahabatnya baru dari lobi hendak menuju kelas mendengar perkataan dari Kimberly hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Apalagi Aryan, Risma, Triny dan Billy. Mereka sudah tahu seperti apa sifat Kimberly kalau sudah kesal. Kimberly akan mengeluarkan kata-kata indahnya itu panjang lebar.
Mereka semua tersenyum terutama Tommy ketika melihat kelakuan Kimberly. Setiap hari ada saja perkataan kejam yang keluar dari mulut Kimberly yang ditujukan kepada orang-orang yang sok berkuasa di sekolah ini.
Kimberly sama seperti Triny dan Risma. Mereka tidak akan diam saja jika ada salah satu temannya di bully di depan matanya. Jika masih sebatas perkataan, baik Kimberly maupun Triny dan Risma tidak akan ikut campur. Tapi jika sudah menyakiti atau main fisik, maka ketiganya akan memberikan bantuan kepada temannya yang dibully itu.
Pembalasan Kimberly, Triny dan Risma akan semakin besar jika korban bully nya itu orang-orang terdekatnya.