THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Flashback



Kimberly, Tommy, ketiga sepupunya, keempat sahabatnya dan para sahabat dari ketiga sepupunya saat ini berada di taman bunga. Taman bunga yang berada di sekeliling lapangan basket yang ada diluar.


Mereka berkumpul disana untuk menghabiskan waktu bersama sebelum jam pelajaran terakhir dilanjutkan.


"Kim," panggil Sinthia.


"Hm." Kimberly menjawab panggilan dari Sinthia dengan deheman sembari tatapan matanya menatap kearah layar ponselnya.


"Kasih tahu dong kenapa kepala sekolah memanggil lo?"


Deg..


Mendengar pertanyaan dari Sinthia membuat Billy, Triny, Aryan dan Tommy langsung melihat kearah Sinthia lalu menatap wajah Kimberly. Begitu juga dengan yang lainnya.


Mereka semua menatap wajah Kimberly dengan tatapan penasaran masing-masing.


"Kim!" seru Tommy, Billy, Triny dan Aryan bersamaan.


Kimberly yang dipanggil oleh ketiga sepupunya dan kekasihnya secara bersamaan langsung melihat keempatnya secara bergantian.


"Apa?' tanya Kimberly.


"Benar kamu dipanggil oleh kepala sekolah?" tanya Billy.


"Iya," jawab Kimberly.


"Ada apa?" tanya Triny.


"Kenapa?" tanya Tommy.


"Kepo," jawab Kimberly lalu kembali menatap layar ponselnya.


Mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan dari Kimberly membuat Tommy, Billy, Triny mendengus kesal.


"Ayolah, Kim!" Triny memohon kepada Kimberly sembari memperlihatkan wajah memelasnya.


Kimberly langsung mematikan ponselnya. Setelah itu, Kimberly melihat satu persatu wajah ketiga sepupunya, kekasihnya, keempat sahabatnya dan para sahabatnya dari ketiga sepupunya itu.


"Aku bertemu dengan kedua orang tuanya kak Arlo," ucap Kimberly.


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Billy, Triny, Aryan terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Dimana?"


"Kapan?"


"Mereka bicara apa sama kamu?"


Billy, Triny dan Aryan menatap lekat wajah Kimberly. Mereka berharap Kimberly mau bercerita.


"Karena itulah aku dipanggil oleh kepala sekolah," ucap Kimberly.


"Jadi maksud kamu kedua orang tuanya Arlo menemui kepala sekolah?" tanya Tommy yang mengerti arah pembicaraan Kimberly.


"Iya," jawab Kimberly.


"Kok bisa?" tanya Aryan.


"Iya, bisalah. Secara sekolah ini milik kak Arlo," jawab Kimberly.


"Hah!"


Tommy, Triny, Aryan dan semuanya terkejut mendengar jawaban dari Kimberly.


"Biasa aja kali terkejutnya," sahut Kimberly kesal dengan wajah terkejut yang diperlihatkan oleh Tommy, Billy, Triny, Aryan serta yang lainnya.


Mendengar perkataan dan wajah kesal Kimberly membuat mereka semua tersenyum gemas.


"Sekarang katakan pada kami apa alasan kedua orang tuanya Arlo menemuimu?" tanya Billy.


"Apa harus?" tanya Kimberly balik.


"Kimberly!" seru Billy, Triny dan Aryan bersamaan.


Mendengar seruan kompak dari ketiga sepupunya membuat Kimberly sedikit terkejut.


Kimberly melihat kearah ketiga sepupunya itu dengan bibir yang mengerucut. Setelah itu, Kimberly pun akhirnya mengatakan tentang kedatangan kedua orang tua Arlo.


"Kedatangan kedua orang tua kak Arlo bertujuan untuk menemuiku," ucap Kimberly.


"Iya, jawab Kimberly.


"Masalah apa?" tanya Billy.


Mendengar pertanyaan dari Billy seketika membuat Kimberly mengingat pertemuannya dengan kedua orang tua Arlo di ruang kepala sekolah.


Flashback On


"Jadi kamu yang bernama Kimberly?" tanya Kikan, ibunya Arlo.


"Iya, nyonya!" jawab Kimberly dengan gugup.


Kikan tersenyum ketika mendengar suara gugup Kimberly. Begitu juga dengan suaminya.


"Santai saja sayang. Tidak usah gugup seperti itu. Istri saya tidak pemakan manusia," ucap Ricco, ayahnya Arlo.


Mendengar perkataan dari ayahnya Arlo membuat Kimberly tersenyum kecil. Dirinya tidak menyangka jika ayahnya Arlo seorang humoris.


"Begini nak Kimberly. Maksud kedatangan Tante dan Om untuk menemui kamu adalah ingin meminta tolong dengan kamu," ucap Kikan.


"Minta tolong? Tante dan Om mau minta tolong apa padaku?" tanya Kimberly.


"Ini masalah Arlo, sayang!" seru Ricco.


Mendengar nama Arlo membuat Kimberly seketika ketakutan. Kimberly berpikir bahwa telah terjadi sesuatu terhadap Arlo.


Melihat perubahan raut wajah Kimberly membuat Ricco dan Kikan menjadi paham.


"Arlo baik-baik saja," ucap Ricco.


Mendengar perkataan dari ayahnya Arlo membuat Kimberly menghela nafas lega.


"Sebenarnya ada apa, Tante?"


"Begini nak Kimberly! Tante dan Om ingin meminta bantuan kamu untuk membujuk Arlo agar mau memberikan kesempatan kepada tante dan om," ucap Kikan.


"Om dan Tante dua minggu lalu menemui Arlo yang berada di Amerika. Om dan Tante berulang kali meminta maaf dan memohon ampun kepada Arlo. Tapi Arlo sama sekali tidak memberikan maaf untuk om dan tante." Ricco berbicara berbicara sembari menjelaskan tentang pertemuan dirinya dengan putra sulungnya.


"Tante dan om juga sudah memohon kepada Arlo, tapi tetap saja Arlo tidak memberikan kata maaf untuk kami," ucap Kikan.


Mendengar penuturan dari kedua orang tuanya Arlo membuat Kimberly menatap keduanya dengan tatapan sedih dan juga iba.


"Tante minta kepada nak Kimberly untuk membujuk Arlo agar Arlo mau memberikan kesempatan untuk tante dan om. Kami benar-benar tidak bisa hidup tenang. Bahkan kami tidak bisa lagi merasakan kebahagiaan sejak kebencian Arlo kepada kami," ucap Kikan.


Mendengar penuturan dari ibunya Arlo membuat hati Kimberly merasakan kesedihan. Kimberly tahu bagaimana hubungan Arlo dan kedua orang tuanya sejak adik perempuannya meninggal.


"Sekarang kak Arlo dimana om, tante?"


"Arlo masih di Amerika, nak! Arlo akan kembali akhir bulan ini ke negara ini," jawab Ricco.


"Om dan Tante nggak perlu khawatir masalah itu. Aku akan bantu om dan tante untuk berdamai dengan kak Arlo."


Mendengar penuturan dari Kimberly, seketika Ricco dan Kikan tersenyum. Senyuman keduanya kali ini adalah senyuman kebahagiaan.


"Benarkah nak?" tanya Kikan.


"Iya, tante. Aku akan bicara dengan kak Arlo. Aku akan berusaha membujuk kak Arlo agar mau memaafkan kesalahan om dan tante."


"Terima kasih sayang!" Ricco dan Kikan berucap bersamaan.


"Sama-sama om, tante. Tapi aku meminta satu hal dari om dan tante jika seandainya kak Arlo memaafkan kesalahan om dan tante."


"Apa itu sayang. Katakanlah," ucap dan tanya Ricco.


"Aku minta kepada om dan tante untuk menjadi orang tua yang baik dan penuh cinta untuk kak Arlo. Jangan melakukan kesalahan lagi. Berikan banyak waktu dan perhatian untuk Arlo," ucap sekaligus permintaan Kimberly.


Mendengar ucapan sekaligus permintaan dari Kimberly membuat Ricco dan Kikan langsung meneteskan air matanya. Mereka tidak menyangka jika Kimberly meminta kepadanya untuk menjadi orang tua yang baik, perhatian dan penuh cinta untuk putra satu-satunya setelah kepergian putrinya.


"Baik, nak! Om berjanji akan merubah semuanya. Apa yang om lakukan dulu tidak akan pernah om ulangi lagi," ucap Ricco dengan air mata yang jatuh membasahi wajahnya.


"Tante juga sayang. Tante berjanji akan menjadi ibu yang baik, perhatian dan penuh cinta untuk Arlo. Tante tidak akan mengulangi kesalahan tante di masa lalu," ucap Kikan.


Mendengar ucapan dan janji dari kedua orang tuanya Arlo, seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly. Di dalam hatinya, Kimberly juga berharap bahwa kedua orang tuanya Arlo benar-benar merasakan penyesalan dan benar-benar ingin memperbaiki hubungannya dengan Arlo.


Flashback Off