THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Membahas Altar Ego Kimberly



Di pagi hari suasan sekolah cukup tenang. Banyak para muird-murid yang baru saja masuk hanya sekedar jalan-jalan di koridor-koridor kelas atau sedang ngobrol. Terdengar hanya beberapa suara murid perempuan yang sedang bergosip dengan teman-temannya dan juga suara kicauan burung.


Namun ketenangan sekolah itu terusik karena dua kelompok orang yang bernama kelompok BRAINER dan kelompok EXID datang. Bunyi dari kendaraan motor memenuhi parkiran sekolah itu.


Kelompok BRAINER dan kelompok EXID yang masing-masing kelompoknya berjumlah lima orang. Lima laki-laki dan lima perempuan. Mereka berjalan di koridor lantai satu menuju tangga.


Semua mata tertuju pada dua kelompok tersebut. Baik kelompok BRAINER maupun kelompok EXID merupakan kelompok yang suka membully teman-teman satu sekolahnya. Apalagi korban bullynya sangat-sangat lemah.


Kedua kelompok itu terkenal dengan sikap dan kelakuan buruknya. Kelakuan mereka sangat jauh dari kata baik.


Dari arah yang berlawanan. Kimberly dan Catharine berjalan menuju kelasnya. Setelah selesai membersihkan tubuhnya dari siraman minuman fanta yang dilakukan oleh Talitha. Kimberly dan Catharine memutuskan untuk ke kelasnya.


Ketika melangkahkan kakinya, Kimberly tak sengaja melihat kearah kelompok EXID atau bisa disebut kelompoknya Ishana dan kelompok BRAINER yang tak lain kelompok Marco. Kedua kelompok itu menuju kearah Kimberly dan Catharine.


Melihat dua kelompok itu, Catharine langsung menarik tangan Kimberly untuk segera ke kelasnya. Catharine tidak ingin Kimberly berurusan dengan kedua kelompok itu.


Setiba di depan kelasnya, Kimberly dan Catharine langsung memasuki kelasnya yang masih sudah ada beberapa teman-temannya.


Setiba di dalam kelas, Kimberly dan Catharine melihat ketiga sahabatnya sudah berada di kelas. Rere, Santy dan Sinthia baru nyampai di sekolah beberapa menit yang lalu. Ketiganya sudah mencari keberadaan Kimberly dan Catharine. Bahkan mereka juga mencari sampai di kantin. Tapi mereka tidak menemukan keberadaan kedua sahabatnya itu.


"Yak! Kalian dari mana saja, hah?!" teriak Rere melengking.


Mendengar teriakan dari Rere. Beberapa teman yang ada di dalam kelas termasuk Kimberly, Catharine, Santy dan Sinthia langsung menutup telinga mereka.


Kimberly dan Catharine menduduki pantatnya di kursi.


"Hei, Kim! Kenapa rambutmu basah?" tangan Santy.


Baik Rere, Sinthia maupun beberapa teman sekelasnya melihat kearah Kimberly. Sementara Kimberly yang merasa ditatap hanya acuh.


"Eeh. Iya, Kimberly! Kenapa rambut kamu basah? Ayoo... ngapai kemarin sama Tommy, hum?" tanya salah teman sekelasnya.


Kimberly mendengus kesal. "Masih pagi. Tapi otak udah mikir macem-macem," sahut Kimberly.


Teman-teman sekelasnya tersenyum melihat wajah merengut dan mendengar perkataan Kimberly. Mereka hanya sekedar menggoda Kimberly saja


"Kimberly, Catharine. Kalian belum menjawab pertanyaanku yang tadi," sahut Rere kesal.


"Aku tidak ingat jika tadi bertanya," jawab Kimberly.


"Aku juga," sela Catharine.


"Aish. Kalian benar-benar ya." Rere menatap kesal Kimberly dan Catharine.


"Kau terlihat sangat cantik jika sedang kesal, Re!" seru Kimberly.


"Apalagi tu bibir yang sudah panjang 100 cm ke bawah," ledek Catharine.


"Yak!" teriak Rere.


"Hahahaha." Kimberly dan Catharine tertawa. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.


Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi bell bertanda semua murid-murid bergegas masuk ke kelas masing-masing dan memulai pelajarannya.


"Selamat pagi anak-anak," sapa guru laki-laki itu memasuki kelas.


"Selamat pagi, Pak!" jawab semua murid-murid di dalam kelas.


Ketika guru laki-laki itu ingin memulai materi pembelajarannya. Matanya melihat beberapa bangku yang kosong.


"Kemana Talitha, Syafina dan teman-temannya?" tanya guru itu.


"Mereka bolos Pak! Saya tadi melihat mereka manjat tembok. Mereka bilang kalau mereka sudah bosan mengikuti pelajaran bapak!" seru Catharine.


"Apa itu benar Catharine?" tanya guru itu.


"Benar Pak. Kimberly juga melihatnya. Bahkan Kimberly sudah menegur mereka baik-baik. Tapi tetap saja mereka mau mendengarnya," jawab Catharine.


Mendengar perkataan dari Catharine, Kimberly hanya bisa pasrah. Kimberly menatap horor sahabatnya itu kesal. Kenapa juga namanya dibawa-bawa.


"Apa itu benar Kimberly?" tanya guru itu.


"Ach. Iya, pak! Apa yang dikatakan Catharine itu benar," jawab Kimberly.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih informasinya. Jika nanti kalian bertemu dengan mereka. Suruh mereka menghadap saya di ruang guru. Jika mereka tidak segera menemui saya. Katakan kepada mereka kalau mereka tidak di perbolehkan lagi untuk mengikuti pelajaran saya sampai kenaikan kelas."


"Baik, Pak!" seru mereka semua.


Setelah tiga jam mengikuti pelajaran di kelas. Kini semua murid-murid, baik murid kelas satu sampai murid kelas tiga.


Semu murid-murid tersebut berhamburan menuju kantin sekolah. Perut mereka sudah berbunyi sedari tadi minta diisi.


"Kalian ke kantin saja dulu. Nanti aku nyusul," sahut Kimberly.


"Memang kamu mau kemana?" tanya Santy.


"Aku mau ke toilet. Udah gak tahan," jawab Kimberly dan langsung berlari keluar kelas.


^^^


Rere, Sinthia, Catharine dan Santy sudah berada di Kantin. Di sana sudah ada Billy, Triny, Tommy, Aryan dan para sahabatnya.


Ketika melihat kedatangan Rere, Sinthia, Catharine dan Santy. Billy langsung bertanya tentang Kimberly yang tidak bersama dengan mereka.


"Kimberly mana? Kenapa tidak bareng kalian?" tanya Billy.


"Kimberly sedang membuat laporan," jawab Rere.


"Buat laporan? Maksudnya?" tanya Aryan bingung.


"Laporan alam," jawab Rere, Sinthia, Catharine dan Santy bersamaan.


Mendengar jawaban kompak dari Rere, Sinthia, Catharine dan Santy membuat mereka semua tertawa.


"Hahahaha."


"Kalian ada saja," sahut Aryan.


Billy dan Tommy telah memesan beberapa minuman. Sementara untuk makanannya belum dipesan. Mereka akan memesan makanan jika Kimberly sudah bergabung dengan mereka semua.


Ketika mereka tengah menikmati minuman. Terdengar beberapa ucapan-ucapan dari beberapa penghuni Kantin. Ditambah lagi mereka menyebut nama Kimberly.


[Gimana nasibnya Talitha dan teman-temannya ya]


[Kasihan juga sih lihat mereka]


[Ngapain juga ngasihanin mereka. Kan mereka yang salah nyari masalah mulu dengan Kimberly dan sahabat-sahabatnya]


[Jika saja mereka tidak mengganggu Kimberly. Gak mungkin juga Kimberly lakuin hal itu ke mereka]


Mendengar ucapan demi ucapan dari beberapa penghuni kantin. Billy, Aryan, Triny, Tommy dan para sahabatnya langsung mengalihkan perhatiannya menatap kearah Rere, Sinthia, Catharine dan Santy.


"Kita gak tahu apa-apa," Rere, Sinthia dan Santy bersamaan.


"Catharine," panggil Billy.


"Talitha, Syafina dan teman-temannya berulah lagi. Aku dan Kimberly lagi makan di kantin. Tiba-tiba Talitha numpahin minuman fanta ke kepala Kimberly," sahut Catharine sembari menyeruput minumannya.


"Memang brengs*k mereka semua," ucap Triny.


"Lalu apa yang dilakukan Kimberly?" tanya Billy.


"Kimberly tetap tenang dan berusaha untuk tidak terpancing. Tapi akunya yang tidak terima. Aku membentak Talitha karena sudah nyirami Kimberly pake minuman fanta. Terus Talitha menghina Kimberly dengan menyebut Kimberly sebagai wanita murah*n. Aku gak terima. Ya, udah! Aku gampar aja tu pipinya."


"Lalu apa yang dilakukan Talitha ketika kamu nampar dia?" tanya Aryan.


"Talitha nyuruh dua temannya buat megang tangan aku. Setelah itu, Talitha ingin mukul perut aku. Tapi udah ke duluan Kimberly. Kimberly memukul perut Talitha dengan kuat sehingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Melihat Talitha disakiti oleh Kimberly. Teman-teman nyerang Kimberly secara bersamaan. Terjadi deh perkelahian. Kalian tahu sendirilah apa yang terjadi selanjutnya." Catharine berbicara sambil mengingat kejadian tadi pagi.


"Saat Kimberly menyerang Talitha dan teman-temannya. Apa kau melihat tatapan mata Kimberly yang berbeda?" tanya Triny.


"Tidak. Tatapan matanya biasa saja. Bahkan Kimberly bilang padaku kalau yang nyerang Talitha dan teman-temannya bukan sosok itu melainkan Kimberly sendiri," jawab Catharine.


"Hah." Billy, Triny dan Aryan bernafas lega.


"Kalau masih Kimberly semua masih bisa dikendalikan. Takutnya jika sosok itu yang keluar dan mengambil alih tubuhnya. Itu yang bahaya. Bisa-bisa Talitha dan antek-anteknya bisa mati di tangan sosok itu." Billy berucap.


"Jika hal itu sampai terjadi. Itu bukan salah Kimberly. Mereka yang selalu mencari masalah dengan Kimberly. Kimberly seperti itu hanya untuk melindungi dirinya," sahut Aryan.


"Tapi Kimberly yang akan tersakiti disini Aryan. Beberapa hari ini aku perhatiin Kimberly lagi berusaha untuk tidak terpancing setiap apa yang dilakukan Talitha, Syafina dan teman-temannya. Kimberly berusaha membalas mereka hanya dengan kata-kata atau dengan sedikit pukulan kecil saja. Tujuan Kimberly melakukan itu agar sosok itu tidak keluar."


"Kak Enda pernah bilang padaku kalau Kimberly mau minta pindah sekolah."


"Apa?"


Mendengar perkataan Billy membuat mereka semua terkejut. Mereka benar-benar tidak menyangka jika Kimberly memiliki keinginan seperti itu.


"Apa itu benar Billy?" tanya Tommy.


"Iya, Tommy!"


"Apa alasannya Billy? Gak mungkin hanya karena untuk menghindari Talitha dan kelompoknya." ucap dan tanya Andhika.


"Kimberly takut jika suatu saat dia akan menjadi pembunuh. Dengan kata lain sosok itu akan mengendalikan tubuhnya dan membunuh para musuh-musuh Kimberly. Kimberly tidak ingin hal itu terjadi. Makanya Kimberly minta pindah. Dikarenakan bujukan dan kata-kata semangat yang diberikan oleh Daddy nya, Mommy nya dan keempat kakak-kakaknya. Besoknya Kimberly pun berusaha untuk tidak terpancing akan setiap perlakuan Talitha, Syafina dan teman-temannya."


"Sekarang bertambah satu orang lagi," sahut Rere.


"Antoni," jawab Billy, Triny, Aryan, Sinthia, Catharine dan Santy bersamaan.


"Dan aku sangat yakin. Tujuan laki-laki brengsek itu pindah sekolah disini buat dapetin Kimberly lagi. Apapun akan dilakukannya untuk mendapatkan apa yang dia mau," ucap Sinthia.


"Aku orang pertama yang akan menghajar laki-laki brengsek itu jika dia berani gangguin Kimberly!" seru Tommy


Mendengar perkataan Tommy membuat keempat sahabatnya dan ketiga sepupunya Kimberly tersenyum bahagia. Mereka berharap Tommy akan menjaga Kimberly.