THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kecemburuan Tommy



Kimberly kini berada di taman. Dirinya masih menangis dan juga masih terlihat syok atas apa yang didengarnya.


Ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Tommy berputar-putar di pikirannya. Di satu sisi Kimberly begitu begitu bahagia karena ternyata Tommy benar-benar mencintainya. Tommy terpaksa mutusin dirinya hanya untuk melindunginya dari Gracia.


Namun disisi lain, Kimberly marah dan kecewa atas apa yang dilakukan oleh Tommy. Tommy bekerja sendiri tanpa melibatkan dirinya dalam masalah tersebut.


"Kim. Sudah dong nangisnya. Kalau kamu nangis terus nanti kepala kamu pusing." Triny berbicara lembut sembari tangan membelai rambut belakangnya.


"Hiks... Aku benci Tommy. Aku gak mau bertemu dengan Tommy lagi," ucap Kimberly disela isakannya.


"Tapi Kim. Kamu kan sudah dengar sendiri apa yang dikatakan Tommy. Tommy melakukan hal itu untuk melindungi kamu," ucap Santy.


"Aku tahu. Dan aku sangat bersyukur memiliki Tommy dalam hidupku. Aku bahagia ternyata Tommy benar-benar mencintaiku. Tapi tetap saja Tommy salah." Kimberly menjawab perkataan Santy.


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat mereka terkejut dan juga bingung.


"Salah?" tanya Triny, Catharine, Rere, Santy dan Sinthia.


"Salahnya dimana Kim?" tanya Sinthia.


"Karena dia udah bohongin aku. Dia udah buat hati aku kembali terluka. Dia udah buat aku nangis. Dia udah buat aku tidak mempercayainya. Dia udah buat aku nuduh dia dan mengatakan bahwa dia adalah laki-laki brengsek. Dia juga udah buat aku menyamakan dia dengan Antoni. Bahkan yang lebih parahnya lagi aku nyebut dia lebih hina dari pada Antoni."


"Kalau Tommy beneran cinta sama aku harusnya dia jujur sama aku. Harusnya dia cerita sama aku apa yang udah dilakukan Gracia kedia. Jika dia cerita ke aku. Setidaknya kita bisa kerja sama. Dan gak akan ada yang terluka."


"Dia melakukan hal itu sendirian. Apa dia pikir hatinya terbuat dari batu? Apa dia gak terluka harus pura-pura mutusin aku. Harus pura-pura jadi kekasihnya Gracia. Harus pura-pura tersenyum didepan semua orang. Harus pura-pura semuanya baik-baik saja."


Setelah mengatakan itu, Kimberly bangkit dari duduknya. Kimberly ingin kembali ke kelas.


"Kamu mau kemana?" tanya Triny.


"Aku mau ke kelas," jawab Kimberly.


Kimberly kembali melangkahkan kakinya untuk kembali ke kelasnya. Ketika sedang melangkah, Kimberly menabrak tubuh seseorang. Dan orang tersebut langsung memeluk erat tubuhnya serta mencium pucuk kepalanya.


"Maafkan aku, Kim! Aku tahu aku salah. Apa yang kamu katakan barusan itu benar? Seharusnya aku menceritakannya kekamu dan tidak memendamnya sendiri. Seharusnya kita kerja sama buat melawan Gracia."


DEG!


Kimberly terkejut ketika mendengar suara Tommy. Ternyata orang yang ditabraknya itu adalah Tommy. Dan buat Kimberly lebih terkejut lagi adalah ucapan dari Tommy barusan. Dalam hati Kimberly 'apa Tommy mendengar semua pembicaraannya dengan Triny dan keempat sahabatnya'.


Seketika Kimberly melepaskan pelukan Tommy. Setelah terlepas, Kimberly melangkah mundur dan tatapan matanya menatap wajah Tommy. Terlihat jelas dari manik hitam Tommy memancarkan kesedihan, penyesalan, rasa rindu dan juga rasa lelah. Kimberly sangat tahu jika Tommy tidak bisa tidur dengan nyenyak karena masalah ini.


"Kim. Aku mohon! Maafkan aku. Jangan hukum aku seperti ini." Tommy berucap dengan suara lirih.


"Aku sudah maafin kamu. Tapi gak segampang itu buat aku balik sama kamu. Kamu harus nerima beberapa hukuman dulu dari aku. Jika kamu mampu melewatinya. Kita bakal balikan lagi. Jika kamu gagal. Ucapkan selamat tinggal kepadaku dan relakan aku sama orang lain."


Setelah mengatakan itu, Kimberly pun pergi meninggalkan Tommy dan yang lainnya.


PUK!


Lionel dan Henry menepuk bahu Tommy bersamaan sembari menatap kepergian Kimberly.


"Wah, bro! Dewi fortuna tidak memihak padamu," ledek Henry.


"Dan sepertinya mulai besok lo mulai dari awal lagi untuk mendapatkan hati sianak kelinci itu," ucap Lionel.


"Dan jangan lupa hukumannya, Bro!" seru Mirza yang berdiri di samping Lionel.


"Sialan kalian," umpat Tommy.


"Billy. Kira-kira hukuman apa yang akan diberikan oleh Kimberly?" tanya Tommy.


Billy melangkah mendekati Tommy. Begitu juga dengan yang lainnya. Kini mereka semua telah berdiri berjejer.


"Untuk jenis hukumannya. Aku tidak tahu. Tapi sepertinya Kimberly akan bermain dengan hatimu," ucap Billy.


Mendengar perkataan dari Billy. Mereka berusaha untuk memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Kimberly terhadap Tommy.


Dan beberapa detik kemudian...


"Eeemmm! Aku tahu! Ini pasti ada hubungan dengan laki-laki yang bernama Arlo itu!" seru Satya.


"Aku setuju dengan Satya. Pasti Kimberly memberikan hukuman pertama kepada Tommy melalui Arlo. Beberapa hari ini Kimberly sangat dekat dengan Arlo," ucap Mirza.


Tommy hendak bertanya tentang Arlo kepada Billy. Namun ketika Tommy ingin bertanya. Billy sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan mereka semua. Begitu juga Aryan dan kelima sahabatnya.


Baik Billy maupun Aryan tahu bahwa Tommy akan menanyakan soal Arlo kepada mereka berdua.


Sementara Andhika dan yang lainnya tertawa keras ketika melihat wajah kesal Tommy yang melihat kepergian kedua kakak adik sepupu itu.


"Hahahahaha."


^^^


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Semua murid-murid sebentar lagi akan pulang ke rumah masing-masing.


Kimberly dan keempat sahabatnya serta teman-teman sekelas kini sedang menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Jika sudah selesai. Tugas itu akan diserahkan kepada ketua kelas. Dan kemudian diberikan kepada guru tersebut langsung ke ruang guru.


KRIIIIIING!


KRIIIIIING!


"Yeeyyy!" teriak para murid-murid ketika mendengar suara bell berbunyi panjang.


Pada murid-murid semuanya pada berhamburan keluar meninggalkan kelas, termasuk kelasnya Kimberly.


Kimberly dan keempat sahabatnya melangkahkan kakinya menuju parkiran.


Hari ini Kimberly meminta Aryan untuk mengantarnya pulang karena tadi pagi Kimberly diantar dengan kakak ketiganya yaitu Enda. Dan Aryan dengan senang hati mengabulkan keinginannya itu.


Sementara Tommy yang melihat Kimberly yang menolak dirinya ingin mengantarnya pulang hanya bisa pasrah.


Kini mereka semua sudah berada di parkiran. Ketika Aryan menyuruh Kimberly untuk masuk ke dalam mobil. Mereka semua dikejutkan dengan suara klason mobil yang melewati mereka berhenti seketika.


"Hei, cantik!" seru orang yang membunyikan klakson barusan.


Baik Kimberly, Tommy, Billy, Triny, Aryan dan yang lainnya melihat kearah mobil tersebut. Dan dapat mereka lihat Arlo yang tengah tersenyum menatap wajah cantik Kimberly.


"Kak Arlo," panggil Kimberly.


"Mau pulang?"


"Iya."


"Siapa yang antar?"


"Aryan."


"Mau pulang sama Kakak tidak?"


"Eemmm...," Kimberly melihat kearah Aryan. Aryan yang mengerti menganggukkan kepalanya.


"Baiklah."


Kimberly melangkahkan kakinya menuju mobil Arlo. Namun seketika Tommy menahan tangannya.


Kimberly melihat kearah tangannya yang dipegang oleh Tommy. Berlahan Kimberly melepaskan tangan Tommy yang memegang tangannya.


"Lepaskan," ucap Kimberly. Sementara Tommy tetap mengeratkan pegangannya.


"Tommy, lepaskan tanganku. Aku mau pulang sama Kak Arlo."


"Aku yang akan mengantar kamu pulang." wajah Tommy terlihat marah. Dirinya tidak suka melihat Kimberly dekat-dekat dengan cowok lain.


"Tapi aku maunya sama Kak Arlo," jawab Kimberly menatap tak suka Tommy.


Ketika melihat keadaan yang sebentar lagi akan memburuk. Akhirnya Billy pun turun tangan.


PUK!


Billy menepuk pelan bahu Tommy dan membisikkan kata-kata penenang.


"Tenanglah. Kau tidak perlu khawatir jika Kimberly akan jatuh cinta kepada Arlo. Arlo laki-laki yang baik. Arlo sama seperti keempat kakak-kakaknya Kimberly. Kimberly akan baik-baik saja dengan Arlo."


Seketika Tommy melepaskan tangannya dari tangannya Kimberly.


Kimberly yang merasa tangannya sudah dilepas oleh Tommy langsung masuk ke dalam mobil Arlo.


Setelah Kimberly masuk ke dalam mobil Arlo. Mobil Arlo pun pergi meninggalkan parkiran sekolah.


"Awas saja kamu Arlo jika kau berniat merebut Kimberly dariku," batin Tommy.