
Kimberly saat ini berada di lapangan. Dirinya kini tengah fokus membaca komik kesukaannya.
Komik yang dibaca oleh Kimberly adalah komik yang ada di ponselnya. Kalau ada waktu luang Kimberly selalu menyempatkan diri untuk membaca komik melalui ponselnya.
Ketika Kimberly sedang asyik dengan dunianya, tiba-tiba datang seseorang yang mengganggu dirinya.
"Kimberly," panggil orang itu.
DEG!
Kimberly terkejut ketika mendengar suara orang yang begitu dibenci dalam hidupnya. Berlahan mendongakkan kepalanya untuk melihat orang itu. Dan benar saja. Orang yang sangat dibencinya kini telah berdiri di hadapannya. Kimberly menatap tajam orang itu. Dirinya benar-benar membencinya.
Orang itu adalah Antoni mantan kekasihnya Kimberly. Antoni melangkah menghampiri Kimberly dan duduk di sampingnya.
Kimberly melihat Antoni yang tiba-tiba duduk di sampingnya menatap makin tajam kearah Antoni, lalu kemudian Kimberly bergeser ke samping.
"Ngapain kamu disini? Lebih baik kamu balik ke sekolah kamu. Jangan buat masalah lagi," ucap Kimberly ketus.
"Apa kamu mengkhawatirkanku, hum?" tanya Antoni.
"Ih, Najis! Siapa juga yang mengkhawatirkan kamu? Aku bicara seperti tadi karena tidak ingin membuatmu dan keluargamu makin malu." Kimberly menjawab pertanyaan dari Antoni dengan nada ketus dengan tatapan menatap ponselnya.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat hati Antoni terasa sesak. Dirinya tidak menyangka cara bicara Kimberly sedikit ketus beda seperti Kimberly yang dikenalnya yang selalu berbicara lembut.
"Udah deh. Lebih baik kamu pergi dari sini. Apa kamu mau digebuki sama murid-murid disini?"
Antoni tersenyum mendengar perkataan Kimberly. "Aku sekolah disini. Apa kamu tidak lihat seragam sekolahku?"
Kimberly seketika melihat kearah Antoni dan menatap inten seluruh tubuh Antoni. Dan benar saja. Antoni memakai seragam sekolah yang sama dengannya.
Ketika Kimberly ingin membuka mulutnya, Antoni sudah langsung menjawabnya.
"Aku pindah sekolah disini. Dan sekarang aku resmi jadi murid di sekolah ini," ucap Antoni.
Kimberly membuang wajahnya dan kembali menatap kearah ponselnya. "Semoga kamu tidak buat masalah," sahut Kimberly.
"Kim," panggil Antoni.
Kimberly hanya diam dan tidak mempedulikan Antoni.
"Kim. Aku meminta maaf atas apa yang telah dilakukan oleh keluargaku. Dan aku juga minta maaf atas sikapku saat itu." Antoni menatap wajah cantik Kimberly.
"Keluarga besarku ingin bertemu denganmu. Mereka ingin meminta maaf kepadamu," ucap Antoni.
Kimberly masih setia dengan ponselnya. Dirinya tidak berniat melayani Antoni bicara. Bagi Kimberly itu tidaklah penting.
"Jika kau ada waktu. Keluargaku mengundangmu untuk datang ke rumah." Antoni masih terus berusaha membujuk Kimberly.
Kimberly mengalihkan pandangannya melihat kearah Antoni. "Hei, tuan Antoni. Maaf ya! Kita tidak memiliki hubungan apapun lagi. Jadi untuk apa aku harus memenuhi undangan dari keluargamu. Jika keluargamu ingin meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan padaku. Kenapa bukan mereka saja yang datang menemui keluargaku?"
Tanpa diketahui oleh Kimberly dan Antoni. Ada dua pasang mata yang sejak tadi memperhatikan keduanya. Salah satunya menatap tak suka kearah Antoni. Kedua orang yang sedari tadi memperhatikan Kimberly dan Antoni itu adalah Billy dan Tommy.
Awalnya Tommy ingin menghampiri Kimberly dan Antoni. Namun ditahan oleh Billy. Billy meyakinkan Tommy dan mengatakan padanya bahwa Kimberly bisa menangani masalahnya.
Kimberly menatap intens kearah Antoni. Sementara Antoni yang melihat Kimberly menatapnya curiga hanya bisa menghela nafas.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Antoni.
"Kau tidak sedang merencanakan sesuatukan?" tanya Kimberly.
"Jika aku memang merencanakan sesuatu. Apa kamu keberatan?"tanya Antoni balik.
"Jangan macam-macam!" bentak Kimberly.
Kimberly tiba-tiba berdiri dan menatap tajam Antoni. "Dengarkan aku baik-baik Antoni. Apa pun yang kau rencanakan. Aku Kimberly tidak akan pernah sudi punya hubungan lagi denganmu. Jika kau tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan keluargamu. Menjauhlah dari hidupku. Jangan pernah menggangguku."
Setelah mengatakan itu, Kimberly pun pergi meninggalkan Antoni sendiri. Tapi baru beberapa langkah, Antoni berhasil mencekal tangan Kimberly. Hal itu sukses membuat Kimberly terkejut. Begitu juga dengan Billy dan Tommy.
"Aku akui kesalahanku sangat besar padamu. Tapi aku mohon padamu. Maafkan aku. Berikan kesempatan satu kali lagi untukku. Aku akan merubah semuanya. Aku masih mencintaimu, Kim! Rasa cintaku lebih besar ke kamu dari pada sama Clara."
"Aku tidak peduli. Yang jelas perasaanku sudah tidak ada lagi untukmu. Dan aku tidak ingin punya hubungan lagi dengan laki-laki brengs*k sepertimu. Kau laki-laki yang tidak bisa menghargai wanita."
Kimberly berusaha menarik tangannya. Namun pegangan tangan Antoni terlalu kencang sehingga membuat pergelangan tangan Kimberly perih dan sakit.
"Yak, Antoni! Lepaskan tanganku sial*n!" bentak Kimberly.
Sementara Antoni sama sekali tidak mengindahkan permintaan Kimberly. Antoni makin menguatkan pegangannya.
"Aku akan lepaskan. Tapi kau harus kembali padaku dan menjadi kekasihku lagi," ucap Antoni mengancam.
"Najis. Aku tidak sudi menjadi kekasihmu. Sekarang lepaskan tanganku!" bentak Kimberly.
"Seperti yang aku katakan tadi. Kau harus kembali menjadi kekasihku lagi setelah itu baru aku akan melepaskan tanganmu," ucap Antoni.
"Gila. Jangan harap," jawab Kimberly yang terus menarik tangannya.
BUGH!
Tiba-tiba Billy datang dan langsung memberikan pukulan tepat di wajah Antoni. Sementara Kimberly langsung menarik tangannya dari pegangan tangan Antoni. Dan dapat dilihat pergelangan tangan Kimberly yang memerah dan sedikit lecet.
"Hiks," isak Kimberly.
Mendengar isakan dari Kimberly. Tommy langsung memeluk tubuh Kimberly. Tommy berusaha memberikan ketenangan padanya.
"Tidak apa-apa. Aku ada disini. Kamu tidak usah takut lagi, oke!"
"Kau benar-benar brengs*k Antoni. Apa belum puas kau menyakiti adikku enam bulan yang lalu, hah?! Dan sekarang kau ingin menyakitinya lagi." Billy menatap marah Antoni.
"Ini peringatan terakhir untukmu. Jauhi adikku jika kau masih ingin hidup."
Setelah mengatakan itu, Billy dan Tommy membawa pergi Kimberly.
Kini Billy, Tommy dan Kimberly berada di UKS. Tommy mengobati luka di pergelangan tangan Kimberly.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Billy yang terlihat khawatir terhadap Kimberly.
Seketika air mata Kimberly jatuh membasahi wajah cantiknya. Melihat Kimberly menangis membuat Tommy dan Billy marah. Billy kemudian menarik pelan tubuh Kimberly dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Hiks... Billy... Hisk... aku takut. Aku takut... Hiks," isak Kimberly.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, Kim! Kamu itu bukan perempuan lemah. Kejadian barusan tadi. Anggap saja si brengs*k itu hanya beruntung saja. Dia belum tahu siapa kamu yang sebenarnya. Lain kali jika dia gangguin kamu lagi. Buktikan kedia bahwa kamu itu perempuan yang kuat dan tidak mengenal kata takut." Billy berusaha membuat Kimberly tenang dan melupakan kejadian tersebut.
Billy melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah cantiknya adik sepupunya itu. Tangannya mengusap lembut air mata adiknya.
"Semuanya akan baik-baik saja, oke!"
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku dan Billy akan selalu melindungimu," sahut Tommy.
Kimberly menatap wajah tampan Tommy, lalu memberikan senyuman kepada Tommy. Tommy yang melihat senyuman Kimberly merasakan kehangatan di hatinya.
"Terima kasih," ucap Kimberly.
"Sama-sama," jawab Tommy dan Billy bersamaan.