THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Menceritakan Kejadian Di Sekolah



Keesokan harinya dimana di kediaman keluarga Fathir Aldama terlihat semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang tengah sembari menunggu makan siang disiapkan dan dihidangkan di atas meja, mereka menghabiskan waktu terlebih dahulu disana.


Mereka adalah Fathir, Nashita dan anak-anaknya, Rafassya, Helena dan anak-anaknya, Nirvan, Liana dan anak-anaknya serta Clarita, Ammar dan anak-anaknya. Termasuk Risma.


"Zivan," panggil Fathir.


"Iya, Dad!"


"Bagaimana? Apa kamu sudah melakukan sesuatu untuk Kalina?" tanya Fathir.


"Daddy tenang saja. Semuanya sudah aku siapkan. Kehancuran perempuan itu dan keluarganya sudah digenggaman tanganku," jawab Zivan.


"Kamu jangan terlalu lama membiarkan dia bebas melakukan apa saja. Segeralah bertindak," sahut Ammar kepada keponakannya.


"Ayah tenang saja. Seperti yang aku katakan tadi. Kehancuran perempuan itu dan keluarganya sudah digenggaman tanganku. Aku hanya memberikan waktu buat dia menunjukkan taringnya ketika berurusan dengan Ashilla," jawab Zivan.


Mendengar penuturan dari Zivan membuat Fathir, Rafassya, Ammar dan anggota keluarga lainnya menyetujui rencana Zivan. Mereka tahu jika Zivan sudah mengatakan bahwa kehancuran musuhnya sudah ada digenggaman tangannya, maka hal itu akan terjadi.


"Dan bahkan aku sudah merencanakan semua ini sama Ashilla. Jadi ketika perempuan itu mencari masalah dengan Ashilla. Ashilla akan terlebih dahulu bermain-main dengan perempuan itu. Dan dari situlah aku akan memperlihatkan siapa aku yang sebenarnya," ucap Zivan.


"Baguslah kalau begitu. Papa setuju dengan rencana kamu itu," ucap Nirvan.


"Tapi ingat Zivan! Pastikan Ashilla baik-baik saja. Jangan sampai perempuan itu melukai Ashilla," ucap Liana.


"Mama tenang saja. Beberapa anggotaku sudah siap siaga menjaga Ashilla sewaktu-waktu perempuan itu berniat menyakiti Ashilla."


Mendengar jawaban demi jawaban dari Zivan membuat mereka semua tersenyum sembari menganggukkan kepalanya tanda setuju akan rencana yang sudah disusun rapi oleh Zivan. Mereka tidak sabar melihat kehancuran Kalina dan keluarga besarnya akibat ulahnya sendiri.


"Oh iya, Kim! Papi dengar kemarin kamu habis mengunjungi perusahaan calon ayah mertua kamu ya?" tanya Rafassya sembari menggoda keponakan manisnya itu.


Mendengar perkataan dari sang Paman yang menyebut calon ayah mertua membuat seketika pipi Kimberly merona karena malu.


"Aish! Apaan sih Pi! Nggak lucu tahu. Coba nanyanya biasa aja dan nggak usah pake kata calon ayah mertua," sahut Kimberly dengan wajah merengutnya.


Mereka semua tersenyum gemas ketika melihat wajah super kesal Kimberly karena mendengar perkataan dari Rafassya.


"Apa itu benar sayang?" tanya Fathir.


"Iya, Dad! Aku kesana diajak sama Tommy. Dia yang maksa aku untuk datang mengunjungi perusahaan ayahnya itu. Ntah untuk apa. Aku nggak tahu. Lagian aku malah nanya. Ntar dikatain kepo lagi," ucap Kimberly yang wajahnya masih terlihat manyun.


Mereka semua kembali tersenyum ketika mendengar ucapan dari Kimberly. Dan ditambah lagi wajah super duper manyun yang diperlihatkan oleh Kimberly.


"Sok imut lo. Biasa aja kali. Nggak usah dimanyunkan seperti itu juga tuh bibir. Apa mau ditampol pake kaos kaki kak Rehan tuh bibir jelek," ledek Risma sembari menikmati kentang gorengnya.


"Bacot lo. Gue duluan yang bakal nampol tuh bibir lo pake kaos kaki gue. Mau lo!" teriak Kimberly dan langsung tangannya membuka sebelah kaos kakinya.


"Hei, sayang!" Nashita seketika menegur putrinya sembari mengusap lembut kepala belakang putrinya itu.


Sementara Risma sudah tertawa bahagia ketika dirinya terbebas dari amukan si kelinci buluknya.


"Bagaimana suasana kantor ayahnya Tommy ketika kamu ada disana, hum?" tanya Fathir kepada putrinya.


"Suasananya sama seperti di kantor Daddy. Bagaimana suasana di kantor Daddy. Seperti itu juga suasana di kantor om Andrean," jawab Kimberly.


"Apa kamu bahagia datang ke kantor ayahnya Tommy?" tanya Jason.


"Tentu! Aku benar-benar bahagia sekali. Selama di kantor, om Andrean memberikan banyak waktu untukku. Kita bercerita banyak hal. Sementara Tommy hanya sebagai tim penyimak dan pendengar."


"Tapi ada sedikit kejadian sebelum bertemu dengan om Andrean," ucap Kimberly dan seketika raut wajahnya berubah sedih.


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Uggy penasaran.


"Ya. Ada seorang karyawan perempuan yang sok cantik dan sok kaya yang menghalangi aku untuk bertemu dengan om Andrean. Padahal aku sudah disuruh langsung oleh Tommy untuk menuju ruangan om Andrean."


"Memangnya Tommy kemana saat itu?" tanya Enda.


"Ke kantin untuk membelikan makanan karena di jalan kita lupa beli makanan," jawab Kimberly.


"Terus apa yang terjadi?" tanya Riyan yang penasaran kelanjutannya.


"Berulang kali aku mengatakan bahwa aku ingin bertemu om Andrean. Bahkan aku juga sudah menyebutkan nama om Andrean lengkap dengan marganya. Bahkan aku juga sudah katakan kepada karyawan wanita itu bahwa aku disuruh langsung menuju ruang kerja om Andrean. Namun perempuan itu tetap saja tidak mengizinkan aku bertemu om Andrean."


"Banyak! Perempuan itu menghina aku, menjelek-jelekkan aku, mengatakan bahwa aku anak yang kurang ajar dan tidak tahu malu. Pokonya banyak. Ketika perempuan itu terus menghina aku tanpa dia sadari, om Andrean dan Tommy datang bersamaan dan mendengar perkataannya itu. Dan..."


Kimberly sengaja menghentikan sejenak ceritanya sehingga membuat semua anggota keluarganya penasaran akan kelanjutannya.


"Dan apa? Katakan kepada kami. Jangan buat kamu semua penasaran, Kimberly!" seru Fathan.


"Perempuan itu jelas ketakutan ketika mendengar suara om Andrean. Aku yang melihat wajah takut perempuan itu seketika memikirkan untuk pembalasan. Dan berakhir aku mengadukan apa yang dilakukan oleh perempuan itu padaku. Bahkan aku menambah sedikit bumbu didalamnya."


Kimberly berbicara dengan senyuman mengembang di bibirnya dengan mengangkat kedua jarinya yaitu ibu jari dan jari telunjuk yang menempel ke udara.


Sedangkan kedua orang tuanya, keempat kakak-kakaknya dan semua anggota keluarganya hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan Kimberly. Mereka tidak menyangka jika Kimberly memiliki otak yang sangat licik. Padahal tidak ada mengajarkan hal itu padanya.


Seketika Kimberly berdiri dari duduknya sehingga membuat kedua orang tuanya, keempat kakak-kakaknya dan semua anggota keluarganya menatap dirinya bingung.


"Mau kemana lo?" tanya Risma.


"Ke kamar? Kenapa?" ucap dan tanya Kimberly sewot.


"Ngapain lo ke kamar? Sementara disisi pada ngumpul," ucap Risma.


"Seumpamanya nggak ada lo disini. Gue adem ayem ngumpul sama semua anggota keluarga. Dikarenakan ada lo yang ikut nyempil ditengah-tengah dan datangnya ntah dari mana. Mending gue tidur. Enek gue liat lo lama-lama. Bawaannya ribut mulu," ucap Kimberly dengan kejamnya.


Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung pergi meninggalkan semua anggota keluarga untuk menuju kamarnya di lantai dua.


Sementara Rism seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan kejam dari Kimberly.


"Dasa siluman rubah lo!" teriak Risma.


"Iya, iya!" teriak Kimberly sembari menaiki anak tangga.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly dan Risma membuat semua para orang tua dan para kakak-kakaknya hanya bisa menghela nafas pasrahnya sembari geleng-geleng kepala. Bagi mereka semua tiada hari tanpa umpatan, ejekan, makian dan teriakan dari anak-anak dan dari keponakannya.


"Oh iya! Aku ada kabar untuk kalian?" seru Jason tiba-tiba.


Fathir, Nashita dan semuanya langsung melihat kearah Jason. Mereka semua penasaran akan kabar yang akan disampaikan oleh Jason.


"Kabar apa itu sayang?" tanya Fathir.


"Ini masalah yang Kimberly hadapi di sekolah?"


"Masalah apa?" tanya Nirvan.


"Dua gadis yang menyukai Tommy dan Andhika bersekutu dengan lima teman sekelas Kimberly. Lima teman sekelas Kimberly itu adalah teman-teman Kimberly yang selalu mengganggu Kimberly selama ini. Mereka menyerang Kimberly dan kelima sahabatnya secara diam-diam."


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Helena.


"Mami pasti sudah tahu jawabannya. Siapa yang kalah dan siapa yang menang?"


"Dan pasti ujung-ujungnya orang tua mereka datang ke sekolah meminta pertanggung jawaban dari Kimberly, benar bukan?" tanya Pasya.


"Iya. Kau benar sekali Pasya."


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Nashita.


"Mommy tenang saja. Aku, Tommy dan Andhika sudah mengatasi masalah tersebut dengan memberikan ancaman kepada mereka semua. Dan kemungkinan kepala sekolah berusaha berbicara baik-baik dengan para orang tua itu. Dan kemungkinan juga kepala sekolah itu memberikan alamat rumah ini kepada mereka jika mereka tetap bersikeras untuk meminta pertanggung jawaban dari Kimberly!" ucap Billy


Mendengar perkataan dari Billy membuat mereka semua bisa sedikit lega. Namun tidak bisa mereka pungkiri bahwa mereka tetaplah khawatir akan keselamatan Kimberly. Mereka takut jika salah satu dari orang tua dari anaknya yang disakiti oleh Kimberly membalas Kimberly ketika Kimberly berada diluar lingkungan sekolah, terutama Nashita.


"Tapi Mommy tetap masih mengkhawatirkan Kimberly. Takut jika salah satu dari mereka menyakiti Kimberly di jalanan," ucap Nashita.


"Mommy tidak perlu khawatir, oke! Mommy tidak melupakan Deryl kan?" tanya Uggy.


Seketika Nashita tersadar ketika putra keduanya itu menyebut salah satu tangan kanannya.


"Iya, sayang! Mommy ingat!"


"Kalau begitu Mommy tenang ya," ucap Uggy yang berusaha menenangkan ibunya.