THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Keberanian Kimberly



Kimberly sedang jalan-jalan sore mengelilingi kota-kota kecil yang ada di Jerman seorang diri dengan menggunakan sepeda. Kimberly sudah lama tidak keluar jalan-jalan di sore hari.


Kimberly bersepeda mengitari dan menghabiskan waktu berjam-jam menjelajahi gerbang-gerbang kota yang indah, butik-butik unik, gang kecil eklektik dan seni grafiti yang ada di kota tempat tinggalnya.


Ketika Kimberly sedang asyik bersepeda. Kimberly tak sengaja melihat melihat dua orang laki-laki yang membuat keributan di sebuah toko roti. Mereka mengacak-acak barang-barang yang ada di dalam toko itu.


Kimberly yang melihat hal itu tidak tinggal diam. Kimberly menghampiri toko roti itu dan masuk ke dalam toko tersebut. Ketika tiba di dalam Kimberly terkejut ketika melihat salah satu laki-laki itu berbuat kasar kepada seorang perempuan yang sepantaran ibunya. Dan laki-laki yang satunya ingin melecehkan anak gadisnya.


Kimberly menarik kerah belakang laki-laki yang berbuat kasar kepada wanita itu dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya mengambil nampan yang terletak di samping rak-rak kue. Dengan gerakan cepat dan secara bersamaan Kimberly menarik kuat tubuh laki-laki itu dan membantingnya ke lantai dan tangan kanannya melemparkan nampan yang dipegangnya kearah laki-laki yang hendak melecehkan anak gadis dari si pemilik toko roti.


BRUUKK!


DUUGG!


"Aaakkkhhh!" teriak kedua laki-laki itu merasakan sakit di bagian punggung dan tengkuknya


Melihat laki-laki itu kesakitan. Gadis itu langsung berlari kearah Kimberly.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa, kak! Terima kasih," ucap gadis itu. Kimberly tersenyum.


Orang-orang yang melihat keberanian Kimberly bersorak gembira. Mereka takjub dengan keberanian Kimberly.


"Lebih baik kalian pergi dari sini dan jangan ganggu ibu itu dan putrinya," ucap Kimberly.


Kedua laki-laki berusaha untuk bangun walaupun punggung dan tengkuknya sedikit sakit dan juga ngilu.


"Siapa kau? Kenapa kau ikut campur urusan kami, hah?!" bentak salah satu laki-laki itu.


"Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Yang aku minta adalah jangan mengganggu mereka lagi," jawab Kimberly.


Kimberly mendekati wanita tua itu. "Bibi tidak apa-apa?"


"Bibi tidak apa-apa, Nak! Terima kasih sudah menolong Bibi dan putri Bibi," jawab wanita itu.


"Sama-sama. Siapa mereka? Kenapa mereka membuat onar disini?" tanya Kimberly.


"Mereka adalah anak buahnya dari tuan Reksa Adipati, Nak! Tuan Reksa Adipati ingin mengambil toko roti ini dari Bibi. Beliau marah karena Bibi menolak menikahkan putri Bibi padanya."


"Gila," ucap Kimberly.


"Memangnya suami Bibi kemana?"


"Suami Bibi sudah lama meninggal,"


"Maafkan saya, Bi!"


"Tidak apa-apa, Nak!"


Kimberly mengeluarkan dompetnya, lalu mengambil sebuah kartu nama. Dan setelah itu, Kimberly memberikan kartu namanya itu kepada wanita itu.


"Ini kartu namaku. Jika Bibi butuh sesuatu atau butuh pertolongan. Hubungi aku saja."


Wanita itu menerima kartu nama dari Kimberly kemudian melihatnya. "Jadi nama non adalah Kimberly?"


"Iya, Bi! Kalau Bibi namanya siapa?"


"Nama Bibi Karina. Dan putri Bibi bernama Erina."


"Wah, nama yang bagus!" seru Kimberly.


"Nama Kakak juga bagus. Aku suka dengan nama Kakak," sahut Erina.


"Terima kasih. Ya, sudah kalau begitu! Aku pamit pulang dulu."


"Iya, Nak! Hati-hati di jalan."


"Hati-hati di jalan, Kak!"


"Oke," jawab Kimberly.


Setelah itu, Kimberly langsung pergi meninggalkan toko roti itu. Tapi setiba di luar, Kimberly melihat seorang pemuda membawa pergi sepede miliknya. Otomatis membuat Kimberly berteriak kencang sehingga membuat orang-orang disekitarnya melihat kearahnya.


"Hei, itu sepedaku sialan!"


Sementara pemuda yang mengambil sepedanya langsung buru-buru menaiki sepeda itu.


Melihat pemuda itu tetap nekat untuk membawa kabur sepedanya, tiba-tiba Kimberly mengambil dua buah apel dari seorang pedagang buah.


"Paman, aku pinjam dua apelnya. Nanti aku akan menggantinya," ucap Kimberly dan langsung mengambil dua buah apel itu. Sementara penjual apel itu hanya tersenyum.


"Rasakan ini." Kimberly melemparkan buah apel tersebut kearah pemuda itu. Dan lemparannya mengenai kepala pemuda itu.


DUG! DUK!


BRUUKK!


"Paman. Ini uang untuk menggantikan buah apelmu," ucap Kimberly lembut sembari memberikan dua lembar uang kepada penjual buah itu.


"Tidak apa, Nona! Saya ikhlas. Nona tidak perlu menggantinya," jawab penjual buah itu.


"Saya tidak menerima penolakan, Paman! Jadi ambil ya!"


"Tapi ini kebanyakan, Nona! Sementara Nona hanya mengambil dua apel saja."


"Anggap saja itu bonus untuk Paman karena Paman tidak marah ketika saya meminta dua apel milik Paman," jawab Kimberly.


"Terima kasih banyak, Nona! Semoga Tuhan membalas kebaikan Nona."


"Terima kasih doanya, Paman! Untuk Paman juga."


Setelah mengatakan itu, Kimberly pun pergi meninggalkan penjual buah apel tersebut setelah mendapatkan kembali sepedanya.


Ketika Kimberly di tengah jalan dengan mengayuhkan sepedanya, seketika cuaca sore hari berubah mendung. Melihat perubahan cuaca yang berubah mendung, udara menjadi dingin, dan kemungkinan sebentar lagi akan turun hujan. Kimberly pun buru-buru untuk segera sampai di rumahnya.


Baru saja Kimberly mengatakan hal itu, rintikan hujan pun mulai turun dan membuat Kimberly mendengus kesal.


Kimberly mengayuhkan sepedanya dengan kencang agar tidak kehujanan di jalan, tiba-tiba sebuah mobil melintas dan berhenti tepat di sampingnya.


Pemilik mobil itu berlahan membuka kaca mobilnya. "Ayo, naik!"


Kimberly yang melihat wajah orang itu seketika berubah masam. Setelah itu, Kimberly langsung pergi begitu saja meninggalkan orang itu.


Pemilik mobil itu tidak menyerah begitu saja. Justru pemilik mobil itu mengikut Kimberly sembari membunyikan klakson mobilnya.


TIN! TIN!


TIN!


Kimberly mendengus kesal akan sikap orang itu. Tapi Kimberly tetap tidak memperdulikan orang itu. Kimberly tetap terus mengayuhkan sepedanya. Dirinya lebih baik kehujanan dari pada harus satu mobil dengan orang itu.


"Ayolah, Kimberly! Setidaknya pikiran kesehatanmu. Jika kau kehujanan bisa-bisa kau jatuh sakit," ucap orang itu.


Kimberly menghentikan mengayuhkan sepedanya, lalu Kimberly menatap tajam kearah orang itu.


"Dengarkan aku Antoni. Jangan mengurusiku. Kau bukan siapa-siapaku lagi. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Kau mengerti!"


Orang itu adalah Antoni. Mantan kekasihnya Kimberly. Orang yang sudah mencampakkan Kimberly demi wanita lain.


"Oke, aku mengerti! Tapi setidaknya kau terima dulu bantuanku. Biarkan aku mengantarmu pulang." Antoni masih terus berusaha membujuk Kimberly agar mau diantar pulang olehnya.


"Ogah," jawab Kimberly.


Setelah itu, Kimberly kembali mengayuhkan sepedanya. Seketika hujan pun turun. Dan pada akhirnya Kimberly pun kehujanan.


***


Di kediaman Aldama dimana Nashita sedang mondar-mandir menunggu putri bungsunya kembali. Putrinya itu pergi dari sekitar pukul tiga sore. Dan sekarang sudah pukul setengah enam sore.


"Aish. Tuh anak kemana, sih?" tanya Nashita kesal.


Lalu tiba-tiba datang keempat putranya dan melihat ibunya yang mondar-mandir dengan raut wajah khawatir.


"Mommy," panggil Jason.


Nashita melihat ke asal suara. Dan dapat dilihat oleh Nashita keempat putranya sudah berada di ruang tengah.


"Mommy ngapain?" tanya Uggy


"Mommy nungguin adik perempuanmu, Uggy! Dari pukul tiga Kimberly pergi sampai pukul segini Kimberly belum kembali juga," jawab Nashita.


"Apa?"


Jason, Uggy, Enda dan Riyan terkejut ketika mendengar penuturan dari ibunya yang mengatakan bahwa adik perempuannya belum kembali sejak pukul tiga sore tadi.


"Memangnya Kimberly izinnya mau pergi kemana, Mom?" tanya Enda.


"Adikmu itu izinnya mau jalan-jalan disekitaran komplek perumahan ini. Kimberly pergi naik sepeda," jawab Nashita.


"Ya, sudah! Aku akan pergi mencarinya," sahut Jason.


"Aku ikut, Kak!" seru Riyan.


"Ayo," sahut Jason.


Jason dan Riyan pun pergi meninggalkan kediaman Aldama untuk mencari adik perempuan mereka.