
Setelah menunggu sekitar dua jam. Kini seluruh anggota keluarga serta orang-orang terdekat Kimberly sudah berkumpul di ruang rawat Kimberly. Mereka semua bisa sedikit bernafas lega ketika mendengar penjelasan dari Dokter yang menangani Kimberly.
Walau bagaimana pun penjelasan dari Dokter. Mereka semua masih menyimpan rasa khawatir dan rasa takut akan Kimberly, terutama kedua orang tuanya dan keempat kakak-kakaknya.
Nashita duduk di samping tempat tidur putrinya. Tangan kirinya mengusap lembut kepalanya. Sementara tangan kanannya memegang tangan putrinya yang terbebas dari infus.
"Kim. Ini Mommy sayang," lirih Nashita, lalu memberikan kecupan di kening putrinya.
"Disini juga ada Daddy, Nak!" Fathir mengecup kening putrinya.
Jason, Uggy, Enda dan Riyan. Keempatnya juga tak kalah sedihnya melihat adik kesayangannya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Adiknya kembali masuk ke rumah sakit. Adiknya kembali merasakan sakit. Adiknya kembali mengalami kejadian yang mengerikan. Baik Jason, Uggy maupun Enda dan Riyan memberikan kecupan sayang di kening adiknya secara bergantian.
"Kim, kakak janji. Kakak akan cari orang yang sudah menabrak kamu. Kakak pastikan kali ini kakak tidak akan membiarkan dia bebas berkeliaran. Orang itu akan mendapatkan hukuman yang sangat berat." Jason berbicara sambil tangannya bermain-main di kepala Kimberly.
"Hanya ada dua pilihan untuk orang yang sudah berani menabrak kamu. Mati ditangan Kakak dan ditangan kakak-kakak kamu yang lainnya atau dihukum seumur hidup di dalam penjara. Kematian yang akan membebaskannya." Uggy berbicara sambil mengusap-ngusap punggung tangan adiknya dan sesekali mengecupnya.
Sementara Enda dan Riyan hanya diam dengan tatapan matanya menatap wajah cantik adiknya yang kini tengah tertidur. Mereka tidak tahu kapan mata adiknya itu akan terbuka.
Setelah Jason, Uggy, Enda dan Riyan puas berbicara dengan adiknya. Mereka memberikan waktu untuk Tommy dan yang lainnya.
Tommy langsung duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Jason. Tommy kembali menangis dan kembali menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Kimberly.
"Hiks... Kim. Maafkan aku. Seharusnya aku ikut bersama kamu untuk membeli bunga dan kue untuk Mami. Seharusnya aku tidak membiarkan kamu pergi sendirian. Seharusnya aku tidak mengiyakan keinginan kamu itu. Kim... Maafkan aku! Bangun dong dan katakan padaku mana yang sakit?"
Tommy mengecup punggung tangan Kimberly berulang kali. Dan Tommy juga mengecup kening Kimberly.
Mereka semua ikut menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Tommy. Dan juga ucapan Tommy yang menyalahkan dirinya.
Andhika dan Billy yang berdiri masing-masing di sampingnya mengusap-ngusap lembut bahu Tommy. Keduanya sama-sama berusaha memberikan ketenangan dan juga support kepada Tommy.
"Tommy, sudahlah! Apa yang terjadi pada Kimberly ini semua takdir. Kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri. Gak ada yang salah disini. Kalau Kimberly dengar. Kimberly bakal marah sama kamu dan dia bakal diamin kamu." Billy berbicara sambil melihat wajah adik sepupunya itu.
Billy mengusap lembut kepala Kimberly dan memberikan kecupan di keningnya. "Cepat bangun, Kim! Jangan tidur lama-lama."
"Kamu harus kuat Tommy. Kamu gak boleh lemah gini. Semangat! Kimberly butuh kamu." Andhika memberikan semangat kepada sepupunya itu.
"Kim, kami semua disini!" seru Santy.
"Cepat bangun Kim," ucap Sinthia.
"Kita masih punya satu acara lagi. Kalau lo gak bangun. Bagaimana kita buat acara itu. Kan lo yang ketuanya," sahut Rere.
"Iya, Kim! Apa yang dikatakan Rere benar. Jadi cepat bangun ya," ujar Catharine.
Setelah semuanya puas menatap wajah damai Kimberly. Mereka semua pun duduk di sofa yang ada di dalam ruang rawat Kimberly. Sementara Tommy masih diposisinya. Dirinya tidak ingin beranjak dari sana.
"Kita harus menyelidiki siapa pelaku yang sudah menabrak Kimberly," sahut Enda.
"Kita tidak bisa menundanya sampai besok atau besoknya. Bisa saja pelaku itu belum merasa puas dan kembali mengincar Kimberly." Riyan berbicara sambil memikirkan keselamatan adiknya.
"Apa yang dikatakan Kak Riyan benar. Kita harus secepatnya menyelidiki masalah ini. Jangan sampai pelaku itu berbuat yang lebih buruk lagi kepada Kimberly," sahut Aryan.
"Mom, Dad. Bukankah kita sudah mendapatkan satu pelaku!" Triny ikut bersuara.
Mendengar perkataan Triny. Mereka semua pun mengerti. Pelaku yang dimaksud oleh Triny adalah Clara.
Satu minggu yang lalu ada seorang pemuda yang mendatangi kediaman Fathir Aldama. Dan kebetulan saat itu seluruh anggota keluarga sedang berkumpul. Baik dari pihak keluarga Fathir Aldama maupun dari pihak keluarga Nashita Fidelyo.
Seseorang itu adalah ketua dari kelompok yang berusaha untuk menculik Kimberly. Seseorang itu bernama Erick Ramos. Dan tanpa diduga dan tanpa diketahui oleh Erick Ramos selama ini. Gadis yang disakiti dan ingin diculik olehnya dan kelompoknya itu adalah adik dari sahabat baiknya yaitu Enda Aldama. Baik Erick maupun Enda sama-sama terkejut.
Ketika Erick bertemu langsung dengan keluarga Kimberly dan juga dengan sahabat baiknya membuat Erick menyesal atas apa yang telah diperbuat olehnya.
Setelah itu, Erick menceritakan kejadian yang sebenarnya kenapa dirinya dan kelompoknya melakukan hal itu kepada Kimberly. Erick juga menyebut nama Clara dan mengatakan bahwa Clara yang memintanya untuk menculik Kimberly dengan alasan ingin membalas dendam atas kecurangan yang dilakukan oleh keluarga Kimberly salah satunya ayah dan pamannya. Bahkan Clara juga mengatakan bahwa keluarga Kimberly telah menghancurkan keluarganya.
Mendengar cerita dari Erick membuat anggota keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo marah. Mereka semua tak habis pikir akan kelakuan Clara. Mereka juga tidak tahu kenapa Clara begitu benci dengan Kimberly. Padahal selama ini Kimberly tidak pernah mengusik dan mengganggu orang lain.
Setelah mereka mengingat tentang Eric. Baik Fathir, keempat putranya dan juga anggota keluarga lainnya pun setuju apa yang dikatakan Triny jika Clara pelaku yang telah menabrak Kimberly.
"Kita sudah mendapatkan pelaku yang menabrak Kimberly. Sekarang kita akan mencari bukti untuk memperkuat tunduhan tersebut!" seru Ardian.
"Kita cari bukti yang banyak. Dan kita juga cari titik kelemahannya," ucap Rafassya.
"Jangan lupakan Talitha!" Tommy tiba-tiba bersuara dengan lantang.
Mendengar Tommy menyebut nama Talitha membuat mereka semua menatap Tommy termasuk keluarganya.
"Talitha," ucap Fathir, Nashita dan anggota keluarganya.
"Siapa itu Talitha?" tanya Nashita.
"Talitha itu yang sering gangguin Kimberly di sekolah tante," jawab Rere.
"Dan Talitha itu mantannya Tommy, Nashita." Lusiana ikut menjelaskan tentang Talitha.
"Tommy, kenapa kamu berbicara seperti itu? Apa kamu mencurigai Talitha?" tanya Arka.
"Iya. Aku mencurigai Talitha. Kemungkinan besar dia pelakunya." jawab Tommy yang matanya fokus menatap wajah Kimberly.
Mendengar jawaban dari Tommy membuat mereka semua saling lirik. Setelah itu, mereka semua kembali menatap kearah Tommy.
Billy dan Andhika berusaha mencerna setiap perkataan dari Tommy, terutama Andhika. Andhika berusaha mengingat apa saja yang dilakukan oleh Talitha selama pacaran dengan Tommy.
"Aku setuju apa yang dikatakan oleh Tommy. Kecurigaanku lebih kuat mengarah ke Talitha dari pada Clara, walau Clara juga dalang dalam insiden penembakan yang dialami Kimberly!" seru Andhika.
Mendengar perkataan dari Andhika, keponakannya membuat Andrean terkejut. Andrean kemudian melihat kearah Fathir.
"Fathir apa itu benar?"
"Iya, Andrean. Putriku ditembak ketika sedang bertarung."
"Tiga hari yang lalu putriku baru keluar dari rumah sakit, Lusiana! Sekarang putriku kembali masuk rumah sakit lagi. Aku heran dengan mereka. Putriku tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada mereka. Tapi kenapa mereka tega melakukan hal itu kepada putriku."
Mendengar keluhan dari sahabatnya membuat Lusiana iba. Lusiana menarik tubuh Nashita ke dalam pelukannya.
"Yang sabar ya. Putrimu itu gadis yang baik. Bahkan terlalu baik. Putrimu juga memiliki wajah yang sangat cantik. Kecantikan putrimu berasal dari hatinya. Dikarenakan putrimu itu memiliki dua hal itu sehingga membuat mereka iri dan selalu berusaha untuk menghancurkannya." Lusiana berbicara sambil memberikan ketenangan kepada Nashita sahabatnya.
"Tommy, Andhika. Kenapa kalian berdua lebih mencurigai Talitha dibandingkan Clara?" tanya Andrean.
"Ini ada hubungan dengan kedatangan ibunya ke sekolah," jawab Andhika.
"Apa?" Lusiana, Andrean dan keempat saudara-saudara Tommy terkejut.
"Jadi perempuan tua itu datang ke sekolah kalian?" tanya Sovia.
"Iya, Kak Sovia." Andhika menjawabnya.
"Gila tuh perempuan. Gak anak gak ibu sama saja. Sama-sama matre dan tamak akan kekayaan," sahut Salsa.
"Apa yang dilakukan oleh perempuan itu ketika mendatangi sekolah kalian?" tanya Andrean.
"Menyerang Kimberly. Perempuan tua itu marah kepada Kimberly karena Kimberly membuat acara di sekolah. Padahal Kimberly sudah minta izin dengan kepala sekolah dan kepala sekolah juga tidak mempermasalahkan hal itu," ucap Andhika.
"Bahkan ibunya Talitha menghina Kimberly dengan menyebut Kimberly sebagai wanita penggoda," kata Triny.
"Brengsek!" umpat Jason, Uggy, Enda dan Riyan marah.
"Mendengar perkataan dari ibunya Talitha. Tommy marah dan mendorong kuat ibunya Talitha hingga tersungkur. Tommy meluapkan kemarahannya saat itu juga kepada ibunya Talitha dan juga Talitha," kata Aryan.
"Tommy selama ini sudah cukup sabar menghadapi kelakuan Talitha selama di sekolah. Bahkan Tommy berusaha untuk tidak bersikap kasar kepada Talitha. Apapun yang dilakukan Talitha kepada Kimberly. Tommy masih diam dan tidak ikut campur. Tommy percaya jika Kimberly bisa mengatasinya. Sementara Tommy hanya mengawasinya saja. Begitu juga dengan kami." Triny berucap.
"Dasarnya Talitha nya yang muka tembok. Sudah berulang kali mendapatkan perlawanan dari Kimberly. Berulang kali merasakan sakit di tubuhnya. Tapi masih saja mencari masalah dan masih berani melawan Kimberly," sahut Santy.
"Gak ada kata jera tuh anak," ucap Sinthia.
"Malah makin menjadi-jadi," sela Rere.
Setelah mendengar ucapan demi ucapan dari Tommy, Andhika dan keempat sahabat Kimberly, Triny, Aryan dan Billy. Anggota keluarga pun sepakat akan menyelidiki Clara dan Talitha. Jika terbukti Talitha yang telah menabrak Kimberly, maka hukuman untuk Talitha adalah hukuman penjara seumur hidup. Sementara untuk Clara penjara selama 30 tahun