
Tommy mendorong kursi roda Kimberly sembari terus menggoda Kimberly. Begitu juga dengan Billy yang berjalan di sampingnya.
"Ayolah, sayang!" Tommy berbicara begitu lembutnya.
"Sayang... Sayang! Gak ada sayang-sayangan untuk saat ini," jawab Kimberly.
Billy tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangannya dengan matanya yang melirik kearah Tommy.
"Sabarkan hatimu saudara Tommy," bisik Billy.
PLAAKK!
Tommy menggeplak kepala belakang Billy sehingga membuat Billy meringis.
"Sialan lo," umpat Billy.
Billy dan Tommy berjalan menyusuri koridor sekolah dengan Kimberly duduk di kursi roda. Para murid-murid semuanya melihat kearah mereka bertiga.
Para murid-murid yang menyukai Kimberly menatap Kimberly kasihan dan juga iba. Mereka sedih melihat idola mereka duduk di kursi roda. Sementara murid-murid yang tak menyukainya menatap jijik dirinya.
"Asih. Kenapa mereka semua ngeliat kesini sih? Kalau aku punya kekuatan sudah aku pastikan mereka semua aku bikin buta," gerutu Kimberly.
Billy dan Tommy yang mendengar gerutuan dari Kimberly hanya tersenyum. Mereka tahu jika Kimberly paling risih jika ditatap seperti itu.
"Abaikan saja mereka. Anggap saja mereka semuanya patung," bisik Billy di telinga Kimberly.
"Anggap saja saat ini kamu adalah seorang ratu. Ratu yang sangat cantik. Ratu kepunyaan raja Tommy. Sementara mereka semua adalah dayang-dayang kita." Tommy juga ikut berbisik di telinga Kimberly.
Mendengar perkataan Tommy membuat Kimberly bertambah kesal. Detik kemudian, Kimberly menarik dasi yang dikenakan oleh Tommy.
"Mampus. Singa betina ngamuk," ucap Billy.
"Billy," Kimberly menggeram kesal.
"Oops! Sorry, Kim. Keceplosan," jawab Billy.
"Tommy Alexander. Saat ini aku lagi bad mood. Dan kamu malah membuat lelucon yang tak penting."
"Iya iya! Maafkan aku sayangku. Cup!" Tommy berucap sambil mencuri satu ciuman di bibir merah Kimberly dan melepaskan tangan Kimberly dari dasinya.
Kimberly membelalakkan matanya ketika Tommy yang berhasil mencium bibirnya. Melihat Tommy yang mencium Bibir Kimberly membuat murid-murid yang menyukai Kimberly berteriak histeris.
Setelah berhasil mencuri satu ciuman di bibir Kimberly. Tommy berdiri dengan gagahnya di belakang Kimberly. Billy yang melihatnya memutar bola matanya malas.
"Ini di sekolahan bukan di hotel!" seseorang yang datang dengan keenam sahabatnya.
Billy, Tommy dan Kimberly melihat kearah tujuh orang yang berdiri tak jauh dari hadapan mereka.
"Siapa mereka?" tanya Kimberly.
"Musuh baru kamu," jawab Billy seenaknya.
Mendengar jawaban yang tak enak dari Billy membuat Kimberly mendengus kesal. Dan detik kemudian tanpa berperikemanusiaan Kimberly mencubit kuat pinggang Billy sehingga membuat Billy berteriak kesakitan sembari mengelus-ngelus pinggangnya.
"Aakkhhh!"
"Yak! Kimberly sakit!" teriak Billy.
Tommy yang melihat dan mendengar teriak kesakitan Billy tersenyum puas. Balas dendam ternyata.
"Uuhh... Sakit gak Bil?" ledek Tommy.
"Sialan lo," umpat Billy.
"Hahahahaha." Tommy tertawa keras.
Kimberly menatap tajam kearah tujuh gadis di depannya. Kimberly dapat melihat ketujuh gadis itu sangat tak menyukai dirinya. Namun Kimberly tak mempedulikan hal itu.
"Hei, kau! Jika ingin berciuman jangan disini. Cari tempat sana. Apa kau pikir sekolah ini tempat orang bermaksiat?" ucap dan tanya gadis itu.
Kimberly berbicara dengan nada mengejeknya. Kimberly dapat melihat dari tatapan mata dari gadis itu. Gadis itu menaruh hati kepada Tommy.
Sementara gadis itu menatap tajam Kimberly ketika mendengar perkataan dari Kimberly.
"Billy, Tommy. Siapa mereka?" tanya Kimberly.
"Mereka murid baru di sekolah ini. Mereka berada di kelas 10B," jawab Billy.
"Mereka masuk ke sekolah ini ketika dua hari kamu gak sadar di rumah sakit," ucap Tommy.
"Dan aku dengar gadis yang barusan nyindir kamu itu adalah donatur nomor dua setelah Daddy Fathir," sahut Billy.
"Ooh." Kimberly hanya ber o ria ketika mendengar jawaban dari Billy dan Tommy.
Gadis itu berlahan melangkah mendekati Tommy. Ketika gadis itu berada didekat Tommy. Gadis itu langsung menggelayut manja di pergelangan tangan Tommy.
Gadis itu menatap tajam Kimberly. "Kamu barusan mengatakan bahwa aku tidak memiliki kekasih. Iyakan?"
"Iya," jawab Kimberly dengan wajah yang kelewat santai.
"Kenalkan ini kekasihku, Tommy Alexander. Papi aku dan Papinya Tommy adalah teman rekan kerja. Mereka sepakat buat jodohin kami berdua."
Mendengar perkataan dari gadis itu membuat Kimberly, Billy terkejut. Bahkan yang lebih terkejut adalah Tommy.
Billy dan Kimberly melihat kearah Tommy. Tommy yang ditatap oleh Billy dan Kimberly langsung menggelengkan kepalanya.
Tommy mengalihkan pandangannya melihat kearah gadis yang saat ini masih menggelayut di tangannya.
Tommy dengan sekuat tenaganya langsung melepaskan tangan gadis itu. Dan mendorong kasar tubuh gadis itu.
"Jangan gila dan jangan asal bicara kamu. Baik Papi maupun Mami aku. Mereka berdua tidak pernah ada niat dan tidak berniat sama sekali untuk menjodohkan anak-anaknya. Apalagi menjodohkan anak-anaknya dengan rekan bisnis mereka. Mami dan Papi aku memberikanku dan saudara-saudara aku yang lainnya kebebasan untuk mencari pasangan."
Tommy berbicara dengan penuh penekanan. Dan jangan lupa matanya yang menatap tak suka gadis itu.
"Aku tidak asal bicara. Aku bicara apa adanya. Jika kau tidak percaya. Silahkan kau tanyakan sendiri pada Papi kamu. Nama Papi aku adalah Jonathan Aditya. Pemilik Perusahaan properti terbesar dan terkenal nomor 10 di dunia dan di Jerman."
"Yaelah! Baru terkaya nomor 10 saja sudah songong lo. Keluarga gue aja yang terkaya nomor 1 dan nomor 3 di dunia dan di Jerman. Biasa-biasanya. Gak songong kayak lo," batin Kimberly.
"Palingan lo dan keluarga lo ingin menaikan status doang dan juga ingin morotin kekayaan sahabat gue," batin Billy.
Billy mengetahui tentang status keluarga Tommy. Keluarga Tommy berada di nomor 2 setelah keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo. Sementara untuk keluarga dari ayahnya berada di nomor 4.
"Gua gak peduli. Mau elu anak presiden sekali pun. Gua ogah jadi pacar elu. Apalagi sampai nikah. Amit-amit gua punya istri kayak elu. Jadi apa ntar anak-anak gua kelak ketika udah lahir ke dunia ini." Tommy berbicara dengan sangat kejamnya sehingga membuat gadis itu menangis.
"Wah! Sadis bener omongan lo sob," sahut Billy.
"Bodo amat," jawab Tommy.
"Tommy. Kenapa kamu ngomong gitu sama aku? Kamu itu calon suami aku. Kita sudah dijodohin. Kamu seharusnya jaga perasaan aku. Tapi kamu malah dekat-dekat sama cewek gak benar seperti dia!" gadis itu menunjuk kearah wajah Kimberly.
Billy sudah mengepalkan kedua tangannya ketika mendengar perkataan dari gadis itu.
"Jika kamu itu laki-laki. Sudah aku buat kamu jadi tempeyek," batin Billy.
"Kamu lihat dia." gadis itu kembali menunjuk kearah Kimberly. "Gadis itu lumpuh, Tommy! Apa yang kamu harapkan dari gadis lumpuh seperti dia!" teriak gadis itu.
"Aku tidak mempermasalahkan soal dia lumpuh. Aku memilih dia karena dia memiliki hati yang baik dan bersih. Dia memang lumpuh tapi dia gak pernah menghina orang lain. Dia gak pernah meremehkan orang lain. Dia gak pernah menghujat orang lain. Dia gak pernah membully orang lain dan dia gak pernah merendahkan orang lain."
Tommy berbicara dengan tatapan matanya menatap tajam gadis itu. Sementara Kimberly yang mendengar perkataan dari Tommy merasakan kehangatan di hatinya. Dirinya benar-benar bahagia memiliki Tommy dalam hidupnya. Begitu juga Billy. Billy sangat bahagia melihat sahabatnya yang benar-benar tulus mencintai adik sepupunya.
"Dan aku memilih dia bukan karena fisik. Tapi aku memilih dia karena hati. Dia gadis lumpuh. Sementara kamu gadis normal. Tapi aku lebih bahagia hidup bersama gadis lumpuh dari pada gadis normal seperti kamu."
Setelah mengatakan itu, Tommy dan Billy pergi dengan Tommy yang mendorong kursi roda Kimberly untuk menuju ke kelasnya. Dan meninggalkan ketujuh gadis itu di lapangan.
Melihat kepergian Tommy, Billy dan Kimberly. Para murid-murid yang menyukai dan ngefans sama kelompok Kimberly tersenyum mengejek kearah ketujuh murid-murid baru itu.
"Uuuuuu." murid-murid tersebut bersorak mengejek ketujuh murid-murid baru itu.