
Di kediaman Fathir Aldama tampak ramai dimana adik-adik dari Fathir dan Nashita serta para keponakan datang berkunjung. Kecuali satu adik laki-laki dari Fathir Aldama yaitu Ardian Aldama.
Kedatangan para adik dan keponakan dari Fathir dan Nashita dua alasan. Pertama, mereka memang sudah berencana untuk berkunjung. Dan kedua, mereka datang karena diminta oleh Billy.
Billy mengirim pesan di grup WA khusus anggota keluarga, Aldama dan Fidelyo.
Kini semuanya berkumpul di ruang tengah, kecuali Kimberly. Kimberly berada di dalam kamar, ditemani oleh Valen.
"Bagaimana perkembangan perusahaan kak Fathir di Australia?" tanya Ammar.
"Berjalan sangat lancar," jawab Fathir.
"Lalu bagaimana dengan butik kak Nashita yang juga ada disana?" tanya Cralita.
"Jauh dari kata sempurna. Bulan ini keuntungan meningkat," jawab Nashita.
Mendengar jawaban dari kedua kakaknya membuat Ammar dan Cralita tersenyum bahagia dan berucap syukur. Begitu juga dengan Helena, Rafassya, Nirvan dan Liana.
"Kami turut senang mendengarnya!" seru mereka secara bersamaan.
Alfan menatap adik bungsunya. Dirinya ingin bertanya kepada adiknya itu masalah apa yang akan disampaikan olehnya kepada keluarga.
"Billy," panggil Alfan.
Billy langsung melihat kearah Alfan kakak tertuanya. "Iya, kak!"
"Di grup kau mengatakan akan menyampaikan sesuatu. Kau ingin menyampaikan apa?"
Mendengar pertanyaan dari Alfan membuat semuanya menatap kearah Billy. Bahkan mereka juga melihat kearah Aryan dan Triny secara bergantian.
"Ada apa, nak?" tanya Clarita pada putra bungsunya.
"Ini masalah Kimberly."
Deg!
Mereka semua terkejut ketika mendengar Billy yang menyebut nama Kimberly. Yang paling terkejut adalah Nashita, Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan.
"Katakan apa yang tidak Daddy ketahui tentang Kimberly, Billy!" pinta Fathir dengan menatap wajah Billy.
Billy menatap kearah Fathir lalu beralih menatap kearah Nashita. Terlihat oleh Billy tatapan khawatir dari manik kedua orang tua dari Kimberly yang tak lain adalah om dan tantenya.
Setelah itu, Billy menatap anggota keluarganya yang lain satu persatu.
"Ini lihatlah."
Billy memberikan ponsel miliknya kepada Jason yang kebetulan duduk tak jauh dari Jason. Ponsel tersebut sudah Billy stel ke sebuah video sehingga Jason bisa langsung melihatnya.
Jason mengambil ponsel Billy dan langsung melihat ada sebuah video di layar ponsel tersebut.
Jason mengklik tanda segitiga tersebut dan video itu pun berputar. Uggy, Enda dan Riyan seketika langsung berpindah duduk didekat sang kakak.
Dan detik kemudian....
"Brengsek!" umpat penuh amarah yang keluar dari mulut Jason.
"Jadi gadis sialan itu yang sudah membayar laki-laki itu untuk mencelakai Kimberly ketika di kota Berlin?!" ucap Uggy dengan amarah yang membuncah.
"Apa?!"
Fathir, Nashita, Rafassya, Helena, Clarita, Ammar, Nirvan dan Liana berteriak seketika ketika mendengar ucapan dari Uggy.
"Uggy, apa maksud kamu?"
"Deryl memberikan informasi kepadaku bahwa ada seseorang yang tengah mengawasi Kimberly ketika Kimberly berada di kota Berlin kemarin. Orang itu suruhan seseorang untuk mencelakai Kimberly."
Uggy menjelaskan maksud dari perkataannya barusan kepada anggota keluarganya.
"Apa Deryl berhasil mendapatkan orang itu, kak?" tanya Fathan.
"Iya. Deryl dan anak buahnya sudah berhasil menangkap laki-laki itu. Laki-laki itu ditangkap oleh anak buahnya Deryl ketika Kimberly dan keempat sahabatnya pergi keluar tanpa ditemani oleh yang lainnya," jawab Uggy.
"Kalau nggak salah Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine hendak pergi ke supermarket!" seru Triny.
"Awalnya aku dan kelima sahabatku ingin ikut sekalian menjaga mereka. Tapi Kimberly nya nggak mau. Mom dan Dad tahu kan bagaimana Kimberly. Dia paling nggak suka dikit-dikit ditemani dan dikawal," tutur Aryan.
Mendengar perkataan dari Aryan membuat mereka semua menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan dari Aryan tentang Kimberly.
"Terus dimana laki-laki bajingan itu sekarang, kak?" tanya Enda.
"Ada di markas kakak," jawab Uggy.
"Aku sudah menghajarnya sampai babak belur, tetap saja mulutnya membisu."
"Tapi sekarang kau tidak perlu lagi menghajarnya karena kita sudah tahu siapa yang membayarnya," ucap Zivan.
"Hm!" Semuanya berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
"Pasya, aku serahkan gadis itu padamu. Pastikan dia dihukum seberat-beratnya," ucap Jason.
"Kakak tidak perlu khawatir akan hal itu. Tanpa kakak mengatakan itu, aku akan memberikan hukuman berat padanya. Bagaimana pun ini sudah termasuk pasal berlapis," sahut Pasya.
"Dan sekarang dia sudah dalam penjara," ucap Pasya.
Mendengar perkataan dari Pasya membuat semuanya terkejut, kecuali Billy, Aryan dan Triny.
"Bagaimana bisa?" tanya Rafassya kepada keponakannya.
"Ini semua ulah Kimberly," sahut Triny.
"Kimberly meminta kepada Deryl untuk menyuruh beberapa anak buahnya untuk menemuinya di lapangan sekolah karena pada saat itu aku, keempat sahabatku dan Rere menghadang Gracia yang hendak pergi meninggalkan sekolah. Aku tahu masalah itu dari Rere. Rere mengatakan bahwa dia ada disana ketika Gracia tengah berbicara sembari menyebut nama Kimberly. Bahkan Rere juga memperlihatkan videonya padaku." Triny menceritakan apa yang dia dapat dari Rere.
"Kimberly meminta anak buahnya Deryl untuk membawa Gracia ke kantor polisi. Kimberly sampai melakukan itu karena Kimberly tidak ingin berlama-lama memiliki urusan dengan Gracia, makanya Kimberly mengambil jalan tengah yaitu memasukkan Gracia ke dalam penjara," ucap Billy.
"Aku sempat melirik sekilas ke tatapan mata Kimberly. Disana terlihat Kimberly benar-benar lelah terus-terusan diusik oleh Gracia. Kimberly ingin lepas dari Gracia. Dan tidak ingin lagi berurusan dengan Gracia," pungkas Aryan.
"Dan itulah Kenapa Kimberly meminta anak buahnya Deryl untuk membawa Gracia ke kantor polisi," ucap Billy.
Mendengar perkataan dari Triny, Aryan dan Billy membuat semuanya terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing menyetujui apa yang dilakukan oleh kesayangannya itu.
"Jika Kimberly sudah mengambil keputusan seperti itu. Biarkan saja. Kita sebagai anggota keluarganya tetap memberikan dukungan padanya. Tidak perlu berkomentar apalagi bertanya," ucap Ammar.
"Kita cukup lakukan tugas kita. Tugas kita adalah menghadapi keluarga dari Gracia jika sewaktu-waktu mereka marah dan tidak terima putrinya di penjara," ucap Nirvan.
"Masalah keluarga Gracia. Papa dan ayah tidak perlu khawatir akan hal itu. Kalian juga!" seru Billy.
Mereka semua menatap kearah Billy. Mereka menatap Billy dengan tatapan bingung.
"Kenapa?" tanya Riyan.
"Bagaimana kita tidak khawatir, Billy? Mana ada anggota keluarga yang diam saja jika ada salah satu anggota keluarganya di dalam penjara. Pasti mereka akan berusaha untuk mengeluarkannya," ucap Ricky menatap kearah Billy.
"Tapi tidak dengan Gracia!" seru Triny dan Aryan bersamaan.
Mereka semua menatap Aryan dan Triny dengan wajah bingung masing-masing.
"Kimberly sudah mengetahui secara detail keluarga dari Gracia yang dari pihak ibunya. Dan kemungkinan Kimberly sudah melakukan sesuatu terhadap keluarga tersebut," sahut Aryan.
"Jika pun ada keluarga Gracia ingin protes, marah dan ingin mengeluarkan Gracia dari dalam penjara. Itu hanya satu orang. Dan orang itu adalah ibunya sendiri," ucap Triny.
"Untuk lebih jelasnya. Kalian bisa langsung tanya pada Kimberly," ucap Billy.
"Apa Kimberly tidak cerita kepada kalian?" tanya Barra.
Aryan, Billy dan Triny dengan kompak menggelengkan kepalanya.
"Sedikit pun Kimberly nggak cerita kepada kalian?" tanya Athaya.
"Ada sih. Hanya nama keluarganya saja. Keluarga dari pihak ibunya Gracia itu dari keluarga Ameera," ujar Billy.
"Keluarga Ameera!" ulang Helena ketika mendengar nama Ameera.
"Kamu kenal dengan keluarga itu, Helena?" tanya Fathir.
"Kenal dekat, nggak kak Fathir! Tapi nama keluarga itu tak asing di telingaku," sahut Helena.
Ketika mereka tengah membahas tentang keluarga Ameera, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara langkah kaki menuruni anak tangga.
Dan dengan kompak mereka semua langsung melihat kearah anak tangga itu.
Seketika mereka semua tersenyum ketika melihat Kimberly yang sedang tertawa kecil bersama Valen sembari menuruni anak tangga.
"Papi, Mami!" seru Valen dan langsung berlari menuju kedua orang tuanya.
Sedangkan Kimberly sudah duduk cantik di samping ibunya dengan kepala menyandar di bahu sang ibu.
Melihat Kimberly yang bersandar pada ibunya tersenyum. Mereka tahu bagaimana manjanya Kimberly kepada ibunya.
"Kenapa, hum?" tanya Nashita sembari tangannya mengusap lembut kepala putrinya.
"Kangen Mommy," jawab Kimberly.
"Cuma sama Mommy saja yang kangen? Bagaimana dengan Daddy?" tanya Fathir.
"Kangen Daddy juga," balas Kimberly.
"Kalau kangen Daddy. Peluk Daddy dong."
Tanpa diminta dua kali oleh ayahnya. Kimberly langsung berdiri dan berpindah duduk di samping ayahnya. Padahal kedua orang tuanya duduk berdekatan.
Setelah berada di samping ayahnya. Kimberly langsung memeluk tubuh ayahnya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang ayah. Kimberly menghirup aroma tubuh ayahnya itu.
Mendapatkan pelukan dari putrinya membuat Fathir bahagia. Lalu Fathir mencium pucuk kepala putrinya itu penuh sayang.
"Kerjaan Daddy udah kelar di Aussie?" tanya Kimberly.
"Kenapa? Apa kamu bakal larang Dad dan Mom untuk balik lagi ke Aussie, hum?"
"Memangnya bisa Dad dan Mom dilarang?"
Bukannya jawaban yang didapat oleh Fathir. Justru pertanyaan yang dia dapatkan dari putrinya.
Seketika Fathir tersenyum. Begitu juga Nashita dan yang lainnya.
"Sekarang katakan pada Daddy. Apa kamu mau Daddy dan Mommy disini atau balik lagi ke Aussie untuk menyelesaikan pekerjaan disana?"
"Tetap disinilah. Mana ada seorang anak yang mau ditinggal lama-lama sama orang tuanya. Keluar kota aja nggak rela. Ini malah keluar negeri." jawab Kimberly langsung.
Mereka semua tersenyum gemas mendengar jawaban dari Kimberly. Apalagi ketika melihat wajah cemberut Kimberly dari samping karena Kimberly masih memeluk tubuh ayahnya.
"Aku bahkan ingin kalian tetap di negara ini. Sekali pun tugas kalian banyak sehingga membuat kalian pulang telat. Asal tetap di negara ini, aku tak masalah! Aku masih bisa melihat kalian dan masih bisa memeluk kalian," ucap Kimberly.
Kimberly mendongakkan kepalanya untuk sekedar menatap wajah ayahnya.
"Dad, nggak bisa ya kalau kerjanya di negara ini saja. Jangan pergi ke luar negeri. Kalau keluar kota aku akan pertimbangkan. Tapi tidak untuk keluar negeri. Daddy kan bisa memberikan kepercayaan kepada beberapa tangan kanannya Daddy untuk mengurus perusahaan Daddy yang ada di luar negeri. Apa gunanya Daddy memiliki banyak tangan kanan jika tidak dijadikan babu."
Seketika Fathir tersenyum mendengar perkataan dari putrinya. Apalagi putrinya mengatakan kata babu untuk para tangan kanannya. Begitu juga dengan Nashita, Jason, Uggy, Enda, Riyan dan anggota keluarga lainnya.
Fathir memang memiliki sekitar 20 tangan kanan yang begitu setia padanya dan juga pada keluarganya. Para tangan kanannya Fathir itu memiliki bakat yang luar biasa. Baik dalam bidang bisnis, komputer, bela diri dan persenjataan.
Fathir mengusap lembut pipi putih putrinya lalu memberikan ciuman di keningnya.
"Daddy dan Mommy memang tidak akan pergi ke Australia lagi. Semuanya sudah kelar disana."
Mendengar perkataan dari ayahnya. Kimberly langsung melepaskan pelukannya. Kimberly menatap tetap di manik hitam ayahnya itu.
"Benarkah Dad?"
"Hm!" Fathir berdehem sambil menganggukkan kepalanya.
"Mom." Kimberly langsung melihat kearah ibunya untuk memastikan perkataan ayahnya itu.
"Iya, sayang. Semua pekerjaan kami yang diluar negeri sudah selesai," jawab Nashita.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly ketika mendengar jawaban dari ibunya dan juga ayahnya. Dirinya benar-benar bahagia saat ini.
Melihat senyuman manis di bibir Kimberly membuat Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan ikut merasakan kebahagiaan di hatinya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka juga ikut bahagia.