THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Informasi Dari Ricky



Semua anggota keluarga sudah berkumpul di rumah sakit termasuk keluarga besar Alexander. Kini mereka semua berada di ruang rawat Kimberly.


Dokter mengatakan bahwa bahu kanan Kimberly mengalami cedera parah akibat pukulan benda keras sehingga membuat Kimberly harus dirawat selama satu minggu.


Setelah dirawat selama satu minggu di rumah sakit, Dokter itu menyarankan untuk Kimberly istirahat total selama satu bulan penuh agar cedera di bahunya itu benar-benar pulih seratus persen.


Saat semua anggota keluarga dan para sahabat tengah menatap sedih kearah dimana Kimberly yang tengah terbaring. Tangannya yang dipasang infus, hidungnya dipasang selang canula.


Nashita membelai lembut pipi putih putrinya lalu berpindah menuju kepala sehingga memperlihatkan kening putrinya itu.


Nashita membubuhkan ciuman di kening putrinya lalu menempelkan sejenak keningnya di kening putri kesayangannya itu.


"Putrinya Mommy. Mommy disini sayang," ucap Nashita.


Fathir yang berdiri di samping istrinya mengelus-elus punggung istrinya. Dirinya tahu bahwa istrinya saat hanya sekedar melepas rasa khawatirnya sejak tadi.


"Putrinya Daddy," ucap Fathir sembari tangannya mengusap kepala putrinya.


Setelah Nashita dan Fathir berbicara dengan Kimberly sekaligus memberikan kecupan sayang di pipi serta kening putrinya. Nashita dan Fathir memutuskan untuk mundur dan memberikan kepada keempat putranya dan yang lainnya.


Jason, Uggy, Enda dan Riyan menghampiri ranjang adik perempuannya. Setelah berdiri di samping ranjang adik perempuannya, mereka secara bergantian memberikan ciuman di kedua pipi dan kening adik perempuannya itu.  Dan tak lupa mereka mengucapkan kata-kata sayang dan kata-kata semangat untuk adik kesayangannya.


"Kakak sayang kamu."


"Cepat bangun."


"Jangan lama-lama tidurnya."


"Maafkan kakak yang lagi-lagi gagal jagain kamu."


Jason, Uggy, Enda dan Riyan menangis ketika menatap wajah cantik sedikit pucat adiknya. Mereka mengepalkan kuat tangannya. Saat ini mereka benar-benar marah akan orang yang menyakiti adik perempuannya.


"Siapa pun kalian. Tunggu pembalasanku. Aku bersumpah akan membunuhmu," batin Jason.


"Tunggu pembalasanku. Kalian telah berani menyakiti adik perempuanku," batin Uggy.


Sementara Enda dan Riyan hanya diam sembari tatapan matanya menatap kearah adik perempuannya. Bagaimana perasaan keduanya ketika melihat kondisi adik perempuan satu-satunya. Sama seperti Jason dan Uggy. Enda dan Riyan menaruh dendam yang begitu besar terhadap orang-orang yang telah berani menyentuh dan menyakiti adik kesayangannya.


Tommy berlahan melangkah mendekati ranjang Kimberly. Tatapan matanya menatap lekat wajah Kimberly disertai air matanya yang mengalir membasahi wajah tampannya.


Melihat Tommy yang melangkah mendekati ranjang adik perempuannya. Jason, Uggy, Enda dan Riyan memutuskan untuk memberikan ruang untuk Tommy.


Jason, Uggy, Enda dan Riyan bergabung dengan kedua orang tuanya dan anggota keluarganya yang lain di sofa.


"Hiks, Kim! Maafkan aku... Maafkan aku yang gagal jagain kamu selama di sekolah. Maafkan aku karena... Hiks... masalahku dan kakak perempuanku, kamu menjadi korbannya." Tommy berucap disela isakannya.


Lusiana mendekati putrinya lalu tangannya mengusap lembut punggung putranya itu. Setelah itu, Lusiana menatap wajah cantik dan pucat Kimberly.


"Sayang, ini Mami! Mami datang jenguk kamu. Bangun dong. Masa kamu tidur ketika Mami datang," ucap Lusiana. Dan tanpa diminta air matanya mengalir membasahi wajahnya.


"Hei, cantik! Papi juga datang. Bahkan kakak-kakaknya Tommy dan adiknya Tommy juga datang. Apa kamu tidak ingin melihat kedatangan kami, hum?"


Andrean, Lusiana, Arka, Sovia, Salsa dan Tama saat ini berdiri mengelilingi ranjang Kimberly. Mereka menatap dengan wajah basah kearah Kimberly yang masih setia menutup matanya.


"Kim, maafkan kakak Salsa ya. Jika kakak bisa merendam amarah. Jika kakak bisa sabar ketika di cafe itu. Mungkin kejadian ini nggak akan terjadi. Mereka sakit hati kepada kakak dan Tommy, tapi justru kamu yang mereka jadikan alat balas dendamnya," ucap Salsa.


Cklek...


Seketika mereka semua dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka oleh seseorang.


Dengan kompaknya mereka semua langsung melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat Pasya dan Ricky yang datang.


"Bagaimana Kimberly?" tanya Pasya dan Ricky bersamaan sembari melangkah menghampiri anggota keluarganya.


"Dokter bilang Kimberly baik-baik saja. Kimberly hanya mengalami luka cedera bagian bahu kanannya. Dan Kimberly harus dirawat selama satu minggu di rumah sakit," ucap Rafassya sang ayah sekaligus Paman kesayangannya Kimberly.


"Oh ya! Ada sedikit info untuk kalian," sahut Ricky.


Mereka semua menatap kearah Ricky dengan tatapan penuh harap. Mereka semua berharap Ricky mendapatkan kabar mengenai latar belakang keluarga dari kedua pria itu.


"Apa itu Ricky? Katakan kepada Daddy," ucap dan Fathir.


Ricky menatap wajah Fathir sang Paman. Terlihat dari tatapan mata Pamannya itu bahwa Pamannya itu berharap jika dirinya memberikan informasi tentang orang yang sudah menyakiti putrinya yang tak lain adalah adik sepupunya.


"Dua anggotaku sudah mendapatkan ciri-ciri tentang kedua pria yang ingin balas dendam terhadap keluarga Alexander."


Mendengar perkataan dari Ricky membuat mereka semua tersenyum bahagia.


"Akhirnya," ucap mereka bersamaan.


"Dua anggotaku itu hanya mendapatkan tentang nama perusahaan kedua pria itu dan kedua anak perempuan mereka. Untuk nama keluarga mereka. Dua anggotaku dan anggota-anggotaku yang lain belum mendapatkannya!" Ricky berucap sembari menjelaskan apa yang dirinya dapatkan dari dua anggotanya.


"Tak masalah?" seru keluarga Alexander bersamaan.


"Apa nama perusahaan dari kedua pria itu?" tanya Uggy.


"AV'Sn Corp dan Oka'Yama Invertising. Dan untuk kedua anak perempuan mereka bernama Linka dan Winda. Mereka kuliah di Haven City University" jawab Ricky.


Mendengar jawaban penjelasan dari Ricky seketika terukir senyuman di sudut bibir mereka masing-masing.


"Eemm. Sepertinya aku dan Tommy bisa sedikit membantu masalah wajah kedua anak perempuan dari kedua pria itu," ucap Salsa sembari menatap wajah adik laki-lakinya yang kini berdiri di samping ranjang kekasihnya.


Mendengar perkataan dari Salsa membuat mereka semua menatap kearah Salsa termasuk Tommy.


"Aku masih mengingat wajah mereka berdua," ucap Salsa.


Seketika Tommy tersenyum ketika mendengar ucapan dari kakaknya. Tommy juga sama seperti kakak perempuannya saat ini. Dirinya juga masih ingat dengan wajah-wajah orang yang beradu mulut dengan kakaknya ketika di cafe itu.


"Masalah itu, biarkan aku yang melakukannya! Aku akan mendatangi kampus itu," ucap Tommy.


"Gunakan kartu ini ketika kamu mendatangi Kampus itu!" seru Ricky dengan memberikan kartu identitas khusus Dosen.


Andhika yang kebetulan berdiri tak jauh dari Ricky mengambil kartu itu lalu Andhika berjalan menghampiri Tommy guna memberikan kartu itu kepada Tommy.


"Kartu itu milik temanku yang menjadi Dosen disana. Aku menceritakan apa yang kita alami saat ini. Mendengar cerita dariku, temanku itu dengan suka rela membantuku dengan memberikan kartu miliknya itu kepadaku. Kartu itu adalah kartu akses masuk. Kartu yang memiliki hak istimewa untuk setiap Dosen. Kartu itu juga bisa digunakan jika Dosen tersebut ingin menemui mahasiswa dan mahasiswinya di ruang pribadi."


Mereka semua tersenyum puas ketika mendengar penjelasan tentang kartu tersebut dari Ricky.


Ketika mereka sedang berdiskusi tentang orang-orang yang sudah menyakiti Kimberly, tiba-tiba ponsel milik Fathir berbunyi. Dan bersamaan dengan ponsel milik Andrean.


Baik Fathir dan Andrean langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya.


"Hallo."


"...."


"Bagus. Ini kabar yang sangat menggembirakan untukku. Pastikan lagi kedua pria itu tidak memiliki pengikut lagi."


"...."


Setelah mengatakan itu, Fathir pun langsung mematikan panggilannya. Begitu juga dengan Andrean.


"Ada apa Dad/Pi?" tanya Jason dan Arka kepada ayahnya masing-masing.


"Kedua pria itu sudah tidak ada pengikut lagi," jawab Fathir.


"Kemungkinan besar kedua pria itu hanya sendiri tanpa ada tangan kanannya dan anak buahnya," sela Andrean.


Mendengar jawaban dari Fathir dan Andrean membuat mereka semua tersenyum penuh kebahagiaan.


"Apa benar itu Daddy?" tanya Alfan.


"Iya, sayang! Bukankah memang itu yang Daddy inginkan kemarin setelah Daddy menerima panggilan dari Andrean? Daddy ingin menghabisi semua anak buah dari kedua pria itu sehingga kedua pria itu tidak memiliki anak buah lagi," ucap sekaligus jawaban dari Fathir.


Mendengar jawaban dari Fathir membuat Alfan tersenyum bahagia. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Kita harus bergerak cepat," sahut Judika selaku paman dari Tommy yang menjadi korban balas dendam dari kedua pria itu.


"Sekarang ini kita sudah mengetahui nama dari anak perempuan dari kedua pria itu. Bahkan kita juga sudah tahu nama kampusnya. Seperti yang dikatakan oleh Tommy bahwa dia yang akan langsung bergerak mendatangi kampus tersebut!" seru Jordy adik laki-laki Andrean.


"Tommy, ketika kamu sudah sampai di Kampus itu. Kamu hubungi nomor yang ada di kartu itu. Jika dia bertanya, kamu cukup jawab bahwa kamu adalah adiknya Ricky Fidelyo. Nanti dia akan bantu kamu untuk bertemu dengan Linka dan Winda."


"Baik, kak!" jawab Tommy.


"Setelah kamu bertemu dengan kedua perempuan itu. Langsung lakukan tugas kamu," ucap Ricky.


"Aku mengerti!" jawab Tommy.


"Siapa yang akan pergi bersama Tommy?" tanya Arka.


"Kami yang akan pergi bersama Tommy!" seru Fazio, Carlen dan Nigel.


"Dan aku yang akan mendatangi perusahaan Oka'Yama Invertising," sahut Judika.


"Dan aku yang akan mendatangi perusahaan AV'Sn Corp," sela Jordy.


"Baiklah kalau begitu. Kakak serahkan dua perusahaan itu kepada kalian berdua. Ingat! Kalian harus hancurkan kedua perusahaan itu. Jangan ada yang tersisa sedikit pun. Sebisa mungkin kalian harus pancing kedua laki-laki itu keluar dari persembunyian," ucap Andrean dengan sorot mata yang penuh amarah.


"Baik, kak!" Judika dan Jordy menjawab bersamaan.


Ketika mereka semua tengah memulai rencana untuk membalas perbuatan kedua pria yang sudah menyakiti Kimberly, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara igauan dari Kimberly.


"Mommy, Daddy!"