
Setelah dirawat selama empat hari. Kimi Kimberly sudah berada di rumahnya. Sesuai perjanjian antara Kimberly dan keempat kakak laki-lakinya, akhirnya Kimberly diizinkan pulang.
Saat ini Kimberly berada di ruang tengah. Dirinya tidak sendirian melainkan bersama dengan kekasihnya, beberapa sepupunya, keempat sahabatnya dan para sahabat dari Billy, Triny serta Aryan.
Baik para saudara dan saudari sepupunya, kekasihnya maupun orang-orang terdekatnya menatap Kimberly dengan tatapan penuh kebahagiaan. Mereka semua bahagia Kimberly telah pulang ke rumah.
"Kakak senang kamu sudah kembali pulang ke rumah, Kim!" ucap Ricky menatap teduh adik sepupu perempuannya.
"Apa kepalanya masih sakit?" tanya Billy.
"Udah nggak Bil," jawab Kimberly.
Billy tersenyum mendengar jawaban dari Kimberly. Begitu juga dengan yang lainnya.
Mereka semua saling mengobrol dan bersenda gurau satu sama lainnya. Mereka mengobrol banyak hal. Bahkan Bara dan Ricky sesekali bertanya kepada Tommy, Andhika dan para sahabat dari adik-adiknya mengenai kesibukan kegiatan sehari-hari di sekolah.
Ketika mereka tengah mengobrol dan tertawa karena ada yang lucu dari obrolan mereka, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan kedatangan kedua orang tua dan keempat kakak laki-laki Kimberly.
"Wah! Lagi ramai nih!" seru Fathir melangkah menuju ruang tengah bersama Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan.
Setelah tiba di ruang tengah, mereka menduduki pantatnya di sofa. Nashita menduduki pantatnya di samping putrinya.
"Princess Mommy, oke?"
"I am oke, Mom!"
Nashita tersenyum lalu mencium pipi putrinya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Fathir menatap keponakan-keponakannya, calon menantunya, para sahabat putrinya dan para sahabat dari keponakan-keponakannya.
"Kalian sudah makan siang?" tanya Fathir.
Mendapatkan pertanyaan dari Fathir. Barra, Billy, Aryan, Valen, Ricky, Triny, keempat sahabatnya Kimberly dan yang lainnya saling memberikan tatapan. Setelah itu, mereka kembali menatap kearah Fathir.
"Belum!"
Semuanya menjawab dengan kompak disertai senyuman mengembang di bibir masing-masing.
Sementara Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum ketika mendengar jawaban kompak dari keponakan-keponakannya dan yang lainnya.
"Baiklah. Daddy akan delivery. Lalu kita akan makan bersama-sama," ucap Fathir.
Setelah itu, Fathir mengambil ponselnya dan memesan beberapa makanan dan minuman untuk dirinya, istrinya, anak-anaknya dan yang lainnya.
Kimberly melihat kearah Jason dan Riyan. Dirinya ingin menanyakan sesuatu kepada kedua kakaknya itu.
"Kak Jason, kak Iyan."
Mendengar panggilan dari adik perempuannya. Jason dan Riyan langsung melihat kearah adik perempuannya yang saat ini juga tengah menatapnya.
"Ada apa?" jawab Jason dan Riyan bersamaan sembari tersenyum.
"Bagaimana dengan kedua hama busuk itu? Apa kak Jason dan kak Iyan sudah membasmi para hama itu?" tanya Kimberly.
Mendengar pertanyaan dari Kimberly membuat Jason dan Riyan seketika tersenyum. Begitu juga dengan Nashita, Fathir dan yang lainnya.
"Semuanya sudah kami laksanakan dengan sangat sempurna, tuan putri!" Riyan dan Jason menjawab dengan senyuman termanis di hadapan adik perempuannya.
"Para hama busuk itu sudah tidak memiliki apa-apa selain rumah mewah itu. Kakak memang sengaja menyisakan rumah itu untuk mereka agar kakak tahu apa yang akan mereka lakukan setelah mereka tidak memiliki pekerjaan lagi terutama di dunia bisnis." Jason menjawab dengan tersenyum menatap wajah cantik adik perempuannya.
"Kita hanya menghancurkan mata pencaharian mereka. Dengan menghancurkan mata pencaharian mereka. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain membuka usaha kecil-kecilan. Kakak dan kak Jason juga sudah membuat nama-nama mereka serta wajah-wajah mereka masuk ke daftar hitam kalangan pebisnis." Riyan berucap sembari menatap wajah cantik adik perempuannya.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly ketika mendengar jawaban demi jawaban yang begitu memuaskan dari kedua kakak laki-lakinya.
"Terus hukuman apa yang kak Jason dan kak Iyan kasih kepada pasangan sejoli itu? Teruntuk kak Iyan. Hadiah apa yang kak Iyan kasih untuk pujaan hati kak Iyan itu?" Kimberly bertanya sekaligus menyindir kakaknya tersebut.
Riyan yang mendengar perkataan sekaligus sindiran dari adik perempuannya seketika mendengus kesal.
"Sudah jadi mantan. Jadi jangan ucapkan kata-kata itu lagi," ucap Riyan ketus dengan memberikan tatapan mautnya kepada adik perempuannya.
"Sekarang bilang mantan. Kemarin-kemarin......."
Seketika Kimberly mengatub bibirnya rapat-rapat ketika melihat tatapan mata kakak keempatnya itu menatap tajam kearah dirinya.
Mereka semua tersenyum gemas ketika melihat wajah takut Kimberly ketika melihat Riyan yang memberikan tatapan tajamnya.
Ketika mereka tengah mengobrol sembari membahas orang-orang yang sudah berani mengusik dan berbuat jahat kepada keluarganya. Seorang penjaga datang menghampiri anggota keluarga Aldama di ruang tengah.
"Maaf tuan, nyonya!"
Semua yang ada di ruang tengah langsung menolehkan wajahnya melihat keasal suara.
"Ada apa Hadi?" tanya Fathir.
"Diluar ada seseorang yang ingin bertemu dengan nona muda."
"Siapa orangnya?" tanya Jason.
"Dia seorang laki-laki. Dan berstatus sebagai tangan kanan seseorang."
"Jadi maksud kamu laki-laki itu diutus oleh seseorang untuk menemui putriku?" tanya Fathir.
"Benar tuan."
Fathir menatap kearah istrinya lalu keempat putranya. Dan berakhir menatap wajah putrinya.
"Apa kamu mau bertemu dengan orang itu sayang?" tanya Fathir.
"Dad!" seru Jason, Uggy, Enda dan Riyan dengan menatap wajah ayahnya.
Seketika Fathir langsung menatap keempat putranya secara bergantian. Dapat dilihat olehnya ada ketakutan di manik keempat putranya itu akan adik perempuannya.
"Tenanglah Jason, Uggy, Enda, Riyan. Tidak akan terjadi sesuatu terhadap Kimberly. Kita berada di rumah kita. Bahkan ada beberapa orang yang berjaga. Jadi, orang itu tidak akan melukai Kimberly," ucap Fathir memberikan keyakinan kepada keempat putranya itu.
Fathir menatap sang penjaga. "Dimana laki-laki itu sekarang?"
"Diluar tuan. Dan dijaga beberapa penjaga. Laki-laki itu berdiri di samping mobilnya."
"Baiklah."
Mereka melangkah menuju depan untuk menemui laki-laki yang ingin bertemu dengan Kimberly.
^^^
Kini Fathir dan yang lainnya sudah berada di teras rumah dengan Kimberly yang diapit oleh keempat kakak laki-lakinya. Dan di hadapan mereka berdiri seorang laki-laki yang terlihat masih muda. Usia pemuda itu bisa dibilang seusia dengan Uggy kakak kedua Kimberly.
"Siapa kamu? Kenapa kamu ingin bertemu dengan adik perempuanku?" tanya Jason dengan menatap intens pemuda itu.
"Maafkan saya jika saya lancang datang kemari dan ingin bertemu dengan nona Kimberly. Saya bersumpah demi Tuhan. Kedatangan saya kemari diutus oleh tuan saya untuk menemui nona Kimberly."
"Kenapa tuan kamu tidak ikut sekalian? Dan kenapa harus mengutus kamu untuk datang kemari?" tanya Uggy.
"Tuan saya tidak bisa datang langsung karena beliau dirawat di rumah sakit. Kedatangan saya kemari karena beliau meminta saya untuk menemui nona Kimberly."
Kimberly menatap lekat wajah pemuda yang ada di hadapannya itu. Sejak tadi Kimberly terus menatap wajah pemuda itu. Di dalam hati Kimberly mengatakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan pemuda itu, namun Kimberly lupa.
"Wajah kamu seperti tak asing bagiku. Aku pernah bertemu dengan kamu. Tapi aku lupa," ucap Kimberly tiba-tiba.
Mendengar perkataan dari Kimberly seketika Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan langsung melihat kearah Kimberly.
"Kim," ucap Jason, Uggy, Enda dan Riyan bersamaan.
"Iya, kak! Aku seperti pernah bertemu dengan pemuda itu. Tapi aku tidak tahu dimana," ucap Kimberly.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat pemuda itu tersenyum. Lalu pemuda itu membantu Kimberly untuk mengingat pertemuannya dengan dirinya dan tuannya.
"Nona bertemu dengan saya dan tuan saya ketika nona tengah diganggu oleh beberapa murid-murid perempuan saat itu. Murid-murid perempuan itu menghina dan merendahkan nona. Sementara nona hanya diam saja tanpa pembalas hinaan tersebut."
Mendengar perkataan dari pemuda itu membuat Kimberly berusaha mengingat kejadian tersebut dimana dirinya pernah dibully oleh teman-teman SMP nya dulu.
Dan detik kemudian...
Kimberly membulatkan matanya ketika dirinya sudah mengetahui kejadian itu. Saat kejadian itu, sebuah mobil berhenti di sampingnya. Setelah itu, keluar seorang laki-laki tua dari dalam mobil tersebut.
Flashback On
"Kalian masih remaja dan juga masih sekolah. Apa seperti ini pergaulan kalian? Kalian menghina teman kalian sendiri dengan sangat kejam. Apa ini yang diajarkan oleh orang tua dan guru-guru kalian?"
Laki-laki tua itu menatap salah satu murid perempuan yang sejak tadi dihina hanya diam. Laki-laki tua itu tersenyum lalu mengusap lembut kepalanya.
"Kamu kenapa diam? Kenapa kamu tidak balas ketika mereka menghina kamu dan juga merendahkan kamu?"
"Aku diam karena aku ingin memberikan kesempatan untuk mereka tuan. Jika nanti kesempatan mereka sudah habis. Barulah aku akan menunjukkan jati diriku yang sebenarnya di hadapan mereka semua. Dan jika hal itu terjadi, maka hidup mereka semua akan hancur. Begitu juga dengan seluruh anggota keluarga mereka!"
Mendengar jawaban dari murid perempuan tersebut membuat laki-laki tua itu dan juga tangan kanannya terkejut. Keduanya menatap wajah murid tersebut lebih tepatnya kearah tatapan matanya murid perempuan itu. Dapat mereka lihat ada kemarahan di tatapan matanya tersebut.
"Hari ini mereka boleh bersikap sombong dan aku juga memberikan izin kepada mereka untuk membully. Tapi setelah ini, barulah giliranku."
Murid perempuan itu menatap wajah laki-laki tua itu lalu beralih menatap wajah pemuda yang berdiri di samping laki-laki tua itu.
"Terima kasih tuan telah datang dan membelaku."
Laki-laki tua itu tersenyum. "Siapa namamu, Nak?"
"Kimberly."
"Nama yang bagus. Apa hanya Kimberly? Tidak ada nama margakah di belakang namamu?"
"Tidak. Hanya Kimberly."
Mendengar jawaban dari Kimberly membuat laki-laki tua itu tersenyum. Begitu juga dengan tangan kanannya.
"Kalau tuan sendiri siapa?"
"Jangan panggil tuan. Panggil saya kakek Aldez."
"Em... Baiklah. Aku akan memanggil anda dengan sebutan kakek Aldez."
Flashback Off
"Kamu utusan dari kakek Aldez kan?!" tanya Kimberly.
Pemuda itu seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Kimberly. Dirinya bahagia akhirnya nona yang ditemuinya telah ingat tentang dirinya dan tuannya.
"Iya, nona. Saya utusan dari tuan Aldez."
"Memangnya kakek Aldez kenapa? Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?"
"Ceritanya panjang. Yang jelas kakek Aldez masuk rumah sakit karena tertekan. Dan semua itu karena ulah dari salah satu cucunya."
Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan menatap kearah Kimberly. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka ingin tahu siapa itu kakek Aldez.
"Sayang!"
"Kim!"
Mendengar seruan dari kedua orang tuanya dan keempat kakak laki-lakinya. Kimberly langsung menatap kearah kedua orang tuanya dan keempat kakak laki-lakinya.
"Kakek Aldez itu orang yang pernah aku cerita sama Daddy, Mommy, kak Jason, kak Uggy, kak Enda dan kak Iyan waktu itu. Kan waktu itu aku pernah cerita bahwa teman-teman SMP aku menghina aku dan merendahkan aku ketika pulang sekolah. Kejadian itu di sebuah halte. Kakek Aldez itu bantuin aku membalas teman-teman SMP aku itu."
Mendengar penjelasan dari Kimberly membuat Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan langsung paham.
"Nona, bisakah ikut dengan saya ke rumah sakit?"
"Saya akan datang ke rumah sakit menjenguk kakek Aldez. Tapi aku perginya bersama salah satu kakak laki-lakiku. Tidak apakan?" ucap dan tanya Kimberly.
"Tidak masalah nona. Sama siapa nona mau pergi itu tidak masalah. Saya bahagia sekali nona mau datang ke rumah sakit untuk menjenguk tuan."
"Ya, sudah! Katakan kepada kakek Aldez. Aku akan datang sekitar pukul 5 sore," ucap Kimberly.
"Baiklah nona. Tuan di rawat di rumah sakit Persada. Tuan berada di ruang VVIP lantai dua."
"Baiklah."
Setelah itu, pemuda itu pun pamit kepada Kimberly dan anggota keluarganya. Pemuda itu akan langsung menemui tuannya dan memberikan kabar bahagia ini kepada tuannya.