
Kimberly saat ini berada di kelas. Dirinya tidak sendirian. Melainkan bersama keempat sahabatnya
Flashback On
Kimberly bersama Aryan sedang berada di sebuah mall. Aryan mengajak Kimberly ke Mall untuk membelikan sesuatu untuk kekasihnya.
Aryan ingin memberikan hadiah special untuk kekasihnya karena dua hari lagi kekasihnya itu berulang tahun
Saat ini Kimberly dan Aryan berada di toko berlian. Kimberly menyarankan Aryan untuk membelikan kalung berlian dengan liontin huruf AV.
Ketika Aryan tengah melihat-lihat dan memilih-milih kalung berlian. Kimberly seketika mengalihkan perhatiannya menatap keluar toko perhiasan hanya melihat para pengunjung lalu lalang.
Namun seketika kedua matanya membulat sempurna ketika melihat sosok yang dia kenal tengah berpelukan dengan seorang laki-laki. Bahkan laki-laki itu dengan mesranya mencium pipi wanita di sampingnya.
"Aryan," panggil Kimberly.
Aryan yang dipanggil langsung melihat kearah Kimberly yang Kimberly tengah menatap keluar toko.
"Aryan. Itu bukannya Vanny ya, pacar lo?!" tanya Kimberly sembari menunjuk kearah sepasang laki-laki dan perempuan yang berjalan bergandengan tangan sembari tertawa bahagia.
Aryan melihat kearah dimana arah pandangan Kimberly. Dan detik kemudian, Aryan membelalakkan matanya tak percaya ketika melihat kekasihnya bersama laki-laki lain.
Yang membuat Aryan lebih terkejut lagi adalah kekasihnya begitu mesra dengan laki-laki itu. Bahkan laki-laki itu dengan beraninya mencium bibir kekasihnya di depan umum.
Aryan mengepalkan kuat kedua tangannya ketika melihat adegan menjijikkan tersebut.
"Dasar perempuan hina tidak tahu diri," batin Kimberly.
Kimberly mendekati Aryan
Setelah itu, Kimberly menarik tangan Aryan untuk pergi meninggalkan Mall. Kimberly bermaksud untuk membawa Aryan pulang.
Flashback Off
Seketika air mata Kimberly jatuh membasahi wajahnya ketika mengingat kejadian dimana perempuan yang begitu dicintai oleh sepupunya jalan dengan laki-laki lain. Bahkan yang lebih parahnya lagi, kedua pasangan itu melakukan hal menjijikkan di depan umum yaitu berciuman.
"Sudah ya. Jangan nangis lagi, oke?" Catherine berucap lembut sembari menghapus air mata Kimberly.
"Apa gue salah berbicara seperti kepada Aryan?"
Mendengar pertanyaan dari Kimberly membuat hati mereka merasakan kesedihan.
Catherine mengusap lembut punggung tangan Kimberly. Catherine tahu bahwa sahabatnya ini tengah merasakan kesedihan dan juga rasa bersalah.
"Kalau aku boleh jujur. Nggak ada yang salah disini. Baik lo maupun Aryan. Lo bersikap seperti ini karena rasa sayang lo terhadap Aryan. Sementara Aryan, mungkin dia masih syok mengetahui kenyataan bahwa Vanny menduakan dia."
"Intinya adalah Aryan masih bingung akan hubungannya dengan Vanny," ucap Rere.
"Bisa juga Aryan ingin menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri. Kita kan nggak ada yang tahu rencana Aryan apa," ujar Santy.
"Gue sayang sama Aryan. Gue sayang sama semua saudara-saudari. Gue nggak rela jika ada orang lain nyakitin mereka," ucap Kimberly dengan berlinang air mata.
Kimberly menatap wajah keempat sahabatnya dengan tatapan sedih. "Re, San, Sin, Cat! Apa salah kakak-kakak gue? Kenapa mereka tega nyakitin kakak-kakak gue dengan mengkhianati cinta tulus mereka? Kemarin kak Zivan, lalu kak Iyan. Dan sekarang Aryan. Besok siapa lagi yang jadi korbannya... Hiks," tanya Kimberly disela isakannya.
Grep..
Catherine menarik tubuh Kimberly dan membawanya ke pelukannya. Hati Catherine merasakan kesedihan mendalam mendengar rentetan pertanyaan dan isakan dari Kimberly. Begitu juga dengan Rere, Santy dan Sinthia. Mereka semua menangis ketika melihat kondisi Kimberly saat ini.
Bagaimana dengan teman-teman sekelasnya? Mereka juga ikut merasakan kesedihan Kimberly. Bahkan mereka semua kecuali Syafina dan para kelompoknya bangga terhadap Kimberly yang peduli kepada saudara-saudaranya. Apalagi saudara laki-lakinya. Mereka semua bahkan berusaha untuk menjadi seperti Kimberly yang menyayangi serta peduli terhadap saudara-saudaranya.
Tanpa Kimberly dan keempat sahabatnya ketahui. Aryan, Billy, Triny dan sahabat-sahabatnya mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly dan keempat sahabatnya. Mereka menangis. Bahkan yang lebih menangis diantara mereka adalah Aryan.
Setelah beberapa menit memeluk tubuh Kimberly. Catherine pun melepaskan pelukannya. Catherine tersenyum melihat wajah basah sahabatnya itu.
Catherine kemudian menghapus air mata Kimberly sembari tersenyum. "Nah! Sudah cantik sekarang. Tadi wajah kamu jelek banget," ucap Catherine sembari menjahili Kimberly.
"Apaan sih. Aku tetap cantik walau aku nangis," sahut Kimberly dengan memanyunkan bibirnya.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Catherine, Rere, Santy dan Sinthia. tersenyum. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
Sementara untuk Aryan, Tommy, Billy, Triny dan para sahabatnya yang masih berada di depan kelas Kimberly juga ikut tersenyum ketika mendengar ucapan dari Kimberly.
"Udah tenang sekarang?" tanya Santy.
"Sedikit," jawab Kimberly.
"Kok cuma sedikit?" tanya Sinthia.
"Karena perut aku lapar. Jika kalian belikan aku makanan dan minuman kesukaan aku, maka rasa sedih aku bakal hilang seratus persen." Kimberly menjawab pertanyaan dari Sinthia dengan disertai senyuman manisnya.
"Kamu mau makan apa?"
Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bertanya secara bersamaan kepada Kimberly.
Mendengar pertanyaan kompak dari keempat sahabatnya. Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly.
Ketika Kimberly hendak menjawab pertanyaan dari keempat sahabatnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.
Kimberly langsung mengambil ponselnya yang ada di saku Almamater. Kimberly melihat nama 'Daddy' di layar ponselnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi. Kimberly langsung menjawab panggilan dari Daddy nya itu.
"Hallo, Dad!"
"Oh, dari om Fathir!" batin Rere, Santy, Sinthia, dan Catherine bersamaan.
"Daddy menelpon Kimberly. Ada apa?" batin Aryan, Billy dan Triny.
"Kamu dimana sayang?"
"Aish, Daddy! Pertanyaan Daddy itu nggak bermutu banget. Sudah jelas sekarang ini aku ada di sekolah. Kenapa Daddy bertanya aku dimana."
"Hehehehe."
Kimberly merengut kesal ketika mendengar kekehan dari ayahnya di seberang telepon.
"Oke, oke! Daddy ralat pertanyaan Daddy barusan. Sekarang jawab Daddy. Apa kamu bertengkar sama Aryan?"
Deg...
Seketika Kimberly membulatkan matanya ketika mendengar pertanyaan dari ayahnya itu. Dirinya tidak menyangka jika ayahnya itu langsung tahu permasalahan dirinya dengan Aryan.
"Kimberly!"
Mendengar panggilan dari ayahnya di seberang telepon membuat Kimberly sadar.
"Ach, iya! Aku masih disini dan nggak kemana-mana."
"Jawab pertanyaan Daddy barusan!"
"Daddy tahu dari mana? Apa Billy dan Triny yang beritahu Daddy. Atau dia yang ngadu sama Daddy?"
"Kimberly Aldama!"
Mendengar perkataan tegas dan penuh penekanan dari ayahnya membuat Kimberly menelan ludah secara kasar.
"Iya."
Mendengar jawaban singkat dari putrinya membuat Fathir hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Apalagi mendengar nada bicara putrinya itu.
"Beberapa menit yang lalu Daddy menyuruh kepercayaan Daddy untuk datang ke sekolah kamu."
"Apa?!
Seketika Kimberly berteriak karena terkejut ketika mendengar ucapan dari ayahnya.
Mendengar teriakan dari Kimberly membuat semua orang terkejut. Termasuk ayahnya, kekasihnya, keempat sahabatnya, ketiga sepupunya dan para sahabatnya. Serta teman-teman sekelasnya.
"Daddy lagi bercanda kan?"
"Daddy serius Kimberly."
"Terus pelajaran aku, bagaimana?"
"Kamu tidak perlu khawatir masalah itu. Daddy sudah menghubungi kepala sekolah kamu dan meminta izin padanya."
"Aish! Daddy benar-benar menyebalkan. Nggak jadi deh makan gratis dari keempat sahabat-sahabat aku."
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Fathir tersenyum dan geleng-geleng kepala di seberang telepon. Begitu juga dengan keempat sahabatnya, kekasihnya, ketiga sepupunya dan para sahabat-sahabatnya.
"Kamu bisa menagihnya besok. Untuk saat ini, Daddy yang akan memberikan makanan dan minuman gratis ketika kamu sudah tiba di kantor Daddy."
"Yey! Itu jelas bedalah."
"Dari mana bedanya. Kan Daddy membelikan semua makanan dan minuman itu untuk kamu. Sementara kamu tinggal menghabiskannya saja. Tidak bayar lagi."
"Yak, Dad! Aku ini putrimu. Bagaimana bisa Daddy berbicara seperti itu padaku. Lagian itu sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban Daddy sebagai seorang ayah."
Mendengar perkataan kesal dari putrinya membuat Fathir seketika melotot. Dirinya tidak menyangka jika putrinya akan membalas perkataannya dengan mengatakan hal itu.
Namun detik kemudian, terukir senyuman di bibir Fathir. Dirinya tersenyum geli ketika mendengar ucapan dari putrinya itu.