THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Wajah Pasrah Triny



Tak jauh beda dengan keempat sahabatnya, kekasihnya, ketiga sepupunya dan para sahabatnya. Mereka juga tersenyum geli ketika mendengar ucapan dari Kimberly. Apalagi ketika melihat wajah kesal Kimberly.


"Ya, sudah! Sekarang kamu beres-beres semua buku-buku pelajaran kamu. Kemungkinan sebentar lagi orang kepercayaan Daddy sampai."


"Dad."


"Iya, ada apa?"


"Daddy belum kasih tahu aku."


"Kasih tahu apa?"


"Masalah aku dan Aryan?"


"Apa? Daddy Fathir tahu Kimberly dan Aryan bertengkar," batin Billy dan Triny.


"Dari mana Daddy tahu kalau aku dan Kimberly bertengkar," batin Aryan.


"Kamu tidak melupakan siapa Daddy kamu ini kan?"


"Iya, aku tahu siapa Daddy!"


"Good!"


"Berarti kak Uggy juga tahu masalah ini."


"Kamu sudah tahu jawabannya sayang."


"Aish! Kalau aku boleh tahu, Daddy dan keempat putra-putra tampan Daddy itu memiliki mata berapa sih? Kok cepat sekali nyebarnya?"


"Tidak terhitung. Sudah jangan bertanya lagi. Sekarang siap-siap saja. Sebentar lagi orang kepercayaan Daddy sampai."


"Baiklah Yang Mulia Raja."


Fathir tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari putrinya di seberang telepon. Begitu juga yang lainnya.


Setelah selesai berbicara dengan ayahnya. Kimberly mematikan panggilannya dan kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku Almamater kembali.


"Ada apa?" tanya Santy.


"Om Fathir ngomong apa?" tanya Sinthia.


"Daddy menghubungi kepala sekolah dan meminta izin agar aku pulang awal. Dan sebentar lagi orang kepercayaan Daddy sampai menjemputku."


"Menjemput kamu? Memangnya mau kemana?"


"Ke kantor Daddy."


"Jadi maksud kamu. Orang kepercayaan om Fathir datang kesini buat jemput kamu dan membawa kamu ke perusahaan?"


"Seperti itulah yang Daddy katakan kepadaku."


Setelah Kimberly selesai memberes-bereskan buku-bukunya. Kimberly langsung berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan keempat sahabatnya.


Kimberly keluar meninggalkan kelas, diikuti oleh keempat sahabatnya.


Sesampainya di luar kelas. Kimberly terkejut ketika melihat kekasihnya, ketiga sepupunya dan para sahabat-sahabatnya.


"Kalian ngapain disini? Oh, jadi kalian sejak tadi menguping ya!" ucap Kimberly sembari menunjuk satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya dengan jari telunjuknya.


Sementara orang-orang yang menjadi tersangka hanya memperlihatkan cengiran khasnya masing-masing.


"CK! Tidak ada akhlak."


Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung pergi meninggalkan semua yang kini menatap dirinya.


"Kim, tunggu!" Mereka semua menyusul Kimberly.


^^^


Kini Kimberly dan yang lainnya sudah berada di depan sekolah. Mereka semua masih penasaran alasan Fathir yang meminta Kimberly untuk ke perusahaan.


Baik Billy, Triny maupun Aryan. Ini adalah untuk pertama kalinya Kimberly menginjakkan kakinya ke perusahaan ayahnya. Selama ini Kimberly tidak pernah kesana, walau sudah beribu cara ayahnya itu membujuknya.


Mereka tahu bahwa Kimberly paling susah kalau diajak untuk pergi ke Perusahaan. Terakhir kali Kimberly menginjakkan kakinya ke perusahaan ayahnya dan ke perusahaan ketiga kakak laki-lakinya kecuali Jason ketika usia Kimberly 7 tahun.


Setelah Kimberly dewasa dan menjadi gadis yang cantik. Kimberly tidak pernah lagi menginjakkan kakinya ke perusahaan ayahnya dan ke perusahaan ketiga kakaknya.


Beda dengan perusahaan kakak sulungnya. Ntah bagaimana cara kakak sulungnya itu membujuknya sehingga membuat Kimberly sering mendatangi perusahaan kakaknya itu. Bahkan semua karyawan disana menyukai Kimberly. Apalagi mengetahui sifat baik dan sifat ramah Kimberly.


"Kim," panggil Triny.


Sementara Triny yang mendapatkan reaksi yang kurang bagus hanya bisa menghela nafas pasrahnya sembari tangannya mengusap-usap dada.


Sedangkan Andhika, Tommy, Billy, Aryan dan yang lainnya tersenyum melihat wajah pasrah Triny.


"Sabar sayang," ucap Andhika.


"Ini aku lagi mencobanya," jawab Triny. Andhika seketika tersenyum.


"Kok gitu jawabnya. Aku kan nggak salah. Kenapa diajak ribut juga," ucap Triny.


Kimberly melihat sekilas kearah Triny yang saat ini tengah menatap dirinya. Setelah itu, Kimberly kembali menatap ke depan.


"Memang kamu nggak salah. Hanya saja kamu sekarang ini tengah memihak sama musuh aku," jawab Kimberly yang memang terang-terangan menyindir Aryan yang berdiri tak jauh dari Triny dan Billy.


Mendengar jawaban dari Kimberly. Lagi-lagi membuat Triny hanya bisa mengurut dadanya. Dan pada akhirnya, Triny memilih untuk tidak bertanya lagi. Dirinya sudah tahu bahwa ujung-ujungnya dirinya akan mendapatkan jawaban yang tak memuaskan dari Kimberly.


Bagaimana dengan yang lainnya, seperti Billy dan Aryan? Mereka memilih untuk diam. Mereka tidak ingin bernasib sama seperti Triny yang mendapatkan jawaban yang tak mengenakkan dari Kimberly.


Sesekali Kimberly melirik kearah Tommy yang saat ini tengah senyam-senyum sembari menatap dirinya.


Bugh...


"Akkhh!" Tommy sedikit meringis akibat pukulan siku dari Kimberly.


"Yak, Yang! Kenapa memukul perutku?" tanya Tommy sembari mengusap-usap perutnya.


"Kamu ngapain senyam-senyum gitu? Kamu ngejek aku ya?"


"Siapa yang ngejek kamu? Aku nggak ngejek kamu kok."


"Terus itu tadi ngapain?"


Tommy seketika tersenyum. Lalu kemudian tangannya bergetar untuk menyentuh pipi Kimberly. Setelah itu, tangannya itu mengusap-usap lembut pipi Kimberly.


"Aku benaran nggak ngejek kamu. Aku senyam-senyum tadi itu karena aku melihat wajah kamu yang imut, cantik dan juga gemesin. Apalagi ketika melihat bibir kamu yang manyun ketika sedang kesal. Itu bertambah menjadi berkali lipat gemesnya."


"Alah. Dasar tukang gombal."


Tommy tersenyum mendengar perkataan dari Kimberly. Begitu juga dengan yang lainnya.


Kimberly menatap kearah keempat sahabatnya. "Re, San, Sin, Cat! Jika nanti kalian sedang kesal sama pacar-pacar kalian. Kalian jangan langsung luluh ketika mereka merayu kalian. Kalian terlebih dahulu harus buat mereka mengabulkan keinginan kalian. Setelah puas, baru kalian mesra-mesraan lagi!"


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Henry, Lionel dan Satya membelalakkan matanya. Tak terkecuali dengan Billy.


Bagaimana dengan Rere, Santy, Sinthia dan Catherine? Mereka berempat secara bersamaan menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan persyaratan dari Kimberly dan disertai acungan kedua jempolnya di udara.


Ketika Henry hendak melayangkan aksi protesnya, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang sekolah. Setelah itu, keluarlah seorang laki-laki di dalam mobil tersebut.


Laki-laki itu berlahan menghampiri anak dari Bos nya yaitu Kimberly.


"Nona, mari ikut saya. Saya disuruh untuk menjemput nona oleh tuan Fathir untuk membawa nona ke perusahaan."


Kimberly tersenyum. "Baik, Paman!"


Kimberly menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya.


"Aku pergi ya."


Setelah itu, Kimberly melangkah menuju mobil yang ada di hadapannya. Sementara laki-laki itu sudah berlari membukakan pintu untuknya.


"Aku bisa sendiri, Paman!"


"Saya tahu nona. Tapi ini sudah pekerjaan saya. Jadi biarkan saya melakukannya."


"Ach, baiklah!"


Setelah itu, laki-laki itu membukakan pintu mobil untuk Kimberly. Dan Kimberly langsung masuk ke dalam mobil itu.


Sementara Billy, Triny, Aryan, Tommy, Andhika dan yang lainnya tersenyum bangga akan sifat ramah dan sopan Kimberly.


Kimberly berstatus anak majikan, tapi Kimberly tidak menunjukkan bahwa dia seorang majikan. Bahkan Kimberly memanggil orang kepercayaan ayahnya itu dengan sebutan Paman.


"Kamu benar-benar gadis yang berhati baik, sayang! Aku makin jatuh cinta padamu. Bukan hanya pada parasmu, tapi akhlakmu juga. Cintaku semakin besar untukmu," batin Tommy tersenyum.


"Paman, hati-hati bawa mobilnya!" ucap Billy.


"Baik, tuan Billy!"


Setelah itu, orang kepercayaan ayahnya Kimberly pergi meninggalkan lokasi sekolah untuk menuju perusahaan milik tuannya.