
Billy, Triny dan Aryan saat ini tengah melangkahkan kakinya menuju kelas Molly dan Sheela. Setelah mendapatkan informasi dari Kimberly mengenai orang yang sudah mengacak-acak ruang OSIS, ketiganya memutuskan mencari Molly dan Sheela lalu memberikan pelajaran untuk keduanya.
Namun seketika langkah kaki Billy terhenti karena ponsel miliknya berbunyi. Tangannya kemudian masuk ke dalam saku celananya dan mengambil ponselnya.
Setelah mendapatkan ponselnya, Billy melihat ada satu pesan WhatsApp dari Kimberly. Billy membuka lalu membacanya.
FROM : Kimberly
Maaf aku lupa kasih tahu. Jika ingin mencari dua kuntilanak itu. Saat ini keduanya ada di rumah pohon belakang sekolah. Mereka akan bolos sampai jam pulang.
Seketika kedua mata Billy membelalak sempurna ketika selesai membaca pesan dari Kimberly. Dan tanpa sadar mulutnya mengumpat kesal. Dirinya kesal akan ulah Kimberly.
"Dasar siluman kelinci sialan."
Triny dan Aryan saling lirik lalu saling memberikan tatapan bingungnya. Kemudian keduanya menatap kearah Billy dan bertanya.
"Ada apa?" tanya Triny.
"Ini baca."
Billy tidak langsung menjawab pertanyaan dari Triny. Justru Billy memberikan ponselnya kepada Triny.
Triny mengambil ponsel milik Billy lalu membaca pesan yang tertera di layar ponsel milik Billy. Begitu juga dengan Aryan.
Dan detik kemudian..
"Kimberly sialan!" teriak kesal Triny dan Aryan.
"Nah! Kalian aja kesalkan?" tanya Billy. "Apalagi aku," lanjut Billy.
"Benar-benar tuh anak. Niat banget ngerjain kita," ucap Triny.
"Coba dari tadi dia kasih tahu kita. Kita akan langsung saja ke belakang sekolah. Nggak perlu susah-susah ke kelas untuk nyari dua kuntilanak itu," ucap Aryan yang kesal akan sikap jahil Kimberly.
"Jangan-jangan anak kelinci menyebalkan itu memang sengaja bungkam dan tidak ngasih tahu kita dimana keberadaan dua kuntilanak itu ketika di kantin?" tanya Triny sembari menatap wajah Aryan dan Billy.
"Bisa jadi," jawab Billy dan Aryan bersamaan.
"Ya, sudah! Ayo kita ke belakang sekolah. Aku sudah tidak sabar untuk memberikan pelajaran untuk kedua kuntilanak itu," ucap Triny.
Setelah itu, mereka pun berbalik putar arah untuk menuju rumah pohon yang ada di belakang sekolah.
***
Tommy bersama dengan Andhika serta sahabat-sahabatnya kecuali Billy berada di lapangan. Mereka memilih duduk disana sambil ngadem menjernihkan otak yang sudah terkuras mengikuti pelajaran fisika dan matematika.
Ketika mereka tengah asyik mengobrol disana, Ivan tak sengaja melihat Billy bersama dengan Aryan dan Triny melangkah menuju belakang sekolah.
"Hei! Itu Billy, Aryan dan Triny mau ngapain ke belakang sekolah?!" seru Ivan sembari jari telunjuknya menunjuk kearah Billy, Aryan dan Triny.
Mendengar seruan Ivan. Tommy, Andhika dan yang lainnya langsung melihat kearah tunjuk Ivan. Dan benar tiga kakak adik sepupu itu melangkah menuju belakang sekolah.
"Kita susul mereka!" ucap Andhika mantap.
Setelah itu, Andhika, Tommy dan sahabat-sahabatnya langsung pergi meninggalkan lapangan untuk menyusul Billy, Aryan dan Triny. Mereka semua penasaran akan Billy, Triny dan Aryan. Mereka ingin tahu apa yang dilakukan oleh ketiganya di belakang sekolah.
***
Di sebuah pertokoan yang menjual aneka pakaian laki-laki terlihat seorang gadis cantik tengah melihat-lihat dan memilih dua baju untuk dia hadiahkan kepada kekasihnya.
Setelah melihat-lihat dan memilih-milih beberapa baju. Gadis itu akhirnya mendapatkan apa yang menjadi kesukaan kekasihnya.
Setelah selesai, gadis cantik itu melangkah menuju kasir dengan membawa empat baju.
Ya! Pada akhirnya gadis cantik itu membeli empat baju karena semuanya terlihat bagus jika kekasihnya memakainya.
Ketika kaki gadis itu sedikit lagi sampai di depan kasir, tiba-tiba datang seseorang dengan seenaknya menarik paksa tas berisi pakaian yang akan dibayar oleh gadis itu.
"Hei, itu punyaku!" seru gadis itu yang berusaha menjangkau tas miliknya.
Namun usahanya gagal karena gadis di hadapannya begitu lincah menghindari tas miliknya itu.
"Siapa kamu? Kembalikan tas saya," ucap gadis itu lembut.
Gadis yang merebut tas milik gadis di depannya itu tersenyum menyeringai. Tanpa diketahui oleh gadis itu, gadis yang merebut paksa tasnya memasukkan sesuatu di dalam tas tersebut.
"Kembalikan tas saya!" teriak gadis itu lagi.
"Hei, nona! Kembalikan tas gadis itu. Kenapa nona mengambilnya?" tanya seorang pengunjung.
"Maaf nyonya. Bukan maksud saya ingin mengambil milik gadis itu. Tapi gadis itu telah mencuri milik saya. Dan barangnya ada disini," jawab gadis tersebut dengan menatap tak suka kepada gadis di hadapannya.
Gadis jahat itu berjalan menghampiri beberapa pengunjung lalu memperlihatkan isi dalam tas itu. Salah satu pengunjung mengeluarkan satu persatu barang yang ada di dalam tas itu. Dan pengunjung itu menemukan dompet di dalam tas tersebut.
Setelah itu, pengunjung itu bertanya kepada gadis pemilik tas tersebut.
"Maaf nona. Apa ini dompet nona?"
Gadis itu melihat kearah dompet yang dipegang oleh seorang wanita paruh baya. Seketika itu, gadis itu pun langsung menggelengkan kepalanya.
"Bukan. Itu bukan dompet saya."
"Tapi dompet ini ditemukan di dalam tas ini. Dan tas ini milik nona kan?"
"Iya. Itu tas milik saya. Dan isi tas itu hanya baju laki-laki. Ada 4 baju di dalam tas itu. Tidak ada yang lain."
Mendengar jawaban dari gadis itu membuat pengunjung wanita itu membenarkan kalau memang ada empat baju laki-laki.
"Tapi dompet ini saya temukan di dalam tas ini. Apa nona mencurinya?"
"Sebelum saya menjawab pertanyaan dari Nyonya. Kasih tahu saya satu alasan untuk mencuri di toko ini. Apalagi toko ini adalah toko langganan saya. Saya berlangganan di toko ini sudah tiga tahun lamanya. Kalau Nyonya tidak percaya. Silahkan nyonya atau kalian bertanya kepada semua karyawan toko ini."
Mendengar ucapan demi ucapan dari gadis di depannya membuat wanita paruh baya itu terdiam. Begitu juga pengunjung lain. Apalagi dengan gadis jahat itu. Gadis jahat itu tidak habis pikir jika gadis pemilik tas tersebut bisa berkata seperti itu dengan wajah santainya. Bahkan tidak ada rasa takut sama sekali.
"Ada apa ini?!" seseorang datang dengan lima karyawannya.
Setelah berada di dekat kerumunan, tiba-tiba mata orang itu melihat kearah gadis tersebut.
"Nona Ashilla. Anda datang lagi kesini. Kali ini mau membeli apa?" tanya seorang gadis cantik kepada gadis yang jadi pusat perhatian hanya karena sebuah dompet.
Yah! Gadis yang tasnya di tarik paksa oleh seorang gadis adalah Ashilla Armando kekasih dari Zivan Fidelyo.
"Maaf nona. Nona kenal?" tanya salah satu pengunjung wanita lainnya.
"Tentu saya kenal. Bahkan semua karyawan dan karyawati disini kenal sama nona Ashilla. Nona Ashilla ini adalah pelanggan tetap sekaligus pelanggan khusus kami disini. Nona Ashilla ini selalu membeli banyak pakaian bermerek di tempat kami ini. Bahkan nona Ashilla tidak pernah menerima uang kembalian dari kami walau kami sudah memaksanya."
Mendengar jawaban dari sang pemilik toko pakaian ini membuat semua pengunjung terkejut. Di dalam hati para pengunjung berkata bahwa apa yang dikatakan oleh Ashilla kalau toko ini adalah toko langganannya. Dan sudah banyak beli baju di toko tidak bohong.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa ribut-ribut di toko saya?"
"Begini nona. Nona itu," ucap wanita yang pertama sembari menunjuk kearah gadis jahat.
Pemilik toko dan para karyawannya langsung melihat kearah gadis jahat itu. Setelah itu kembali menatap wajah wanita paruh baya itu.
"Kenapa?"
"Nona itu mengatakan bahwa nona yang berdiri di samping anda itu telah mencuri sebuah dompet. Dan ini dompetnya."
"Boleh saya lihat nyonya?" tanya wanita si pemilik toko.
"Oh, tentu!" wanita paruh baya itu langsung memberikan dompet tersebut kepada si pemilik toko.
Wanita si pemilik toko itu kemudian membuka dompet tersebut. Tangannya membuka satu resleting dompet yang diyakini tempat menyimpan kartu.
Setelah terbuka, wanita itu mengambil kartu pengenal.
"Kalina Martavia!" wanita itu membaca nama lengkap yang tertera di kartu nama tersebut dengan keras.
Setelah itu, wanita itu menatap kearah gadis jahat tersebut. Tatapan matanya menatap curiga gadis tersebut.
"Ini dompet anda bukan, nona?! Wajah anda sama persis di kartu pengenal ini."
Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari si pemilik toko membuat semua pengunjung langsung melihat kearah gadis yang bernama Kalina Martavia.
"Oh! Saya mengerti sekarang!" seru seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri Ashilla.
"Hallo kak Ashilla."
Ashilla seketika terkejut ketika mendengar namanya dipanggil lengkap dengan kata kakak didepan namanya.
"Kak Ricky!"