THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Ketakutan Kimberly



"Mommy, Daddy!"


Mereka semua langsung melihat kearah Kimberly dengan senyuman manis di bibir masing-masing.


"Ini Mommy sayang," ucap Nashita sembari mengusap punggung tangan terbebas infus Kimberly.


"Daddy juga disini sayang," ucap Fathir.


Nashita dan Fathir secara bersamaan mengusap lembut kepala putrinya dan secara bersamaan juga keduanya memberikan ciuman di keningnya.


Berlahan Kimberly membuka kedua matanya. Kimberly mengerjab-ngerjab matanya menyesuaikan cahaya lampu.


Melihat Kimberly yang membuka kedua matanya membuat Nashita, Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum bahagia. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka menatap Kimberly dengan senyuman kebahagiaan.


"Mommy," ucap Kimberly dan seketika air matanya menetes membasahi sudut matanya.


"Ada apa, hum?" tanya Nashita sembari menghapus air mata putrinya.


"Mom, aku takut."


Mendengar ucapan sekaligus lirihan dari Kimberly membuat hati mereka sakit. Mereka semua mengepalkan kuat tangannya.


"Apa yang kamu takutkan, hum?" tanya Nashita yang tangannya masih bermain-main di kepala putrinya.


"Dia... Dia...!"


Kimberly seketika menatap sekitarnya untuk mencari orang yang sudah menyakitinya.


Melihat gerak-gerik Kimberly yang tengah mencari seseorang membuat mereka semua menatap khawatir dan juga takut. Terutama Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda, dan Riyan. Begitu juga dengan anggota keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo yang lainnya.


Ketakutan mereka adalah mereka takut jika trauma masa lalu Kimberly muncul kembali. Trauma yang mana Kimberly yang diculik, disekap bahkan disiksa oleh sang penculik.


"Sayang, apa yang kamu cari?" tanya Nashita yang sudah menangis melihat putrinya.


"Mommy dia ada disini. Dia ngikutin aku. Dia juga yang sudah buat aku seperti ini," ucap Kimberly dengan kembali menangis.


"Orang yang kamu cari itu tidak ada disini sayang. Kamu aman sekarang. Dia yang kamu maksud itu tidak akan menyakiti kamu lagi," ucap Nashita yang berusaha meyakinkan putrinya.


"Mommy... Mommy!"


"Tenanglah sayang!"


Nashita langsung memeluk tubuh putrinya. Dirinya benar-benar tidak kuat melihat kondisi putrinya saat ini.


Jason menyentuh bahu ibunya yang saat ini tengah memeluk tubuh adik perempuannya. Dirinya bermaksud ingin menghibur adik perempuannya itu.


Nashita yang merasakan sentuhan di bahunya seketika melihat ke belakang. Dan dapat Nashita lihat bahwa putra sulungnya ingin memeluk adik perempuannya.


Nashita yang mengerti langsung melepaskan pelukannya dan berpindah posisi berdiri di samping suaminya.


Kini Jason sudah berdiri di samping adiknya. Tangannya kemudian menggenggam tangan terbebas infus adik perempuannya.


"Kim, ini kakak Jason! Coba deh lihat kakak," ucap Jason yang berharap adiknya itu mau menatap wajahnya.


Dan benar saja. Kimberly langsung melihat ke samping dimana kakak tertuanya berdiri sembari tersenyum padanya.


"Ka-kakak... Hiks," ucap Kimberly sembari terisak.


Jason menduduki pantatnya untuk duduk di kursi yang ada di dekatnya dengan tangan masih menggenggam tangan adik perempuannya.


"Mau cerita sama kakak, hum? Ceritakan semua yang kamu alami satu hari ini di sekolah," ucap dan tanya Jason dengan tangan kirinya membelai kepalanya.


"Perempuan itu... Hiks," ucap Kimberly terisak.


"Perempuan siapa? Apa yang dilakukan perempuan itu?"


"Dia... Dia suruhan orang itu. Perempuan itu bilang padaku kalau orang itu berada di sekitar sekolah. Orang itu bisa melihatku. Apapun yang aku lakukan, orang itu mengetahuinya. Perempuan itu juga bilang padaku kalau orang itu akan mendapatkan aku dengan cara apapun. Sekali pun banyak yang menjaga dan melindungi. Orang itu tidak peduli. Bahkan... Hiks... Orang itu akan membunuh siapa pun yang berusaha melindungi aku."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly membuat Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan marah. Begitu juga dengan Rafassya, Helena, Clarita, Ammar, Nirvan, Liana dan anak-anak mereka. Mereka semua benar-benar marah dan dendam saat ini.


Bagaimana dengan keluarga Alexander? Keluarga itu jangan ditanya lagi bagaimana perasaan mereka saat ini. Sama seperti anggota keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo. Seluruh keluarga besar Alexander tampak marah ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly.


"Dimana perempuan itu sekarang?" tanya Jason.


Mendengar pertanyaan dari kakaknya seketika Kimberly mengalihkan tatapan matanya menatap ke atas. Tatapan matanya seketika berubah tajam.


Flashback On


"Siapa kau?"


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas tujuanku masuk ke sekolah ini adalah untuk membawamu pergi."


Mendengar perkataan dari perempuan yang berdiri di depannya membuat Kimberly seketika tersenyum.


"Tidak semudah itu kau bisa membawaku pergi dari sini. Kau hanya perempuan tua dan lemah. Bahkan kau sendirian saat ini. Beberapa menit yang lalu anak buah dari Bosmu itu sudah kalah terlebih dahulu dariku dan orang-orang yang menjagaku ketika hendak membawaku pergi dari sini. Sekarang kau dengan bangganya ingin membawaku. Yang benar saja!"


Mendengar perkataan serta tatapan remeh dari gadis di depannya membuat perempuan itu mengepalkan tangannya. Dirinya tidak menyangka jika gadis di depannya ini tidak takut sama sekali padanya.


Saat ini Kimberly dan perempuan tersebut berada di belakang sekolah. Lokasi Kimberly dan perempuan itu jarang dikunjungi oleh para murid-murid. Maka dari itulah kenapa Billy serta yang lainnya tidak mencari Kimberly sampai ke belakang sekolah. Lokasi tersebut berada di bagian Utara.


Sementara taman bunga di belakang sekolah yang sering disebut-sebut oleh Kimberly, keempat sahabatnya dan semua murid-murid berada di bagian timur. Jadi mereka hanya mencari Kimberly disana.


Kimberly sampai di belakang sekolah itu karena pada awalnya Kimberly tidak mengetahui akal bulus dari perempuan itu.


Detik kemudian, Kimberly mulai curiga ketika melihat gerak-gerik dari perempuan itu yang menurut Kimberly begitu mencurigakan.


Kimberly hanya diam dan tidak menunjukkan bahwa dirinya takut atau berniat untuk melarikan diri. Justru Kimberly ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu kepada dirinya. Dari situlah Kimberly akan mengetahui dalang sebenarnya.


Mendengar perkataan yang menurutnya begitu kejam dan merendahkan dari Kimberly membuat perempuan itu menatap tajam Kimberly.


"Lebih baik kau pergi dari sini. Jangan lagi kau mengusikku apalagi mencoba-coba untuk membawa aku pergi karena itu tidak akan pernah terjadi.


Setelah mengatakan itu, Kimberly pergi meninggalkan perempuan tersebut sendirian. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan dan teriakan dari perempuan itu.


"Kau tidak akan bisa kemana-mana. Kau tidak akan bisa kabur. Aku tidak akan selamat. Dan kau tidak akan bisa melawan Bosku!"


Seketika Kimberly langsung membalikkan badannya. Setelah itu, Kimberly menatap tajam kearah perempuan itu.


"Bosku akan mendapatkanmu dengan cara apapun. Bosku mengetahui apa saja yang kau lakukan di sekolah ini. Bosku tahu akan gerak-gerikmu. Kau dalam pengawasan dari Bosku. Bosku ada di sekitar sekolah ini. Bosku akan membunuh semua orang yang melindungimu. Dia tidak peduli berapa banyak yang menjaga dan melindungimu."


"Coba saja kalau Bosmu itu bisa melakukannya. Suruh Bosmu itu keluar dan hadapi aku dan juga orang-orangku," ucap Kimberly dengan menatap wajah perempuan itu dengan penuh tantangan.


"Satu kata untuk Bosmu itu. Pengecut!"


"Brengsek! Beraninya kau menghina Bosku!" teriak perempuan itu.


Setelah mengatakan itu, perempuan itu berteriak memanggil orang-orangnya. Dan detik kemudian, keluarlah sekitar 40 laki-laki berpakaian hitam lengkap dengan senjata di tangan masing-masing.


"Serang gadis itu. Buat gadis itu tidak bisa melawan lagi sehingga kita bisa membawanya."


"Baik!"


Dan setelah itu, terjadilah perkelahian tak seimbang dimana Kimberly yang harus melawan 40 laki-laki berpakaian hitam termasuk satu perempuan.


Melihat bagaimana Kimberly menghajar orang-orangnya membuat perempuan itu terkejut. Perempuan itu tidak menyangka jika gadis yang akan dia bawa memiliki ilmu bela diri yang sangat luar biasa.


Disisi lain, lokasi yang sama dimana Deryl dan beberapa anggotanya juga tengah bertarung melawan orang-orang yang dibawa oleh perempuan tersebut. Orang-orang itu menyerang Deryl dan anggotanya ketika hendak menyusul Kimberly.


Deryl yang memang selalu mengawasi Kimberly. Dan selalu tahu permasalahan yang dihadapi Kimberly sehingga membuat Deryl dan para anggotanya dengan mudah membantu Kimberly.


Tak butuh lama, Deryl dan anggotanya berhasil menghabisi semua orang-orang yang menghalangi jalannya.


Setelah dipastikan semua musuh-musuhnya sudah tidak bernyawa lagi. Deryl dan anggotanya pergi menyelamatkan Kimberly.


Deryl seketika membelalakkan matanya ketika melihat Kimberly yang bertarung sendirian.


"Sial," umpat Deryl.


Deryl berlari menghajar ke 40 laki-laki berpakaian hitam itu. Begitu juga dengan para anggotanya.


"Nona!" Deryl berteriak memanggil Kimberly.


Kimberly seketika tersenyum ketika melihat kedatangan Deryl dan para anggotanya.


"Nona tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa, kak!"


"Masih sanggup melawan mereka semua?"


"Menurut kakak?"


Deryl tersenyum mendengar jawaban dari Kimberly dan setelah itu, keduanya pun kembali menghajar laki-laki berpakaian hitam itu.


Ketika Kimberly, Deryl dan para anggotanya fokus dengan lawan masing-masing. Tanpa diketahui oleh Kimberly, perempuan yang hendak membawa Kimberly pergi kini memegang sebuah balik yang cukup besar.


Perempuan itu berlahan berjalan mendekati Kimberly dengan balok kayu itu mengarah kearah Kimberly.


Dan detik kemudian..


Bugh..


"Aakkhhh!" teriak Kimberly merasakan sakit bagian bahu kanannya.


"Nona!" teriak Deryl ketika mendengar teriakan kesakitan dari Kimberly.


"Fokus saja pada lawanmu, kak! Jangan lengah!" teriak Kimberly


Setelah itu, Kimberly membalikkan badannya dan melihat perempuan yang tersenyum menyeringai menatap dirinya. Dan jangan lupa balok kayu yang ada di tangan perempuan itu.


"Kalau mau menyerang orang itu dari depan. Bukan dari belakang." Kimberly berucap dengan menatap penuh amarah.


Seketika tatapan matanya berubah memerah kala matanya masih menatap perempuan itu.


Melihat perubahan manik mata Kimberly membuat perempuan itu seketika melangkah mundur.


Kimberly tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat ketakutan di wajah perempuan itu. Kakinya kemudian melangkah mendekati perempuan itu.


Perempuan itu seketika melayangkan kayu balok itu ke hadapan Kimberly. Dan dengan gerakan cepat Kimberly langsung menahan tangan menggunakan tangan kirinya.


Detik kemudian...


Srett..


"Aakkhhh!" teriak perempuan itu merasakan sakit di lehernya.


Yah! Kimberly mencekik kuat leher perempuan itu sehingga membuat perempuan itu tidak bisa bernafas.


"Kau sudah salah mencari lawan, nyonya! Aku sudah memberikan kesempatan hidup untukmu. Namun kau mengabaikannya.


"Aakkhhh!" perempuan itu kembali berteriak merasakan tangan Kimberly makin mencekik kuat lehernya.


"Le-pas-kan aku," ucap perempuan itu dengan terbata-bata.


"Hahahaha." seketika Kimberly tertawa keras. "Apa kau bilang? Melepaskanmu? Bukankah kau sendiri yang mencari masalah denganku. Bahkan aku sudah berbaik hati untuk tidak meladenimu. Tapi kau masih saja sok berani dan sok kuat melawanku," ucap Kimberly.


"Dikarenakan kamu sudah menyakitiku dengan memukul bahuku dengan kayu balok itu, maka terimalah hukuman dariku." Kimberly berucap dengan menatap penuh amarah perempuan itu.


Kimberly menguatkan cekikikan di leher perempuan itu. Dan detik kemudian, Kimberly melempar tubuh perempuan itu kearah dimana ada sebuah tiang besi di samping kirinya.


Bugh..


Gedebug..


Bruk..


Tubuh perempuan itu menghantam tiang besi itu dengan sangat kuat lalu tersungkur di tanah dengan memuntahkan cairan segar dari mulutnya. Detik kemudian, perempuan itu mati seketika.


Kimberly yang melihat itu seketika tersenyum manis. "Selamat tidur sayangku," ucap Kimberly.


"Aakkhhh!" Kimberly kembali berteriak ketika merasakan ngilu di bagian bahu kanannya.


"Mom, Dad, Kakak!"


Dan seketika tubuh Kimberly terjatuh di tanah.


Bruk..


"Nona!"


Flashback Off


"Kim," panggil Jason dengan tangannya mengusap lembut kepala adiknya.


"Ka-kakak... Hiks," isak Kimberly.


"Katakan sayang. Apa yang terjadi?"


"Perempuan itu... Perempuan itu mati. Aku membunuhnya," jawab Kimberly dengan berlinang air mata.


"Hiks... Kakak, aku membunuhnya!"


Grep..


Jason langsung memeluk tubuh adiknya. Dirinya benar-benar tidak kuat melihat ketakutan adiknya ketika mengingat tentang perempuan tersebut.


Seketika tangis Kimberly pecah di pelukan kakaknya. Kimberly menangis begitu kencang.


"Hiks... Kakak... Kakak. Aku takut... Aku takut... Hiks."


Tangisannya begitu menyayat hati kedua orang tuanya, kekasihnya, keempat kakaknya, Paman dan Bibinya, para sepupunya dan semua orang yang ada di dalam ruang rawatnya.


Jason menangis ketika mendengar ucapan dan ketakutan adik perempuannya. Dirinya terus mengucapkan kata-kata penenang untuk adik perempuannya.


"Kakak disini. Kakak tidak akan kemana-mana. Sekarang kamu sudah aman. Kakak janji bahwa orang-orang itu tidak akan pernah menyentuh kamu lagi. Apalagi sampai menyakiti kamu."