THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Perasaan Lega Tommy



Di kediaman Alexander terlihat anggota keluarga telah berkumpul di meja makan untuk melaksanakan sarapan pagi bersama.


"Tommy," panggil Arya.


"Iya, Kak!" Tommy melihat kearah kakaknya.


"Kakak dengar dari Dhika. Katanya kamu mencekik leher perempuan menjijikkan itu di depan teman-teman sekolahmu?"


"Iya," jawab Tommy disela makannya.


"Berarti...," perkataan Arya terpotong.


"Iya. Semuanya sudah tahu alasan aku mutusin Kimberly. Termasuk Kimberly."


"Bagaimana reaksi Kimberly, sayang?" tanya Andrean.


"Syok, Pi! Kimberly menangis ketika mendengar semua kebenarannya. Tapi...," seketika raut wajah Tommy berubah sedih.


Andrean, Lusiana, Arka, Sovia, Salsa dan Tama menjadi tidak tega melihat wajah sedih Tommy.


"Tapi apa sayang? Katakan sama Mami dan kita semua," ucap dan tanya Lusiana.


"Kimberly kecewa dan marah sama aku, Mi! Kimberly gak mau balik lagi padaku." Tommy seketika menangis. Dirinya benar-benar tidak ingin kehilangan Kimberly.


Lusiana langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri putra ketiganya itu.


GREP!


Lusiana memeluk putra ketiganya dari belakang. Dan tak lupa Lusiana memberikan kecupan sayang di kepala putranya.


"Hiks... Mami aku tidak mau pisah sama Kimberly. Aku tidak mau kehilangan Kimberly, Mi! Aku benar-benar cinta sama Kimberly... Hiks," isak Tommy.


Hati mereka semua sakit ketika mendengar isakan yang keluar dari mulutnya.


"Mami yakin kalau Kimberly itu sangat mencintai kamu. Mami juga sangat yakin jika Kimberly tidak ingin pisah dari kamu apalagi kehilangan kamu. Percayalah!"


"Tapi aku benar-benar takut, Mi! Aku takut kehilangan Kimberly. Ini semua kesalahanku. Aku terlalu cepat mengambil keputusan saat itu. Seharusnya saat Gracia mengancamku. Aku langsung menceritakannya kepada Kimberly. Dengan begitu aku dan Kimberly bisa memikirkannya bersama-sama. Dikarenakan aku terlalu takut kalau Gracia sampai nekat melukai Kimberly. Akhirnya aku pun mengambil keputusan itu. Aku mutusin Kimberly dan menyatakan Gracia sebagai kekasihku didepan Kimberly."


Lusiana makin mengeratkan pelukannya. Dan berusaha memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk putrany. Lusiana sangat tahu jika putranya saat ini benar-benar ketakutan akan kehilangan orang yang begitu dicintainya.


"Mami tahu tidak, disaat Gracia mengatakan padaku kalau aku tidak menuruti kemauannya. Maka Gracia akan mencelakai Kimberly. Mendengar Gracia bilang gitu. Aku benar-benar takut Mi. Dan kejadian dimana Kimberly yang ditabrak oleh Talitha saat itu langsung berputar-putar di kepalaku. Aku tidak mau hal itu terulang lagi. Apalagi Kimberly baru sembuh dari kecelakaan. Kimberly juga baru masuk sekolah. Ditambah lagi Kimberly baru bisa jalan normal lagi setelah istirahat beberapa hari di rumah. Itulah alasanku kenapa aku langsung mengambil keputusan itu untuk melindungi Kimberly."


"Semuanya akan baik-baik saja, oke! Mami yakin Kimberly gak akan pergi kemana-mana. Kimberly akan selalu di hati kamu. Begitu juga kamu di hatinya Kimberly."


"Papi setuju yang dikatakan Mami kamu. Semuanya akan baik-baik saja. Mungkin saat ini Kimberly hanya butuh waktu untuk menerima semua. Papi juga yakin dan percaya. Kimberly tidak akan pergi meninggalkan kamu."


Setelah melihat putranya sudah sedikit tenang. Lusiana melepaskan pelukannya. Dan setelah itu, tangannya mengusap lembut kepalanya.


Lusiana kembai ke tempat duduknya setelah memastikan putranya sudah dalam keadaan baik-baik saja.


"Oh iya. Kalau Papi boleh tahu. Apa alasan kamu mencekik Gracia?"


"Gracia menyerang Kimberly dan juga menampar Kimberly," jawab Tommy.


"Apa?"


Mereka semua terkejut apa yang mereka dengar.


"Benar begitu kak? Perempuan gila itu menampar kak Kimberly?" tanya Tama.


"Iya, Tama!"


"Apa yang terjadi? Kenapa perempuan sinting itu berani menyerang Kimberly dan menampar Kimberly?" tanya Sovia, kakak kedua Tommy.


"Gracia marah karena Kimberly masih mendekatiku dan menuduh Kimberly ingin merebutku dari dia."


"Yeeey! Gak salah tuh dia. Bukankah dia yang ngerebut kamu dari Kimberly," ucap Salsa sewot.


"Sebenarnya ini semua rencanaku," sahut Tommy.


Mereka semua terkejut sembari menatap wajah Tommy.


"Rencana? Maksud kamu apa Tommy?" tanya Arya.


"Aku membayar seseorang. Aku menyuruh orang itu untuk mengarang cerita didepan Gracia. Aku...," ucapan Tommy terpotong.


"Orang itu mengatakan kepada Gracia bahwa Kimberly masih dekatin kamu dan berniat untuk merebut kamu lagi. Begitu?" ucap dan tanya Arya.


"Iya, Kak! Aku melakukan hal ini karena aku sudah tidak kuat dan sudah tidak tahan harus berpura-pura mencintai Gracia. Hatiku benar-benar hancur dan sakit, Kak! Bukan karena aku mutusin Kimberly sehingga membuat Kimberly sedih dan terluka. Tapi aku sendiri yang memang sama sekali tidak mencintai Gracia. Hatiku hanya untuk Kimberly."


"Ditambah lagi Gracia yang menepati janjinya untuk tidak menyakiti dan mengusik Kimberly. Hal itu membuatku benar-benar tertekan. Makanya untuk mengakhiri semua sandiwara ini. Aku membayar seseorang dan menyuruh orang itu menghasut Gracia dengan memfitnah Kimberly. Dari situlah aku pun bertindak dan mengakhiri semuanya. Rencanaku berhasil. Aku akhirnya terbebas dari wanita sialan itu."


"Tapi Tommy...,"


Tommy melihat wajah kakak keduanya yaitu Sovia. "Tapi kenapa kak?"


"Bagaimana kalau Gracia balas dendam padamu dan juga Kimberly. Dan bagaimana jika Gracia nekat melakukan hal buruk terhadap Kimberly seperti Talitha?"


"Kakak gak perlu khawatir. Masalah Gracia sudah diurus oleh Billy dan Aryan. Mereka sudah menceritakan masalah ancaman Gracia yang akan menyakiti Kimberly kepada keempat kakak-kakaknya Kimberly. Dan aku sangat yakin jika keempat kakak-kakaknya Kimberly sudah mulai bertindak untuk melindungi adik mereka."


Mendengar jawaban dari Tommy membuat mereka semua bisa bernafas lega. Mereka semua tidak ingin terjadi sesuatu dengan Kimberly.


Ketika Tommy dan keluarganya tengah sarapan sambil membahas masalah Gracia, tiba-tiba ponsel milik Tommy berbunyi. Tommy yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambil ponselnya di dalam saku celananya.


Setelah ponselnya ada di tangannya. Tommy melihat nama 'Kak Jason' di layar ponselnya. Tanpa membuang waktu lagi. Tommy langsung menjawabnya.


"Hallo, kak Jason!"


Mendengar Tommy menyebut nama Jason membuat Andrean, Lusiana dan yang lainnya menjadi penasaran.


"Hallo, Tommy. Kamu dimana?"


"Aku di rumah kak. Sebentar lagi aku mau berangkat ke sekolah. Ada apa kak?"


"Begini. Kakak dan anggota keluarga kakak sudah mendapatkan tentang kecurangan yang dilakukan oleh keluarga Gracia Aditya. Bukan itu saja, keluarga dari pihak ibunya juga. Sebagai senjata buat kamu untuk melawan Gracia. Kakak akan kirim kekamu sedikit informasinya."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Tommy ketika mendengar apa yang disampaikan oleh Jason padanya.


Andrean, Lusiana dan saudara-saudaranya makin penasaran dibuatnya. Mereka yakin jika Tommy mendapatkan kabar bahagia dari Jason.


"Apa itu kak?" tanya Tommy.


"Nanti akan kakak kirim ke email kamu. Kakak sudah dapat email kamu dari Billy. Kamu bisa gunakan itu untuk melawan Gracia jika Gracia berulah lagi."


DEG!


Tommy terkejut mendengar ucapan dari Jason yang mengatakan 'jika berulah lagi'.


Sementara Jason di seberang telepon langsung mengerti keterdiama Tommy.


"Kakak sudah tahu masalah di sekolah kemarin. Kamu membayar seseorang untuk menghasut Gracia dan memfitnah Kimberly didepan Gracia. Kakak gak marah sama kamu. Justru kakak salut sama kamu. Kamu melakukan hal itu hanya ingin terbebas dari Gracia, tapi sedikit mengorbankan Kimberly sehingga Kimberly menjadi korban tamparan dari Gracia. Tapi semua itu langsung kamu bayar dengan membalas menampar balik Gracia ditambah dengan bonus kamu mencekik leher Gracia."


"Jadi kakak...,"


"Iya. Kakak juga sudah tahu alasan kamu mutusin Kimberly. Jadi kamu jangan merasa bersalah, oke! Kamu adalah laki-laki yang terbaik. Kamu pantas untuk adiknya kakak. Masalah Kimberly. Kamu jangan khawatir. Kimberly juga mencintai kamu. Kimberly sangat mencintai kamu. Masalah Arlo. Kamu juga gak perlu khawatir. Mereka tidak ada hubungan apa. Kedekatan Arlo dengan Kimberly sama seperti hubungan persaudaraan kami dan hubungan persaudaraan Kimberly dengan Billy, Aryan dan Triny. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap Kimberly jika hatinya lagi tidak baik."


Mendengar perkataan dari Jason membuat Tommy sedikit lega ketika Jason menceritakan kedekatan Arlo dengan Kimberly.


"Baik, Kak! Terima kasih untuk semuanya."


"Sama-sama. Sekarang giliran kamu untuk memperbaiki hubungan kamu dengan Kimberly. Rebut kembali hatinya."


"Siap kak. Pasti!"


"Semangat berjuang."


"Siap kak."


Baik Tommy maupun Jason sama-sama mematikan panggilannya. Setelah itu, Tommy memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Apa yang dikatakan Jason padamu Tommy?" tanya Arya.


"Kak Jason sudah mendapatkan satu kelemahan Gracia. Bukan untuk Gracia saja. Tapi untuk anggota keluarganya juga," jawab Tommy.


"Wah! Benarkah Kak?" tanya Tama dengan penuh semangat.


"Seperti itulah yang dikatakan oleh Kak Jason. Bahkan kak Jason juga bilang dengan kelemahan itu aku bisa melawan Gracia."


"Bagus kalau begitu. Papi ikut senang mendengarnya."


"Terus apalagi yang dikatakan kak Jason, Tommy?" tanya Salsa.


"Masalah Arlo yang dekat dengan Kimberly. Kak Jason bilang tidak ada hubungan apa-apa  antara Kimberly dan Arlo."


"Arlo!" seru mereka semua.


"Siapa Arlo, sayang?" tanya Lusiana.


"Arlo itu laki-laki yang selalu dekatin Kimberly. Bahkan selalu anterin Kimberly pulang. Semenjak kejadian itu. Arlo masuk dan berusaha mendekati Kimberly."


Mereka semua tersenyum. Dapat mereka lihat wajah marah dan cemburu Tommy.


"Kamu cemburu ya sama si Arlo itu, hum!" ledek Salsa.


"Ya jelas cemburu lah. Siapa juga yang senang lihat kekasihnya sama laki-laki lain," jawab Tommy.


"Kekasih? Bukannya kamu sama Kimberly sudah gak punya hubungan apa-apa lagi. Jadi biarkan saja Kimberly sama Arlo. Ngapain juga kamu cemburu," ucap Sovia menjahili adiknya.


"Kakaaakkk!"


"Hahahahaha." Sovia tertawa.