
Di kediaman Fathir Aldama terlihat ramai dimana adik-adiknya Nashita tengah berkunjung disana. Mereka mengobrol dan bersenda gurau.
Sementara untuk Kimberly masih diluar dan belum pulang. Dan mereka semua sudah tahu alasan Kimberly pulang terlambat.
"Riyan," panggil Ammar.
"Yah, ayah!" jawab Riyan.
"Bagaimana perkembangan penyelidikan kamu terhadap Aruna dan keluarganya?" tanya Ammar.
"Semuanya sudah aku dapatkan. Tinggal menunggu momen itu saja," jawab Riyan.
Mendengar jawaban yang memuaskan dari Riyan membuat Ammar tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
Ketika mereka semua sedang asyik mengobrol sembari membahas masalah yang menimpa keluarga mereka, tiba-tiba Uggy dikejutkan dengan bunyi ponselnya.
Mendengar bunyi ponselnya, Uggy pun langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah berada di tangan, Uggy melihat nama tangan kanannya yang bekerja mengawasi adik perempuannya di layar ponselnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Uggy langsung menjawab panggilan tersebut. Dirinya meyakini bahwa terjadi sesuatu terhadap adik perempuannya dan juga calon kakak iparnya.
"Hallo, Deryl."
Mendengar Uggy menyebut nama Deryl membuat Fathir, Nashita, Jason, Enda, Riyan dan anggota keluarga lainnya seketika menatap dirinya. Dan pikiran-pikiran mereka seketika tertuju kepada Kimberly dan Rica.
"Hallo, Bos! Perempuan itu dan kekasihnya sudah berani menyakiti nona Kimberly dan nona Rica."
"Apa yang dilakukan oleh kedua manusia menjijikkan itu terhadap adik perempuanku dan kak Rica?"
Mendengar perkataan Uggy membuat Nashita, Fathir dan semuanya mulai ketakutan. Mereka saat ini mengkhawatirkan Kimberly dan Rica.
"Aku tidak bisa menjelaskan secara langsung di telepon, Bos! Lebih baik Bos dan keluarga Bos segera ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit, aku akan perlihatkan rekaman kejadian itu."
"Baiklah."
Setelah itu, Uggy langsung mematikan panggilannya. Uggy memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya sembari matanya menatap semua anggota keluarganya.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Kimberly dan kak Rica di rumah sakit," ucap Uggy.
Deg!
Mereka semua terkejut ketika mendengar perkataan dari Uggy yang mengatakan bahwa Kimberly dan Rica ada di rumah sakit.
"Sayang, putri kita." Nashita berucap lirih sembari menggenggam tangan suaminya.
"Tenang, oke!" hibur Fathir sembari memberikan pelukan kepada istrinya.
"Ayo!" seru Jason.
Dan mereka semua pun pergi meninggalkan kediaman untuk menuju rumah sakit.
***
"Nona, ini minum dulu." Deryl memberikan air mineral kepada Rica.
Rica sejak tadi tak hentinya menangis. Kejadian di mall beberapa menit yang lalu masih berputar-putar di kepalanya.
Flashback On
"Kim-kimberly," ucap Aruna gugup.
"Kau sudah melewati batasanmu, kak Aruna! Kau mengkhianati kakakku, kau membohonginya selama ini. Kau mendekati kakakku hanya untuk menaikkan statusmu dan keluargamu. Bahkan kau menipu kakakku dengan mengatakan bahwa anggota keluargamu dalam masalah keuangan atau dalam keadaan sakit. Dengan begitu kakakku akan membantumu dengan memberikanmu uang. Setelah mendapatkan uang itu, uang itu kau gunakan untuk foya-foya bersama dengan kekasihmu dan keluarga besarmu!" bentak Kimberly dengan menatap amarah kearah Aruna.
"Kau sebenarnya berada di kota Munich. Bukan berada di London. Kau mengatakan kepada kakakku ingin menyelesaikan kuliah di London. Padahal kau berada di Munich bersama kekasihmu itu. Kekasihmu terlebih dahulu kembali ke kota Hamburg. Sementara kau akan kembali tiga bulan lagi. Dikarenakan rasa rindumu kepada kekasihmu itu, kau pun memutuskan untuk kembali ke kota Hamburg dengan alibi kau merindukan kakakku!"
Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly membuat Aruna terkejut. Dirinya tidak menyangka jika semua kebohongannya terbongkar.
"Aku sudah memberikan peringatan kepadamu ketika kau datang rumahku. Asal kau tahu. Pada saat itu aku memberikan kesempatan kedua padamu untuk tulus mencintai kakakku. Namun ternyata kau justru menyia-nyiakan kesempatan tersebut."
Kimberly menatap tajam *kearah Aruna. "Menjauhlah dari kakakku. Jangan lagi kau menampakkan wajah busukmu itu di hadapan kakakku. Jika kau tidak ingin terjadi sesuatu terhadapmu dan keluarga besarmu. Menjauhlah dari keluargaku, terutama kakakku!"
Setelah mengatakan itu, Kimberly pergi meninggalkan mall tersebut dengan menggandeng tangan calon kakak iparnya.
Namun tanpa Kimberly dan juga Rica ketahui. Bethran kekasih dari Aruna tiba-tiba mengambil vas bunga yang terpajang di meja sebelah kasir.
Setelah mendapatkan vas bunga itu, Bethran berlari menuju kearah Kimberly dan langsung memukul vas bunga itu kepala Kimberly. Dan detik ini juga sosok Kimmy mengambil alih tubuh Kimberly.
"Kimberly!" teriak Rica.
Kimberly membalikkan badannya dan menatap penuh amarah kearah Bethran. Seketika Bethran ketakutan ketika melihat tatapan mata Kimberly yang berwarna merah.
Kimberly melangkah maju. Sedangkan Bethran melangkah mundur. Saat ini dirinya benar-benar ketakutan.
"Karena kau sudah berani menyakiti Kimberly. Maka kau harus membayarnya dengan nyawamu."
Kimberly langsung mencekik leher Bethran dengan kuat sehingga membuat Bethran kesulitan untuk bernafas.
Melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly membuat semua pengunjung yang sejak tadi menonton kejadian itu seketika menjerit ketakutan.
"Ahhh... Aahhh... Aahhh!"
Bethran bernafas putus-putus karena sosok yang ada di dalam tubuh Kimberly mencekik begitu kuat leher Bethran*.
"Kim-kimberly, aku mohon. Lepaskan Bethran. Jangan bunuh dia," mohon Aruna dengan menatap takut Kimberly.
"Kau tidak perlu memohon kepadaku. Karena setelah laki-laki ini mati, baru giliranmu."
Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Aruna makin ketakutan. Dirinya tidak menyangka jika Kimberly bisa menjadi kejam seperti saat ini.
Setelah puas mencekik leher Bethran, sosok Kimmy langsung melempar tubuh Bethran sehingga tubuh Bethran menghantam tiang dengan sangat kuat sehingga membuat Bethran tak sadarkan diri seketika*.
Ketika sosok Kimmy melangkah mendekati Aruna. Rica langsung berlari dan menghalangi Kimberly.
"Hiks... Kim, kakak mohon. Hentikan! Jangan dilanjutkan."
Dan detik kemudian Kimberly berhasil mengambil alih tubuhnya. Dan tatapan matanya langsung menatap wajah calon kakak iparnya berdiri di hadapannya.
"Kak Rica."
Bruk!
Setelah mengatakan itu, tubuh Kimberly langsung ambruk. Rica dengan gesit langsung menahan tubuh Kimberly agar tidak jatuh di lantai.
"Kimberly."
"Nona!"
Deryl dan sepuluh anak buahnya berlari menghampiri Kimberly dan Rica. Deryl langsung menggendong tubuh Kimberly.
"Nona Rica, ayo kita ke rumah sakit!"
Flashback Off
"Kim... hiks," Isak Rica.
Rica benar-benar takut saat ini. Dirinya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Kimberly.
"Rica!"
Terdengar deru langkah kaki beberapa orang menuju kearah Rica sembari salah satu dari orang-orang itu memanggil nama Rica. Orang yang memanggil Rica itu adalah Jason.
Jason langsung duduk di samping Rica. Dan setelah itu, Jason menarik pelan tubuh Rica dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Hiks... Jason... Hiks... Maafkan aku. Aku lalai melindungi Kimberly ketika pergi bersamaku," ucap Rica disela isakannya.
Mendengar perkataan dan juga isakan dari Rica membuat hati Jason sakit. Jason tahu jika saat ini kekasihnya pasti menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi terhadap adik perempuannya.
"Tenang, oke! Semoga Kimberly baik-baik saja," hibur Jason.
Uggy menatap kearah Deryl tangan kanannya yang bertugas menjaga Kimberly selama berada di luar rumah. Lebih tepatnya memberikan informasi mengenai orang-orang yang ingin berbuat jahat terhadap Kimberly.
"Ini, Bos lihat sendiri!"
Deryl memberikan ponselnya kepada Uggy. Di ponselnya itu sudah ada sebuah video.
Uggy melihat kearah layar ponsel milik Deryl. Dan beberapa detik kemudian....
"Brengsek! Perempuan itu benar-benar ingin mati," ucap Uggy dengan raut wajah yang kentara dengan amarah.
"Uggy, berikan kepada Daddy. Daddy juga ingin melihatnya!" seru Fathir.
Mendengar seruan dari ayahnya. Uggy memberikan ponsel milik Deryl kepada ayahnya.
Kini ponsel milik Deryl sudah ada di tangan Fathir. Melihat hal itu, semuanya mendekat dan ikut melihat video tersebut.
Sama halnya dengan Uggy. Mereka semua juga marah atas apa yang dilakukan oleh Aruna dan kekasihnya. Keduanya berani menyakiti Kimberly dan Rica.
"Kak Fathir. Ini tidak bisa dibiarkan. Mereka sudah berani bertindak," ucap Helena.
"Iya, kak. Kita harus membuat perhitungan dengan perempuan itu dan keluarganya," sahut Ammar.
Riyan saat ini dalam keadaan hati yang panas. Kedua tangannya mengepal kuat. Dirinya benar-benar marah atas apa yang dilakukan oleh Aruna terhadap adik perempuannya.
"Kau benar-benar keterlaluan Aruna. Kali ini aku tidak akan mengampunimu. Aku akan membalas perbuatanmu. Begitu juga dengan keluarga besarmu dan keluarga besar dari kekasihmu itu," batin Riyan.
Riyan mengambil ponselnya lalu membuka Aplikasi WhatsApp. Setelah itu, Riyan mengetik sesuatu disana.
Selesai mengirim pesan kepada seseorang. Riyan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Kemudian Riyan berdiri dari duduknya.
"Aku akan menyelesaikan masalah ini sekarang juga. Perempuan itu harus membayar perbuatannya," ucap Riyan.
Setelah mengatakan itu, Riyan pergi meninggalkan semua. Riyan pergi dalam keadaan pikiran dan hati yang panas.
"Barra, Billy Kalian ikutlah dengan Riyan," pinta Ammar kepada kedua putranya.
"Baik, ayah!"
"Rehan, Ricky. Kalian pergilah bersama Barra dan Billy," sahut Nirvan.
"Baik, Pa!"
Setelah itu, Barra dan Billy serta Rehan dan Ricky pergi menyusul Riyan.