
Talitha saat ini berada di rumahnya. Lebih tepatnya Talitha berada di kamarnya.
Talitha saat ini tengah memikirkan rencana pertama untuk menghancurkan hubungan percintaan Tommy dan Kimberly ketika bertemu dengan Clara.
Talitha sudah mantap dengan rencananya untuk menghancurkan Kimberly dan membuat Kimberly menderita.
Sejak pulang dari acara ulang tahun perusahaan Sagara. Talitha telah menghubungi seseorang untuk mencari tahu keberadaan Kimberly. Talitha berniat mengajak kerja sama Clara untuk menghancurkan Kimberly dengan merebut Tommy.
Ketika Talitha tengah memikirkan rencananya untuk menghancurkan Kimberly, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Talitha langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
Terlihat nomor telepon tak dikenal di layar ponselnya. Talitha langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, nona."
Mendengar nama laki-laki di seberang telepon. Seketika terukir senyuman manis di bibir Talitha. Dia tahu siapa laki-laki itu.
"Bagaimana?"
"Aku berhasil mendapatkan alamat dari nona Clara."
"Benarkah?"
"Iya, nona."
"Kirim kepadaku."
"Baik. Saya akan kirim melalui pesan singkat."
Setelah mengatakan itu, si penelpon langsung mematikan panggilannya.
Dan detik kemudian..
Ting!
Terdengar pesan masuk melalui ponsel Talitha.
Mendengar notifikasi masuk ke ponselnya, Talitha langsung membuka dan membacanya.
ALAMAT :
MATTHEW ADAMS
742 LYME STREET.
Mendapatkan alamat tempat tinggal Clara membuat Talitha tersenyum bahagia. Dirinya benar-benar tidak sabaran menemui Clara dan menjalankan rencananya.
***
Clara saat ini sedang duduk santai di ruang keluarga sembari berkutat dengan ponselnya.
Sementara kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya sudah berangkat ke perusahaan.
Clara ingin bekerja. Namun kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya melarangnya. Alasan mereka melarang Clara bekerja adalah mereka tidak ingin Clara kelelahan apalagi Clara masih sekolah.
Namun disebalik itu semua, kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya tidak akan melarang Clara, jika seandainya Clara itu ingin melakukan sesuatu yang berguna selama berada di rumah. Setidaknya Clara itu tidak merasa bosan.
Sejak kejadian dimana Jason dan Uggy memberikan hukuman kepada Clara dan keluarganya akibat ulah Clara yang selalu mengusik Kimberly bahkan melakukan hal menjijikan kepada Kimberly, sejak itulah kehidupan Clara dan keluarganya tak baik-baik saja. Mereka semua hancur.
Namun selalu beberapa bulan kemudian, Clara berubah menjadi gadis yang lebih baik lagi. Dia banyak melakukan hal-hal positif selama diluar rumah sehingga membuat kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya bahagia dan bangga. Dari situlah kehidupan mereka menjadi lebih baik.
Perubahan Clara terendus di telinga Jason dan Uggy. Untuk memastikan semuanya, Jason dan Uggy meminta tangan kanannya untuk terus memantau gerak-gerik Clara dan keluarganya.
Diluar dugaan, kabar yang didapat oleh Jason dan Uggy dari tangan kanannya masing-masing cukup membuat Jason dan Uggy tak percaya.
Jason dan Uggy mendapatkan informasi tentang perubahan seorang Clara yang menjadi gadis yang luar baiknya. Namun tidak bisa dipungkiri oleh Jason dan Uggy, mereka benar-benar bahagia mendengar kabar tersebut.
Clara saat ini tengah membalas komentar dari para pelanggannya.
Clara sedang berbisnis baju branded di media sosialnya. Baju-baju yang dijual oleh Clara dibuat oleh toko pakaian yang bekerja sama dengannya.
Clara membeli banyak bahan pakaian dengan jenis bahan dan warna yang berbeda. Setelah itu, Clara memberikan sekitar 200 bahan pakaian itu ke toko pakaian tersebut yang sudah bekerja sama dengannya.
Toko pakaian itu akan membuat 100 model pakaian wanita dewas dan pakaian pria dewasa yang dipadupadankan dengan manik-manik dari Clara.
Setelah semua pakaian itu selesai dibuat. Pemilik toko pakaian itu akan langsung mengantarnya ke rumah Clara.
Clara hanya membayar harga upah jahitnya saja, diluar dari bahan-bahan tersebut, karena manik-manik dan bahan-bahan pakaian itu dari Clara sendiri. Ditambah dengan ongkos pembuatannya. Clara memberikan tambahan sebesar 25% setiap pesanannya itu selesai dibuat.
Setelah semua pesanannya selesai, barulah Clara mempostingnya di media sosialnya dengan harga tak terlalu mahal dan juga tak terlalu murah. Clara hanya mengambil keuntungan 30% dari modal yang dikeluarkannya.
Ketika Clara tengah sibuk dengan dengan komentar-komentar para pelanggannya, tiba-tiba Clara dikejutkan dengan suara bell rumahnya.
Seorang pelayan berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.
"Maaf, nona!"
Clara mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya dan menatap wajah pelayannya itu.
"Iya. Ada apa, Bibi Dayu?" tanya Clara.
"Itu di depan ada tamu untuk nona."
"Tamu? Siapa?"
"Katanya namanya Talitha."
Mendengar pelayan itu menyebut nama Talitha, mantan dari Tommy kekasihnya Kimberly membuat Clara berpikir sejenak.
Dan detik kemudian...
Terukir senyuman di bibirnya. Lebih tepatnya senyuman menyeringainya.
"Aku tahu maksud kedatanganmu, Talitha." Clara berbicara didalam hatinya.
"Apa dia sudah berada di dalam? Apa masih di luar?" tanya Clara.
"Masih di luar nona."
"Baguslah kalau begitu."
"Apa perlu saya suruh masuk, nona?"
"Tidak perlu. Aku akan menemui diluar saja," jawab Clara.
"Baik, nona. Kalau begitu saya pamit ke dapur."
"Hm." Clara mengangguk.
Setelah itu, pelayan itu kembali ke dapur. Sementara Clara langsung menemui Talitha yang masih menunggu di luar.
***
Bugh..
"Aakkhhh!"
Terlihat kedua pemuda tengah bersitegang di lapangan. Yang satu mempertahankan miliknya. Dan yang satu lagi ingin merebut milik orang lain.
Kedua pemuda itu yang sedang bersitegang itu adalah Tommy dan Azka.
Tommy menatap penuh amarah kearah Azka. Begitu juga dengan Azka. Keduanya saling memberikan tatapan tajamnya masing-masing.
"Jauhi Kimberly. Jangan pernah lo dekati dia lagi," ucap Tommy dengan penuh penekanan.
"Kalau gue masih ingin terus mengejar dia, bagaimana? Secara dia gadis yang begitu cantik, manis, seksi dan... eeemmm!"
Sreekk..
Tommy menarik kerah seragam Azka dengan tatapan mata menatap tajam kearah Azka. Sementara Azka memberikan senyuman termanisnya di hadapan Tommy.
"Gue ingatkan sekali lagi. Jauhi Kimberly dan jangan coba-coba lo mendekati dia."
Setelah mengatakan itu, Tommy mendorong kuat tubuh Azka sehingga membuat tubuh Azka terhuyung ke belakang.
Tommy langsung pergi meninggalkan Azka yang masih berdiri di lapangan dengan tatapan matanya menatap punggung Tommy yang kian menjauh.
"Kita lihat saja Tommy. Gue bakal rebut Kimberly dari sisi lo. Gue bakal buat dia menjadi milik gue. Apapun yang terjadi, Kimberly harus menjadi milik gue. Gue bersumpah, Tommy!"
Setelah itu, Azka pergi meninggalkan lapangan untuk menuju kelas.
^^^
Kimberly berada di kelas bersama dengan keempat sahabatnya. Begitu juga dengan murid-murid yang lainnya. Semuanya sudah berada di dalam kelas.
"Tadi gue lihat lo digangguin sama anak IPS yang bernama Azka. Ngapain dia?" ucap dan tanya Rere.
"mana gue tahu. Tanya saja sama orangnya," jawab Kimberly bersamaan dengan mengangkat kedua bahunya.
"Kim, gue saranin. Lo hati-hati sama dia. Kayaknya dia suka sama lo dan ingin merebut dari Tommy," ucap Santy.
"Gue sepemikiran sama Santy. Jika hanya sekedar mengganggu atau bersikap usil, itu hal wajar. Tapi jika dekati lo demi merebut lo dari Tommy. Itu nggak bisa dibiarin," ucap Sinthia.
Mendengar perkataan dari Rere, Sinthia dan Santy membuat Kimberly tersenyum. Dia tahu bahwa sahabat-sahabatnya itu tengah mengkhawatirkan hubungannya dengan Tommy.
"Kalian tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Nggak akan ada yang bisa misahin aku dari Tommy. Begitu juga sebaliknya, nggak ada yang bisa misahin Tommy dari aku. Intinya harus saling percaya. Dan aku minta sama kalian untuk mempercayai pacar kalian masing-masing. Apapun yang terjadi, orang pertama yang harus kalian dengar adalah pacar-pacar kalian." Kimberly berbicara dengan menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya.
"Baik, Kim!" Rere, Santy, Sinthia dan Catherine menjawab bersamaan.