
Gracia berjalan menyusuri lapangan sekolah untuk menuju parkiran. Dirinya memutuskan untuk pulang ke rumah dan berniat untuk bolos.
Ketika Gracia tengah melangkahkan kakinya menuju parkiran, tiba-tiba beberapa orang datang menghadang jalannya sehingga membuat Gracia terkejut.
"Kak Triny," ucap Gracia gugup.
Ya! Beberapa orang yang menghadang jalannya Gracia adalah Triny bersama keempat sahabatnya dan satu sahabatnya Kimberly yaitu Rere.
Flashback On
Rere berhenti sejenak. Dirinya masih memikirkan siapa yang pantas diberitahu masalah besar ini.
"Aku harus beritahu siapa? Kimberly, kak Billy, kak Triny atau Aryan?" tanya Rere.
"Kalau seandainya aku kasih tahu Kimberly langsung. Aku takut sosok itu akan muncul dan berakhir nyawa Gracia bakal terancam. Kalau aku kasih tahu Billy dan Aryan. Mereka laki-laki, sedangkan Gracia perempuan. Nggak etis aja laki-laki bersikap kasar terhadap perempuan, walau nyatanya memang Gracia yang salah."
"Eemmm."
Rere seketika berpikir kepada siapa dirinya harus memberitahu. Setelah beberapa menit berpikir. Dan dirinya sudah mendapatkan jawabannya. Rere pun kembali melangkahkan kakinya.
^^^
Kini Rere sudah berada di depan kelas Triny. Sesampainya disana, Rere langsung memanggil Triny yang saat ini tengah mengobrol bersama keempat sahabatnya. Baik Triny maupun keempat sahabatnya memutuskan untuk di kelas saja. Mereka tidak pergi ke kantin.
Rere mengambil keputusan untuk memberitahu Triny masalah Gracia. Menurut Rere, jika Triny marah atau bahkan memukul Gracia. Setidaknya sesama perempuan.
"Kak Triny."
Triny yang mendengar namanya dipanggil langsung melihat keasal suara. Begitu juga dengan Lisa, Alisha, Dania dan Danela.
"Rere. Masuklah!" seru Triny.
Rere pun melangkahkan kakinya memasuki kelasnya Triny dan berjalan menghampiri meja Triny.
"Ada apa?" tanya Triny.
"Aku memperlihatkan sesuatu sama kakak."
"Apa? Mana?"
Rere mengeluarkan ponselnya lalu setelah itu membuka galeri dan mencari sebuah video.
Setelah mendapatkannya, Rere memperlihatkan video itu kepada Triny.
"Ini kak. Lihatlah!"
Triny mengambil ponsel milik Rere lalu melihat ke layar ponsel milik Rere. Begitu juga dengan keempat sahabatnya.
Detik kemudian...
"Brengsek! Dia benar-benar nggak ada kapok-kapoknya. Malah makin menjadi-jadi!"
"Kamu sudah kasih tahu siapa aja?" Triny.
"Baru kakak saja."
"Bagus."
Setelah itu, Triny berdiri dari duduknya sembari mengembalikan ponsel Rere. Dan diikuti oleh keempat sahabatnya.
"Apa yang kita lakukan sekarang, kak?"
"Menurut kamu?" Triny balik memberikan pertanyaan kepada Rere disertai dengan senyuman di sudut bibirnya.
Rere yang melihat senyuman itu seketika paham. Dirinya juga ingin membalas perbuatan dari Gracia.
"Kita cari dia sekarang!"
Setelah Triny mengatakan itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kelas untuk mencari keberadaan Gracia.
Flashback Off
Triny menatap Gracia dengan tatapan tajam sehingga membuat tubuh Gracia sedikit bergetar karena takut.
"Ada apa ya kak? Kenapa kakak dan yang lainnya menghalangi jalanku?" tanya Gracia berusaha untuk menghilangkan rasa takutnya.
Plak!
"Aakkhh!"
Gracia memegang pipinya yang bekas ditampar oleh Triny.
Plak!
"Aakkhh!
Triny kembali menampar pipi Gracia. Tamparan kedua tersebut di sebelah kanan.
Gracia menatap Triny tak percaya. Dirinya bingung kenapa kakak kelasnya itu menampar dirinya.
"Kenapa kakak menamparku? Apa kesalahanku pada kakak?" tanya Gracia menatap marah kearah Triny.
Plak!
Bukan jawaban yang diterima oleh Gracia, melainkan tamparan ketiga yang didapat oleh Gracia.
Triny benar-benar marah terhadap Gracia.
Beberapa siswa dan siswi yang melihat kejadian tersebut seketika berhenti. Mereka berpikir jika Gracia telah menyinggung kakak kelasnya itu atau menyinggung adik sepupunya sehingga membuat kakak kelasnya itu marah.
Dan beberapa detik kemudian, ada dua siswa dan siswi yang kebetulan keduanya adalah pasangan kekasih memutuskan untuk memberitahu kejadian itu kepada saudara sepupu dari Triny.
Jika yang siswa laki-laki berlari menuju kelasnya Billy. Sementara untuk siswa perempuan berlari menuju kantin.
^^^
Siswa laki-laki itu sudah berada di depan kelas Billy. Billy sekelas dengan Tommy, Henry, Lionel dan Satya. Sementara Andhika sekelas dengan Nathan, Ivan, Nathan, Andry dan Mirza.
"Billy," panggil siswa laki-laki itu.
Baik Billy, Tommy maupun Henry, Lionel dan Satya langsung melihat keasal suara. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
"Iya, ada apa?"
"Itu di lapangan. Triny sedang memarahi Gracia."
Mendengar jawaban dari temannya itu membuat Billy seketika terkejut. Begitu juga dengan Tommy, Henry, Lionel dan Satya.
Billy langsung berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan Tommy, Henry, Lionel, dan Satya.
Setelah itu, mereka pergi meninggalkan kelas untuk menuju lapangan.
Tommy mengirim pesan di grup dan meminta Andhika dan sahabat-sahabatnya yang lain untuk ke lapangan. Begitu juga dengan Billy. Billy mengirim pesan kepada Aryan dan meminta Aryan untuk segera ke lapangan.
^^^
Di kantin dimana Kimberly, Santy, Sinthia dan Catherine berada. Mereka menikmati makan siangnya sembari menunggu kedatangan Rere.
"Rere kemana sih? Lama banget pergi ke toiletnya," ucap Santy.
"Iya, nih! Udah 10 menit lebih loh! Ngapain dia di toilet lama-lama. Apa pacaran kali ya sama kak Henry," pungkas Sinthia.
Ketika Kimberly, Santy, Sinthia dan Catherine memikirkan Rere yang belum kembali, tiba-tiba salah satu siswa perempuan menghampiri meja yang ditempati Kimberly dan keempat sahabatnya.
"Kimberly!"
Kimberly dan keempat sahabatnya langsung kompak melihat keasal suara panggilan itu. Dapat mereka lihat seorang siswa perempuan yang menghampirinya.
"Ya."
"Itu di lapangan!"
"Di lapangan? Kenapa?" tanya Kimberly bingung.
"Kakak sepupu kamu."
"Billy atau Triny?"
"Kakak Triny."
"Kenapa? Ada apa?"
"Kak Triny lagi bersitegang dengan Gracia."
"Apa?!"
Kimberly langsung berdiri dari duduknya ketika mendengar jawaban dari temannya itu. Diikuti oleh Santy, Sinthia, dan Catherine.
Kimberly langsung berlari meninggalkan kantin untuk menuju lapangan. Disusul oleh Santy, Sinthia dan Catherine di belakang. Begitu juga dengan siswa perempuan itu.
^^^
"Kamu nggak ada kapok-kapoknya sama sekali. Sebenarnya kamu itu manusia apa sih?!" bentak Triny.
"Apa maksud kakak? Jangan seenaknya kakak berbicara seperti itu padaku!" Gracia balik membentak Triny.
"Dasar perempuan murahan, perempuan tidak tahu diri. Dan perempuan tidak bermoral sama sekali!" bentak Triny dengan keras.
"Brengsek!" teriak Gracia.
"Berani kau menyentuh adikku, maka akan aku patahkan tanganmu!"
Orang itu melangkah mendekati Triny dan yang lainnya dengan tatapan matanya menatap kearah Gracia.
"Billy!"
Orang itu adalah Billy. Billy datang bersama sahabat-sahabatnya. Dan di belakang sahabat-sahabatnya itu terlihat Aryan dan kelima sahabatnya mengikuti.
Gracia seketika menuruni tangannya. Seketika nyalinya kembali ciut ketika melihat tatapan mengerikan yang diberikan oleh Billy.
"Masalah apa lagi yang lo lakuin Gracia?" tanya Tommy menatap jijik Gracia.
"Lo nggak ada jeranya sama sekali setelah terusir dari keluarga Aditya," ucap Andhika.
"Gue nggak ngelakuin apa-apa. Perempuan ini aja yang tiba-tiba datang dan menghadang jalan gue," jawab Gracia menatap wajah Tommy lalu beralih menatap wajah Triny.
"Nggak usah nyalahin kakak gua. Nggak akan ada asap jika nggak ada api," sahut Aryan menyindir Gracia.
"Jadi lo ngebelain nih cewek, hah?!" bentak Gracia.
"Apa salahnya gue membela kakak gue sendiri? Nggak ada kan?" tanya Aryan dengan tatapan tajamnya.
Billy menatap kearah Triny yang saat ini menatap kearah Gracia. Billy tahu jika Triny tengah marah terhadap Gracia.
"Triny, ada apa? Katakan padaku kenapa kau mencari masalah dengan Gracia?" tanya Billy.
"Rere." Triny memanggil Rere tanpa mengalihkan pandangannya dari Gracia.
"Iya, kak!" jawab Rere.
"Perlihatkan video itu kepada Billy."
"Tapi kak....."
"Perlihatkan saja. Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir."
"Baik, kak!"
Setelah itu, Rere mengeluarkan ponselnya dari saku Almamater. Lalu Rere memberikan ponsel itu kepada Billy setelah menyetel video itu.
"Ini kak Billy."
Billy mengambil ponsel milik Rere. Setelah itu, Billy melihat kearah layar ponsel tersebut.
Detik kemudian...
"Gracia!" teriak kencang Billy sehingga membuat semua murid-murid mendengar teriakkan darinya.
"Lo benar-benar ya. Lo udah melewati batasanmu, Gracia!" bentak Billy.
Billy mengangkat tangannya hendak menampar wajah Gracia, namun tangan ditahan oleh seseorang dari belakang.
Baik Billy maupun yang lainnya langsung melihat kearah belakang.
"Kim!"
"Kimberly!"
Kimberly langsung menggelengkan kepalanya sembari tersenyum sehingga membuat amarah Billy seketika lenyap.
Kimberly menatap kearah Gracia. Seketika terukir senyuman di sudut bibirnya.
"Gue pikir dengan lo dan ibu lo diusir dari keluarga Aditya bisa buat lo berubah. Ternyata gue salah. Dan..." Kimberly menatap wajah Gracia dengan tatapan tak percaya.
"Lo ternyata nekat juga. Nggak nyangka gue," ucap Kimberly.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Gracia seketika tubuhnya menegang.
Sementara Triny, Billy, Aryan dan yang lainnya menatap kearah Kimberly.
"Kim, lo!" Rere berucap sembari menatap wajah sahabatnya itu.
Kimberly menatap sekilas kearah Rere. Lalu kembali menatap kearah Gracia.
"Iya. Gue tahu apa yang sudah dilakukan oleh Gracia ketika kita berada di kota Berlin kemarin."
"Kamu tahu dari mana?" tanya Triny.
"Aku menyadari setelah keluar dari restoran tempat kita makan itu. Ada sepasang mata yang sejak kedatangan kita terus menatap kearah aku."
"Kim, jadi lo juga menyadari itu?" tanya Rere.
"Hm." Kimberly berdehem sebagai jawabannya.
"Bukan itu aja. Aku mendapatkan pesan dari kak Deryl. Kak Deryl memintaku untuk berhati-hati dan waspada."
Catherine menatap kearah Rere. "Re, lo juga nyadar hal itu?"
"Iya. Saat di restoran itu gue ngelihat ada satu cowok yang tatapan matanya kearah kita. Lebih tepatnya kearah Kimberly," jawab Rere.
Mendengar jawaban dari Rere membuat mereka terkejut. Lalu mereka semua menatap marah kearah Gracia.
"Lo benar-benar menjijikkan Gracia!" bentak Catherine.
"Apa maksud lo, hah?! Jangan asal menuduh. Apa lo ada buktinya kalau orang yang lo curigai itu suruhan gue?!" bentak Gracia dengan menatap tajam kearah Kimberly.
Mendengar perkataan dan juga bentakan dari Gracia seketika membuat Kimberly tersenyum.
"Gracia, Gracia! Sudah berapa kali gue bilang sama lo. Gue tahu semuanya tentang lo dan ibu lo. Lo nggak lupakan kalau gue juga tahu siapa itu keluarga Ameera. Bahkan gue udah kasih tahu lo sebelum gue dan kita semua berangkat ke kota Berlin."
"Gue pernah bilang sama lo. Lo nggak tahu siapa gue yang sesungguhnya dan jangan ganggu gue. Tapi lo nggak mau dengarin gue. Justru lo masih saja mengganggu gue."
"Jika lo bermain licik, maka gue juga bisa bermain licik. Kelicikan gue melebihi kelicikan lo, Gracia!"
Setelah mengatakan itu, Kimberly mengambil ponselnya yang ada di saku Almamater. Ketika ponselnya sudah ada di tangannya. Kimberly menekan nomor orang yang selalu menjaga dan melindunginya.
Beberapa detik kemudian...
"Hallo, nona!"
"Hallo, kakak Deryl. Kakak ada dimana?"
"Ada di sekitar sekolah nona. Kenapa nona?"
"Suruh beberapa anak buah kakak untuk masuk kesini. Tepatnya di lapangan. Apa kakak saat ini melihatku?"
"Baik, nona! Iya, nona! Saya bisa melihat nona dan yang lainnya juga."
Setelah itu, Kimberly mematikan panggilannya.
Dan bertepatan itu, ada sekitar 4 orang laki-laki berpakaian hitam melangkah menghampiri Kimberly dan yang lainnya.
"Nona," panggil salah satunya.
Kimberly, Billy, Triny, Aryan, Tommy beserta yang lainnya langsung melihat kearah empat laki-laki berpakaian hitam itu.
"Anak buahnya kakak Deryl?" tanya Kimberly.
"Iya, nona!"
"Baiklah. Bawa wanita ini ke kantor polisi. Wanita ini telah membayar seseorang untuk mencelakaiku ketika di kota Berlin kemarin."
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Gracia terkejut. Dirinya tidak menyangka jika Kimberly mengetahui kebusukannya.
"Tidak!" teriak Gracia ketika melihat keempat laki-laki berpakaian hitam itu mendekati dirinya.
"Kimberly, lo nggak bisa begitu saja memerintah keempat laki-laki itu untuk membawa gue ke kantor polisi. Gue nggak salah. Dan lagian lo nggak punya bukti," ucap Gracia.
"Ada kok buktinya! Buktinya udah sama kak Billy!" seru Rere.
Semuanya melihat kearah Billy. Termasuk Gracia. Dan Billy langsung memperlihatkan sebuah video yang ada di ponsel milik Rere kearah Gracia. Ponsel milik Rere masih ada pada Billy.
"Ini buktinya," ucap Billy.
Gracia melihat kearah layar ponsel milik Rere. Begitu juga dengan yang lainnya, termasuk Kimberly.
Seketika Gracia terkejut dan juga syok ketika melihat video itu. Video itu adalah video dirinya yang tengah emosi karena panggilannya yang tidak dijawab oleh laki-laki suruhannya.
Melihat keterkejutan Gracia membuat mereka semua tersenyum bahagia.
"Bawa dia," perintah Aryan.
"Baik."
Setelah itu, keempat laki-laki berpakaian hitam itu langsung menyeret paksa tubuh Gracia untuk dibawa ke kantor polisi.
"Kak Billy. Untuk bukti itu langsung kirim saja kepada kak Pasya," usul Aryan.
"Memang seperti itu rencana kakak," jawab Billy.
"Lalu bagaimana dengan orang suruhan dari Gracia itu?" tanya Danela.
"Sudah ada di markas kak Uggy." Kimberly langsung menjawab pertanyaan dari Danela.
Ketika Danela hendak bertanya, tiba-tiba terdengar suara bell menandakan waktu istirahat sudah habis.