
Kimberly dan Catharine sudah berada di ruang UKS. Baik Kimberly maupun ketiga sahabatnya menatap Santy khawatir. Saat ini Santy belum sadarkan diri.
"Dok, bagaimana keadaan teman kami?" tanya Kimberly.
"Teman kalian itu baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan."
"Ach, syukurlah."
Kimberly, Rere, Sinthia dan Catharine menatap wajah Santy dengan kelegaan. Dan detik kemudian, terdengar lenguhan dari bibirnya Santy.
"Santy," ucap mereka.
Dan seketika Santy membuka kedua matanya. Ketika matanya telah terbuka sempurna. Santy melihat keempat sahabat-sahabatnya berdiri di hadapannya.
"Kimberly. Lo baik-baik ajakan?" tanya Santy dengan menatap wajah Kimberly.
"Yaelah! Yang sakit siapa. Yang dikhawatirin siapa," ledek Catharine. Sedangkan Kimberly hanya tersenyum.
"Aku baik-baik saja. Thanks ya," sahut Kimberly. "Kepala kamu bagaimana?" tanya Kimberly.
"Kepalaku gak apa-apa. Kamu gak usah khawatir," jawab Santy.
"Kamu disini aja dulu istrahat. Gak usah ikut pelajaran bahasa inggris," ujar Sinthia.
"Tapi aku..."
"Kami tidak menerima penolakan," jawab Kimberly, Rere, Sinthia dan Catharine bersamaan. Santy mengerucutkan bibirnya.
Talitha dan teman-temannya serta teman-temannya Syafina kini berada di kelas. Setengah jam lalu Vanesha, temannya Syafina telah menghubungi polisi dan mengatakan bahwa ada kekerasan di sekolah. Bahkan bukan itu saja baik Vanesha maupun yang lainnya juga menambahkan sedikit dengan mengatakan ada para murid-murid yang melakukan hubungan suami istri di sekolah.
Mendapatkan laporan tersebut. Pihak sekolah langsung mengambil tindakan dan pergi menuju ke sekolah tersebut.
"Aku sudah tidak sabaran untuk melihat Kimberly dan keempat sahabat bodohnya itu diseret paksa ke kantor polisi," ucap Aurel.
"Apalagi aku. Aku yang lebih bahagia lagi jika mereka semua masuk penjara. Hahahaha." Talitha berucap sambil tertawa.
Di lapangan terlihat banyak murid-murid sedang berkumpul disana termasuk Aryan dan kelima sahabat-sahabatnya.
Aryan dan kelima tengah bermain basket di lapangan itu. Di sekolah tersebut memiliki dua lapangan basket. Satu lapangan basket yang berada di dalam gedung atau lapangan yang digunakan oleh kelas Kimberly saat jam olahraga kemarin. Dan lapangan basket yang satunya yang saat ini digunakan oleh Aryan dan kelima sahabat-sahabatnya.
Ketika Aryan dan kelima sahabat-sahabatnya sedang bermain basket serta para murid-murid yang lainnya juga terlihat fokus dengan urusan masing-masing. Tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan kedatangan tiga polisi dan bersama dengan kepala sekolah.
"Aryan, bukannya itu Kakak lo!" seru Dylan sembari menunjuk kearah tiga polisi.
Aryan, Lian, Raka, Jerry dan Evan melihat kearah arah tunjuk Dylan. Dan benar saja. Jika kakaknya Aryan datang bersama dengan dua anggotanya.
Aryan melangkah mendekati ketiga polisi itu. Sementara para murid-murid memperhatikan tiga polisi itu.
Aryan memberikan kode kepada kakaknya. Melihat sang adik yang memberikan kode. Pimpinan polisi itu pun paham.
"Maaf Pak. Jika saya boleh tahu. Ada masalah apa ya sehingga bapak dan kedua anggota bapak datang ke sekolah kami?" tanya Aryan.
"Kami dapat laporan dari beberapa siswi di sekolah ini. Katanya ada tindakan kekerasan dan juga ada beberapa murid yang melakukan hubungan layaknya suami istri."
Mendengar ucapan dari pimpinan polisi tersebut membuat semua murid-murid dan juga kepala sekolah terkejut
"Maaf Pak. Kalau saya boleh tahu. Siapa nama murid yang menghubungi pihak kepolisian?" tanya kepala sekolah.
"Dua dari mereka bernama Talitha dan Vanesha." pimpinan polisi itu menjawab.
"Apa? Talitha dan Vanesha?" kepala sekolah itu kembali terkejut.
Sementara Aryan menggeram marah ketika mengetahui maksud dan tujuan Talitha dan Vanesha menghubungi polisi. Ini pasti ada hubungannya dengan Kimberly.
"Talitha, Syafina atau kalian semua. Kalian sudah salah mencari lawan," batin Aryan.
"Kalian. Tolong panggilkan Talitha, Syafina dan semua teman-temannya," perintah kepala sekolah.
Kemudian dua teman sekelas Talitha dan Syafina pergi untuk memanggil Talitha dan Syafina yang saat ini berada di kelas.
Sementara Aryan mengirim pesan kepada ketiga sepupunya dan meminta ketiga sepupunya itu untuk ke lapangan basket di area luar.
Beberapa menit kemudian, Talitha dan Syafina beserta teman-temannya datang. Dan mereka semua melangkah mendekati ketiga polisi dan kepala sekolah.
"Ach, syukurlah anda sudah datang pak!" seru Vanesha.
"Jadi benar kalian yang telah menghubungi polisi dan mengatakan bahwa ada kekerasan di sekolah ini?" tanya kepala sekolah itu.
"Iya Pak. Kami yang melaporkan hal itu kepada polisi," jawab Enzi.
"Kalau saya boleh tahu. Siapa yang menjadi korban kekerasan?" tanya polisi itu.
"Teman kami yang bernama Syafina, Pak!" Jennie menarik tangan Syafina dan menunjukkannya kearah polisi itu. "Lihatlah ini pak."
"Sudah kuduga. Rencana pembalasan," batin Aryan.
"Ulah apa lagi yang akan mereka lakukan?" tanya Billy yang datang bersama dengan yang lainnya.
"Wanita-wanita murah*n itu ingin memfitnah Kimberly dan sahabat-sahabatnya," jawab Aryan.
"Siapa yang melukai tangan kamu?" tanya polisi itu.
"Kimberly, pak." Syafina menjawab pertanyaan dari polisi itu.
"Kimberly," batin pimpinan polisi itu.
"Siapa nama kamu?" tanya polisi itu lagi.
"Syafina."
"Eemmm. Syafina. Apa gadis ini yang pernah diceritakan oleh Aryan saat membahas masalah Kimberly saat itu?" batin pimpinan polisi itu.
Polisi itu kembali melihat kearah Syafina. "Apa kamu punya bukti jika memang Kimberly yang telah melukai tanganmu?"
"Ada pak. Teman saya sempat merekamnya," jawab Syafina.
Vanesha menunjukkan rekaman tersebut kepada polisi itu. Polisi itu dan juga kepala sekolah melihat rekaman tersebut. Di dalam video itu terlihat Kimberly menghentakkan sendok garpu di telapak tangan Syafina. Melihat rekaman itu membuat kepala sekolah menelan Saliva nya. Sementara ketiga polisi itu hanya bersikap santai.
"Adikku tidak akan melakukan ini jika kau tidak mencari masalah terlebih dahulu," batin polisi itu.
Polisi itu mengembalikan ponsel tersebut kepada Vanesha.
"Ada apa ini?" tanya Kimberly yang datang bersama ketiga sahabatnya.
Melihat kedatangan Kimberly dan sahabat-sahabatnya. Mereka semua melihat kearah Kimberly dan juga sahabat-sahabatnya.
"Kenapa cuma berempat?" batin Triny.
"Kimberly. Santy mana?" tanya Lionel.
"Santy di ruang UKS," jawab Kimberly.
"Udah sana. Dia sendirian di sana," sahut Rere.
Mendengar perkataan dari Rere. Lionel pun langsung pergi menuju ruang UKS untuk menemani sang pujaannya.
Kimberly menatap kearah Kakak sepupunya yang kini juga menatapnya. Kimberly berdiri dengan kedua tangannya diletakkan di belakang. Sementara para sepupunya sudah tersenyum geli melihat wajah Kimberly saat ini. Begitu juga dengan Tommy.
"Apa anda bernama Kimberly?"
"Iya, pak!"
"Apa anda tahu tujuan kami datang kemari?"
"Tidak, pak!"
"Saya mendapatkan laporan bahwa anda telah melukai tangan teman anda. Apa itu benar?"
"Apa bapak percaya?"
"Awalnya tidak. Tapi saat saya melihat buktinya. Saya percaya."
Mendengar perkataan dari polisi itu membuat Talitha, Syafina dan teman-temannya tersenyum bahagia. Mereka menatap tajam kearah Kimberly.
"Apa saya boleh lihat bukti itu pak?"
"Boleh." jawab polisi itu, lalu polisi itu melihat kearah Vanesha. "Tolong perlihatkan video itu kepada saudari Kimberly."
Vanesha pun langsung memperlihatkan video itu kepada Kimberly dengan wajah yang penuh kebahagiaan. "Sebentar lagi kau akan masuk penjara Kimberly," batin Vanesha.
Kimberly melihat video yang diperlihatkan oleh Vanesha melalui ponsel miliknya. Ketika Kimberly melihat video itu. Wajah Kimberly hanya biasa saja.
"Permainan murahan," batin Kimberly.
Setelah melihat video itu. Kimberly melihat kearah Kakak sepupunya itu. "Video nya sangat amatiran, pak! Terlihat jejak editannya!" seru Kimberly
Mendengar perkataan dari Kimberly ketiga sahabatnya, para sepupunya dan para sahabat-sahabatnya dari para sepupunya tertawa.
"Jadi benar dalam video itu kalau kamu yang melukai tangan teman kamu itu?"
"Iya. Itu benar."
"Apa alasan kamu?"
"Hanya ingin menguji seberapa kuat tangannya itu. Ternyata setelah saya mengujinya. Tangannya sudah mengeluarkan banyak darah."
Lagi-lagi para sepupunya dan para sahabat-sahabatnya tertawa mendengar perkataan dari Kimberly. Sejak kapan tangan manusia menjadi objek pengujian oleh Kimberly.
"Dasar otak psikopat," batin Aryan, Billy dan Triny.
Pimpinan polisi itu melangkahkan kakinya menghampiri Kimberly. Kelompok Talitha dan kelompok Syafina ketika melihat pimpinan polisi itu berjalan mendekati Kimberly mengembangkan senyuman mereka. Mereka berpikir jika polisi itu akan membawa Kimberly ke kantor polisi.
Kini polisi itu sudah berdiri di hadapan Kimberly. Sementara Kimberly hanya memperlihatkan senyuman manisnya.
Melihat Kimberly yang tersenyum manis di hadapan polisi membuat para murid-murid menatap tak percaya. Kimberly tidak takut sama sekali dengan polisi tersebut. Begitu juga dengan kelompok Talitha dan kelompok Syafina. Mereka semua melongo.
Bukan hanya para murid-murid saja yang menatap heran Kimberly yang tidak takut kepada polisi. Para sahabat-sahabatnya Billy dan Triny juga menatap heran Kimberly. Mereka belum tahu jika pimpinan polisi tersebut adalah Kakak tertua Aryan.
Setelah puas menatap wajah cantik adik sepupunya. Pasya mendekatkan wajahnya ke telinga Kimberly, lalu membisikkan sesuatu di sana.
"Lain kali jangan di tangannya. Langsung saja tusuk perutnya."
Kimberly langsung tertawa keras ketika mendengar ucapan Kakak sepupunya di telinganya, lalu detik kemudian Kimberly menutup mulutnya rapat-rapat.
Nama Kakak tertua Aryan adalah Pasya Fidelyo. Putra pertama dari Rafassya Fidelyo dan Helena Aldama.
Setelah membisikkan kalimat itu, Pasya pun memutuskan untuk pergi meninggalkan area sekolah. Dan sebelumnya Pasya meminta maaf atas kedatangannya kepada kepala sekolah. Begitu juga dengan kepala sekolah.
Melihat Kakak sepupunya dan dua anggotanya telah pergi. Kimberly melihat kearah kelompok Talitha dan kelompok Syafina. Kemudian kakinya melangkah mendekati kelompok Talitha dan kelompok Syafina dengan tangannya yang masih berada di belakang.
Kini Kimberly sudah berdiri di hadapan kedua kelompok tersebut. Kimberly tersenyum di sudut bibirnya.
"Tidak semudah itu untuk kalian memasukkanku ke dalam penjara. Dan untuk hari ini aku memaafkan kesalahan kalian karena sudah memfitnahku dan juga sahabat-sahabatku. Tapi lain kali tidak ada kata maaf untuk kalian."
Setelah mengatakan itu, Kimberly pun pergi meninggalkan para musuh-musuhnya. Namun baru beberapa langkah. Kimberly menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badannya.
"Oh iya. Seperti yang aku katakan saat di lapangan basket beberapa jam yang lalu bahwa aku akan memberikan sebuah kejutan untuk kalian. Jadi aku berharap mental kalian semua tidak jatuh ketika melihat kejutan dariku dan sahabat-sahabatku."
Kimberly berlalu pergi dan disusul oleh ketiga sahabatnya, ketiga sepupunya dan para sahabat-sahabatnya.