THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Senyuman Evil Kimberly



Brak..


Prang..


Molly dan Sheela mengamuk dengan membanting semua benda yang ada di dalam ruangan OSIS sehingga membuat beberapa benda yang sangat penting hancur dan rusak. Bahkan beberapa berkas-berkas berserakan di lantai.


Baik Molly maupun Sheela tidak menyadari dan tidak tahu sama sekali bahwa mereka salah memasuki ruangan.


Awalnya mereka ingin kembali ke kelas setelah kejadian di kantin. Namun karena rasa marah dan dendam keduanya terhadap Triny, Risma dan Kimberly membuat mereka berjalan menyusuri setiap koridor sekolah dengan mulutnya yang mengeluarkan sumpah untuk para musuhnya hingga berakhir mereka salah jalan. Dan berakhir masuk ke ruangan OSIS.


Mereka berpikir ruangan yang mereka masuki itu sudah benar yaitu kelas 3 IPA 6.


"Sial! Berani sekali mereka sama gue. Selama ini tidak ada yang berani melawan sama gue. Dan mereka!" teriak Molly.


"Gue nggak nyangka jika Andhika sudah punya calon istri!" seru Sheela.


Molly langsung melihat kearah Sheela. "Lo langsung percaya apa yang dikatakan oleh Andhika jika cewek yang duduk di hadapan dia calon istrinya dia?" tanya Molly.


"Dua-duanya. Percaya sama tidak percaya," jawab Sheela.


"Terus lo nyerah gitu?"


"Ee! Siapa juga yang bilang nyerah. Nggaklah ya! Sayang kalau sampai gue nyerah. Kalau gue sampai nyerah. Yang ada tuh cewek kesenangan."


Mendengar jawaban dari Sheela membuat Molly tersenyum bahagia.


"Itu baru sahabat gue. Nggak ada dalam kamus hidup kita yang menyerah sebelum mendapatkan sesuatu," ucap Molly.


^^^


Disisi lain dimana Billy, Aryan, Triny dan beberapa anggota OSIS saat ini berjalan menuju ruang OSIS. Mereka kesana untuk mengerjakan beberapa kegiatan untuk perlombaan antar sekolah dua minggu lagi.


Disini hanya Billy, Trini dan Aryan yang menjadi anggota OSIS. Billy menjabat sebagai ketua, Aryan sebagai wakil. Sedangkan Triny Sekretaris merangkap Bendahara.


Sementara untuk Tommy, Andhika dan para sahabatnya yang lain hanya sekedar membantu jika Billy, Triny dan Aryan membutuhkan pertolongan. Begitu juga dengan kelima sahabatnya Aryan dan keempat sahabatnya Triny.


Kini Billy, Aryan, Triny dan para anggota OSIS lainnya sudah berada di depan ruangan OSIS.


Cklek..


Salah satu anggota OSIS membuat pintu ruangan tersebut.


Setelah pintu terbuka, mereka semua pun langsung melangkah memasuki ruangan OSIS.


"Apa-apaan ini! Siapa yang serendah ini di ruang OSIS?!"


Brak..


"Brengsek!"


"Siapa yang melakukan ini?"


"Aryan, Triny. Kalian periksa rekaman cctv. Cari tahu siapa yang sudah menghancurkan ruangan OSIS!" perintah Billy.


"Baiklah."


Setelah itu, Aryan dan Billy pergi meninggalkan ruang OSIS untuk menuju ruang cctv.


Ruang cctv itu hanya bisa dimasuki oleh kepala sekolah, wakil kepala sekolah, Billy, Aryan dan Triny sebagai anggota OSIS.


^^^


Kimberly dan keempat sahabatnya kini tengah melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang mana ruangan itu tempat ngadem Kimberly bersama sahabat-sahabatnya. Tidak ada yang tahu tempat itu. Termasuk ketiga sepupunya, kekasihnya dan yang lainnya.


Ketika Kimberly dan keempat sahabatnya tengah melangkahkan kakinya menuju tempat rahasia mereka, tiba-tiba langsung kaki Sinthia terhenti.


Melihat Sinthia yang tiba-tiba berhenti membuat Kimberly, Rere, Santy dan Catherine langsung melihat kearah Sinthia. Mereka seketika itu berhenti.


"Sin, lo kenapa berhenti?" tanya Santy.


"Itu kan Molly sama Sheela!" sahut Sinthia sembari menunjuk kearah Molly dan Sheela.


Kimberly, Rere, Santy dan Catherine langsung melihat kearah tunjuk Sinthia. Dan benar, mereka melihat Molly dan Sheela seperti tengah ketakutan sembari tatapan matanya melihat ke sekelilingnya.


"Kenapa mereka?" tanya Rere.


"Sepertinya mereka lagi ketakutan tuh," sahut Rere.


"Sepertinya. Coba aja lihat gerak-gerik mereka," ucap Catherine.


"Bahkan mereka juga berulang kali melihat ke sekelilingnya takut jika ada yang melihat mereka. Nggak tahu apa mereka bahwa kita sekarang lagi ngeliatin mereka," pungkas Rere


Kimberly seketika tersenyum di sudut bibirnya. "Ada sesuatu yang telah mereka lakukan. Jika tidak. Mereka tidak akan setakut itu. Aku harus cari tahu apa yang membuat mereka ketakutan seperti itu?" batin Kimberly.


"Gue kepo nih!" seru Kimberly lalu menatap satu persatu wajah keempat sahabatnya.


Mendengar seruan dari Kimberly. Rere, Santy, Sinthia dan Catherine langsung melihat kearah Kimberly yang saat ini juga melihat kearah mereka.


"Bagaimana kalau kita cari tahu apa yang sedang kedua makhluk abstrak itu bicarakan?" tanya Kimberly dengan senyuman manis di bibirnya.


Mendengar perkataan dan melihat senyuman Kimberly seketika membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tersenyum.


"Oke!"


Setelah mengatakan itu secara bersamaan. Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine kembali melanjutkan langkahnya. Kali ini langkah mereka untuk mendekati Molly dan Sheela. Tujuannya agar bisa mendengar pembicaraan keduanya.


^^^


"Bahkan dengan beraninya kita malah membuat kekacauan di ruangan itu," sela Sheela.


"Lo juga sih Sheel! Kenapa lo ikut-ikutan sampai nyasar ke ruangan OSIS. Seharusnya salah satu dari kita sadar biar nggak masuk kesana," ucap Molly kesal.


"Yak, Molly! Lo kenapa nyalahin gue sih! Gue mana tahu jika otak gue lagi eror saat itu sehingga bisa salah masuk ruangan. Ditambah lagi setiap ruangan di sekolah ini hampir sama semua warna dan bentuknya."


"Aarrgghh!" Molly berteriak kesal. "Ini semua salah mereka! Mereka yang udah buat otak kita nggak bekerja dengan baik!" teriak Molly.


"Mmpptth!"


Sheela seketika membekab mulut Molly karena kesal mendengar teriakkan Molly.


"Lo gila ya. Apa lo mau murid-murid disini dengar suara teriakan lo?" kesal Sheela.


Setelah itu, Sheela menjauhkan tangannya dari mulutnya Molly.


"Sorry!"


"Terus bagaimana ini?" tanya Sheela.


"Pokoknya kita bersikap seperti biasa saja. Jangan perlihatkan rasa takut kita di depan orang. Hanya itu cara satu-satunya yang bisa kita lakukan saat ini," ucap Molly.


"Sekarang kita mau ngapain? Apa kita akan ke kelas?" tanya Sheela.


"Eeemm... Sepertinya tidak. Bagaimana kita ngadem disini saja sampai pulang. Kebetulan tuh ada rumah pohon disana," ucap Molly sembari menunjuk kearah rumah pohon.


Setelah itu, Molly dan Sheela pergi menuju rumah pohon tersebut.


^^^


"Ooh, itu ya... Eemmm!"


Kimberly seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika mengetahui penyebab ketakutan Molly dan Sheela.


"Menarik nih," ucap Rere.


"Bisa kita jadikan ladang amal nih," sahut Sinthia.


Sementara Catherine dan Santy tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.


"Ayo!" ajak Kimberly.


Dan pada akhirnya Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine kembali menuju sekolah. Mereka tidak jadi pergi ke tempat rahasia mereka. Demi misi mereka rela menggagalkan niat mereka untuk ngadem di tempat rahasia mereka itu.


^^^


"Bagaimana?" tanya Billy kepada Aryan dan Triny ketika melihat keduanya kembali ke ruangan OSIS.


"Kita belum bisa melihat isi rekaman cctv untuk hari ini," sahut Triny.


"Kenapa?" tanya Billy.


"Lagi ada masalah. Jadi tidak bisa membuat untuk rekaman hari ini," jawab Aryan.


"Hah!" Billy hanya bisa menghela nafas pasrahnya ketika mendengar jawaban dari kedua sepupunya.


"Terus ini bagaimana?" tanya salah satu anggota OSIS.


"Biarkan saja seperti ini. Kita rapatnya di tempat lain. Kalian ada catatannya kan?" ucap dan tanya Billy.


"Ada!" semuanya menjawab secara bersamaan.


Ting..


Ponsel milik Billy berbunyi menandakan sebuah notifikasi pesan.


Mendengar bunyi ponselnya. Billy langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya ada di tangannya. Matanya melihat satu pesan WhatsApp dari Kimberly. Billy pun langsung membukanya lalu membacanya.


FROM :  Kim Kim


Temui gue di kantin.


Setelah membaca pesan dari Kimberly. Billy mematikan ponselnya lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Siapa?" tanya Triny.


"Kimberly," jawab Billy.


"Pasti ada sesuatu," ucap Aryan.


"Dia nyuruh gue ke kantin."


"Hah! Kantin!" seru Aryan dan Triny bersamaan.


"Bolos tuh anak! Ini baru jam 9. Belum waktunya istirahat," ucap Triny.


"Nggak ada gunanya lo marah disini. Noh! Anaknya ada di kantin," sela Billy setelah itu langsung ngacir pergi meninggalkan ruang OSIS yang masih berantakan.


Melihat Billy yang pergi begitu saja membuat Triny mendengus. Sedangkan Aryan dan anggota OSIS lainnya tersenyum.


Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan ruang OSIS dan tak lupa menutup kembali pintu tersebut.