
Di kediaman keluarga Clarita dan Ammar Ravindra terlihat begitu ramai dimana ketiga adik-adiknya Ammar datang mengunjunginya. Mereka saat ini tengah bercerita sembari bersendah gurau.
Keluarga besar Ravindra juga dekat dengan keluarga Fidelyo dan keluarga Aldama, terutama ketiga adik-adiknya Ammar.
"Bagaimana pekerjaan dan sekolah kalian anak-anak?" tanya Ammar kepada keponakan-keponakannya.
"Semuanya baik-baik saja, Ayah!"
"Kami melakukan semua pekerjaannya dengan sangat baik,"
"Sekolah kami tidak ada masalah. Semuanya berjalan lancar."
Chandra dan Austin, Naumy, Nindy dan Nelly, Gandhi, Widya, Yuna dan Gaffi menjawab pertanyaan dari Pamannya dengan penuh semangat.
Seketika Ammar dan Clarita tersenyum bahagia ketika mendengar jawaban antusias dari para keponakan-keponakannya.
"Lalu bagaimana dengan kalian?" tanya Damian kepada Alfan, Athaya, Barra dan Billy.
"Sama seperti para sepupu kami. Semua pekerjaan kami baik-baik saja dan juga berjalan dengan lancar," jawab Alfan dan diangguki oleh Athaya dan Barra.
"Sekolahku juga tak ada masalah," ucap Billy menambahkan.
"Ach, syukurlah!" seru Cindy, Rangga, Damian, Anika, Rinjani dan Randy bersamaan.
Ketika keluarga Ravindra sedang mengobrol di ruang tengah, tiba-tiba seorang security datang memberikan laporan.
"Maaf tuan, nyonya!"
Ammar, Clarita, putra dan putrinya serta anggota keluarga lainnya langsung melihat kearah security tersebut.
"Ada apa, Rakes?" tanya Ammar.
"Diluar ada penyusup, tuan! Orang itu sejak tadi menyebut nama nona Athaya."
Mendengar jawaban dari security itu, Alfan langsung berdiri dari duduknya. Dan diikuti oleh anggota keluarga lainnya.
"Dimana penyusup itu sekarang?" tanya Alfan.
"Ada posko, tuan muda! Kami sudah menahannya dan mengikatnya."
Mendengar jawaban dari security itu, Billy langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju luar rumah dan diikuti oleh anggota keluarganya di belakang.
^^^
"Dimana penyusup itu?" tanya Barra kepada security lainnya.
"Itu dia tuan muda," jawab security itu sambil menunjuk kearah seorang pria yang dalam keadaan terikat.
Semua anggota keluarga Ravindra langsung melihat kearah pria yang terikat dengan tatapan amarah, terutama Alfan, Barra dan Billy.
"Siapa kau? Kenapa kau berani menyusup ke kediaman Ravindra. Dan apa tujuanmu mencari Athaya adik perempuanku?!" bentak Alfan.
Mendengar bentakan dari Alfan membuat pria itu menatap kearah Alfan. Setelah itu, pria itu menatap kearah Athaya.
Athaya yang menyadari bahwa pria itu menatap dirinya. Athaya pun balik memberikan tatapannya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau ingin membunuhku agar rahasia dari tuanmu itu tidak diketahui oleh adik sepupuku, hum?" ucap dan tanya Athaya dengan menatap sinis pria itu.
Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari Athaya membuat Clarita, Ammar, Alfan, Barra dan Billy terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarga Ravindra lainnya.
"Apa wanita mereka yang membayarmu? Berapa mereka membayarmu, hum?"
Mendengar ucapan serta pertanyaan dari Athaya, pria itu hanya diam dengan tatapan matanya masih menatap kearah Athaya.
Melihat keterdiaman pria tersebut membuat Barra emosi sehingga membuat Barra memberikan tendangan kuat tepat di dada kiri pria itu.
Duagh!
"Aakkhhh!" teriak pria itu merasakan sakit di dada kirinya.
Barra melihat kearah dua security lalu menyuruh keduanya untuk membawa pria itu ke penjara bawa tanah.
"Bawa bajingan itu ke penjara bawah tanah. Ikat dia dengan kuat dengan menggunakan rantai. Setelah itu, matikan lampu biar bajingan itu kesulitan bernafas."
"Baik tuan muda!"
Setelah itu, kedua security itu membawa dengan paksa tubuh pria itu menuju penjara bawah tanah.
Carita dan Ammar menatap putri satu-satunya dengan tatapan penuh selidik. Begitu juga dengan Alfan, Barra dan Billy.
Athaya yang ditatap oleh kedua orang tuanya, kakak laki-lakinya dan kedua adik laki-lakinya seketika menghembuskan nafas kasarnya.
"Kita bicara di dalam. Aku akan ceritakan semuanya," ucap Athaya.
Setelah itu, Athaya langsung melangkah masuk ke dalam rumah. Dan diikuti oleh anggota keluarga Ravindra di belakang.
^^^
Kini semuanya sudah berada di ruang tengah. Semua anggota keluarga menatap kearah Athaya. Mereka tidak sabar menunggu Athaya menjelaskan semua yang tidak mereka ketahui soal perkataannya beberapa menit yang lalu.
"Sekarang tolong kamu jelaskan semuanya sama Bunda, sama Ayah Dan sama kita semua maksud dari perkataan kamu beberapa menit yang lalu," ucap Clarita.
"Jangan ada yang disembunyikan lagi dari ayah dan kita semua," ucap Ammar.
"Ceritakan semua yang kamu ketahui kepada kita," ucap Alfan.
Athaya menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Dapat Athaya lihat semua anggota keluarganya berharap dirinya menceritakan semuanya.
"Bunda dan Ayah kenalkan sama Aruna?" tanya Athaya.
"Iya. Ayah sama Bunda kenal sama Aruna. Aruna itukan kekasihnya Riyan. Empat bulan lagi mereka akan bertunangan," ucap Ammar dan diangguki oleh Clarita.
Mendengar perkataan dari Athaya membuat Clarita dan Ammar terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Jangan bilang kalau kak Athaya sudah melihat sifat asli perempuan murahan itu bersama dengan kekasihnya?" tanya Billy dengan menatap wajah cantik kakak perempuannya.
"Iya. Kakak sudah melihat sifat aslinya. Laki-laki yang menjadi kekasihnya itu dengan lantangnya mengatakan bahwa Aruna adalah calon istrinya. Bahkan mereka berciuman di depan umum."
"Apa?!"
Clarita, Ammar dan anggota keluarga lainnya terkejut mendengar jawaban dari Athaya. Mereka semua tidak menyangka atas apa yang dilakukan oleh Aruna.
"Apa yang kakak rasakan ketika melihat perempuan menjijikkan itu dengan pria lain. Itu juga yang dirasakan oleh Kimberly," ucap Billy.
Mendengar perkataan dari Billy. Clarita, Ammar, Alfan, Athay dan Barra langsung melihat kearah Billy. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Apa maksud kamu, nak?" tanya Clarita.
"Kimberly sudah tahu kebohongan Aruna terhadap kak Riyan. Kimberly melihat langsung apa yang telah diperbuat oleh calon kakak iparnya itu," jawab Billy.
"Kamu tahu dari mana jika Kimberly mengetahui kebusukan Aruna?" tanya Alfan.
"Kimberly sendiri yang cerita kepadaku, kepada Triny, kepada Aryan dan juga kepada yang lain ketika di sekolah. Ketika Kimberly dalam perjalanan menuju sekolah, matanya tak sengaja melihat sosok perempuan yang dia kenal. Sosok perempuan itu adalah Aruna. Dikarenakan rasa penasaran Kimberly terhadap Aruna yang tiba-tiba ada di negara ini, Kimberly memutuskan untuk mengikuti Aruna. Dari sanalah Kimberly tahu semuanya."
Mendengar cerita dari Billy membuat mereka semua sedih, terutama Clarita.
Clarita sangat tahu bagaimana besarnya kasih sayang keponakan kelincinya itu terhadap keempat kakak laki-lakinya. Keponakan manisnya itu tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti keempat kakak laki-lakinya.
Ammar menatap wajah putrinya lalu bertanya. "Athaya, ayah mau nanya sama kamu."
"Ayah mau nanya apa?"
"Ketika kamu berbicara dengan penyusup itu. Kenapa kamu bilang bahwa penyusup itu suruhan dari Aruna dan kekasihnya?" tanya Ammar.
"Kekasih dari wanita murahan itu menerorku melalui pesan. Bahkan mengancamku untuk aku tutup mulut, terutama di depan Riyan."
"Apa?!"
Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Athaya.
"Apa kamu masih menyimpan pesan dari laki-laki itu?" tanya Chandra kepada sepupunya.
"Masih."
"Mana? Coba kakak lihat pesannya?" ucap dan tanya Alfan.
Athaya langsung memberikan ponselnya kepada Alfan yang memang kebetulan sejak tadi memegangnya.
Alfan mengambil ponsel milik Athaya yang pesannya sudah tertera di layar ponselnya. Alfan membaca kata demi kata dari pesan itu.
"Brengsek!" Alfan benar-benar marah ketika membaca pesan tersebut.
***
Di kediaman Fathir Aldama terlihat Nashita, Fathir dan keempat putranya berada di ruang tengah. Sementara Kimberly sedang berada di luar rumah bersama keempat sahabatnya.
"Riyan," panggil Nashita.
"Iya, Mom!"
"Mommy sudah tahu tentang adik perempuan kamu yang tidak menyukai Aruna. Dan Mommy paham akan perasaan kamu akan ketidaksukaan adik perempuan kamu terhadap Aruna. Mommy harap kamu mengerti alasan adik perempuan kamu bersikap seperti itu."
Mendengar perkataan lembut dari ibunya membuat Riyan hanya diam. Namun di hatinya, Riyan sama sekali tidak marah terhadap sikap adik perempuannya itu. Riyan justru memakluminya. Adik perempuannya seperti itu karena rasa sayangnya begitu besar padanya. Adik perempuannya itu tidak ingin dirinya sedih karena wanita.
"Seperti yang kakak kamu katakan bahwa Kimberly tidak mungkin pilih kasih antara Rica dan Aruna. Kimberly sangat menyayangi kedua calon kakak iparnya itu. Bahkan ketika pertemuan pertama Kimberly dan Aruna. Kimberly menerima langsung kehadiran Aruna." Fathir berbicara sambil menatap wajah putra keempatnya itu.
"Jadi intinya disini. Jika sikap Kimberly tiba-tiba berubah terhadap Aruna, yang dulunya Kimberly begitu menyukai Aruna. Sekarang berubah menjadi benci. Itu tandanya Kimberly pasti telah mengetahui sesuatu tentang Aruna," ucap Nashita.
"Iya, Mom! Aku juga berpikir seperti itu. Bahkan kak Jason, kak Uggy dan kak Enda juga sudah membicarakan hal itu kepadaku," sahut Riyan.
Mendengar perkataan dari Riyan membuat Nashita dan Fathir tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Daddy senang mendengarnya. Lalu apa yang sudah kamu lakukan?" ucap dan tanya Fathir.
"Aku sudah menyuruh dua tangan kananku untuk menyelidiki kehidupan Aruna dan juga keluarganya," jawab Riyan.
Mendengar jawaban dari Riyan seketika terukir senyuman manis di Fathir, Nashita, Jason, Uggy dan Enda.
Ketika Fathir dan Nashita sedang membicarakan masalah Aruna dengan keempat putra-putranya. Ponsel milik Nashita berbunyi menandakan panggilan masuk.
Mendengar bunyi ponselnya, Nashita langsung mengambil ponselnya yang berada di sampingnya.
Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Nashita melihat nama adik perempuannya 'Clarita' di layar ponselnya.
"Clarita," ucap Nashita.
Dan ucapannya itu didengar oleh suami dan keempat putranya.
"Mom," panggil Enda.
"Iya, sayang!"
"Dari Bunda ya?"
"Iya."
"Angkat Mom. Dan jangan lupa loudspeaker panggilannya," ucap Uggy.
"Baiklah."
Setelah itu, Nashita menjawab panggilan dari adik perempuannya itu.