
Tommy, Andhika, Ivan, Mirza dan Andry sudah berada di rumah sakit. Saat ini mereka menunggu di depan pintu ruang unit gawat darurat.
Baik Tommy, Andhika maupun Ivan, Mirza dan Andry saat ini memikirkan kondisi Kimberly yang ada di dalam ruang UGD, terutama Tommy.
Tommy saat ini dalam keadaan tak baik-baik saja. Matanya yang sudah sembab karena sejak menemukan Kimberly sampai berhasil membawa Kimberly ke rumah sakit, Tommy tak henti-hentinya menangis. Bahkan Tommy berulang kali mengumandangkan kata maaf karena kembali gagal melindungi Kimberly.
Ketika Tommy, Andhika, Ivan, Mirza dan Andry tengah memikirkan Kimberly, terdengar derap langkah kaki beberapa orang dan disertai panggilan dari beberapa orang itu.
"Tommy," panggil seseorang.
Mereka semua kini telah berada di hadapan Tommy, Andhika, Ivan, Mirza dan Andry. Mereka menatap satu persatu wajah kelimanya, terlihat wajah-wajah khawatir disana.
Orang-orang yang datang tersebut adalah semua anggota keluarga Kimberly baik dari pihak ayahnya maupun pihak ibunya beserta anggota keluarga Tommy dan anggota keluarga Andhika.
Billy melangkah mendekati Tommy yang saat ini tampak tak baik-baik saja. Billy tahu bahwa Tommy saat menyalakan dirinya karena gagal menyelamatkan Kimberly.
Billy sudah duduk di samping Tommy. Sementara Tommy sama sekali tidak memberikan respon apapun. Saat ini Tommy memikirkan dan mengingat kejadian yang dialami oleh Kimberly ketika berada di Villa kecil itu.
Flashback On
"Menjauhlah dari Kimberly!"
Mendengar ucapan dan teriakan dari seseorang, Anshell langsung melihat kearah orang tersebut. Seketika tatapan mata menatap penuh amarah Ketika melihat lima pemuda yang telah berani masuk ke kamar miliknya bersama Kimberly.
Kimberly yang mengenal suara tersebut seketika tersenyum di dalam hatinya disertai air matanya yang mengalir kedua sudut matanya.
"Tommy," batin Kimberly yang berlahan melihat kearah Tommy.
Tommy melihat kearah Kimberly yang juga menatap dirinya. Dan dapat Tommy lihat Kimberly yang menangis menatap dirinya.
Tommy mengalihkan tatapan matanya menatap wajah Anshell. Tatapan mata yang penuh dengan kemarahan terhadap Anshell. Amarah Tommy itu seakan-akan ingin membunuh laki-laki yang sudah berani bersikap buruk terhadap Kimberly saat ini juga.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan kepada Kimberly?! Lepaskan Kimberly!" teriak Tommy.
"Kau memang laki-laki bejat, Anshell!" bentak Andhika.
"Lebih baik kalian pergi dari sini. Jangan ganggu pekerjaanku!" bentak Anshell.
"Kita akan pergi dari sini. Tapi kita pergi tidak dengan tangan kosong," sahut Mirza.
"Kita anak pergi dari sini dengan membawa Kimberly bersama kami. Dan meninggalkan beberapa kenang-kenangan untuk laki-laki brengsek sepertimu," ucap Andry.
Tommy, Andhika, Ivan, Mirza dan Andry menatap penuh amarah kearah Anshell. Begitu juga dengan Deryl. Deryl yang sudah menganggap adik Bos sebagai adik kandungnya sendiri. Bagaimana pun Deryl juga memiliki satu adik perempuan yang seusia dengan Kimberly.
"Kimberly hanya milikku. Dan dia akan tinggal bersamaku disini," ucap Anshell dengan tangan kirinya mengelus pipi putih Kimberly lalu beralih ke bibir Kimberly. Sementara tangan kanannya masih dipegang oleh Kimberly dengan kuat.
Kimberly hanya bisa menangis akan perlakuan keji Anshell. Tatapan matanya menatap tajam wajah Anshell disertai rematan kuat di pergelangan tangan Anshell sehingga membuat Anshell meringis di bagian pergelangan tangannya.
"Sial. Tenaga kuat sekali. Padahal aku sudah memberikan full dosis obat itu agar Kimberly tidak bisa memberontak atau melawan.
"Singkirkan tangan kotormu itu sialan!" bentak Tommy ketika jari-jari tangan Anshell menyentuh setiap inci wajah cantik Kimberly.
Anshell hanya tersenyum mendengar perkataan dan juga teriakan dari Tommy. Sementara dirinya masih terus memainkan wajah cantik Kimberly dengan jari-jari tangannya.
Melihat kelakuan bejat Anshell membuat Tommy benar-benar marah. Kemudian Tommy berlari dan memberikan pukulan secara beruntun kepada Anshell. Sementara Kimberly langsung melepaskan tangan Anshell.
Tommy menarik kasar tubuh Anshell menjauh dari Kimberly. Setelah itu, Tommy mendorong kuat tubuh Anshell sehingga tubuh Anshell tersungkur ke lantai.
"Tommy! Lebih baik kamu bawa Kimberly ke rumah sakit. Masalah Anshell biar kami yang mengurusnya," ucap Ivan.
Mendengar perkataan dari Ivan membuat Tommy langsung menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Tommy menghampiri Kimberly yang masih dalam kondisi berbaring di tempat tidur.
"Tom-tommy," lirih Kimberly.
Tommy tersenyum mendengar sapaan dari kekasihnya. Setelah itu, Tommy melepaskan jaketnya dan kemudian menutup tubuh atas Kimberly.
"Kamu aman sekarang. Kita pulang ya. Tapi sebelumnya aku akan bawa kamu ke rumah sakit."
Ketika Tommy hendak menggendong tubuh Kimberly, tiba-tiba Jason dan Uggy datang sembari menyebut nama adik perempuannya.
"Kimberly!"
Jason dan Uggy memasuki kamar dimana adik perempuannya berada. Kemudian mereka melangkah mendekati adik perempuannya itu.
"Sayang," ucap Jason dan Uggy bersamaan. Keduanya menangis ketika melihat kondisi adik perempuannya.
"Ka-kakak... Hiks." Kimberly seketika menangis terisak ketika melihat kedua kakak laki-laki tertuanya.
Jason membelai rambut adiknya dan tidak lupa memberikan kecupan di kening adiknya itu. Begitu juga dengan Uggy
Deg!
Baik Jason, Uggy maupun Tommy, Andhika, Ivan, Mirza, Andry dan Deryl terkejut ketika mendengar ucapan dari Kimberly yang mengatakan tidak bisa bergerak.
"Apa maksud kamu, Kim?" tanya Uggy.
"Anggota tubuh aku gak bisa digerakin. Tangan, kaki bahkan tubuh aku juga tidak bisa digerakin. Aku seperti orang lumpuh," ucap Kimberly menjelaskan kondisi tubuhnya saat ini.
Mendengar perkataan dan penjelasan dari Kimberly membuat Jason, Uggy dan Tommy menangis. Begitu juga dengan Ivan, Gunawan, Andry dan Deryl.
"Kakak Jason... Hiks," isak Kimberly.
Jason mencium kening Kimberly dan setelah itu, Jason menghapus air mata adiknya itu.
"Semuanya akan baik-baik saja, oke! Dan semoga apa yang kamu rasakan hanya sementara. Kakak yakin beberapa jam lagi kamu bisa menggerakkan anggota tubuh kamu."
"Kakak, aku takut. Aku tidak mau...."
"Tidak akan terjadi apa-apa pada kamu. Kakak bisa menjamin kalau kamu akan baik-baik saja. Percaya sama kakak."
Jason menatap wajah Tommy. "Tommy. Kamu bawa Kimberly ke rumah sakit. Pastikan Kimberly mendapatkan penanganan seketika kamu tiba di rumah sakit."
"Baik, kak!" Tommy langsung menjawab perkataan dari Jason
Jason kemudian menatap wajah Andhika, Ivan, Mirza dan Andry sahabatnya serta sepupu Tommy.
"Kalian juga. Pergilah bersama Tommy ke rumah sakit. Kakak juga minta tolong sama kalian untuk menghubungi anggota keluarga."
"Baik, kak Jason!" Andhika, Ivan, Mirza dan Andry bersamaan.
Jason kembali menatap wajah adik perempuannya. Tangannya mengusap lembut kepalanya dan disertai satu kecupan di keningnya.
"Kamu perginya bersama Tommy ya. Kakak bersama kakak Uggy kamu tetap disini," ucap Jason.
Kimberly menatap wajah kakak tertuanya lalu beralih menatap wajah kakak keduanya.
"Ja-jangan terlalu mengeluarkan tenaga dan amarah ya. Kalau ingin menghukum dia. Bawa saja ke kantor polisi," ucap Kimberly.
Jason dan Uggy tersenyum mendengar perkataan sekaligus permintaan dari adik perempuannya.
"Siap!"
"Tapi kakak Uggy dan kakak Jason bolehkan bermain-main sedikit dengan bajingan itu, hum?" tanya Uggy.
"Boleh. Tapi bermain-mainnya jangan sampai menghilangkan nyawa," jawab Kimberly.
"Siap! Dilaksanakan!" seru Jason dan Uggy bersamaan.
Setelah itu, Tommy pun langsung menggendong tubuh Kimberly dan pergi meninggalkan Villa milik Anshell. Dan diikuti oleh Andhika, Ivan, Mirza dan Andry.
Flashback Off
"Tommy," panggil Billy.
Tommy seketika langsung melihat kearah Billy yang duduk di sampingnya. Lalu Tommy kembali menatap ke depan.
"Maafkan aku, Bil! Aku gagal. Aku gagal menepati janjiku padamu yang mengatakan bahwa aku akan membawa Kimberly pulang dalam keadaan baik-baik saja. Namun nyatanya Kimberly dalam keadaan tak baik-baik saja."
Mendengar perkataan dari Tommy membuat Billy seketika menangis. Dirinya tidak menyangka jika Tommy sahabatnya bisa berucap seperti itu. Bahkan sahabatnya itu menyalahkan dirinya atas apa yang dialami oleh Kimberly.
Nashita berlahan melangkah mendekati Tommy. Setelah berada di dekat Tommy. Nashita duduk di sebelah kiri Tommy.
Nashita kemudian menarik tubuh Tommy dan memeluknya erat. "Menangislah sayang. Tante tahu bahwa saat ini kamu benar-benar terpukul atas musibah yang dialami oleh Kimberly."
"Hiks... Tante, maafkan aku. Aku gagal melindungi Kimberly. Hiks... Aku gagal memenuhi janjiku kepada Billy yang mengatakan bahwa aku akan membawa Kimberly pulang dalam keadaan baik-baik."
Mendengar ucapan demi ucapan serta isakan dari Tommy membuat Nashita ikut menangis. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka semua menangis.
Setelah Tommy merasa tenang. Nashita melepaskan pelukannya. Tatapan matanya menatap wajah basah Tommy.
"Satu kata yang ingin tante sampaikan padamu. Terima kasih kamu sudah menyelamatkan putri tante. Kamu pemuda yang luar biasa. Status kamu sebagai kekasih Kimberly, namun perhatian dan kepedulian kamu terhadap Kimberly sudah seperti seorang suami. Tante bangga sama kamu."
"Kamu tidak salah dan kamu tidak gagal dalam hal ini. Kamu adalah seorang pahlawan untuk Kimberly. Jadi Tante minta sama kamu, berhenti menyalahkan diri kamu sendiri. Tidak ada yang salah disini. Yang salah itu adalah orang yang sudah menyakiti Kimberly."
Melihat cara Nashita membujuk dan menghibur Tommy membuat Lusiana dan Andrean tersentuh.