THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Mengadakan Kuis



Keesokkan paginya di sekolah Kimberly dan keempat sahabatnya saat ini berada di Kantin.


Kimberly memesan banyak makanan dengan alasan untuk merayakan karena telah mengalahkan mantan teman SMP nya dan membongkar identitas aslinya selama ini ditutupinya dari publik.


Setelah memesan banyak makanan dan juga minuman. Kimberly dan keempat sahabatnya langsung menikmati semua pesanan tersebut dan tak mempedulikan tatapan para penghuni kantin lainnya yang menatap mereka cengo dan melongo.


Kimberly menghentikan sejenak makannya dan melihat ke semua penghuni kantin.


"Untuk kalian semua. Silahkan pesan apa yang kalian sukai. Aku Kimberly Aldama akan membayar semua pesanan kalian, kecuali para musuh-musuhku dan orang-orang yang tidak menyukaiku. Aku ogah mentraktir mereka!" teriak Kimberly.


Mendengar perkataan Kimberly membuat penghuni kantin bersorak gembira. Dalam hati mereka masing-masing 'kapan lagi dibayarin oleh anak orang kaya nomor satu di dunia dan di Jerman'.


Sementara untuk kelompok Syafina, kelompok Talitha, kelompok BRAINER, kelompok Rocky, kelompok EXID menggeram marah ketika mendengar perkataan dari Kimberly.


"Oh iya. Satu lagi. Di rumahku ada sekitar 100 tas. Tas itu aku beli di mall Holsten Galerie Neumunster. Aku memberli semua tas itu dikarenakan ulah dari dua mantan teman SMP aku yang saat itu nantangin aku. Mereka mengatakan bahwa aku ini miskin dan gak akan mampu membeli tas-tas tersebut. Bahkan mereka berhasil membuat para pengunjung mall menatap jiji, tak suka dan memandang rendah aku."


"Dikarenakan kesabaran aku sudah habis. Aku pun menantang mereka semua. Aku akan memborong semua tak yang ada di toko itu. Jika mampu membayar semuanya. Maka mereka semua bersedia menerima hukuman dariku. Dan berakhir aku menjadi pemenangnya. Dan pecundang itu kalah. Dan kalian tahu apa yang terjadi pada kedua mantan teman SMP ku itu dan para pengunjung mall itu? Kalian bayangkan saja dan ingat apa yang dialami oleh keluarga ARCHARD dan keluarga ADOLFA saat datang ke sekolah ini menyerangku. Seperti itulah hukuman yang aku berikan kepada kedua mantan teman SMP ku dan para pengunjung mall itu."


"Aku hanya membeli 100 tas. Sementara jumlah murid perempuan lebih dari 100 orang. Itu tidak termasuk para musuh-musuhku. Jadi biar adil aku akan memberikan kuis. Kuisnya berupa pertanyaan. Dan pertanyaannya akan aku kirim ke nomor wa kalian. Silahkan kalian mendaftar kepada dua sahabatku Rere dan Santy. Setelah kalian mendaftar. Kalian akan menerima pertanyaan dari Catharine dan Sinthia. Juara satu mendapatkan empat tas. Juara dua mendapatkan tiga tas. Dan untuk juara tiga sampai juara sepuluh mendapatkan dua tas. Dan bagi yang tidak mendapatkan juara. Akan tetap mendapatkan hadiah. Sisa tasnya ditambah dengan voucher makan gratis di Restoran Focaccino akan dimasukkan ke dalam kotak hadiah. Kotak hadiah itu berupa gulungan kertas. Apa yang kalian ambil. Itulah hadiah kalian? Voucher gratis itu berlaku hanya satu minggu saja. Jika kalian tidak secepatnya menggunakannya. Maka voucher itu akan hangus."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly membuat para penghuni kantin dan para siswa-siswi bersorak gembira. Mereka semua sangat antusias untuk mengikuti kuis yang diberikan oleh Kimberly.


"Maaf Kimberly!" seru salah satu murid laki-laki.


Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya dan murid yang lainnya melihat kearah murid laki-laki itu.


"Iya. Ada apa?" tanya Kimberly.


"Itukan tas untuk murid cewek. Terus kami sebagai murid laki-laki. Bagaimana?"


Seketika Kimberly dan keempat sahabatnya langsung terdiam dan saling melirik satu sama lainnya. Catharine, Santy, Rere dan Sinthia langsung mengangkat ke dua bahunya.


Melihat keempat sahabatnya yang hanya mengangkat bahunya membuat Kimberly mendengus kesal. Sementara Catharine, Santy, Rere dan Sinthia tersenyum kemenangan karena berhasil menjahili Kimberly.


"Dari kalian semua murid laki-laki. Siapa saja yang akan ikut dalam kuis ini?" tanya Kimberly.


Mendengar pertanyaan dari Kimberly. Semua murid laki-laki mengangkat tangannya ke atas, kecuali para musuh-musuhnya.


"Baiklah. Kalian silahkan mendaftar ke Santy dan Rere. Untuk jenis hadiahnya jam tangan Rolex, Voucher pulsa 1 juta dan Ponsel Oppo yang harga 6 juta. Semua hadiah itu akan dimasukkan ke kotak hadiah berupa gulungan kertas. Gulungan kertas yang kalian ambil itu akan menentukan hadiah kalian."


"Baiklah," jawab mereka semua.


Setelah selesai dari kantin. Semua murid laki-laki dan murid perempuan, kecuali murid-murid yang tidak menyukai Kimberly dan para musuh-musuh Kimberly langsung mendaftarkan diri kepada Rere dan Santy.


Disisi lain, Tommy, Andhika, Billy, Triny, Aryan dan para sahabat-sahabatnya sedari tadi hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Kimberly dan keempat sahabatnya. Bahkan mereka sama sekali tidak berniat untuk merecoki Kimberly dan keempat sahabatnya.


"Apa seperti itukah sifat Kimberly?" tanya Satya kepada Billy.


"Iya. Jika Kimberly terlalu banyak membeli barang. Kimberly dengan royalnya memberikan kepada orang lain," jawab Aryan.


"Jika orang terdekatnya Kimberly memberikan lebih dari satu barang," ucap Triny


"Dan jika orang lain. Kimberly memberikan dengan cara sayembara atau kuis. Seperti saat ini," kata Billy.


"Apa Kimberly sama sekali gak takut jika uangnya bakal habis?" tanya Daniela.


"Kimberly tidak pernah takut jika uangnya bakal habis, Daniela! Kimberly bilang jika kita sering memberi maka uang kita justru makin bertambah, karena Tuhan akan mempermudah rezeki orang-orang yang baik," jawab Triny.


"Kimberly bilang begitu?" tanya Lisa.


"Iya," jawab Triny.


"Bahkan ketika Kimberly SMP. Kimberly mendonasikan uang tabungannya di tiga panti asuhan. Masing-masing panti asuhan itu mendapatkan 100 juta keatas dari Kimberly." Billy berucap.


"Apalagi semua uang itu hasil dari lukisannya selama ini. Kimberly itu jago banget melukis. Semua lukisannya dijual dan uangnya dikumpulkan. Kimberly tidak pernah menghamburkan uang tersebut. Kimberly bilang uang itu akan digunakan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu." Aryan menjelaskan bagaimana tulusnya sepupunya itu.


"Tidak salah aku memilih kamu Kimberly Aldama. Sudah cantik, pintar, jenius dan memiliki hati yang begitu baik kepada setiap orang. Kamu adalah gadis yang sangat spesial dalam hidupku. Aku mencintaimu Kimberly Aldama. Selamanya!" batin Tommy.


Mereka semua masih memperhatikan Kimberly yang saat ini sedang duduk manis di sebuah bangku yang ada di lapangan sembari memegang ponselnya.


Kimberly menekan nomor kontak kakak tertuanya yaitu Jason. Setelah itu, Kimberly langsung menekan tombol hijau.


Beberapa detik kemudian, terdengar suara seseorang di seberang telepon.


"Hallo sayang. Ada apa?"


"Hallo kakakku yang paling tampan dan paling baik sedunia."


Mendengar pujian dari adiknya. Jason pun sudah paham maksud dari semua itu.


Billy, Tommy, Aryan, Triny yang mendengar ucapan dari Kimberly hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka juga paham maksud dari pujian itu.


"Langsung saja. Gak usah muji-muji begitu. Kakak tahu kamu pasti lagi ada maunya."


Mendengar jawaban dari kakaknya itu Kimberly tersenyum bahagia sambil menutup mulutnya.


Lagi-lagi mereka yang melihat Kimberly hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Kakak Jason masih lama pulang dari Kantornya?"


"Iya. Mungkin sekitar pukul tiga sore sudah sampai di rumah. Kenapa, hum?"


"Kak. Kalau kakak pulang nanti. Kakak singgah ke mall Holsten Galerie Neumunster ya!"


"Ngapain kakak kesana?"


"Aku mau kakak belikan aku 15 jam tangan laki-laki merek Rolex dengan warna yang berbeda, 30 ponsel Oppo yang harganya 6 juta. Bebas mau merekanya apa."


Mendengar permintaan dari adiknya membuat Jason terkejut. Bukan Jason tidak mau membelikannya. Yang membuat Jason terkejut dan bingung adalah untuk apa semua barang-barang itu.


"Kim! Kamu gak salah minta semua itu. Apalagi kamu minta dibelikan jam tangan Rolex untuk laki-laki?"


"Gak Kak. Aku memang meminta semua itu."


"Untuk apa, Kim?"


"Aku lagi ngadain sayembara di sekolah. Awalnya aku ingin membagikan tas yang terpaksa aku beli di mall dua hari yang lalu. Tapi aku lupa tas itu hanya untuk cewek. Sementara murid laki-laki gak mungkin dikasih tas."


Mendengar jawaban dari adiknya membuat Jason menjadi paham. Jason sudah sangat mengerti akan adiknya itu. Jason selaku kakak tertua Kimberly tak mempermasalahkan hal itu. Selama adiknya bahagia. Jason akan mengabulkan semua keinginan adiknya itu. Bukan Jason saja. Ketiga adiknya dan kedua orang tuanya akan melakukan apapun untuk kesayangannya itu.


"Aku hanya meminta kakak untuk membelikannya saja sambil pulang dari Kantor. Aku lagi males untuk keluar. Apalagi pergi ke mall. Pulang kakak nanti aku ganti uangnya kakak."


Mendengar perkataan dari adiknya membuat Jason terkejut. Dirinya tidak menyangka jika adiknya akan berbicara seperti itu.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu Kimberly? Kakak ikhlas membelikannya untukmu."


"Maaf Kak. Bukan begitu. Kakak jangan salah paham dulu ya. Semua barang-barang itukan bukan untuk aku. Barang-barang itu untuk sayembara di sekolah. Jadi aku gak mau pake uang kakak buat acara itu. Sebisa mungkin aku akan menggunakan uang aku sendiri. Jadi aku mohon kakak ngerti dan gak marah sama aku."


Jason tersenyum mendengar penjelasan dari adiknya itu. Jason sangat tahu sifat adiknya itu seperti itu. Adiknya itu akan berfoya-foya atau membuat sebuah acara dengan menggunakan uang tabungannya sendiri. Adiknya itu tidak ingin menghamburkan semua uang yang diberikan olehnya, ketiga adiknya dan kedua orang tuanya.


"Baiklah... Baiklah! Kakak ngerti. Nanti setelah selesai urusan Kakak di Kantor. Kakak akan pergi ke mall itu untuk membeli semua pesanan kamu itu."


Mendengar jawaban dari kakaknya itu seketika terukir senyuman manis di bibirnya.


"Terima kasih Kakak."


"Sama-sama sayang."


Setelah selesai, Kimberly pun mematikan panggilannya.