
Tommy, Billy, para sahabatnya sudah berada di kantin. Begitu juga dengan Aryan, Triny dan para sahabatnya. Kini mereka telah duduk bersama. Tidak seperti beberapa hari yang lalu yang duduk terpisah.
Saat ini Billy, Trinya, Aryan, Tommy dan sahabat-sahabatnya sedang menunggu kedatangan Kimberly dan keempat sahabatnya Kimberly yang tak lain kekasih dari sahabat Tommy dan Billy.
"Kimberly, Rere, Santy, Catharine dan Sinthia lama banget keluarnya," ucap Andry.
"Padahal para murid-murid sudah pada keluar dan sudah pada memenuhi kantin. Kenapa Kimberly dan antek-anteknya belum nongol juga?" sela Ivan.
Mereka semua terus menatap pintu masuk untuk melihat kedatangan Kimberly dan keempat sahabatnya, terutama Tommy.
Beberapa detik kemudian, baik Billy, Triny, Aryan, Billy dan para sahabatnya tersenyum ketika melihat kehadiran Kimberly dan keempat sahabatnya.
"Akhirnya mereka datang juga!" seru Nathan dan Mirza.
Kimberly dan keempat sahabatnya langsung memesan makanan dan minuman. Setelah beberapa menit, Kimberly dan keempat sahabatnya pun telah mendapatkan pesanannya.
Kimberly dan keempat sahabatnya langsung menuju meja. Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya memilih duduk berlima. Mereka tidak bergabung dengan para kekasih mereka.
Melihat Kimberly, Rere, Santy, Catharine dan Sinthia yang memilih duduk di meja lain dan tidak bergabung dengan mereka. Mereka hanya bisa menghela nafas pasrahnya.
"Yak! Kenapa mereka duduk disana?" tanya Satya kesal.
"Padahal kita semua sudah berharap jika Kimberly, Rere, Santy, Catharine dan Sinthia duduk disini bersama kita," ucap Satya kecewa.
"Iya, nih!" seru Henry dan Lionel.
Mendengar keluhan kekecewaan dari Satya, Lionel dan Henry. Mereka semua tersenyum.
BUGH!
Lionel dan Henry melempari wajah Tommy dengan kentang goreng. Mendapatkan lemparan kentang goreng dari Henry dan Lionel membuat Tommy menatap horor keduanya.
"Yak! Lionel, Henry! Kenapa kalian melempariku, hah?!" kesal Tommy.
"Ini semua gara-gara lo," sahut Lionel.
"Ya. Ini salah lo Tommy Alexander," ucap Henry menambahkan.
"Salah gue? Emangnya salah gue apaan?" tanya Tommy.
BUGH!
Lionel dan Henry kembali melempari wajah Tommy dengan kentang goreng.
"Lionel, Henry! Itu makanan untuk dimakan bukan untuk dilempar," kesal Alisha yang melihat Lionel dan Henry yang melempari kentang goreng ke wajah Tommy.
"Lebih baik lo cepat deh berdamai dengan Kimberly," sahut Lionel.
"Apa hubungannya?" tanya Tommy.
"Ya adalah. Lo lihat sana. Para cewek-cewek kita duduk disana," ucap Satya sambil nunjuk ke meja Kimberly, Rere, Santy, Catharine dan Sinthia.
"Para cewek kita lebih milih nemanin cewek lo dibandingkan nemanin kita disini," ketus Henry.
Tanpa Henry sadari. Henry berucap dengan suara yang sedikit keras sehingga Rere, Santy, Catharine dan Sinthia mendengarnya. Termasuk Kimberly.
Kimberly mendengar perkataan dari Henry mendengus kesal. Kemudian Kimberly bersuara.
"Lo mau gue gantung di pohon beringin Kak Henry Emerik!"
DEG!
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Henry terkejut. Sementara yang lainnya tersenyum melihat wajah terkejut Henry.
"Sebelum Rere, Santy, Catharine dan Sinthia jadi pacar kalian. Mereka sudah terlebih dahulu jadi sahabat gue monyet!" teriak Kimberly.
"Hahahahaha."
Mereka semua tertawa ketika mendengar perkataan dari Kimberly. Sementara Henry, Lionel dan Satya mengatup bibir mereka masing-masing.
"Makan tuh," ejek Andhika.
"Rasain. Emang enak dimarahin sama ketua gengnya." Tommy juga ikut meledek Lionel, Henry dan Satya.
Kimberly yang melihat wajah tak menarik dari ketiga sahabatnya justru memberikan komentar.
"Jangan perlihatkan wajah enek kalian seperti itu padaku. Jika kalian ingin pindah duduk dan ingin berada didekat kekasih kalian. Silahkan pergi sana."
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Rere, Santy dan Sinthia tersenyum bahagia.
Rere, Santy dan Sinthia langsung beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju meja dimana kekasih mereka berada.
Melihat kekasihnya menghampiri mejanya membuat Lionel, Henry dan Satya tersenyum bahagia. Namun seketika langkah kaki Rere, Santy dan Sinthia terhenti karena mendengar perkataan dari Kimberly.
"Jangan salahkan aku jika besok kalian akan mendapatkan surat pemutusan hubungan persahabatan denganku dan Catharine."
Kimberly berbicara sembari menyeruput minumannya. Dan jangan lupa senyumannya yang ditahan. Bagaimana dengan Catharine. Seketika tawa Catharine pecah.
"Hahahaha."
Rere, Santy dan Sinthia kembali duduk di meja dimana Kimberly dan Catharine berada. Mereka menatap Kimberly dan Catharine dengan wajah ditekuk.
"Sudahlah. Jangan ditekuk gitu mukanya. Lagian para cowok kalian itu gak bakal lari kemana-mana. Jika mereka lari dan kabur dengan cewek lain. Tinggal kalian kebiri saja mereka. Gampang kan?" Kimberly berucap dengan santai nya.
Lionel, Henry dan Satya langsung membelalakkan kedua matanya ketika mendengar perkataan sarkas dari Kimberly. Mereka secara bersamaan menelan ludahnya kasar.
Sementara Billy, Tommy, Andhika, Aryan, Triny dan para sahabatnya tersenyum geli melihat wajah syok Lionel, Henry dan Satya.
Ketika mereka sibuk dengan dunia masing-masing. Arlo dan ketiga sahabatnya datang menghampiri meja Kimberly.
Arlo dan ketiga sahabatnya langsung menduduki pantatnya di kursi. Arlo di samping kiri Kimberly. Sementara ketiga sahabatnya Arlo duduk berhadapan dengan Rere, Santy dan Sinthia. Catharine berada di samping kanan Kimberly.
Baik Arlo maupun ketiga sahabatnya menatap wajah cantik Kimberly, Rere, Santy dan Sinthia.
"Hei, boleh kenalan." salah satu sahabat Arlo mengulurkan tangannya kearah Santy dan diikuti dua sahabat Arlo kearah Sinthia dan Rere.
Dan terjadilah saling berjabat tangan antara Rere, Santy dan Sinthia.
Melihat ketiga sahabatnya Arlo yang berusaha mendekati Santy, Sinthia dan Rere. Lionel, Henry dan Satya menatap tak suka ketiga sahabatnya Arlo.
Baik Arlo maupun Kimberly menyadari tatapan tak suka dari Lionel, Henry dan Satya. Arlo dan ketiga sahabatnya tidak berniat untuk merusak hubungan asmara ketiga sahabatnya Kimberly dengan sahabat-sahabatnya Billy. Mereka hanya ingin menjahili ketiganya saja.
Billy yang melihat Arlo dan ketiga sahabatnya sangat tahu dan paham. Billy tahu siapa Arlo. Dan ketiga sahabatnya Arlo hanya menjahili ketiga sahabatnya saja. Begitu juga dengan Arlo terhadap Kimberly.
"Hei, sayang! Bagaimana dengan lamaranku kemarin?" tanya Arlo kepada Kimberly sembari menggenggam tangan Kimberly, lalu mengecupnya.
Melihat apa yang dilakukan oleh Arlo membuat para penghuni kantin terkejut dan bersorak histeris. Sementara di meja dimana Tommy dan yang lainnya duduk seketika membelalakkan mata mereka masing-masing atas apa yang barusan mereka tonton.
Tommy mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam kearah Arlo ketika mendengar Arlo yang mengatakan soal lamaran. Dan melihat Arlo yang mengecup tangan Kimberly.
"Jangan ngaco deh Kak. Emangnya kapan kakak ngelamar aku." Kimberly berucap sambil memakan makannya.
"Jadi kamu lupa gitu. Eeemmm! Bagaimana kalau aku mengulanginya lagi disini. Biar mereka semua tahu." Arlo berbicara dengan suara yang sedikit dikeraskan.
"Aish! Apaan sih Kak!"
"Oh! Jadi kamu setuju jika aku melamar kami disini. Kamu setuju aku mengulangi kembali lamaranku kemarin? Baiklah kalau begitu."
Arlo kemudian berdiri dari duduknya dan hendak melakukan proses lamaran. Namun seketika, tiba-tiba Tommy berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri Kimberly.
Ketika tiba di meja Kimberly. Tommy langsung menarik tangan Kimberly dan kemudian Tommy langsung mencium bibir merah Kimberly. Tommy mengkulum bibir indah Kimberly dengan berlahan. Tommy menahan tengkuk Kimberly dengan tangan kirinya dan terus ******* bibir Kimberly dengan gerakan lembut.
Setelah beberapa detik. Tommy pun melepaskan ciuman. Tommy menatap wajah cantik Kimberly dengan tatapan penuh cinta dan ketulusan.
"Kau milikku. Selamanya akan selalu menjadi milikku." Tommy berucap dengan tulus.
Arlo yang sedari tadi menyaksikan bagaimana rasa cinta Tommy yang begitu besar terhadap Kimberly turut senang. Arlo memang sengaja melakukan semua ini hanya untuk membuat Tommy berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan Kimberly.
Arlo tidak suka yang melihat Tommy yang hanya bersedih menatap Kimberly dari kejauhan tanpa melakukan apa pun.
Disini Tommy yang bersalah. Disini Tommy yang sudah membuat Kimberly bersedih dan terluka. Dan Tommy juga yang harus berjuang untuk berdamai dan berbaikan dengan Kimberly.
Dan hari ini adalah perjuangan pertama dari Tommy. Masih ada perjuangan lainnya yang sedang menanti Tommy.