
Vanny saat ini berada di ruang tengah rumahnya. Vanny tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Orang itu adalah Aryan, kekasihnya.
"Sayang, kita jalan yuk!"
"...."
"Bagaimana kalau kita ke Mall? Udah lama banget kita nggak kesana."
"...."
"Kenapa nggak bisa hari ini?"
"...."
"Kalau besok, bagaimana?"
"...."
"Baiklah. Kalau begitu besok aja. Tapi janji ya. Jangan ingkar loh."
"...."
Setelah selesai berbicara dengan Aryan. Vanny pun mematikan panggilannya. Kemudian Vanny melempar asal ponselnya ke sofa samping tempat duduknya.
"Sial. Tumben dia langsung menolak ketika diajak untuk jalan-jalan? Biasanya setiap aku ajak nggak pernah nolak," ucap Vanny marah.
"Kenapa?" tanya seseorang yang saat ini sudah duduk di sofa.
Vanny yang mendengar suara seseorang langsung melihat keasal suara. Dan Vanny melihat kakak laki-lakinya bersama kedua orang tuanya sudah duduk di sofa.
"Aku kesal sama Aryan," sahut Vanny.
"Kenapa dengan Aryan?" tanya ibunya.
"Dia menolak ajakanku untuk jalan-jalan hari ini," jawab Vanny.
"Tumben dia menolak ajakan kamu? Biasanya dia selalu menuruti apapun kemauan kamu," ucap dan tanya Ayahnya.
"Aku juga tidak tahu, pa! Aku juga heran sama sikap Aryan tiga hari ini. Sudah tiga hari ini Aryan susah diajak jalan-jalan," ucap Vanny.
Mendengar jawaban dari adik perempuannya membuat Derick memikirkan sesuatu. Sesuatu yang pernah dikatakan oleh kakak laki-lakinya.
[Berhentilah kalian melakukan kebohongan dan kecurangan kepada orang lain]
[Dan kau Vanny, berhentilah untuk menipu Aryan. Tinggalkan Aryan jika kau hanya menginginkan hartanya. Aryan itu tidak sama seperti laki-laki lain yang kau tipu. Dia berasal dari keluarga yang berbahaya dan kejam. Jangan hanya karena kelakuanmu, keluarga kita menjadi hancur]
[Ingat Vanny! Jika sampai terjadi sesuatu terhadap keluarga kita. Jika kita kehilangan segalanya. Kakak nggak akan memaafkan kamu. Bahkan kakak nggak akan menampung kamu di rumah milik kakak. Kamu akan hidup sendirian]
[Dan untuk kalian juga. Aku tidak akan menampung kalian di rumahku. Kalian yang berbuat salah. Dan kalian juga yang harus menanggung akibatnya. Aku tidak akan ikut campur]
Setelah mengingat ucapan demi ucapan dari kakak laki-lakinya itu membuat Derick seketika sadar. Dirinya, adiknya dan kedua orang tuanya sudah terlalu jauh melakukan kejahatan.
"Pa, Ma, Vanny!" Derick memanggil kedua orang tuanya dan adik perempuannya.
Kedua orang tuanya dan adik perempuannya langsung melihat kearah Derick.
"Ada apa, sayang?" tanya Ibunya.
"Kalian masih ingatkan perkataan kak Danny sebelum kak Danny memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah?"
Mendengar pertanyaan dari Derick membuat sepasang suami istri itu dan juga Vanny seketika terdiam lalu kemudian ketiganya mengingat perkataan terakhir dari Danny sebelum Danny pergi meninggalkan rumah.
"Pa, Ma! Benar apa yang dikatakan oleh kak Danny. Berhentilah menipu orang-orang diluar sana. Sudah cukup. Jangan diteruskan lagi. Bagaimana jika perkataan kak Danny benar bahwa salah satu korban kalian itu berasal dari keluarga yang berbahaya dan juga kejam? Bagaimana jika mereka membalas perbuatan kita dengan cara mengambil semua yang kita punya saat ini dan membuat hidup kita hancur?"
Derick menatap wajah kedua orang tuanya dan berakhir menatap wajah adik perempuannya.
"Dan kau Vanny. Berhentilah! Pikirkan dampaknya jika kau tetap melanjutkan niatmu untuk merebut kekayaan Aryan. Jangan karena ulahmu, anggota keluarga kita yang lain terkena imbasnya."
Setelah mengatakan itu, Derick berdiri dari duduknya. Kakinya melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Derick sudah memutuskan untuk meninggalkan keluarganya. Dirinya memutuskan untuk berhenti membantu keluarganya. Dirinya sudah tidak peduli ancaman apa yang akan diberikan oleh kedua orang tuanya kepadanya.
Derick memutuskan untuk memulai kembali memulai usahanya yang sempat ditinggal olehnya dua tahun lamanya. Usahanya itu sudah berkembang dan juga sudah terkenal di beberapa negara dan kota.
***
"Dia ngomong apa sama kamu?" tanya Kimberly ketika melihat Aryan yang sudah selesai berbicara dengan Vanny di telepon.
"Seperti biasa," jawab Aryan sembari memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Aryan saat ini berada di kantin bersama sahabat-sahabatnya, ketiga sepupunya, keempat sahabatnya Kimberly dan para sahabatnya Triny dan Billy.
"Ngajak jalan?" tanya Triny.
"Hm!" Aryan berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
"Kapan tuh cewek tobatnya?" tanya Alisha.
"Bisa jadi. Biasanya kan orang-orang seperti itu. Jika sudah mendapatkan hukuman baru nyadar," sela Danela.
"Iya kalau tobat! Kalau nggak, bagaimana? Bisa saja tuh cewek makin menjadi-jadi. Contohnya Gracia. Kita berpikir dia akan tobat setelah diusir dari keluarga Aditya. Eh, tahunya makin menjadi-jadi kelakuannya sehingga berakhir masuk penjara," pungkas Lisa.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk Vanny dan keluarganya. Semoga saja sebelum dia dan keluarganya mendapatkan masalah besar, mereka sudah tobat duluan." Kimberly berbicara sambil memasukkan nugget ke dalam mulutnya.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka juga berharap hal itu terjadi.
Sejujurnya, baik Kimberly, Aryan maupun Billy dan Triny tidak ingin menyakiti Vanny dan keluarganya. Tapi mereka terpaksa karena Vanny dan keluarganya sudah sangat keterlaluan dalam melakukan kecurangan dan penipuan.
Ketika Kimberly dan yang lainnya sedang menikmati makan siangnya di jam istirahat sembari membahas masalah Vanny, tiba-tiba ponsel milik Aryan berbunyi.
Aryan yang mendengar ponselnya yang berbunyi langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Aryan melihat nama 'Dorris' di layar ponselnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Aryan langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.
"Hallo, Dorris! Ada apa?"
"Gawat Bos. Nona Vanny saat ini berada di cafe milik Bos dan nona Kimberly."
"Mau ngapain dia kesana?"
"Menurut informasi yang aku dapatkan dari anggotaku yang mengawasi Vanny. Vanny berniat untuk mengakhiri hubungannya denganmu Bos."
"Kenapa dia tiba-tiba ingin mengakhiri hubungannya denganku? Apa dia sudah tahu siapa aku?"
Mendengar pertanyaan dari mulut Aryan membuat ketiga sepupunya, kelima sahabatnya dan para sahabatnya ketiga sepupunya langsung melihat kearah dirinya.
"Sepertinya belum Bos. Alasannya nona Vanny ingin mengakhiri hubungannya dengan Bos karena teringat akan perkataan sekaligus ancaman dari kakak laki-lakinya tertuanya."
"Kak Danny?"
"Benar, Bos! Tuan Danny mencurigai Bos kalau Bos berasal dari keluarga yang berbahaya dan kejam. Namun tuan Danny tidak tahu siapa keluarga Bos yang sebenarnya. Ditambah lagi, tuan Danny memang sangat-sangat membenci keluarganya yang selalu melakukan kecurangan, penipuan dan kejahatan terhadap orang lain sehingga mendapatkan banyak kekayaan. Yang lebih parahnya nona Vanny. Tuan Danny sudah berulang kali menasehati dan menegur kedua orang tuanya dan kedua adiknya, namun gagal. Maka dari itulah tuan Danny pergi meninggalkan keluarganya dan memutuskan tinggal sendiri di rumah yang dia beli dari hasil kerja kerasnya selama ini."
"Kak Danny ngomong apa sama keluarganya sebelum pergi?"
"Intinya, tuan Danny tidak akan membantu keluarganya ketika keluarganya itu hancur dan tidak memiliki apa-apa lagi. Bahkan tuan Danny tidak akan membawa keluarganya untuk tinggal di rumah pribadinya. Kalau pun misalkan tuan Danny mau membantu keluarganya, tuan Danny akan membelikan rumah kecil untuk ditempati oleh kedua orang tuanya dan adik perempuannya. Asal tidak tinggal di rumahnya."
"Lalu bagaimana dengan kak Derick?"
"Tuan Derick sama seperti tuan Danny, Bos! Tuan Derick memiliki satu usaha yang sudah terkenal. Tuan Derick meninggalkan usahanya itu demi membantu ayahnya di perusahaan. Awalnya tuan Derick tidak tahu apa yang dikerjakan oleh ayahnya, ibunya dan adik perempuannya. Ketika tuan Derick mengetahuinya dan hendak berhenti, ayahnya memberikan ancaman padanya."
"Ancaman apa?"
"Bunuh diri. Dan lebih parahnya, ayahnya benar-benar melakukannya di hadapannya. Itulah yang membuat tuan Derick tetap terus membantu keluarganya."
Mendengar penjelasan dari Dorris tangan kanannya membuat Aryan merasa kasihan dan iba terhadap kedua kakak laki-lakinya Vanny, terutama terhadap Derick.
"Lalu apa yang dilakukan oleh kak Derick sekarang?"
"Sama seperti kak Danny. Kak Derick sudah memutuskan untuk kembali ke jalannya sendiri. Tuan Derick kembali melanjutkan usahanya yang sempat ditinggal dua tahun ini."
"Baiklah, Dorris. Terima kasih informasinya. Kau tetap awasi dia sampai aku dan Kimberly datang kesana."
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, Aryan langsung mematikan panggilannya. Dan kemudian tatapan matanya menatap wajah Kimberly.
"Kita ke Sweett Cafe, sekarang!"
"Ngapain? Ini masih jam berapa. Kelasku masih ada dua pelajaran lagi," ucap Kimberly.
"Dia ngincar Sweett Cafe milik kita." Aryan menjawab perkataan dari Kimberly.
"Vanny?!" tanya Billy dan Triny bersamaan.
"Iya. Apa kamu akan membiarkan dia merebut cafe yang sudah kita bangun bersama selama dua tahun ini, hum?"
"Ya, tidaklah! Enak aja dia main rebut cafe itu," sahut Kimberly.
"Kalau begitu, ayo!"
"Baiklah."
"Kami ikut!" seru Billy dan Triny bersamaan. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Tidak perlu. Kalian tetap disini melanjutkan pelajaran sampai pulang sekolah. Izinkan aku dan Kimberly."
"Baiklah. Kalian berdua hati-hati," ucap Billy.
"Hm!" Kimberly dan Aryan menganggukkan kepalanya.
"Ini kunci mobilku." Kimberly memberikan kunci mobilnya kepada salah satu sepupunya.
Setelah itu, Kimberly dan Aryan pun pergi meninggalkan kantin sekolah untuk menuju Sweet Cafe.