THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kemarahan Tuan Besar Malachi



Plaakk..


"Aakkhh!"


Terdengar suara tamparan dan suara teriakan kesakitan di sebuah rumah kediaman utama keluarga Malachi dimana seorang pria paruh baya memberikan tamparan keras kepada seorang gadis yang tak lain adalah cucu perempuannya.


Alasan pria itu marah besar terhadap cucu perempuannya adalah karena cucu perempuannya membuat ulah kepada dua keturunan dari keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo.


Pria itu sangat dekat dengan keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo. Kedekatan pria itu dengan kedua keluarga tersebut bukan sekedar hanya dekat biasa saja. Pria itu banyak berhutang budi dengan dengan Lennon Aldama dan Morgan Fidelyo yang tak lain adalah sahabatnya.


Sebelum kedua sahabatnya itu meninggal dunia. Baik Lennon dan Morgan meminta kepada pria itu untuk terus menjadi sahabat keduanya. Dan bukan itu saja. Lennon dan Morgan menitipkan anak-anaknya pada saat itu kepada pria itu dan menganggap anak-anak mereka sebagai anak-anaknya sendiri.


Sesuai keinginan dari kedua sahabatnya, pria itu langsung mengiyakan apa yang menjadi keinginan kedua sahabatnya itu. Selama ini pria itu selalu mengawasi anak-anak dari kedua sahabatnya itu melalui para tangan kanannya. Dia selalu mendapat kabar terupdate tentang anak-anak dari kedua sahabatnya itu dari tangan kanannya.


Ketika mendapatkan kabar bahwa salah satu cucunya mengusik, berniat mencelakai bahkan sudah menjalankan niatnya itu terhadap salah satu keturunan kedua sahabatnya itu membuat pria itu marah besar.


"Kau benar-benar menjijikan Molly! Mau jadi apa kau, hah?! Jika kau sudah tidak ingin menjadi bagian dari keluarga Malachi lagi, silahkan pergi dan lepaskan marga Malachi itu dari nama belakangmu! Setelah kau melepaskan marga Malachi, kau bisa bebas melakukan apapun yang kau mau!" bentak pria itu dengan menunjuk kearah cucunya itu.


Mendengar ucapan demi ucapan dari kakeknya membuat Molly hanya bisa menunduk. Dirinya tidak berani menatap wajah kakeknya itu.


Bukan hanya Molly saja yang ketakutan saat ini akan kemarahan pria itu. Anak-anaknya, menantu-menantunya serta cucu-cucunya yang lain juga ketakutan saat ini. Bagi mereka semua ini adalah kemarahan terbesar pria itu untuk pertama kalinya.


"Aku dengar dari ayahmu bahwa kau menjadi pihak ketiga dalam hubungan percintaan orang lain. Kau ingin merebut pasangan dari gadis itu. Ap yang ada di otakmu, Molly?! Tidak bisakah kau mencari pasangan yang tidak memiliki pasangan? Kenapa kau merusak hubungan orang lain?!"


"Ayahmu sudah menceritakan semua kepada kakek. Bahkan ayahmu juga menyesal karena telah datang menemui orang tua dari gadis yang kekasihnya yang ingin kau rebut demi meminta keadilan atas apa yang dilakukan anak gadisnya terhadapmu! Padahal ayahmu tahu bahwa kau yang bersalah. Bahkan setelah pertemuan itu, ayahmu sudah melarangmu dan memintamu untuk berhenti mengganggu laki-laki itu, tapi kau tidak mengindahkan permintaan dan larangan ayahmu!"


Pria itu benar-benar marah dan muak akan kelakuan Molly yang sudah berulang kali mempermalukan keluarga Malachi.


Pria itu kemudian menatap satu persatu wajah-wajah anak-anaknya, menantu-menantunya dan cucu-cucunya.


"Aku akan katakan satu rahasia yang telah pernah kalian ketahui. Setelah itu, kalian akan tahu alasan aku menjadi semarah ini terhadap Molly."


Setelah itu, pria itu menceritakan tentang hubungannya dengan Lennon Aldama dan Morgan Fidelyo kepada anak-anaknya, menantu-menantunya dan cucu-cucunya. Pria itu bercerita sembari meneteskan air matanya.


Mendengar cerita dari ayahnya/kakeknya membuat mereka semua termasuk Molly terkejut. Yang paling terkejut disini adalah Molly dan kedua orang tuanya.


"Dan asal kalian tahu. Kita bisa menjadi orang kaya seperti sekarang ini semua itu tak lepas dari bantuan kedua sahabatku itu. Lennon Aldama dan Morgan Fidelyo selalu membantuku untuk mewujudkan keinginanku selama ini. Perusahaan yang awalnya aku pimpin dan sekarang dipimpin oleh kakak laki-laki tertua kalian itu adalah pemberian Lennon Aldama."


Lagi-lagi mereka semua terkejut ketika mendengar fakta tentang perusahaan utama keluarga Malachi. Mereka semakin menundukkan kepalanya dan menangis terutama kedua orang tuanya Molly dan Molly sendiri.


"Dan untuk Morgan Fidelyo. Dia menanamkan sahamnya sebanyak tujuh puluh persen di perusahaan itu. Jadi dengan begitu tidak akan ada yang berani menyentuh perusahaan tersebut. Bahkan Lennon dan Morgan mengumumkan ke semua orang tentang perasaan tersebut sehingga orang-orang diluar sana berpikir untuk berbuat jahat."


"Lennon dan Morgan tidak meminta imbalan apapun. Dia hanya meminta dua hal dariku."


"Boleh kami tahu apa itu kek?" tanya cucu tertuanya.


Pria itu tersenyum menatap wajah tampan cucu tertuanya itu.


"Kedua sahabat kakek itu meminta kakek untuk tetap terus menjaga hubungan persahabatan kami selamanya. Kedua sahabat kakek itu meminta kepada kakek untuk terus mengingat mereka sebagai sahabat kakek. Dan kedua sahabat kakek itu menitipkan anak-anaknya kepada kakek dan juga meminta kakek menganggap anak-anaknya itu sebagai anak-anaknya kakek jika mereka pergi untuk selamanya."


Mendengar cerita demi cerita dari sang ayah/sang kakek membuat mereka benar-benar tersentuh akan kebaikan dan persahabatan ketiganya.


Pria itu menatap wajah cucu perempuannya itu dengan tatapan marah dan tatapan terluka.


"Sekarang kamu sudah tahukan kenapa kakek begitu marah padamu, Molly? Ini adalah teguran dan peringatan terakhir untukmu. Seperti yang sudah kakek katakan beberapa menit yang lalu. Jika kau ingin terus menjadi manusia busuk, silahkan! Asal kau lepaskan marga Malachi. Aku silahkan pakai marga dari ibumu."


"Setelah kau melepaskan marga Malachi. Kau bukan bagian dari keluarga Malachi lagi. Jika terjadi sesuatu padamu. Jangan libatkan keluarga Malachi, sekali pun ayah kandungmu yang tak lain putraku."


Molly terkejut ketika mendengar penuturan kakeknya yang memintanya melepaskan marga Malachi. Dan kakeknya juga sudah tidak mau menganggapnya sebagai cucu lagi.


"Pilihan ada ditanganmu. Ingin berubah, silahkan! Ingin melakukan hal buruk lagi diluar sana, silahkan! Asal jangan bawa-bawa keluarga Malachi!"


Setelah mengatakan itu, pria itu pergi meninggalkan anak-anaknya, menantu-menantunya dan cucu-cucunya untuk menuju kamarnya.


Setelah kepergian sang ayah/sang kakek menuju kamarnya, mereka semua melihat kearah Molly. Mereka benar-benar marah terhadap apa yang dilakukan oleh Molly terhadap salah satu keturunan keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo.


"Pikirkan itu Molly. Berubahlah. Jangan seenaknya saja jadi manusia di dunia ini. Setidaknya, pikirkan kakek!"


"Untuk kali ini Mommy setuju apa yang dikatakan kakek kamu. Bahkan Mommy juga sudah katakan padamu untuk berhenti mengejar Tommy. Jika kamu ingin terus menjadi gadis jahat, Mommy tidak akan pernah izinkan kamu untuk menggunakan marga keluarga Mommy. Sudah cukup kamu melakukan hal-hal bodoh di dunia ini sehingga mempermalukan keluarga Malachi."


Mendengar ucapan dari ibunya membuat Molly hanya menundukkan kepalanya. Dirinya saat ini Molly benar-benar merasa bersalah dan menyesal telah membuat kedua orang tuanya malu di hadapan keluarga besar Malachi.