
Tama dan Samuel saat ini berada di kelas Sastra. Kebetulan kelasnya Tama dan kelasnya Samuel memiliki jadwal pembelajaran yang sama dengan guru Sastra sehingga kelas mereka digabung.
Di kelas Sastra itu sudah berkumpul semua siswa dan siswi. Tinggalkan menunggu kedatangan guru bidang studi tersebut saja.
Disaat para siswa dan siswi tengah menunggu kedatangan guru mereka, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan datangnya siswi cantik. Siapa lagi kalau bukan Viviana Adelia Munaf.
Viviana memberanikan dirinya memasuki kelas dimana Tama berada. Dia tidak tahu malunya mengganggu dan mengutarakan semua keinginannya kepada Tama di hadapan semua teman-teman sekelasnya Tama.
"Hai, Tama!"
Tama yang melihat kehadiran Viviana seketika ekspresi wajahnya berubah tak mengenakkan. Tapi dia berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.
"Tama, aku datang kesini hanya untuk mengingatkan kamu saja," ucap Viviana.
Tama menatap wajah Viviana dengan tatapan menyelidik. Begitu juga dengan Samuel. Sejujurnya, Samuel tidak suka dengan Viviana.
"Kamu nggak lupakan kalau nanti siang kita pergi jalan-jalan? Kamu sudah janji lo. Dan nggak baik jika seorang laki-laki mengingkari janjinya yang sudah dibuat."
Viviana sengaja berbicara seperti itu di hadapan Tama dan didengar oleh semua teman-teman sekelasnya.
Dengan Viviana berbicara seperti itu, maka dipastikan Tama tidak akan bisa berkutik. Jika pun Tama berusaha menyangkalnya, semua teman-teman satu kelasnya akan beranggapan kalau dia adalah laki-laki brengsek.
Tama tidak langsung menjawab perkataan dari Viviana. Justru Tama menatap jijik kearah Viviana.
Samuel yang memang tahu akal bulus Viviana langsung bersuara. Dia melakukan itu untuk membuat kebohongan Viviana terbongkar.
"Maaf menyela, nona Viviana!" seru Samuel.
Viviana melirik sekilas kearah Samuel. Dan dapat dilihat oleh Viviana, Samuel menatap tak suka padanya.
"Iya. Ada apa?" tanya Viviana lembut.
"Bolehkah saya minta bukti kapan nona Viviana berbicara dengan saudara saya Tama Alexander sehingga saudara saya ingin membuat janji kepada nona Viviana?" tanya Samuel dengan menatap intens wajah Viviana.
Sementara Tama tersenyum mengejek dengan tatapan matanya menatap wajah Viviana.
Semua teman-teman sekelasnya Tama dan Samuel menatap kearah Viviana sehingga membuat Viviana sedikit gugup.
Namun beberapa detik kemudian...
"Oh, tentu!"
Viviana menjawab pertanyaan dari Samuel dengan lantangnya dan dengan ekspresi wajah yang benar-benar diluar pikiran Samuel dan Tama.
"Ini buktinya." Viviana langsung memperlihatkan sebuah video yang ada di dalam ponselnya.
Tama dan Samuel langsung melihat kearah layar ponsel milik Viviana. Dan benar! Di dalam video itu terlihat dimana Tama memang berjanji untuk mengajak Viviana jalan-jalan.
Melihat keterdiaman Samuel dan Tama membuat Viviana tersenyum puas. Rencananya berjalan sempurna. Dan kali ini Viviana yakin bahwa Tama akan menjadi miliknya.
"Kau pikir aku ini laki-laki bodoh dengan mempercayai video yang kau perlihatkan itu, hah?!"
Seketika Samuel berteriak kencang sehingga membuat teman-teman sekelasnya terkejut.
"Apa maksud lo?!" bentak Viviana.
Tama dan Samuel saling memberikan tatapannya lalu kembali menatap wajah Viviana.
"Hei, nona! Jika anda ingin berakting, jangan disini. Ini kampus. Kampus ini tempat menimba ilmu bukan tempat beradu akting," ucap Samuel ketus.
"Kamu nggak usah pura-pura bodoh, sialan!" bentak Tama. "Video yang kamu perlihatkan itu adalah video lama. Kamu mendapatkan video itu karena pada saat itu kamu mengatakan padaku bahwa kamu sedang taruhan dengan teman-teman kamu. Taruhannya adalah bahwa kamu harus berhasil membuat aku mau jalan dengan kamu. Dan kebetulan saat itu kamu memohon padaku dan mengatakan niat kamu, makanya aku memuluskan aksi kamu sehingga kamu berhasil dalam taruhan itu."
Tama berbicara sembari memperjelas cerita yang sesungguhnya dari video itu sembari menatap meremehkan kearah Viviana.
Mendengar penuturan dari Tama. Semua teman-teman sekelasnya Tama dan Samuel menatap jijik kearah Viviana. Mereka tidak menyangka jika Viviana akan melakukan hal rendah seperti itu demi mendapatkan cintanya Tama.
"Bagaimana, Viviana? Sudah tahukan asal mula dari video itu?" tanya Samuel mengejek.
Viviana menatap tak suka kearah Samuel. Lalu kemudian, Viviana menatap wajah Tama.
"Aku juga tidak peduli. Apapun yang terjadi, aku Tama Alexander tidak akan pernah sudi jalan bersama perempuan busuk sepertimu," jawab Tama dengan kejamnya.
"Sekarang keluar! Jangan menjadi pengganggu di kelas ini!" usir Tama dengan nada membentaknya.
"Tidak! Aku tidak akan keluar dari kelas ini sebelum kau mengabulkan keinginanku dan menepati janjimu," tantang Viviana.
Melihat sikap keras kepala dan tak tahu malu Viviana membuat semuanya menatap jijik kearahnya.
"Aku bilang keluar!" teriak Tama.
"Tidak," jawab Viviana.
"Baik, kalau itu maumu."
Tama berdiri dari duduknya dan disusul oleh Samuel. Setelah itu, keduanya pergi meninggalkan kelas.
Melihat kepergian Tama. Viviana langsung mengejarnya. Dia tidak akan melepaskan Tama begitu.
"Tama, tunggu!" teriak Viviana berlari mengejar Tama.
Sementara Tama sama sekali tidak mengindahkan panggilan dan teriakan dari Viviana. Tama maupun Samuel terus melangkahkan kakinya menuju ruang bela diri.
Melihat Tama yang sama sekali tidak mempedulikan dirinya. Viviana berlari dengan kencang agar bisa melampaui Tama.
Berhasil!
Viviana sudah berada di hadapan Tama. Dia berdiri dengan merentangkan kedua tangannya bermaksud menghalangi Tama.
Tama yang melihat tindakan menjijikkan dari Viviana membuat tatapan matanya menajam.
"Minggir! bentak Tama.
"Nggak." Viviana tetap pada pendiriannya. Berdiri menghalangi Tama.
Melihat sikap keras Viviana membuat Tama menggeram marah. Tatapan matanya menatap penuh amarah kearah Viviana.
Samuel yang melihat kemarahan di mata Tama berusaha untuk membantu Tama dengan mengusir Viviana dan memintanya untuk tidak menggangu Tama lagi.
"Viviana, lebih baik kamu pergi dari sini. Jangan ganggu Tama. Kamu itu perempuan. Bersikaplah menjadi perempuan baik-baik. Jangan memperlihatkan seolah-olah kamu perempuan murahan yang mengejar laki-laki yang tidak menyukaimu sama sekali."
Viviana langsung menatap tajam kearah Samuel. Dia tidak terima akan perkataan Bara. Menurut Viviana, Samuel terlalu ikut campur urusannya dengan Tama.
"Nggak usah ikut campur lo. Ini urusan gue sama Tama. Jika lo nggak suka lama-lama disini. Mending lo aja yang pergi dari sini!" bentak Viviana.
Samuel seketika menatap tajam kearah Viviana. "Jika lo cowok. Habis lo," batin Samuel.
"Udah pergi sana. Ngapain juga masih disini. Kalau nggak ada lo. Gue bisa berlama-lama dengan Tama!" bentak Viviana lagi.
"Diam lo! Jangan beraninya lo membentak saudara gue. Lo nggak punya hak sama sekali!" bentak Tama.
Viviana seketika terkejut ketika mendengar bentakan dari Tama.
"Lo bentak gue, Tam?"
"Iya, kenapa? Nggak terima? Lo aja berani membentak saudara gue. Kenapa gue nggak?" Tama menjawab pertanyaan dari Viviana dengan tatapan matanya yang menajam.
"Tapi dia yang mulai duluan," jawab Viviana.
"Lo yang salah. Jangan beraninya lo nyalahin saudara gue. Apa yang dilakukan oleh saudara gue itu semata-mata buat bantuin gue dari cewek menjijikkan seperti lo. Jadi, sekarang pergi lo dari sini!"
Setelah mengatakan itu kepada Viviana. Tama pergi meninggalkan Viviana dan diikuti oleh Samuel yang tersenyum meremehkan.
Melihat kepergian Tama membuat hati Viviana sakit dan juga terluka. Dia tidak menyangka jika sikap dan perkataan Tama makin hari makin tajam kepadanya.
"Gue nggak akan pernah menyerah, Tama! Suatu saat nanti lo pasti akan bertekuk lutut di hadapan gue," batin Viviana.
Setelah mengatakan itu, Viviana pun pergi menuju kelasnya.