
Keesokan paginya suasana di kediaman Fathir Aldama tampak heboh dimana semua anggota keluarga sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang sedang memasak di dapur, ada sedang bersiap-siap di dalam kamar dengan pakaian sekolah dan pakaian kantor. Dan ada yang sedang membersihkan debu-debu dan kotoran di ruang tengah dan ruang tamu.
Setelah beberapa menit sibuk dengan urusan masing-masing, semua penghuni selesai dengan urusannya.
Namun detik kemudian, terdengar suara teriakan dari Kimberly yang ada di lantai dua sehingga membuat anggota keluarga terkejut, terutama Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan.
"Mommy!"
Mendengar suara teriakan dari Kimberly membuat Nashita, Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan langsung berlari menuju kamar Kimberly. Mereka semua khawatir akan teriakan dari kesayangannya itu.
CKLEK!
Pintu dibuka oleh Jason. Setelah pintu terbuka, mereka semua memasuki kamar Kimberly.
Ketika sudah berada di dalam kamar Kimberly. Mereka melihat Kimberly yang duduk selonjoran di lantai beralaskan karpet bulu dengan punggung bersandar di sofa.
Baik Nashita, Fathir maupun Jason, Uggy, Enda dan Riyan seketika tersenyum gemas melihat kelakuan kesayangannya pagi ini. Di dalam hati mereka berkata 'Drama apa yang akan dipersembahkan oleh kesayangannya itu pagi ini'.
Nashita berlahan menghampiri putrinya dan diikuti oleh suami dan keempat putranya.
Nashita kemudian mengusap lembut kepala putrinya. Dirinya tersenyum melihat wajah merengut sang putri.
"Ada apa, hum? Kenapa suram sekali wajahnya? Masih pagi loh," ucap Nashita tersenyum.
Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum gemas melihat wajah merengut Kimberly.
"Diputusin Tommy ya. Biasanya kalau wajah jelek seperti ini tidak jauh-jauh dari permasalahan cinta," ledek Enda.
Kimberly menatap wajah kakak ketiga itu dengan wajah yang super duper sepet dan jelek.
"Kakak itu sok tahu," sungut Kimberly lalu kembali menatap ke depan.
Enda seketika tersenyum mendengar perkataan dan wajah kesal adik perempuannya.
"Abaikan kakak-kakak kamu. Sekarang lihat Mommy!"
Kimberly langsung melihat kearah ibunya. Seketika wajahnya makin sedih.
"Mommy, kalung aku hilang lagi."
Nashita, Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan saling memberikan tatapan. Mereka langsung mengerti kalung yang dimaksud oleh Kimberly. Setelah itu mereka kembali menatap wajah sedih Kimberly.
"Memangnya kamu taruh dimana kalungnya?" tanya Fathir sembari tangannya mengusap lembut kepala putrinya.
"Di kotak ini." Kimberly memperlihatkan kotak berwarna merah muda yang sudah kosong kearah ayahnya. "Biasanya kalungnya disini aku simpan."
"Mungkin kamu salah taruh kali sayang. Atau kamu taruhnya di tempat lain," ucap Nashita lembut.
"Bisa jadi kalungnya jatuh ketika kamu pakai. Dan kamu nggak sadar. Dan sekarang baru nyadarnya," ujar Uggy.
Mendengar perkataan dari Uggy membuat Fathir, Nashita, Jason, Enda dan Riyan menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan dari Uggy.
Sementara Kimberly terdiam ketika mendengar ucapan dari kakak keduanya. Kimberly berusaha mengingat kapan terakhir dirinya memakai kalung tersebut.
Seketika Kimberly teringat akan dirinya bertengkar dengan Gracia dimana Gracia dan teman-temannya mencari ribut dengannya dan keempat sahabatnya.
"Apa kalungku dirampas sama dia? Kalau beneran dia yang rampas kalung aku. Berarti aku kecolongan lagi," ucap dan tanya Kimberly pada dirinya sendiri.
Nashita, Fathir, Jason, Uggy Enda dan Riyan seketika tersenyum mendengar ucapan dan pertanyaan dari Kimberly. Apalagi ketika melihat wajah imut putrinya/adik perempuannya.
"Udah ingat sekarang?" tanya Jason sembari mengusap lembut kepala adik perempuannya.
"Udah. Dan lagi-lagi aku kecolongan. Aish! Kenapa sih aku bisa nggak nyadar?"
Jason tersenyum mendengar perkataan dari adik perempuannya. Begitu juga dengan Nashita, Fathir, Uggy, Enda dan Riyan.
"Ya, sudah! Sekarang kamu bersiap-siap. Ini sudah pukul setengah tujuh. Tuh lihat, dasinya belum dipasang dengan baik. Tambah lagi sepatunya," ucap Nashita.
Mendengar perkataan dari ibunya, Kimberly langsung berdiri dari duduk selonjorannya. Setelah itu, Kimberly pun bersiap-siap.
Melihat kesayangannya sudah kembali sibuk dengan urusannya, Fathir dan istrinya beserta keempat putranya memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar kesayangannya untuk turun ke bawah.
***
Bugh! Duagh!
Terdengar suara pukulan dan tendangan di sebuah gudang alias penjara bawah tanah yang ada di kediaman Rafassya Fidelyo.
Di dalam gudang tersebut terlihat seorang pemuda tampan yang sedang menyiksa mantan sopir pribadi adik perempuannya. Pemuda itu adalah Fathan.
Mendengar teriakkan dari mantan majikannya membuat pemuda yang saat ini dalam keadaan tak baik-baik saja hanya diam. Sejak dirinya ketahuan sampai berakhir disekap di dalam gudang yang pengap. Pemuda itu enggan buka mulut. Bahkan pemuda itu tidak ada rasa takut akan ancaman yang diberikan oleh Fathan dan keluarganya yang akan menghabisi seluruh anggota keluarganya jika dirinya masih tutup mulut.
Melihat kegigihan dan keras kepala dari mantan sopir pribadi adik perempuannya membuat Fathan menggeram marah.
Fathan benar-benar marah melihat sikap keras kepala mantan sopir pribadi adik perempuannya itu.
Fathan melihat di sekitarnya dan tatapan matanya menatap satu benda besar yang berdiri kokoh di dinding yang tak jauh dari pandangannya.
"Tidak ada pilihan lain. Kalau tidak mau mengaku juga, maka terimalah hukumanmu. Aku sudah muak melihat wajahmu. Jadi aku memutuskan untuk menyudahinya."
Setelah mengatakan itu, Fathan berjalan mendekati benda tersebut. Fathan tersenyum ketika benda tersebut sudah berpindah ke tangannya.
Setelah mendapatkan benda itu, Fathan kemudian kembali menghampiri laki-laki yang sudah berbuat jahat terhadap adik perempuannya.
"Apa kau mas pada pendirianmu? Apa kau masih mau melindungi orang itu?" tanya Fathan.
"Lebih baik kau bunuh saja aku," jawab laki-laki itu.
Fathan seketika menatap penuh amarah ketika mendengar jawaban dari laki-laki tersebut.
"Kau benar-benar tidak bisa diajak kerja sama. Baiklah kalau begitu. Rasakan ini!" teriak Fathan.
Bugh! Bugh!
Fathan memukul kuat kepala mantan sopir pribadi adik perempuannya itu dengan brutal sehingga mengakibatkan kepala laki-laki itu hancur.
"Jangan salahkan aku. Kau sendiri yang memintanya."
Fathan melihat kearah anak buahnya yang sejak tadi melihat kegiatannya.
"Kalian kuburkan mayat bajingan itu."
"Baik Bos!"
Setelah mengatakan itu, Fathan langsung pergi meninggalkan gudang tersebut.
Sampai detik ini, keluarga besar Fidelyo dan keluarga besar Aldama belum berhasil mendapatkan latar belakang dari dalang yang memerintahkan laki-laki yang menjadi sopir pribadi Valen.
Sudah dua minggu kejadian yang dialami oleh Valen. Dan sudah dua minggu juga mantan sopir pribadi Valen dikurung dan disiksa oleh Fathan dan Aryan. Namun dalang yang sebenarnya belum juga diketahui.
^^^
"Bagaimana?" tanya Pasya ketika melihat adik laki-lakinya muncul dari arah gudang.
"Beres," jawab Fathan.
"Beres? Maksud kamu?" tanya Pasya bingung.
"Aku mengambil jalan yang terakhir. Dan kakak tahu apa artinya itu," jawab Fathan.
Kini Fathan dan Pasya sudah di ruang tengah. Keduanya langsung menduduki pantatnya di sofa.
"Kamu membunuhnya" tanya Pasya yang tahu arti dari perkataan adiknya itu.
"Iya," jawab Fathan singkat.
Mendengar jawaban singkat dari adiknya membuat Pasya hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Bagaimana pun Pasya tahu seperti apa sifat kejam adiknya itu terhadap orang-orang yang sudah berani mengusik keluarganya. Apalagi berani mengusik adik perempuannya.
Pasya juga tahu alasan adik laki-lakinya memilih untuk membunuh mantan sopir pribadi adik perempuannya itu. Mantan sopir pribadi adik perempuannya itu enggan untuk membuka mulutnya untuk memberitahu dalang yang sebenarnya. Padahal dia, adiknya dan anggota keluarganya sudah melakukan beribu cara untuk membuat mantan sopir pribadi adik perempuannya itu untuk buka mulut. Namun semuanya sia-sia.
"Kak," panggil Fathan tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Pasya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Sampai detik ini kita belum mengetahui dalangnya."
"Ada baiknya kita bersikap biasa saja. Jangan perlihatkan bahwa kita telah mengetahui tentang kejadian yang menimpa Valen tanpa berhenti mencari tahu dalang yang sebenarnya."
"Baik, kak! Aku mengerti!"
"Ya, sudah! Sekarang bersihkan diri kamu. Sebentar lagi Valen turun. Jangan sampai Valen melihat darah di baju kamu itu."
"Baiklah."
Setelah itu, Fathan langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya yang kebetulan ada di bawah.